Times New Romance

Times New Romance
Bab 12 :: GPS Cinta


__ADS_3

Bab 12


GPS Cinta


{}


Kuis kalkulus berlangsung. Zayn keluar kelas lebih dahulu karena ia mampu menyelesaikan delapan soal dalam kurun waktu lima belas menit. Mahasiswa yang awalnya mengerjakan dengan tenang pun jadi merasa tertekan begitu dosen menyebutkan nilai 100 atas hasil pekerjaan Zayn. Fokus mereka jadi sedikit buyar karena takut mendapatkan nilai yang memalukan.


Ranya mengganggu Nino yang duduk di sampingnya untuk memberikan jawaban. Namun, Nino bersikap tak acuh seolah tak mendengar apapun. Sementara Gio yang duduk di belakang Ayna tak henti-hentinya menendang bangku gadis itu. Ayna berdesis ketka tubuhnya terhentak sesekali. Ayna pun memutar kepala. Ia melotot pada Gio yang sudah memohon-mohon dengan kedua tangan yang berpaut jadi satu. "Aku nggak bisa ngerjain kalau kamu nendang bangku aku," desis Ayna sedikit berbisik.


"Yaudah, janji kalau udah beres kasih tahu ya," rayu Gio mengangkat-angkat alisnya.


Ayna mengembalikan pandangannya. Rahangnya mengetat menahan dongkol. Gadis itu pun berpura-pura menulis padahal ia sudah selesai mengerjakan soalnya. Gio di belakang sibuk memutar-mutar pulpen sembari melirik ke sana ke mari. Mira yang berada di samping Gio, tak banyak membantu karena kertasnya juga masih bersih seperti miliknya. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Gio pun menendang bangku Ayna lagi bertepatan dengan menyalanya ponsel yang ia simpan di atas meja. Muncul notifikasi pesan grup dari Zayn.


Mr. Abhicandra: (pict) Jangan ganggu Antivirus gue, Gio. Jawabannya @GioGanz


Gio mengulas senyum tak percaya. Ia temukan Zayn yang berdiri di dekat pintu kelas lalu Gio mengatupkan dua tangannya, berisyarat memohon maaf. Zayn tersenyum sembari menunjuk pergelangan tangannya mengisyaratkan waktu sudah hampir habis. Tepat di hadapan Gio, kepala Ayna mendongak, gadis itu membalas tatapan Zayn dengan datar. Ayna tampak menghela napas pasrah sebelum kembali fokus pada lembar kuisnya.


Jawaban yang dibagikan Zayn tentu saja bukan hanya dilihat Gio, tetapi dilihat semua anggota grup yang terdiri anak Teknik Informatika Semester 1. Beberapa yang kesulitan jadi terbantu dengan hasil pekerjaan Zayn dan beberapa yang lainnya menjadikannya patokan benar atau salah. Mereka semua diam-diam memainkan ponsel mereka tanpa ketahuan dosen.


Selepas semua mahasiswa mengumpulkan hasil kuis, Pak Karim, dosen kalkulus pun melihat kertas jawaban yang langsung ia koreksi. Pak Karim menggelengkan kepala sembari berdecak kagum. Tangannya memisahkan beberapa lembar kuis di sisi kanan dan kiri meja. Semua mahasiswa tampak tenang mengingat mereka telah menyamakan jawaban dengan milik Zayn yang benar semua.


"Soal yang saya buat sepertinya terlalu mudah, ya. Semuanya sempurna hanya Ayna dan Nino yang mendapatkan nilai 92." Ayna memutar bola mata ketika seisi kelas bersorak seolah mereka mendapatkan hasil itu dengan kerja keras sendiri. Pak Karim pun meninggalkan kelas yang semakin meriuhkan suasana kelas.


Gio langsung menghampiri Ayna. Menepuk sebelah bahu gadis itu. "Makanya jangan pelit," ucapnya sebelum berlalu meninggalkan kelas.


Darah Ayna terasa mendidih. Ia buang napas kasar. "Kenapa sih Gio tuh nggak tahu malu banget?" ucapnya tidak terlalu keras tapi Mira yang kembali ke tempat duduknya di samping Ayna, mampu mendengarnya.


"Emang kenapa, Ayna?" tanya Mira sembari merapikan tasnya.


"Tadi tuh Gio gangguin aku buat minta jawaban, tapi setelah dapat dari Zayn, dia malah ngatain aku pelit," cerocos Ayna membuat Mira terkekeh hambar. Mira juga tak ada bedanya dengan Gio yang mengambil jawaban Zayn. Gadis itu merasa tidak berhak untuk membalas apapun.

__ADS_1


Sebelum Ayna keluar dari bangku, ia melirik di mana Zayn tengah dikerumuni teman sekelas yang mengucapkan terima kasih pada Zayn. Cowok itu hanya membalasnya dengan senyuman. Ayna pun tersentak begitu Zayn memergokinya. Ayna cepat-cepat membuang pandangan lalu menggandeng Mira keluar dari kelas.


Ayna mempercepat langkah kaki mengetahui Zayn menyusulnya. Mira yang jadi terseret oleh Ayna mencebik sebal, "Aduh, Ayna pelan-pelan aja kali."


"Nggak mau, Mira. Ada Zayn di belakang." Mira pun menoleh dan benar saja Zayn mengikuti mereka. Zayn langsung berisyarat dengan jarinya menunjuk-nunjuk Ayna agar berhenti.


Mira pun berhenti membuat Ayna terhuyung karena gerakan dadakannya. "Kalau mau kejar-kejaran jangan di lorong kayak gini dong, Ay. Mending di lapangan tuh luas."


"Bener kata Mira." Zayn menyahut membuat Ayna bersidekap. "Lagian percuma kalau kamu mau lari kemana pun, Ayna. Aku udah pasang GPS di diri kamu."


Sontak, Ayna melotot. "Apa?" Gadis itu pun memindahkan tasnya ke depan dan berusaha mencari alat GPS yang ia pikir Zayn memasukkannya tanpa izin. Gadis itu terus mencari yang bahkan dibantu oleh Mira.


Zayn yang hanya memperhatikan lantas berucap, "Tempatnya bukan disitu."


Ayna menghentikan perncarian dan menyambar Zayn dengan suara keras, "Ya terus di mana?"


Zayn pun menempelkan tangan yang membentuk hati di depan dadanya. "Di sini," cengirnya membuat Mira tertawa geli saat Ayna menganga tak percaya. "Namanya GPS Cinta yang cara kerjanya lewat ikatan batin. Jadi apapun yang kamu lakukan dan ke mana pun kamu pergi, GPS itu akan ngasih sinyal berupa firasat ke penggunanya," tutur Zayn lalu mengedipkan sebelah matanya pada Ayna.


Ayna mendengkus, "Nggak lucu."


Mira langsung mengangguk antusias. Ia merasa Ayna dan Zayn adalah best-couple. Sebagai teman baik Ayna, ia akan membantu Ayna agar bisa cepat luluh hati menerima Zayn. "Okey kalau gitu, aku juga mau menghindar dari seseorang," ucap Mira saat matanya mendapati Pras dan Hari tengah berjalan ke arahnya. Mira pun pamit walaupun Ayna sudah merengut tidak ingin ditinggalkan.


"Zayn, lo nggak ke kantin?" tanya Pras.


"Gue nanti ke kantin. Duluan aja," balas Zayn yang dipatuhi oleh Hari dan Pras. Dua cowok sejoli yang kemana-mana selalu berdua itu pun meninggalkan Ayna dan Zayn.


Ayna tak berhenti menggerutu mengapa ia bisa sesial ini harus berurusan dengan Zayn. Ayna sama sekali tidak menyukai cowok menyebalkan ini.


Zayn merangkul bahu Ayna mengajaknya berjalan menuruni tangga. "Kenapa sih kalau di kampus kamu kenapa ngehindar dari aku terus, Ayna?"


"Lepasin tangan kamu!" sentak Ayna yang risih. Ia berusaha melepaskan tangan Zayn dari bahunya. Zayn pun menurut dan ia perbaiki kupluk hitam di atas kepalanya. "Aku nggak ngehindar kok, kamu aja yang sensitif," balas Ayna menyembunyikan apa yang ia rasa.

__ADS_1


"Aku rasa kamu marah karena nggak suka perlakuan aku tadi di kelas ya, kan?" terka Zayn berusaha melihat wajah Ayna yang enggan menatap balik dirinya. Ayna menghela napas pendek membuat cowok itu yakin akan terkaannya. "Diem berarti iya," ungkapnya. "Aku tadi mau bantuin kamu yang diganggu sama Gio. Lama-lama aku kurang suka sama sikapnya."


"Aku nggak yakin itu cuma demi Gio yang tadi gangguin aku. Kalau cuma buat Gio, kenapa harus dibagi di grup? Bukannya lewat personal chat aja?" tanya Ayna merasa ada yang janggal dari tingkah Zayn. Cowok itu memang misterius. Di baliknya sifatnya yang jenaka, Ayna merasa banyak hal yang disembunyikan oleh Zayn. Termasuk, alasan mengapa Zayn selalu mengusik Ayna.


"Kayaknya GPS Cinta udah berfungsi optimal."


"Kenapa bisa?"


"Kamu bisa baca pikiran aku."


Ayna mendecih geli. Tangannya mengepal erat menahan diri untuk tidak menempeleng kepala Zayn yang senang menggombal!


Zayn menatap lantai yang satu per satu dipijaknya. "Karena bukan cuma Gio yang kesulitan, tapi banyak anak kelas yang juga kesulitan makanya aku bantuin mereka. Ada atau tanpa adanya masalah kamu sama Gio, aku tetep bakal share jawaban aku di grup."


Ayna mengernyit tak mengerti. "Kamu bikin orang lain nggak mau berusaha keras dan menjerumuskan mereka pada kemalasan. Ya, walaupun aku juga nggak minat kuliah di jurusan ini, seenggaknya aku berusaha belajar biar nggak dapat nilai yang memalukan. Tapi, kamu malah ngasih jawaban cuma-cuma, rasanya jadi nggak adil buat aku yang udah ngerjain sunguh-sungguh."


Zayn tersenyum. Ia usap puncak kepala Ayna yang hanya setinggi telinga Zayn. Ayna langsung merengut sebal. Ekspresi yang tak pernah gagal membuat Zayn terkekeh geli.


"Kamu tahu kucing?" Ayna mengangguk. "Kucing adalah hewan yang jago lari di atas tanah, tapi apakah kita bisa paksa kucing itu untuk berenang?"


"Ya nggak lah. Kucing kan takut sama air. Dia punya kemampuannya sendiri."


"Nah, karena itu, Ayna, makanya aku bantu mereka yang kesulitan." Ayna mengernyit masih tak mampu menangkap maksud dari perkataan Zayn. "Bukan karena bodoh seseorang nggak bisa melakukan sesuatu hal. Tapi karena mereka dipaksa untuk mengerjakan sesuatu yang bukan kemampuannya. Mau sampai seumur hidup, bila kita menilai kucing dari kemampuan berenangnya, kucing akan merasa dirinya bodoh."


"Dan kamu nggak mau temen-temen kayak kucing itu karena nggak bisa ngerjain kalkulus?"


Zayn tersenyum. "Tepat banget. Lagian kan aku udah bilang, kalkulus dibutuhkan untuk pembuatan program sistem informasi untuk analisa. Nggak semua lulusan TI bakal fokus di bidang itu, kan? Masih banyak cabang lain yang bisa digeluti. Jadi aku ngerasa nggak adil kalau ada yang nggak lulus cuma karena gagal di kalkulus."


Ayna menghela napas panjang. Ia serap perkataan Zayn seluruhnya yang ia endapkan di kepala. Ayna setuju. "Tapi kalau keseringan juga nggak baik, Zayn. Nanti mereka bergantung sama kamu."


Zayn tersenyum lalu membuat gestur tanda hormat pada Ayna. "Siap, Kapten."

__ADS_1


Diliriknya cowok tinggi berkulit pucat di sampingnya. Zayn bukan cowok biasa yang Ayna temui. Selain kepintarannya, pemikirannya juga berbeda dengan kebanyakan cowok. Ada hal istimewa tentang dirinya yang kadang kala membuat Ayna takjub.


Zayn dan Ayna tiba di kantin yang langsung disambut oleh Pras, Hari, dan Mira yang satu meja. Zayn pun menyusul kedua temannya menyisakan Ayna yang berjalan dengan tenang. Apa berhenti kuliah adalah hal yang benar-benar aku inginkan? batin Ayna bertanya.


__ADS_2