Times New Romance

Times New Romance
Bab 1 :: Anti Kuliah


__ADS_3

Bab 1


Anti Kuliah


{}


Gadis itu masih bergelung di selimut. Matanya sudah terbuka sejak pukul lima pagi, tapi ia enggan beranjak dari kasur. Hatinya berdesir tak nyaman dan badan terasa jauh lebih berat untuk diangkat daripada hari-hari biasanya. Mengetahui hari ini hari pertama masa orientasi, mood gadis itu hancur seketika.


Ketukan pintu terdengar berulang kali disusul sahutan nama Ayna. Namun, seakan menulikan telinga, gadis itu tetap bergeming. Ia sudah memutuskan untuk bolos kuliah saja daripada harus memaksakan diri menelan ilmu yang tidak ia senangi.


Sejak kepulangannya dari rumah saudara di Yogyakarta selepas kelulusan SMA, tak ada hal yang berjalan dengan benar di kota kelahirannya di Bandung. Ayahnya yang dipindah tugaskan ke Lembang, daerah kabupaten Bandung Barat yang terletak di pegunungan, membuat Ayna harus mandi tiap pagi dengan air hangat karena suhu yang tidak bersahabat. Belum lagi, karena gagal masuk universitas lewat jalur raport dan tes online, Faza tiba-tiba mendaftarkannya ke universitas yang namanya asing di telinga Ayna, yakni Kampus Biru dengan jurusan Teknik Informatika. Jurusan apa itu? Mendengar nama jurusannya saja, hanya warna hitam yang muncul di kepala Ayna.


Pintu pun dibuka, sosok pria tambun dengan kumis tipis muncul setelahnya. Kepala pria itu refleks menggeleng melihat putrinya masih terbungkus selimut ketika Faza sudah siap untuk bekerja. Faza mendekati kasur, lalu menepuk bahu Ayna yang tidur memunggunginya. "Ayo, Ayna. Ayah nanti telat kerja gara-gara kamu. Kamu nggak inget sekarang kuliah?" tanya Faza.


Ayna mencebik sebal. Ia ingat betul hari apa ini makanya ia bersikeras tidak ingin bangun. "Ayna nggak mau kuliah!" pungkasnya.


Faza mengembuskan napas panjang. "Coba dulu, Na. Belajar aja belum udah nolak aja."


"Ah, Ayah. Pokoknya Ayna nggak mau belajar di jurusan apa sih itu? Ayna nggak ngerti. Nanti Ayna jadi anak paling bloon di kelas," cecar Ayna yang masih meringkuk di dalam selimut.


"Semuanya juga belajar dari nol. Mau kamu lulusan SMA atau SMK, semuanya belajar dari awal di kuliah, Na."


"Ayna baru mau kuliah kalau udah pindah."


Faza menipiskan bibir. Matanya beralih pada pigura kecil yang terpajang di atas nakas. Faza meraih pigura itu lalu menatapnya. Senyum yang merekah dari ketiga orang di dalam pigura, sedikit memilukan hati Faza. Harusnya kamu yang di sini, Ana, batinnya.


Faza pun menyimpan pigura ke tempat semula sembari memutar otak untuk mencari cara agar Ayna terbujuk. Karena bukan hanya Ayna yang akan terlambat kuliah, tapi Faza juga akan telat bekerja. Ia pandangi puterinya yang masih berselimut lantas berucap, "Cepetan bangun atau ayah nggak ngasih uang jajan," ancam Faza lantas berdiri. "Pokoknya kalau lima menit lagi kamu belum bangun, ayah tinggal ya biar kamu kelaperan di rumah." Faza pun berlalu dan menutup pintu kamar puterinya. Ia berharap ancaman ini ampuh membuat hati Ayna luluh.

__ADS_1


Setelah yakin ia telah sendiri, Ayna langsung menyingkap selimut dengan sebal. Wajahnya kusut lengkap dengan rambut mengembang layaknya singa. Ia mendengkus, mengapa ayahnya harus mengancam di saat seperti ini?


Ayna menoleh pada pigura di mana satu keluarga utuh berfoto di depan Candi Borobudur. Ia rindu sosok yang tengah merangkulnya. Kalau ibu masih ada, mungkin Ayna bisa membujuknya lebih mudah dibandingkan ayah yang keras kepala. Tapi nasi telah menjadi bubur. Ayna tak bisa mengharapkan waktu bergerak mundur. Gadis itu pun perlahan bangkit dari kasur. Ia bergegas mandi. Demi perutnya yang mulai keroncongan, Ayna akan datang ke kampus hari ini.


***


Telinga lelaki itu sedikit berdengung mendengar ocehan yang terus meluncur dari bibir ibunya yang duduk di kursi penumpang. Tangan lelaki yang belum genap delapan belas tahun itu pun memutar kemudi mobil dengan hati-hati memasuki kawasan Kampus Biru. Keningnya sedikit mengernyit, menahan malu, mendapati beberapa mahasiswa memperhatikan ke arah mobil.


"Zayn, kamu tuh ya makanya dengerin Mama. Kalau kamu nggak bangun telat, kan Mama nggak bakal duduk di sini nemenin kamu. Mama nanti harus pulang sendiri lagi." Zayn hanya manggut-manggut. Anak memang selalu salah. Padahal ini keinginan ibunya sendiri.


"Nih, buka mulutnya," ucap Soraya sembari menyodorkan sendok berisi nasi dan suwiran ayam mendekati mulut Zayn. Cowok itu berusaha merapatkan bibir karena banyak mata yang melihat. Tapi ia tak tega melihat usaha ibunya yang tak kunjung menyerah, mulut Zayn pun akhirnya terbuka bersamaan dengan makanan yang menyapa indra pengecapnya. Senyum sumringah terlukis di wajah Soraya melihat putranya menurut. "Nah gitu dong. Kamu harus jaga kesehatan, anak mama yang ganteng. Jangan pernah lewatin sarapan."


Zayn mengunyah dengan gerakan lambat lantas menelannya begitu Soraya menyodorkan kembali sendok makan. "Mama, anak mama yang ganteng ini bisa sarapan sendiri, okay? Jadi mama nggak usah repot-repot kayak gini," ucapnya berusaha menahan emosinya.


"Ah, gapapa. Mama seneng kok nyuapin kamu."


Soraya pun mencebik dan menyimpan bekal anaknya di dasbor mobil. "Yaudah, mama nyerah." Zayn mengembuskan napas lega. "Tapi awas aja kalau sarapannya nggak diabisin, mama bakal ikutin kamu ke kampus tiap hari!" ancam Soraya.


Zayn pun menghentikan mobil di tempat parkir. Ketika mesin mobil telah mati, Zayn langsung mengambil dua tangan Soraya lalu menciumnya sejenak, membuat mata ibunya mengerjap tak mengerti. "Mama yang Zayn sayaaaang banget. Aku udah gede. Aku bisa rawat diri aku sendiri. Jadi, nggak usah khawatir ya." Zayn tahu tindakan Soraya adalah bentuk kasih sayang padanya, tapi ini sudah waktunya bagi Zayn untuk menikmati hidup layaknya anak kebanyakan. Zayn hanya ingin dimengerti.


Soraya tak menampakkan ekspresi. Wajah ibunya tetap datar saat pandangannya berubah sayu. "Kamu anak satu-satunya, Zayn. Kamu hadiah istimewa bagi Mama sama Papa. Mama nggak yakin kamu kuat buat kuliah, Zayn. Ayo kita kembali aja ke rumah sakit."


Mendengar kata rumah sakit, perlahan Zayn melepaskan tangan ibunya. Sembari menyandarkan punggung, ia menggeleng. Menolak tegas keinginan ibunya yang jelas-jelas bukan keinginannya. "Mama udah janji ngizinin aku kuliah. Aku nggak akan berubah pikiran," ucapnya datar tak ingin mendengar bantahan.


Soraya menghela napas yang terasa sesak. Ia tak ingin hal buruk terjadi pada puteranya. Zayn terlahir prematur tidak seperti anak pada umumnya. Di luar pengawasan Soraya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Zayn. Namun, ia mengerti keinginan Zayn yang ingin menjalani kehidupan normal seperti anak yang lain. Soraya hanya bisa mendukung keputusan puteranya.


Soraya pun mengeluarkan sebungkus obat dan jam tangan digital hitam dari dalam tasnya yang kini ia berikan pada Zayn. Zayn menurut untuk memasukkan obat itu ke dalam tas dan memakai jam tangan sebagai hadiah dari ibunya. "Makasih, Ma. Zayn sayang mama."

__ADS_1


Soraya mendengkus sebal. Anaknya memang keras kepala. Ia pun menarik bahu Zayn ke dalam rengkuhannya. Zayn terkekeh kecil dan membalas rengkuhan ibunya. "Mama juga sayang kamu."


****


Ayna turun dari mobil dengan malas. Ayna menghela napas berulang kali mencoba untuk menerima fakta bahwa ia terdaftar menjadi mahasiswa baru di jurusan Teknik Informatika. Ayna memang tidak gagap teknologi, tetapi bila harus belajar seluk beluk teknologi sampai akhirnya harus membuat aplikasi? Ayna benar-benar ingin mengibarkan bendera putih saja.


Faza yang ikut turun pun menghampiri Ayna dan menyodorkan sejumlah uang. "Nih, uang jajan kamu. Ayah bakal pulang malem. Jadi awet-awet uangnya," ucap Faza yang dibalas gumaman oleh Ayna. Gadis itu pun memasukkan uangnya ke saku kemeja putih yang wajib ia kenakan sebagai seragam mahasiswa baru yang akan mengikuti kegiatan masa orientasi.


Faza hendak mengitari mobil ketika pergelangannya ditahan oleh Ayna. "Ayah, aku ikut ke kantor ayah aja deh."


Faza menepis tangan Ayna lalu berkacak pinggang. "Kamu mau ngapain di sana?"


"Ya ngapain aja, Yah. Ayna bisa bersih-bersih kok."


Faza melotot. "Udah buruan masuk, Ayna. Gara-gara kamu ayah udah telat sejam."


Ayna merengut, "Ah, Ayah. Ayna nggak mau kuliah di sini. Pokoknya Ayna nggak mau kuliah," ucapnya sembari bersidekap dan menggembungkan pipinya. Ia harap ayah akan menyerah memaksanya bila ia merajuk.


Faza mengembuskan napas lalu mencubit gemas sebelah pipi Ayna. Gadis itu meringis kesakitan dan menepis tangan ayahnya. "Kamu kan udah gede jangan kayak anak kecil gini ah. Jadi Ayna yang dewasa. Malu sama ibu yang merhatiin kamu."


"Ibu udah nggak ada," balas Ayna.


Faza mengembuskan napas panjang. Ia pun melenggang pergi tak peduli Ayna yang merengek-rengek lagi untuk kembali ke mobil. Ayna pandangi dengan nanar kepergian mobil ayahnya. "Aku kan mau belajar jurusan manajemen, bukannya informatika," decaknya sembari menendang asal kerikil di kakinya.


Ayna pun melangkah gontai. Baru di langkah ketiga, Ayna langsung berhenti dan menoleh ke samping kanannya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia menemukan seorang lelaki berkemeja putih yang menyeringai seakan Ayna adalah makhluk yang aneh. Namun, Ayna tak sempat memperhatikan jelas wajahnya karena lelaki itu telanjur bergabung dengan segerombol mahasiswa baru. Ayna pun kembali berjalan. Ia berusaha mengabaikan apa yang dilihatnya. Karena ada hal yang lebih penting daripada mencari siapa lelaki itu, yaitu bagaimana cara membujuk ayah agar mengizinkan Ayna keluar dari kampus ini.


****

__ADS_1


__ADS_2