Times New Romance

Times New Romance
Bab 9 :: Times New Romance


__ADS_3

Bab 9


Times New Romance


{}


Mendengar kabar dosen tidak mengajar, mungkin merupakan kabar bahagia bagi sebagian mahasiswa yang rumahnya tidak terlalu jauh dari kampus, tapi bisa juga menjadi bencana bagi mahasiswa yang sudah jauh-jauh datang ke kampus, menghabiskan ongkos, hanya untuk mendengar pemberitahuan dadakan dari dosen yang berhalangan hadir.


Sudah jadi derita mahasiswa, bila dosen seenaknya membatalkan kelas tanpa pemberitahuan sehingga info baru didapatkan ketika semua mahasiswa sudah berkumpul di kampus. Begitupun Ayna yang mendengkus sebal begitu mendengar dosen statistika membatalkan kelas. Kalau tahu begini ia tidak akan bangun subuh-subuh untuk bersiap diri karena mata kuliah dimulai pukul delapan pagi.


Zayn, Ayna, dan Hari yang satu kelompok presentasi pun memanfaatkan waktu dan kesempatan mereka berkumpul untuk menyiapkan bahan presentasi. Di perpustakaan, Zayn langsung membagi tugas pada Ayna dan Hari yang dikerjakan di laptop masing-masing. Hari membawa laptop sendiri, sementara Ayna memakai laptop milik Zayn. Atas instruksi Zayn yang jelas, tugas mereka cepat diselesaikan. Zayn yang dianggap paling paham tentang materi langsung menyusun bahan yang telah dikumpulkan anggota kelompoknya.


“Tugas gue udah beres, kan?” tanya Hari ketika Zayn sedang merapikan bahan di powerpoint. Zayn mengangguk, Hari pun pamit pulang karena motor yang ia pakai akan dipakai oleh kakaknya. Zayn mengucapkan terima kasih pada Hari sebelum cowok itu keluar dari perpustakaan. Tersisa Ayna dan Zayn yang duduk menghadap jendela di lantai tiga perpustakaan, lantai paling atas.


Ayna sesekali memperhatikan layar laptop, mencoba mempelajari apa yang sedang dilakukan Zayn. Walaupun rasa sesal mengapa Ayna masuk di jurusan TI masih melekat di hati, Ayna tidak ingin dicap bodoh oleh teman-temannya ketika presentasi nanti.


Zayn melirik pada Ayna yang duduk di sampingnya. Gadis itu tak kunjung berpaling dari pekerjaan Zayn. “Kamu bisa fokus juga ngeliatinnya,” ucap Zayn yang terdengar bagai ledekan di telinga Ayna. Gadis itu pun membuang wajah, lebih memilih untuk melihat hamparan kota yang terlihat lewat jendela perpustakaan Kampus Biru.


Zayn terkekeh melihat Ayna bertingkah seperti anak kecil. Ia pun menarik kursi Ayna agar mendekatinya, membuat mata gadis itu membelalak karena dua lengan mereka jadi bersentuhan. “Liatin. Ini juga ilmu buat kamu,” tutur Zayn sembari menatap Ayna tepat di mata. Cowok itu pun kembali merapikan data dengan memberi judul, menyusun ulang kalimat agar efektif, dan memberikan efek juga warna pada tampilan powerpoint mereka.


Ayna mengabaikan degup jantungnya yang seketika menjadi liar. Ia pun menggeser lagi kursi agar memberi jarak di antara kedua lengan mereka. Dasar Zayn tukang modus! Ayna merutuk mengapa ia begitu mudah terlena karena hal sepele.


“Kata kamu bagusnya presentasi kita pakai font apa?” tanya Zayn.


“Font yang sering dipake aja, biar bisa dibaca jelas,” balas Ayna yang disambut anggukan paham oleh Zayn.


Cowok itu pun menggulirkan kursor ke button font yang memunculkan ratusan nama font. “Yang ini, kan?” tanyanya sembari menekan salah satu nama tulisan. Lalu menatap Ayna yang balas menatapnya.


“Times New … Romance?” tanya Zayn sembari menaik-turunkan alisnya menggoda. Ayna terperangah lalu menabok lengan cowok itu. Zayn pun meringis sembari terkekeh geli.


“Times New Roman, Zayn. Bukan romance,” ulang Ayna membenarkan. Gadis itu mendesis sebal. Bisa-bisanya nama font saja Zayn jadikan bahan gombalan.


Zayn masih menyisakan tawa, sebelum berucap, “Kalau berduaan bareng kamu, Ayna, segala hal yang kelihatannya nggak bermakna pun bisa jadi spesial." Zayn tersenyum hingga mata kecilnya menyipit. “Kayak nama font barusan yang mewakili kebersamaan kamu dan aku.” Zayn menyengir lebar sembari meneruskan pekerjaannya. Sementara Ayna merinding di kursi seolah sedang duduk bersama makhluk planet lain.


Zayn makin ke hari bukan makin waras malah makin aneh saja. Ayna tak habis pikir, memangnya benar Zayn menyukainya? Atau ini hanya tipuan belaka untuk mempermainkan hatinya? Ayna tak bisa menyingkirkan pemikiran bahwa Zayn hanya bercanda mengingat sikapnya yang memang senang membuat lelucon. Ayna harus menjauh dari Zayn sebelum terperangkap dalam permainan cowok itu.


***


Selesai mengerjakan bahan presentasi mata kuliah sistem informasi, Zayn izin ke toilet pada Ayna yang gadis itu anggap inilah saat yang tepat baginya untuk kabur. Ia tidak betah berlama-lama dengan Zayn. Karena selain emosi yang selalu saja meluap, ia tidak ingin gosip semakin menyebar kalau orang-orang terlalu sering melihat mereka bersama. Setelah memastikan dirinya aman, Ayna pun mengendap-ngendap keluar dari perpustakaan.

__ADS_1


Gadis itu menghela napas lega. Ia melangkah dengan ringan seolah baru saja terbebas dari penjara, bahkan sesekali ia terkikik geli membayangkan reaksi Zayn yang mungkin akan sebal padanya karena meninggalkan barang-barang Zayn begitu saja dan tak menuruti perintah cowok itu. Zayn akan semakin cepat membencinya, bukan?


Ayna berjalan memutar melewati gedung olahraga. Dilihatnya stand yang menjual minuman di depan gedung. Ayna pun menghampiri stand itu.


Sesampainya di stand yang menyediakan berbagai minuman juga es krim, Ayna langsung mengatakan bahwa ia ingin susu hangat. Begitu ia mengatakan pesanannya, Ayna terkejut melihat siapa yang sedang melayaninya. “Nata? Kamu ngapain di sini?”


Nata mengerjap. Ia mengenakan seragam basket di dalam stand minuman. “Aku jagain bentar, yang jualan lagi ke toilet.” Ayna mengangguk mengerti.


“Tadi kamu mau apa?” tanya Nata membuat Ayna mengulang pesanannya.


Ketika penjaga stand kembali, Nata langsung mengajak Ayna untuk masuk ke stadion basket. Mereka duduk di tepi lapang saat sekelompok anak basket sedang melakukan latihan melempar bola ke ring.


“Sekarang kan masih jadwal kuliah, kenapa kalian main basket?” heran Ayna.


“Mereka semua temen-temen aku. Berhubung hari ini kosong nggak ada matkul, kita sepakat buat pakai lapang basket. Cuma main-main aja sih, Ay.”


Ayna manggut-manggut. “Kamu mau ngambil UKM apa?”


“Kayaknya aku bakal ngambil basket aja, biar bisa olahraga teratur.”


"Beneran?” tukas Ayna tak percaya. Nata pun mengangguk. “Aku juga mau ngambil UKM itu. Aku suka banget basket walaupun nggak jago-jago amat.”


Ayna terkekeh malu. Ia memang menyukai basket sejak SMP. Ayna cukup cepat belajar dan memahami bagaimana teknik-teknik bermain basket dengan benar. Banyak yang mengira Ayna adalah atlet basket semasa SMP karena kelihaiannya. Namun, saat ditanya apakah Ayna akan serius dibidang basket, Ayna menggeleng. Gadis itu hanya menganggap olahraga sebagai hobi bukan potensi besar dirinya.


Mereka berdua pun hanyut dalam kesunyian. Ayna sibuk memperhatikan teman-teman Nata bermain basket sembari menyesap susu hangat yang dituang di cup. Sementara Nata, masih duduk mengistirahatkan diri sejenak sembari menemani Ayna.


“Kamu nggak ikutan main lagi?” tanya Ayna pada Nata. Ia tidak sadar di bibirnya ada sisa susu yang menempel, membuat Nata menahan tawa. “Kok kamu ketawa?”


“Muka kamu lucu,” balas Nata.


“Hah?”


Nata pun menjulurkan tangannya bermaksud membersihkan sisa susu di bibir Ayna. Namun, belum sempat ibu jarinya menepi, ada seseorang yang datang tba-tiba menarik Ayna hingga berdiri. Nata terkesiap ketika mendongakkan kepala, sementara Ayna langsung melotot sebal pada Zayn.


“Kenapa kamu ninggalin aku dan malah berduaan di sini?” cerocos Zayn sembari melirik tak suka pada Nata yang perlahan berdiri.


Ayna mendengkus, “Ya terserah aku lah, emang kamu siapa?” sinisnya yang membuat Zayn melotot tak percaya.


“Aku?” ucap Zayn sembari menunjuk dirinya sendiri. “Tutor kamu,” cetusnya. Ayna memutar bola mata.

__ADS_1


Nata yang berdiri di antara mereka, mengerutkan kening sembari memperhatikan Zayn. “Zayn Abhicandra?” terkanya meyakinkan ingatan yang terasa samar di kepalanya.


Zayn menoleh. Ia perhatikan wajah Nata yang baru ia sadari bukanlah wajah yang asing. “Nata Baskara?” tanyanya dengan nada tidak bersahabat.


Nata tersenyum lebar begitu Zayn ternyata mengingatnya. Cowok itu menjulurkan tangan. “Apa kabar, Zayn?”


Zayn menatap uluran tangan itu sekian detik lalu dengan malas ia menjabat tangan Nata. “Sangat baik, seperti biasa,” Jawaban Zayn membuat Nata terkekeh. Sifat cowok ini tak berubah sedikitpun. Tetap mempertahankan egonya dan selalu merasa jadi yang terbaik kapan pun itu.


“Kalian saling kenal?” sela Ayna setelah dua cowok di hadapannya berjabat tangan.


Nata mengangguk. “Kita berdua tetanggaan dari SD tapi Zayn pindah rumah pas udah masuk SMA.” Zayn ikut mengangguk walau ekspresinya tak segembira Nata bertemu teman lama.


“Saya pergi duluan,” pamit Zayn sembari menggamit tangan Ayna. Bahkan Zayn sengaja merapatkan genggaman di sela-sela jari mereka seolah sengaja menunjukkannya pada Nata. Ayna menggeram tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa misuh-misuh ketika Zayn menyeretnya keluar stadion basket.


Zayn melepaskan tangan Ayna begitu mereka menjauhi stadion basket. “Aku nggak suka kamu deket-deket sama Nata. Jauhin dia,” perintah Zayn yang tentu saja tak masuk akal bagi Ayna. Memang siapa cowok itu melarang Ayna ini dan itu?


“Emang kamu siapa kamu? Pacar aku? Ayah aku? Bukan, kan? Jadi nggak usah ngelarang aku apapun itu,” balas Ayna sengit.


“Oh gitu?” Zayn menyingsat lengan kemejanya hingga terlipas sampai siku. “Ya udah, aku laporin ke ayah kamu kalau kamu nggak becus kuliah dan malah berduaan sama cowok.” Zayn berbalik dan berderap pergi. Ayna langsung menyusulnya dan menarik tangan Zayn agar berhenti melangkah.


“Apa-apaan sih? Nggak jelas banget pake ngancem segala.”


“Makanya, Ayna. Turutin permintaan aku. Jangan deket-deket sama Nata.”


“Emangnya kenapa, Zayn? Kamu suka sama aku?"


"Nggak!"


"Ya terus kenapa?" Ayna mengernyit heran. "Kamu cemburu, ya?" tanyanya memasang wajah tidak percaya.


Zayn melotot. “Aku? Cemburu sama dia? Nggak, Ayna. Aku lebih baik dari dia segi manapun,” pungkasnya overpede.


“Ya terus alasan kamu apa?” Lama-lama Ayna muak berdekatan dengan Zayn. Zayn tidak hanya merecoki hari kuliahnya, tapi juga menerobos masuk ke lingkungan pertemanannya.


“Aku tutor kamu, jadi kamu harus nurut sama aku.“ Ayna membelalak. Zayn memang kelewatan. “Ayo, aku antar kamu pulang."


Ayna memutar bola mata. Ia enggan melanjutkan perdebatan. Ia pun mengikuti Zayn menuju tempat parkir mobil walau dalam otaknya, ia sedang menyusun strategi agar Zayn segera membencinya. Ia terpikirkan ide cemerlang melihat Zayn yang marah besar padanya kali ini. Namun, ia tak bisa melakukannya sendiri. Ia perlu bantuan Nata.


***

__ADS_1


__ADS_2