Times New Romance

Times New Romance
Bab 15 :: Dilema


__ADS_3

Bab 15


Dilema


{}


Liburan semester satu telah usai. Di semester dua ini, tak banyak yang berubah mengenai teman-teman Ayna. Gio tetap usil dan menyebalkan, Ranya tetap bermulut pedas dan suka menyindir, Nino tetap pendiam, dan Mira yang selalu positif thinking dan senang makan. Ayna mulai mampu untuk beradaptasi dengan teman sekelasnya. Lambat laun hatinya mulai bisa menerima bahwa salah jurusan bukanlah hal yang buruk.


Di sabtu ini, Ayna dan Mira yang sepakat mengikuti kegiatan UKM basket, rutin latihan di kampus. Ayna dan Mira pun berjanji untuk saling bertemu di depan stadion basket. Mood Ayna yang bagus seketika hancur begitu melihat Zayn, Hari, dan Pras yang sibuk mengobrol di stand di depan stadion. Tidak biasanya mereka akan berkumpul di sana. Lagipula, mereka tidak bergabung dalam UKM manapun.


Mira dan Ayna, yang merasa terancam, pun menunduk dalam-dalam. Sama-sama berniat untuk menghindari ketiga cowok tengil itu. Dua gadis itu berhasil melewati punggung mereka. Ayna dan Mira hanya harus cepat melangkah sebelum salah satu dari ketiga punggung itu menoleh ke belakang.


“Antivirus! Mau ke mana?”


Langkah Ayna dan Mira pun berhenti. Gerakan gerilya mereka gagal total. Zayn dan kedua cowok itu pun mengelilingi Ayna dan Mira.


“Kalian nyelundupin barang haram? Sembunyi-sembunyi gitu,” celetuk Hari yang disambut gelakan tawa dari Zayn dan Pras.


“Iya nih, Mir badan kamu tuh kan--” Pras membuat gestur layaknya sumo dengan dua tangan yang melengkung dan kaki membentuk kuda-kuda sembari menggembungkan pipinya. “–bakal keliatan jelas mau ngumpet sekali pun.”


“Enak aja! Aku nggak gendut tahu!” sembur Mira membuat Pras memeletkan lidahnya.


“Kalian mau latihan basket ya?” tanya Zayn sembari tersenyum menatap Ayna yang memutar bola mata tak suka.


Sepulangnya mereka dari taman rekreasi, Zayn menutup rapat bibirnya untuk bercerita dan selalu berucap tidak ada apa-apa. Ayna yang dihujam rasa penasaran dan khawatir pun hanya bisa meredam pikirannya yang selalu berotasi pada hal yang sama tiap malam. Rasa khawatir yang dipendam berubah jadi rasa kesal mengingat Ayna seharusnya tak memikirkan Zayn! Mengapa juga Ayna harus merasa khawatir pada cowok itu? Ayna memang tak ada hubungan lain selain murid dan tutor dengan Zayn, bahkan teman sekalipun. Apa sesulit itu pertanyaannya sampai Zayn tidak sanggup menjawabnya? Zayn terus bersikap seolah-olah semua telah selesai dan Ayna tak punya pilihan selain pura-pura tidak peduli lagi.


“Ya kali ke depan stadion basket mau renang, Zayn Abhicandra” sindir Ayna membuat Zayn mencebik. “Kenapa kalian dateng ke sini? Bukannya kalian udah sepakat nggak bakal ikut UKM?" Zayn, Pras, dan Hari saling melirik lalu mereka bertiga menunjuk satu sama lain. Hari dan Pras menunjuk Zayn yang di tengah dan Zayn menyilangkan tangan menunjuk keduanya. Ayna bersidekap, “Zayn,” panggilnya sudah tahu ini akal-akalan Zayn.


Zayn menyengir. “Aku bakal mantau kamu latihan basket. Kalau kamu ketahuan malah berduaan bareng dia.” Zayn menunjuk satu orang yang hendak memasuki stadion basket, membuat semua pandangan terlempar pada orang yang seketika berhenti melangkah. Dia Nata, yang mengangkat alis penuh tanya. Zayn menyipitkan mata tak suka sebelum kembali menatap Ayna.


“Pokoknya aku bakal perhatiin kamu.” Zayn menunjuk matanya dengan dua jari lalu ia arahkan pada mata Ayna.


Ayna menjatuhkan rahangnya. Tapi tak ada kata yang ia sanggup ucapkan. Ia terlalu lelah menghadapi Zayn. Bahkan di hari yang ia pikir adalah Hari Tanpa Zayn, cowok itu malah datang sukarela mengikutinya. Ayna langsung melangkah masuk bersama Mira mengabaikan Zayn yang melambaikan tangannya.

__ADS_1


“Hati-hati, jangan sampai kebentur bola! Nanti kamu geger otak, Ayna!” pekik Zayn yang membuat Ayna mengernyit malu.


Mereka pun berpisah. Ayna dan Mira bergabung dengan anggota basket yang terdiri dari berbagai jurusan di Kampus Biru. Sementara Zayn, Hari, dan Pras berjalan menuju area kantin. Zayn akan menunggu Ayna selesai mengikuti kegiatan UKM.


***


“Lo sebenernya suka nggak sih sama Ayna?” selidik Pras sembari menyeruput es tehnya.


Di sampingnya, Hari, ikut menyahut. “Anak kelas sampai wawancara ke kita berdua buat tahu isi hati lo, Zayn!” ungkap Hari.


Zayn yang duduk di hadapan mereka hanya tersenyum. Bukan Zayn namanya bila tidak tersenyum setiap saat ia bisa. Zayn merasa rasa syukur tertinggi adalah ketika bibir sangat ringan untuk diajak tersenyum. Dan selama Zayn bisa melakukan itu, Zayn akan tersenyum. “Kalian bisa bilang ya atau nggak.”


“Hah?” sanggah Pras. “Maksud lo apaan, Zayn?”


Zayn memainkan sedotan pada es tehnya. Pikirannya terasa buntu untuk menjawab, tapi Pras dan Hari seakan mendesak lewat tatapan agar Zayn segera menjawabnya. Zayn pun menggeleng kecil. “Gue nggak tahu.”


Hari menghela napas tak percaya. “Kalau lo nggak tahu, ngapain lo godain dia tiap hari, Zayn?" Melihat Zayn tetap diam, Hari berdecak, "Adik gue pernah jadi korban diberi harapan palsu sama gebetan cowoknya, dia sampe nangis kejer dan nggak mau makan sampai sakit gara-gara cowoknya nggak pernah anggap serius hubungan mereka tapi adik gue telanjur terbawa perasaan.” Hari memegangi kedua bahu Zayn, membuat cowok yang binar matanya tampak redup saat ini balik menatapnya. “Gue saksi di mana seorang perempuan yang udah terluka perasaannya, nggak bisa sama lagi, Zayn. Mungkin bisa, tapi mereka butuh waktu yang nggak sedikit. Kalau lo cuma main-main, mending berhenti sekarang.”


Pras mengimbuh, “Gue setuju apa kata Hari. Kita emang sering usil, tapi kalau urusan mainin hati perempuan, gue nggak mau ikut-ikutan. Gue gangguin Mira karena emang gue suka sama dia.” Pras mendekatkan wajahnya pada Zayn yang menunduk lesu. “Perasaan cewek tuh kayak batu keras yang kalau ditetesin air terus menerus bisa melunak juga. Jadi, daripada batu itu melunak tanpa lo bisa pertanggungjawabkan tindakan lo, mending jauhin dia.”


Zayn menghela napas panjang. Ia tak pernah tahu mencintai seseorang bisa serumit ini. Air mata Ayna yang meluncur tempo hari, benar-benar membuat Zayn takut untuk melangkah lagi. Gadis itu begitu khawatir sampai meneteskan air mata hanya karena melihat penyakit Zayn yang kambuh. Apa jadinya bila Ayna tahu Zayn terlahir dengan penyakit itu? Apa jadinya bila Zayn yang membuat Ayna terjebak bersama orang penyakitan seperti dirinya? Apa jadinya bila Ayna benar-benar jatuh cinta padanya? Masih sudikah ia menerima Zayn yang menjadikan obat teman sehidup sematinya?


Pikiran itu memukul Zayn tanpa ampun sejak kepulangannya dari taman rekreasi. Jantungnya nyaris berhebti berdenyut hanya karena memikirkan perasaan Ayna. Ia tak ingin menghancurkan harapan gadis itu karena Zayn bukan cowok normal seperti kebanyakan. “Gue suka sama Ayna. Bahkan lebih dari yang kalian kira, tapi, “ Zayn menahan ucapannya, bibirnya tersekat. "Gue nggak berani pegang tangan dia, gue yang bakal bikin dia terluka nantinya.”


Karena pada akhirnya, pilihan sulit itu akan Ayna hadapi bila bersama dengan Zayn. Melepaskan atau mempertahankan rasa sakit melihat orang yang ia kasihi selalu berada di ambang hidup dan mati. Seharusnya Zayn tak pernah bertemu dengan Ayna. Seharusnya Zayn tak pernah menginjakkan kaki di kampus ini. Seharusnya dan seharusnya lainnya yang menjatuhkan Zayn ke jurang penyesalan.


Zayn masih tidak tahu apa yang sebenarnya hatinya inginkan. Ia hanya ingin selalu bisa berdekatan dengan gadis itu, untuk sekarang.


***


“Kamu emang jagoan basket,” puji Nata pada Ayna yang duduk di sampingnya ketika istirahat basket putera dan puteri dilakukan bersamaan. Mira yang datang membawa dua botol minum pun menyodorkan satu botol minuman pada gadis itu sebelum dirinya duduk bersila di sisi Ayna.


Ayna tersenyum sembari menerimanya. Lalu ia menatap Nata. “Nggak, kok biasa aja. Padahal aku udah lama nggak olahraga.”

__ADS_1


Mira menginteupsi, “Bohong banget, kamu masih mahir gitu sampai tadi lempar bola aja masuk terus ke ring. Kamu punya lapang basket ya, Ay di rumah?” Mira merapatkan tubuhnya dengan Ayna. “Aku mau dong belajar.”


Ayna menjauhkan tubuh Mira sembari berdecih geli, “Nggak, Mir. Sejak ikut UKM, itu pertama kalinya aku megang lagi bola basket.” Mira memberenggut tak percaya.


“Ayna,” panggil Nata membuat Ayna menoleh menatapnya. Mira yang ikut-ikutan terinterupsi suara Nata, ikut menatap cowok itu. Tapi, melihat Nata yang menipiskan bibirnya ketika pandangannya beradu dengan Mira. Gadis itu mengerti bahwa Nata tidak ingin Mira mendengar ini. Gadis itu pun pergi untuk mengobrol dengan anggota yang lain walau dalam hati ia bersungut-sungut sebal.


“Kenapa, Nat?” tanya Ayna.


“Kamu ada hubungan apa sama Zayn? Satu kampus kayanya udah tahu kalian punya hubungan yang spesial.”


Ayna refleks tersedak mendengar penuturan Nata. Matanya membelalak. Ia pikir gosip itu hanya terputus di anak Teknik Informatika saja, tapi ternyata turut menyebar ke segala penjuru Kampus Biru. “Nggak ada apa-apa kok,” sanggah Ayna cepat.


“Kalau nggak ada apa-apa ..., kenapa sampai sekarang kamu belum jawab perasaan aku?" tanya Nata.


Ayna tergugu. Ia sudah mendiamkan pernyataan Nata sampai semester satu usai. Ayna juga tidak mengerti dengan hatinya. Ia merasa nyaman dengan Nata, tapi Ayna tak sanggup mengartikan rasa nyaman itu. Apa Ayna benar-benar suka atau sekedar kagum pada Nata. "Aku bakal ngasih tahu kamu nanti."


Nata pun mengangguk tak puas. Pandangannya teralih dari Ayna pada sepasang kaki yang tiba-tiba muncul di balik punggung gadis itu. "Kalau kamu nggak ada apa-apa, kenapa dia ke sini?" tanya Nata sembari menunjuk Zayn dengan dagu yang bersidekap, membuat Ayna menoleh cepat.


Gadis itu mengembuskan napas kasar begitu Zayn melambaikan tangan padanya dengan wajah yang tidak bersahabat. Ayna pun mengembalikan tatapannya pada Nata. “Dia udah gila, Nat," keluh Ayna.


Zayn melotot. “Gara-gara siapa aku jadi gila, Ayna?” Zayn menekuk lututnya dan berbisik pada Ayna. “Kamu itu ibarat wifi yang diproteksi dengan rumit. Aku nggak pernah bisa mecahin apa passwordnya.” Ayna mendelik malas. Zayn mulai lagi.


“Jadi, apa sih password buat login ke hati kamu?” gombal Zayn menampilkan senyumnya yang manis. Bagi sebagian perempuan mungkin menawan, namun bagi Ayna sekarang tampak menggelikan.


Ayna mendorong bahu Zayn lalu berdiri. “Aku belum selesai. Masih ada sekali lagi latihan.” Ayna menatap Mira yang kembali bergabung dengannya karena melihat kemunculan Zayn. “Iya kan, Mir?”


Mira menelengkan kepala. “Hah? Bukannya udah selesai tinggal nunggu peng–” Ayna buru-buru membekap mulut Mira dengan tangannya. Zayn sudah tersenyum lebar pada Ayna saat gadis itu meringis. Ia gagal melarikan diri gara-gara Mira. Dasar Mira tidak bisa diajak kompromi!


Mira terkekeh begitu Ayna tertangkap basah ia telah berbohong. Mira abaikan Ayna yang mencebik padanya. “Ayolah, Ayna. Jangan judes-judes sama Zayn. Zayn kan cowok baik.” Mira melirik Zayn yang seketika menjentikkan jarinya membenarkan hal itu.


Zayn pun menggamit lengan Ayna. Ayna mengeraskan rahang dan langsung misuh-misuh. Cowok itu menatap Nata yang kini berdiri. “Gue pamit, Nata Baskara,” ucap Zayn yang dibalas senyuman miring oleh Nata. Zayn pun berderap pergi membawa Ayna.


“Biar dia bikin keputusan diri, Zayn. Lo bukan siapa-siapanya.”

__ADS_1


Zayn membekukan langkah. Ia terkekeh hambar. Walau Nata memang mengungkapkan fakta, tapi Zayn tidak ingin menerimanya. Zayn pun kembali menghadap Nata masih dengan Ayna di genggamannya. “Berani tanding basket sama gue? Lo harus janji bakal jauhin Ayna kalau gue menang,” tantang Zayn tanpa berpikir dua kali.


__ADS_2