Times New Romance

Times New Romance
Epilog


__ADS_3

*Teruntuk Ayna Nabila yang entah sejak kapan membuatku jatuh cinta.


Ketika kamu menerima surat ini, mungkin aku sedang berada di meja operasi dan sudah terbang ke luar negeri. Aku nggak mungkin memegang secangkir kopi dan berada dalam keadaan baik-baik saja, Ayna. Sejak lahir, hidupku selalu berada di ambang hidup dan mati. Bahkan mampu membuka mata tiap pagi itu merupakan keajaiban bagi seorang Zayn.


Tujuh tahun, orang tuaku menunggu kelahiran anak pertamanya. Dan aku terlahir ke dunia setelah penantian dan kesabaran yang lebih dari diuji. Namun sayangnya, aku terlahir dengan jantung yang tidak sempurna. Aku kecewa dengan diriku sendiri.


Rasanya menyiksa melihat senyuman yang merekah dari Mama dan Papa seolah aku anak yang normal, tapi ketika mereka berbalik, senyuman itu berubah jadi isakan tangis. Mereka tak benar-benar tersenyum. Ada retakan kekecewaan dari tiap senyumannya yang tak pernah mereka bisa ungkapkan, tapi bisa aku rasakan. Bukan hanya aku yang perlu ikhlas menerima, tapi juga kedua orang tuaku.


Sejak saat itu, aku bertekad untuk menjadi Zayn yang lebih kuat. Menjadi seseorang yang lebih dari seorang boneka kesayangan orang tuanya. Menjadi seseorang yang diakui oleh orang lain. Menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain.


Aku memutuskan kuliah karena aku iri dengan anak sepantaranku yang bisa belajar dan bermain bersama teman-temannya. Aku cuma bisa melihat kebiasaan mereka lewat film yang sering aku tonton. Dan aku tak menyangka, aku bisa bertemu dengan kamu, Ayna.


Berkat kamu, aku bisa merasakan bagaimana rasanya mencintai seseorang. Rasanya merindukan sampai sesak. Rasanya membenci seseorang yang kamu beri senyuman manis. Bahkan rasanya mengikhlaskan sesuatu yang tidak berjalan sesuai keinginan.


Aku tahu aku sudah kalah sejak awal. Kamu sudah menolak aku dengan lantang, tapi aku yang memaksa untuk berdekatan dengan kamu.


Aku nggak pernah menyesal bertemu dengan kamu, walaupun pada akhirnya aku nggak pernah bisa mengucapkan selamat tinggal dengan benar.


Aku harap, kamu baik-baik aja dan bertemu seseorang yang kamu sayangi. Selama itu bukan cowok seperti kamu-tahu-siapa, aku bisa ikhlas.


Aku nggak tahu apa aku masih sanggup membuka mata atau tidak saat kamu membaca surat ini.


Orang-orang sepertiku, selalu ingin meninggalkan tanda bahwa kami pernah hidup. Kamu sedikit mengerti mengapa sifatku seperti tidak ada rasa takutnya, kan? Karena bagiku, hidup hari ini adalah hidup terakhirku, jadi aku tidak akan menyesal telah melakukan apapun itu.

__ADS_1


Awalnya aku bahagia telah hadir di ingatan banyak orang, tapi setelah menghabiskan waktu bersama kamu, aku mengerti bahwa hal yang aku lakukan selama ini adalah sia-sia. Aku memang cepat hadir di ingatan mereka, tapi secepat itu pula mereka bisa melupakan aku. Sejak aku bertemu denganmu, aku ingin dicintai lebih dalam bukan lebih luas. Tapi yang menyedihkan, hanya aku yang mencintai saat kamu mendamba yang lain.


Aku nggak akan melupakan kamu. Bila semesta masih mengizinkan, aku akan datang menemuimu, Ayna. Walaupun tanganmu sudah digenggam lelaki lain, aku akan tetap mencari kamu. Untuk memastikan kamu benar-benar sudah bahagia.


Program cinta yang kamu tanam di hati aku, nggak pernah bisa diformat atau ditutup paksa. Programnya akan terus berjalan tanpa henti selama aku masih inget nama kamu. Karena nggak ada syarat yang harus dipenuhi agar program itu berhenti.


Karena aku cinta sama kamu tanpa syarat.


Aku nggak berharap kamu akan membalas cinta dari orang yang sekarat, tapi aku akan sangat bahagia kalau kamu akan mengingat aku yang pernah jadi bagian dari hidup kamu, Ayna*.


"Setidaknya sesekali, tolong ingat aku," ucap Ayna mengakhiri surat yang ia baca. Ayna tersenyum lebar sembari melipat surat yang hampir tiga tahun tidak pernah ia buka. Surat yang Ayna yakin bisa menghancurkan harapannya saat itu. Ayna tidak menyesal membaca surat ini terlambat, karena Ayna tidak akan kuat bila mengingat sosok Zayn sebagai orang sekarat di dalam ingatannya.


"Udah baca suratnya?" Lingkaran tangan itu melingkar di bahu Ayna. Tangannya semakin kurus daripada terakhir kali yang mampu Ayna ingat, tapi kali ini tangan itu semakin kokoh tak lemah seperti sebelumnya. Gadis itu pun menoleh, lantas mengangguk pada Zayn yang duduk di sampingnya dengan senyum merekah.


Setelah Faza yang mengucapkan selamat pada puteri semata wayangnya itu pamit karena harus bekerja, Zayn mengajak Ayna menjauhi bisingnya mahasiswa bertoga dan berpakaian hitam khas anak wisuda yang tengah berkumpul bersama orang tua maupun kerabat mereka yang sibuk membekukan momen lewat kamera.


Zayn pun duduk di taman di luar hotel tempat Ayna diwisuda. Zayn mengenakan pakaian kasual. Kaos putih yang dibalut kemeja biru navy serta celana jeans hitam. Ia duduk merangkul Ayna di sampingnya. "Aku berjuang untuk bisa duduk di samping kamu saat ini, Ayna."


Ayna tersenyum getir. Zayn tidak diizinkan untuk melanjutkan kuliah. Lagipula, Zayn sempat koma beberapa waktu karena perkelahiannya dengan Nata. Betapa terkejutnya Soraya melihat puteranya datang ke rumah sakit dengan mobil ambulance. Tanpa banyak kata, Erik dan Soraya pun membawa Zayn ke Singapura untuk pengobatannya karena mereka rasa, Zayn hanya bertindak gegabah bila tetap di Indonesia.


"Makasih udah jadi sehat buat aku, Zayn. Makasih berkat kamu, aku jadi ngerti kalau Tuhan memang tidak pernah salah menempatkan takdir. Tuhan menempatkan aku di jurusan ini, kayanya bukan hanya agar aku bisa menimba ilmu dan sekarang bisa bekerja di kantor ayah aku, tapi juga untuk bertemu sama kamu, Zayn." Ayna genggam tangan Zayn erat. Tangan yang lebih kurus dari ingatannya. Membayangkan betapa banyak tenaga yang telah ia habiskan untuk bisa bertahan di dunia ini, membuat mata Ayna memburam. "Kamu adalah takdir yang nggak pernah aku sesali."


Zayn tersenyum dan balas mengecup tangan Ayna sekian detik sebelum merengkuh tubuh mungil gadis itu. "Ada banyak hal yang harus kamu syukuri, Ayna. Nggak perlu hal yang besar, cukup kamu bisa memandang aku dengan mata sejernih seperti sekarang. Cukup ingat kamu bisa bernapas dengan paru-paru yang sehat. Atau cukup ingat kamu bisa duduk dengan Zayn yang gantengnya kelewatan."

__ADS_1


Ayna melonggarkan pelukan Zayn lalu memukul sebelah lengan cowok itu. "Tetep aja narsis!" rutuknya sembari tersenyum geli.


"Dua puluh tahun, Ayna. Dua puluh tahun aku nunggu donor jantung yang cocok. Dan aku bersyukur ternyata jantung aku yang sekarang cocok buat aku. Walaupun aku nggak sehat sepenuhnya, tapi aku jauh lebih kuat dari sebelumnya," ucap Zayn sembari tersenyum tipis.


Ayna mengangguk. Ia pandangi wajah Zayn yang tampak berbinar. Bola mata hitam pekatnya mengunci tatapan Ayna. Menenggelamkan, membuat Ayna terlena. Hatinya mengembang sempurna. Ayna balas tersenyum manis. "Aku nggak pernah tahu kamu setampan ini," cibir Ayna.


Sontak Zayn melunturkan senyumnya lalu mencebik sembari melotot. "Kamu udah periksain mata kamu, kan? Jangan-jangan kamu rabun dekat lagi."


Ayna tertawa. Tawa yang menular hingga Zayn mencubit pipi Ayna gemas.


Ayna tak pernah menyangka salah jurusan akan membawanya pada waktu di mana kisah cinta tragis romantis dimulai. Sebelumnya ia pikir, masa kuliah hanya masa untuk mewujudkan cita-cita atau jembatan menuju pekerjaan yang diinginkan.


Tapi kini ia mengerti, cita-cita tak sepenuhnya tentang pekerjaan atau penghidupan yang layak. Cita-cita tak pernah sesempit itu. Melihat Zayn begitu tangguh melawan penyakitnya yang bisa saja merenggut seluruh kekuatannya, ketika ia melihat Zayn yang mampu tertawa bahkan mengajak orang lain tertawa, Ayna merasa cita-cita cowok itu baru saja tercapai. Sesederhana tarikan napas, cowok itu mampu merasa bahagia tak ternilai.


Begitupun Ayna yang berhasil mengerjakan program yang logikanya sulit dipahami, berhasil mengalahkan sikap kekanakannya yang sulit menerima perbedaan, bahkan sanggup berjuang tanpa menyerah menyelesaikan kuliah, Ayna merasa cita-citanya tercapai. Tuhan menempatkan Ayna di jurusan yang tak ia mengerti, mungkin bukan untuk menyiksanya justru memperkenalkan pada dirinya bahwa tidak perlu jauh-jauh untuk melihat masa depan, karena lima menit kemudian juga bagian dari masa depan. Pilihan-pilihannya sekarang adalah benih yang akan dipetik di masa mendatang.


Dan untuk pertama kalinya, mungkin Ayna ingin mewujudkan cita-cita kecilnya. Cita-cita untuk menggenggam tangan pemuda di sampingnya hingga keriput. Karena bukan hanya Zayn yang merasa hidup, tapi juga Ayna yang kini mengerti apa yang harus ia lakukan untuk masa depannya. Ayna memutuskan untuk berhenti jadi air gunung yang hanya mengalir mengikuti arus. Ia memantapkan hati untuk mengambil jalur hidupnya sendiri atas pilihan-pilihannya. Dan Zayn, telah menjadi bagian dari masa depan Ayna.


****


**Terima Kasih telah membaca Times New Romance :)


Salam sayang, Zayn, Ayna, dan Nata.

__ADS_1


Sampai jumpa di cerita lainnya**!


__ADS_2