Times New Romance

Times New Romance
Bab 6 :: Terlalu Kreatif


__ADS_3

BAB 6


Terlalu Kreatif


{}


"Gimana betah kan kuliahnya?" tanya Faza yang sibuk menyesap teh sembari memainkan tablet guna membaca berita di ruang tamu ketika Ayna yang baru selesai mandi, kini duduk di sofa terpisah dengan ayahnya.


Ayna menahan dengkusan sebal agar ayah tidak mencapnya anak yang tidak sopan. "Gimana bisa betah ayah? Kan Ayna udah bilang, Ayna itu nggak suka belajar komputer. Kemarin sibuk belajar kalkulus, logika matematika, sama statistika lagi. Belajar komputer aja belajar matematika dulu."


Faza terkekeh kecil. "Matematika itu dasar ilmu komputer, Ayna. Semua sistem yang dibuat itu berdasarkan logika dan perhitungan. Sekali-kali lah kamu mempelajari smartphone yang sering kamu pake, biar jadi mahasiswa yang produktif bukan konsumtif," ceramahnya yang hanya dibalas decakan malas dari Ayna.


"Pokoknya Ayna nggak betah, Ayah. Ayo anterin Ayna cari kampus yang lain. Ayna yakin masih ada kampus swasta yang masih buka pendaftaran kok," bujuk Ayna. Ia tak bisa berkeliaran sendirian karena ia baru saja pindah rumah dari Kota Bandung ke Kabupaten Lembang. Tak ada kendaraan bermotor yang bisa Ayna gunakan juga jadi alasannya harus memohon-mohon pada Faza.


Faza menggeleng. "Udah fokus aja kuliahnya. Waktu kamu kebuang sia-sia nyari kampus yang lain. Namanya juga udah nasib, kita sama-sama salah. Kamu malah main kelamaan di rumah saudara, jadi nggak sempet ngurusin kuliah kamu sendiri."


Ayna memijit pangkal hidungnya berusaha mengurai pening di kepala. Ia tahu ini memang kesalahan dari keduanya, tapi mengapa hanya Ayna yang menanggung bebannya?


"Mana bisa fokus kalau Ayna nggak ngerti sama sekali, Ayah? Di kelas aja Ayna cuma planga-plongo kaya orang dungu." Ayna bangkit berdiri. Moodnya benar-benar hancur. Ia tidak bisa membicarakan ini lebih panjang dengan ayah. "Ayna mau siap-siap dulu deh. Mau pergi sama Mira ke toko buku." Ayna berlalu begitu saja masuk ke kamarnya.


Faza mengembuskan napas pasrah. Ayna adalah puteri semata wayangnya. Ia tetap ingin memberikan fasilitas yang terbaik walaupun ini kesalahannya yang sembrono dengan asal mendaftarkan puterinya karena ia pikir gadis itu senang juga dengan komputer. Faza jadi merasa didesak untuk bertanggung jawab. Faza telah memikirkannya matang-matang. Ia segera mencari nomor kontak di tablet-nya lalu melakukan panggilan.


"Halo? Om setuju tawaran kamu. Om tunggu di rumah sore ini."


***


Mira sibuk memilih buku yang sedang diskon 30%. Cewek berpipi bulat itu memilih dengan hati-hati buku apa yang akan ia beli. Mira tipe pembaca yang lebih suka membeli buku karena ringkasan ceritanya daripada rekomendasi pembaca yang kadang tidak sama dengan seleranya. Sementara Ayna, yang tak terlalu suka membaca, memilih untuk berkeliling melihat-lihat judul buku. Ayna mengernyit ketika menemukan sederet buku yang membahas tentang programmer. Ia jadi teringat Zayn yang kemampuan programmer-nya lebih unggul dibanding anak lain. Bahkan bukan hanya bidang komputer, tapi semua mata kuliah Zayn lebih cepat paham. Walaupun begitu, Zayn tidak pernah sombong dan senang hati membantu teman-temannya yang kesulitan memahami pelajaran.


Ayna segera menggelengkan kepala, membuyarkan pikirannya tentang cowok tengil itu. Mengapa juga isi kepalanya malah jadi penuh tentang Zayn? Ah, Ayna mulai tidak waras.


"Ayna, aku udah selesai nih." Ucapan Mira mengembalikan kesadaran Ayna. Ayna pun menemani Mira untuk membayar.


Di perjalanan sepulang dari toko buku, Mira mengajak Ayna membeli es krim. Ayna tidak keberatan. Sembari menunggu bus di halte, mereka menjilati es krim corong rasa vanila cokelatnya masing-masing.


"Auh, ini anak gangguin aku mulu," protes Mira sembari mengetikkan sesuatu di ponselnya. Setelah terkirim, ia banting ponsel ke atas pahanya.


Ayna mengernyit. "Siapa, Mir? Cowok iseng?"

__ADS_1


Mira mengangguk. "Iya, cowok yang kamu kenal juga. Satu-satunya cowok yang rambutnya blonde di kelas."


Ayna menghentikan aktivitasnya menjilati es krim sembari berpikir. "Pras?" tanyanya. Mira mengangguk mantap.


"Kita berdua musuh bebuyutan pas SMP. Aku nggak nyangka kita berdua ketemu lagi, Ay."


Ayna tertawa. "Iya, dunia emang sempit banget," tukasnya. "Sabar ya, Mir."


Mira yang mencebik menganggukkan kepalanya, lalu mendesah jengkel begitu ponselnya bergetar. Ia kembali menuliskan isi pesan lalu melirik pada Ayna. "O iya, Zayn kayaknya suka beneran sama kamu deh, Ay," cetus Mira tiba-tiba membuat Ayna tersedak. Mira menjauhkan ponselnya. Ia melotot was-was pada Ayna. "Hati-hati, Ay kalau makan."


Ayna masih terbatuk-batuk sebelum menelan salivanya. Ketika mampu bernapas normal, ia berucap, "Nggak mungkin, Mir. Dia tuh cowok iseng. Paling juga cuma penasaran, kalau udah dapet entar ditinggal."


Mira mengerucutkan bibir. "Tapi aku rasa dia bener-bener suka sama kamu. Kemarin aja dia nyariin kamu sepulang kuliah tahu nggak? Eh kamu malah ilang dan dia nanyain aku berulang kali kamu ke mana. Aku udah jawab kamu pulang duluan, tapi Zayn masih aja nyariin kamu." Ayna termenung ketika Mira mulai menatap Ayna serius. "Kamu masih percaya kalau dia cuma iseng?"


Pertanyaan Mira mengendap di kepala Ayna. Ia sangat ingat Zayn yang narsis tidak rela bila dirinya tidak menarik bagi Ayna, lalu melontarkan kalimat untuk membuat Ayna tertarik padanya. Lalu apa hal itu bisa dikatakan rasa suka? Ayna tidak percaya. Ia yakin Zayn hanya senang bercanda.


***


Setibanya di rumah, Ayna mengernyit begitu melihat ada sepasang sepatu sneakers di depan pintu. Itu bukan sepatu miliknya apalagi dengan ukuran yang dua kali lebih besar dan bukan pula milik ayahnya. Pintu yang setengah terbuka menampilkan ayah yang sedang berbincang dengan seseorang. Ayna pun melangkah masuk sembari berucap, "Ayah, ada sia--" Mata Ayna membulat sempurna melihat sosok yang duduk di sofa. "Kamu ngapain di sini?" semburnya pada Zayn yang melambaikan tangannya. Ayna pun melangkah cepat menghampiri Faza. "Ayah, kenapa dia ada di sini?"


"Hai, Ayna," sapa Zayn membuat Ayna mendelik.


Tepukan dari Faza pun melayang ke lengan Ayna. "Yang sopan sama tamu." Faza beralih menatap Zayn. "Kamu tunggu sebentar ya biar Ayna buatin minum." Faza pun membuat isyarat dengan mata pada puterinya, yang masih menganga tak percaya itu, untuk segera membuatkan minum.


Ayna mendengkus kecil dan menyeret kakinya yang terasa berat. Ia tidak menyangka Zayn adalah anak sahabatnya papa. Peribahasa tidak pernah salah. Dunia memang hanya selebar daun kelor. Tapi dari semua manusia di muka bumi ini, mengapa ia harus bertemu dengan Zayn?


Ayna sampai di dapur. Ia membuat teh hangat untuk ayah dan Zayn. Tadinya Ayna ingin menaruh garam saja biar Zayn kapok ke rumahnya, tapi nurani Ayna masih berada di tempatnya. Ayna tidak jadi membuat teh yang tidak enak. Ayna pun datang dengan nampan menghampiri dua lelaki yang tengah berbincang. Dari dapur, ia tak mampu mendengar apapun. Sesampainya di meja, Ayna menekuk lutut dan menyimpan cangkir teh dengan hati-hati lalu duduk di sebelah Zayn karena tak ada lagi tempat duduk yang tersisa.


"Jadi kamu nggak keberatan, kan mengajarkan Ayna materi kuliah?" tanya Faza yang membuat Ayna tersedak.


Zayn mengulas senyum sembari melirik Ayna yang melemparkan tatapan bengis padanya. Senyumnya makin lebar ketika kembali menatap Faza. "Saya nggak keberatan kok, Om," balas Zayn yang lantas menjatuhkan rahang Ayna.


Sial-sial-sial! Zayn benar-benar membuktikan perkataannya untuk membuat mereka terus bersama-sama. Ayah tidak percaya ada makhluk seperti Zayn yang sangat ambisius.


Faza mengulurkan tangannya untuk bersalaman yang Zayn balas dengan sopan saat tangan kirinya ikut terlipat di depan dada. "Saya percaya sama kamu. Makasih ya bantuannya." Zayn mengangguk. "Tolong jaga anak Om biar nggak kabur kuliahnya. Sekarang lagi zaman anak ngaku kuliah padahal keluyuran."


"Ayah," desis Ayna yang tak digubris oleh Faza di saat Zayn terkekeh geli.

__ADS_1


Zayn pun meminum teh buatan Ayna sebelum berdiri dan berpamitan pada Faza dan Ayna. Faza masih mengembangkan senyum sampai Zayn hilang dari pandangan keluar rumah. Di sampingnya, Ayna sudah mengetatkan rahang dan menatap ayahnya berang. "Kenapa natap ayah kayak gitu?" tanya Faza seolah tak berdosa.


Ayna mendengkus. "Kenapa ayah sampe minta tolong Zayn buat ngajarin Ayna?" Kebiasaan. Faza memang senang berlaku seenaknya tanpa izin.


Faza menepuk sebelah bahu puterinya. "Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu nggak betah karena nggak ngerti apa yang kamu pelajari. Jadi ayah minta tolong aja anak sahabat ayah. Dia anaknya pinter karena udah les programmer lebih dulu. Jadi dia lebih paham dari mahasiswa baru yang lain."


Ayna meringis. Ia garuk kepalanya frustasi. Ayahnya ini memang terlalu kreatif. Bukan hanya kali ini saja inisiatif Faza berlebihan. Saat menginjak bangku SMP dulu, Faza juga pernah membantu Ayna menyelesaikan tugas drama pelajaran Bahasa Indonesia. Awalnya, Ayna hanya meminta bantuan untuk membuat kostum sederhana dari koran, tapi karena Faza tidak mampu membuatnya, ayahnya langsung berinisiatif menyewakan kostum khusus yang harga sewanya lumayan. Bahkan, sampai menyewa untuk satu kelompok Ayna agar kelompok drama anaknya tampil memuaskan.


"Ah, tapi nggak gini caranya, Ayah," rengut Ayna.


Faza berdehem. "Sekarang kamu antar dulu Zayn sampai ke mobilnya. Kasian nggak ada yang nemenin."


"Ih ngapain ditemenin segala? Dia kan udah gede nggak bakalan nyasar!"


"Ayna," panggil Faza penuh peringatan.


Ayna meneguk. Mau tak mau Ayna pun beringsut berjalan keluar pintu daripada kena omelan dari Faza. Dilihatnya Zayn yang baru sampai gerbang rumahnya. Gadis itu pun menghampiri cowok itu. "Kenapa sih kamu mau dimintain tolong?" sinis Ayna saat ia berdiri di samping Zayn.


"Karena aku orang baik, Ayna," balas Zayn menampilkan senyum tipis.


Ayna berdecak, "Kalau kamu baik, aku minta tolong buat kamu batalin kesepakatan sama ayah aku."


Zayn terperangah. Sembari berjalan menuju mobil hitam yang terparkir di luar rumah Ayna, Zayn melingkarkan tangan ke sebelah bahu gadis itu. Sontak, mata gadis itu melotot sempurna. Ayna memukul-mukul tangan Zayn agar cowok itu melepaskannya.


"Kalau itu sih aku nggak bisa ngabulin, karena aku menghormati orang yang lebih tua." Zayn mengedipkan sebelah mata, membuat Ayna menghela napas jengkel.


"Emangnya apa yang kamu dapet kalau ngajarin aku?"


Zayn membuka kunci mobilnya lalu membuka pintu. Ia tatap Ayna yang menatapnya tajam. "Antivirus," ucapnya.


Ayna mengernyit. "Maksudnya?"


Zayn pun masuk ke mobil sembari memegangi gagang pintu agar dapat melihat Ayna yang masih berdiri di dekatnya. "Virus rindu aku bisa hilang kalau deket-deket sama kamu, Ayna. Kamu ngerti kan maksudnya."


Ayna menghela napas tak percaya. Zayn masih terobsesi dengan virus rindu itu? Gadis itu menggeram bersamaan dengan Zayn yang menutup pintu mobil. Kaca mobil itu turun memperlihatkan Ayna yang wajahnya merah padam. "Sampai ketemu di kampus, Antivirus!"


Mobil Zayn pun melenggang meninggalkan Ayna yang mengentakkan kakinya sebal. Dengan kata lain, Ayna akan terjebak bersama Zayn selama di kampus? Ayna sepertinya harus mandi kembang tujuh rupa agar bisa bebas dari kesialan yang selalu menimpanya. Semakin jauh saja keinginannya untuk pindah jurusan.

__ADS_1


__ADS_2