
BAB 2
Hacker?
{}
Sudah jadi tradisi khusus setiap universitas maupun sekolah tinggi di Indonesia mengadakan kegiatan Masa Orientasi Mahasiswa, termasuk di Kampus Biru. Kegiatan yang dilakukan untuk memperkenalkan lingkungan kampus, dosen, dan seminar pengenalan unit-unit studi yang diikuti mahasiswa baru ini biasanya berlangsung tiga hari.
Karena ancaman ayahnya, yang tidak memberikan uang jajan bila Ayna tidak masuk kuliah, Ayna terpaksa mengikuti masa orientasi di Kampus Biru. Kegiatan berjalan normal dan terkendali di hari pertama dan kedua. Dimulai dari tur kampus, yakni kegiatan mengelilingi Kampus Biru yang dipimpin mahasiswa senior untuk mengenalkan area kampus, sarana kegiatan akademik dan penunjang akademik seperti sarana olahraga, perpustakaan maupun sarana ibadah. Walaupun tak ada yang menarik minat Ayna sama sekali, karena gadis itu telanjur menanam benci pada kampus ini, gadis berambut panjang kecokelatan itu tetap mengikuti kegiatan satu persatu dengan disiplin.
Ayna tidak suka berurusan dengan masalah apalagi bila harus berurusan langsung dengan para senior yang tampak seperti macan yang menguasai kandang. Salah sedikit mungkin Ayna langsung jadi sorotan yang namanya akan diingat selama ia mengemban ilmu di Kampus Biru. Ia tidak boleh mencemari namanya sendiri sebelum ia benar-benar pergi dari kampus ini.
Di hari terakhir, Ayna dan kelompoknya, yang terdiri dari teman-teman berbeda jurusan, digiring masuk ke stadion basket. Ayna duduk di kursi paling depan dekat pagar pembatas. Ayna belum mempunyai teman karena tiap hari kelompoknya diacak. Baru saja ia mengenal satu perempuan, Ayna harus merelakan orang itu masuk ke kelompok lain esok harinya. Ayna pun belum menemukan teman yang satu jurusan dengannya.
Setelah suasana di stadion mulai ramai, Ketua BEM yang bernama Andy pun membuka acara penyelenggaraan kegiatan pentas mahasiswa yang diisi penampilan dari tiap-tiap Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Ritual wajib bagi UKM untuk menarik minat mahasiswa baru agar mau mendaftar menjadi anggotanya. Sambutan hangat dan tepukan meriah mengiringi pergantian tiap-tiap perwakilan UKM kecuali dari Ayna yang hanya terus memasang wajah datar. Dalam otaknya, ia hanya memikirkan bagaimana cara ia bisa keluar dari kampus ini sebelum perkuliahan dimulai.
Ayna tak kuasa menahan kantuk saat tiba Himpunan Mahasiswa Programmer atau disingkat Himapro mulai menjelaskan tentang visi misi organisasinya. Berbeda dengan kegiatan sebelumnya yang tampil dengan totalitas, terutama di bidang seni dan olahraga, organisasi ini tampak tidak bergairah saat menjelaskan program kegiatannya. Bahkan banyak mahasiswa baru yang tidak mendengarkan sang ketua bicara dan malah asyik mengobrol. Hanya segelintir orang yang masih mendengarkan. Itupun bukan karena minat, tapi karena kasihan.
Waktu lima belas menit yang diberikan terasa lebih lama ketika Himapro yang mengisi panggung di tengah lapang basket. Suasana stadion mulai tidak terkendali ketika obrolan semakin ditunjukkan terang-terangan sampai anggota BEM datang menertibkan tiap kelompok. Dan saat itu terjadi, satu suara memekik lantang dari jajaran bangku stadion yang otomatis menarik semua pasang mata mengarah padanya, termasuk Ayna yang berupaya memicingkan mata melihat siapa pelakunya. "Membosankan! Saya bisa tampil lebih baik dari kalian!" seru cowok berkupluk hitam dengan bangga dilanjut tos dengan mahasiswa baru lain yang mendukung tindakannya.
__ADS_1
Ayna menatap tak percaya cowok yang tepat berada di seberangnya itu. Cari mati, batin Ayna. Apa cowok itu tidak sadar bagaimana senioritas yang telah ditunjukkan oleh senior Kampus Biru selama tiga hari ini? Mereka dengan mudah menyentak apabila mahasiswa baru tidak tertib barang sejenak dan mereka tidak melihat gender untuk memberi hukuman. Ayna jadi teringat ada satu perempuan berkacamata yang terlambat dan ia harus berjalan jongkok dari gerbang depan sampai memasuki kawasan gedung yang jauhnya keterlaluan.
Ayna melihat cowok itu diseret turun oleh anggota Himapro yang merasa harga dirinya terluka. Tepukan meriah lantas bergemuruh menyambut kedatangan cowok itu di atas panggung yang hanya diisi meja, laptop, layar proyektor dan tiga cowok anggota Himapro. Tampak adu mulut terjadi di sana sampai microphone diserahkan pada cowok berkupluk hitam sehingga hanya bagian jambul yang tampak dari rambut hitam legamnya.
Cowok berkulit putih pucat itu berdehem canggung di depan mic yang mengundang tawa seisi stadion. Ia tampak seperti anak kucing yang terjebak di kandang singa. Pandangannya pun mengedar pada seluruh mahasiswa baru. Entah ia mengamati situasi atau mencoba mencari kekuatan. Senyuman lebar pun terbit di wajahnya. Luntur sudah raut gentar yang tadi sempat menyelimuti. Cowok itu meregangkan otot lehernya sesekali seakan ia sedang berada di perkumpulan biasa. Padahal di sisi kanan dan kirinya, anggota Himapro sudah melemparkan tatapan yang seolah akan memakan cowok itu hidup-hidup.
"Perkenalkan, nama saya Zayn Abhicandra. Mahasiswa Baru jurusan Teknik Informatika."
Stadion mulai berbisik membicarakan Zayn tak terkecuali Ayna yang meneguk mendengar jurusan yang sama dengannya. Besar kemungkinan, dia akan satu kelas dengan cowok itu. Ayna merasa ia harus bersiap bahwa jurusannya mungkin akan terkenal seantero kampus.
"Saya merasa ikut tersakiti melihat himpunan mahasiswa yang ingin saya ikuti--" Mata Zayn kini melirik pada Ketua Himapro, Gilang, yang mengeraskan rahang. Gilang merasa Zayn baru saja mengejeknya tepat di muka. Zayn tersenyum padanya sebelum ia kembali menatap para mahasiswa baru. "–justru dipandang sebelah mata oleh kalian semua."
"Hacker!" pekik salah satu mahasiswa baru.
Zayn pun menjentikkan jari sembari tersenyum lebar. "Betul! Bukankah itu hal mengagumkan bila kita bisa menjadi seorang hacker? Kita bisa meretas web manapun dan bahkan mengambil data penting tanpa harus beranjak dari kursi?" ucap Zayn dengan nada tenang yang menghipnotis semua orang untuk mendengar. "Menjadi hacker juga terlintas dalam benak saya begitu mendengar kata programmer. Dan, daripada saya menjelaskan bertele-tele visi misi organisasi yang pasti membosankan untuk didengar, saya lebih suka menunjukkan bagaimana kehebatan seorang programmer."
Mendengar penuturan Zayn, Gilang langsung membelalak. Ia memerintahkan anggotanya untuk menarik Zayn keluar dari panggung. Apa jadinya bila Himapro yang mengusung visi menjadikan mahasiswa berdedikasi melalui sistem informasi malah mengajarkan cara menjadi hacker? Terjadi kontradiksi yang tak bisa ia biarkan.
Dua anggota Himapro mulai menghampiri Zayn yang sibuk mengotak-ngatik laptop dengan kecepatan yang tinggi. Bahkan penonton terkesima dengan gerakan jari Zayn dan tak mampu mengikuti langkah-langkah apa saja yang Zayn lakukan untuk meretas website kampus. Dua anggota di sisi kanan kiri Zayn berusaha menyeret Zayn. Namun cowok itu bersikukuh mempertahankan diri untuk menyelesaikan aksi hacking-nya.
__ADS_1
Pada detik terakhir, Zayn berhasil ditarik oleh dua anggota bersamaan dengan layar hitam yang tiba-tiba memenuhi layar proyektor. Semua mata memandang heran apa yang baru saja Zayn lakukan pada website kampus itu. Tak lama kemudian, halaman website kampus menampilkan sebuah video di mana Gilang berpakaian perempuan sedang berlenggak lenggok di tengah ruangan bersama anak Himapro.
Gilang menjatuhkan rahang bersamaan dengan gelak tawa yang memenuhi stadion. Termasuk Ayna yang sontak menutup mulut menatan tawa saat matanya membulat tak percaya. Ia tak bisa menahan perutnya yang tergelitik melihat Ketua Himapro yang didandan sedemikian rupa. Kepala Ayna tak berhenti menggeleng takjub pada Zayn yang sukses mempermalukan Ketua Himapro. Mahasiswa baru pun berlomba untuk membuktikan apakah website benar-benar diretas dengan membukanya di ponsel masing-masing. Dan benar saja, Zayn sukses meretas website kampus mereka.
Zayn tertawa puas. Ia tak peduli pelototan dari dua anggota yang sedang menahan Zayn. Cowok itu mengambil asal video yang ia temukan di laptop Gilang. Ia tidak sengaja mengambilnya, tapi ia tahu alasan itu tidak bisa ia jadikan pembelaan untuknya yang telah mempermalukan Gilang.
Gilang menginstruksikan anggota lewat tatapan mata untuk menahan Zayn. Sorotnya yang tajam begitu kentara bahwa ia akan memberikan Zayn pelajaran. Dengan cepat, ia bergerak mengambil alih laptop. Decakan sebal pun terlontar begitu keyboardnya tak bisa berfungsi. Sial, Zayn sempat-sempatnya mematikan fungsi keyboard dan keypad pada laptop Gilang. Kabel proyektor segera ia cabut dari laptop yang disambut sorakan mengejek dari mahasiswa baru. Namun, ia tak peduli karena yang terpenting saat ini adalah ia harus menjaga harga dirinya.
Video itu adalah video aib Gilang yang lupa Gilang hapus. Ia sedang bermain dengan anak-anak Himapro dan mendapatkan hukuman harus didandan seperti perempuan. Bila ada yang mengerti kisah dibaliknya, mungkin mereka akan tertawa karena kekonyolan anak Himapro, tapi bila ditampilkan tanpa kejelasan? Mungkin, mereka semua akan mencap Gilang cowok tidak utuh.
Suasana stadion makin ricuh apalagi ketika anggota Himapro mulai bermain fisik dengan menoyor bahu sampai kepala Zayn. Zayn berusaha melepaskan diri ketika anggota BEM datang menengahi. Adu mulut pun terjadi antara dua kubu yang tak suka atas tindakan Zayn dan yang ingin melindungi cowok itu dari tindak kekerasan. Percecokan terjadi yang malah menyulut api dari dua kubu. Zayn berusaha melepaskan diri dari lingkaran yang mulai adu jotos. Ia pun merangkak keluar dari kerumunan yang mulai menyemut di sekitar panggung.
Ayna berdecak melihat keadaan stadion jadi tidak kondusif. Kalau sudah begini, ia malas ikut campur. Ayna pun merapikan diri bermaksud keluar dari stadion basket. Ketika ia berdiri, matanya menangkap pergerakan Zayn dari lapang basket yang seketika melemparkan kupluk hitam padanya. "Tangkap!" seru cowok itu. Karena refleks, Ayna menangkap kupluk hitam itu dengan raut penuh tanya. Namun, Zayn hanya mengumbar senyum yang tampak seperti sebuah seringai. Hanya sebentar, sebelum seringai itu luntur karena ada senior yang hendak menangkapnya. Cowok itu pun berlari keluar sambil tertawa yang dibuntuti beberapa senior.
Ayna menunduk, menatap kupluk hitam yang ada di tangan. Jantungnya seketika berdegup kencang seolah ia telah melakukan kesalahan. Ia merasa hal buruk akan menimpanya sebentar lagi. Karena instingnya, Ayna pun hendak membuang kupluk hitam itu. Namun, belum sempat kupluk itu lepas dari tangannya, panggilan dari seseorang, yang ia yakini dari senior Kampus Biru, menginstruksikannya untuk berhenti. "Hei, kamu temannya, ya?" ucap wanita bertopi BEM yang menatapnya galak.
Tak sempat menjawab, sisi kanan kiri Ayna langsung disergap. Dengan pasrah, Ayna pun mengikuti ke mana dua anggota BEM wanita ini menggiringnya bak penjahat kelas kakap. Sorotan tak percaya dari mahasiswa baru begitu saja beralih dari Zayn kepada Ayna karena melihat kupluk hitam yang sebelumnya dipakai hacker itu kini berpindah ke tangan dirinya. Darah Ayna berasa mendidih bersama uap yang tampaknya sudah mengepul di kepala. Zayn sialan! rutuk Ayna dalam hati. Kembali terbayang seringai yang tadi cowok itu perlihatkan. Sekian detik setelahnya, Ayna terbelalak. Seringai itu ... Ayna mengingatnya.
***
__ADS_1