Times New Romance

Times New Romance
Bab 25 :: Perpisahan


__ADS_3

Bab 25


Perpisahan


{}


Waktu terasa bergulung lebih cepat. Semuanya kembali menjalani rutinitasnya masing-masing. Sejak uang kas dikembalikan, teman-teman Ayna mulai melupakan insiden itu dan tuduhan Ayna sebagai pencuri mulai sirna.


Pras kembali mengganggu Mira seperti biasanya. Gadis itu sempat menangis karena ditakut-takuti bahwa ada hantu yang sedang mengikutinya. Mira memang mudah percaya takhayul. Pras yang tadinya memandang jahil berubah menjadi khawatir dan menepuk-nepuk pundak Mira yang tengah menangis sembari meminta maaf. Pras tidak tahu kepedulian yang ia tunjukkan mampu menumbuhkan perasaan pada seorang perempuan. Pras hanya perlu waktu, agar batu keras yang ada dihadapannya benar-benar luluh untuknya.


Ranya dan Via yang senang menyindir dan menghasut teman perempuan lain untuk mengganggu Ayna, lebih tenang dari biasanya. Tidak banyak perdebatan yang terjadi di kelas. Banyaknya tugas dan persiapan ujian menyibukkan mereka. Gio kembali seperti biasa bahkan kembali menjahili Ayna. Entah mengambil buku catatannya tiba-tiba atau mengikat tali sepatu Ayna diam-diam menjadi satu sehingga Ayna hampir tersungkur ketika berjalan. Gio senang mendapati reaksi Ayna hanya melotot dan tak banyak mengomel ketika dijahili, tapi Gio selalu meminta maaf setelahnya.


Tapi ternyata, waktu tak benar-benar berjalan bagi seorang Ayna Nabila. Di tengah huru-hara kelas yang tengah sibuk mengerjakan tugas karena dosen tidak hadir, Ayna meremas kertas putih pemberian Zayn yang belum ingin Ayna baca. Gadis itu merasa, bila Ayna membukanya Ayna benar-benar harus siap Zayn telah hilang dari kehidupannya. Ia takut hal buruk terjadi pada Zayn. Ia tak ingin mengetahui apapun tentang kabar Zayn. Meyakini Zayn baik-baik saja, mampu memberi kekuatan untuk Ayna.


Mira menepuk bahu Ayna membuat gadis itu terkesiap dan segera menyembunyikan kertas di balik genggamannya. Ia menoleh pada Mira dengan dua alis terpaut. "Kenapa, Mir?"


Mira meneguk. Matanya sempat basah karena dijahili oleh Pras, tapi sorotnya seakan sedang memohon pada Ayna. Tampak Mira mengeratkan cengkeraman pada celana jinsnya saat pandangannya beralih ke lantai. "Ada yang mau aku omongin sama kamu, Ayna."


Mira membawa Ayna ke kamar mandi. "Kamu mau bahas apa sam--" Belum genap kalimat Ayna, Mira langsung memeluknya erat. Sangat erat seakan meyakinkan Ayna akan apa yang akan ia ucapkan setelahnya benar-benar tulus dari dasar hati.


"Mira?"


Mira mulai menangis sesenggukan. "Ma-maaf." Ayna terperangah. Kata maaf bukanlah pembuka yang diinginkan semua orang. Setelah kata maaf diucapkan, Ayna mengerti ada penyesalan yang Mira ungkapkan. Namun, apapun itu, Ayna sudah menyiapkan diri untuk mendengar semuanya.


Ada jeda panjang sebelum Mira mampu berucap di tengah napasnya yang terisak. "Maaf, Ayna. Aku yang ngambil dompet itu."


Tangan Ayna yang sempat terangkat hendak membalas rengkuhan Mira, kembali gadis itu turunkan. Ia sudah menebak sebelumnya, jadi Ayna tak terlalu terkejut walau ia masih tak percaya apa yang baru saja didengarnya.


"Zayn nggak sengaja mergokin aku di rumah sakit yang mau bayar pengobatan ayah aku dan dia mutusin buat ganti uangnya."


Tenggorokannya tercekat, Ayna kembali merasa sesak. Zayn, menepati ucapannya. Tangannya pun ia tempelkan ke punggung Mira, mengelusnya lembut berusaha mengatakan bahwa Ayna sekarang baik-baik saja. Benar-benar baik-baik saja.


"Awalnya, aku berniat pinjam uang kas itu untuk bayar pengobatan karena aku udah ngajuin pinjaman ke rentenir, tapi semua kacau karena rentenir itu malah nunda pencairan uangnya bahkan nggak cair sampai sekarang, Ayna. Dan kamu yang harus kena imbasnya."


"Gapapa, Mir. Aku bener-bener gapapa."


"Zayn udah larang aku buat cerita. Dia nggak mau hubungan aku sama kamu jadi retak, tapi aku ngerasa bersalah dan nggak bisa tidur tiap hari, Ayna. Kamu dibully gara-gara aku dan aku seenaknya jadiin kamu tameng saat hujatan anak kelas yang harusnya tertuju ke aku, tapi malah mengarah ke kamu, Ayna. Aku minta maaf."


Ayna tersenyum lalu membalas dekapan Mira tak kalah eratnya. Batinnya terisak mengingat Zayn lah yang telah meluruskan kesalahpahaman ini. Cowok yang selalu ingin Ayna jauhi, justru menepati janjinya. Cowok yang selalu diabaikan oleh Ayna, justru melindungi Ayna walau hatinya sudah terluka.


"Maaf, Ayna." Mira sesenggukan menangis.


Kejujuran memang selalu menyakitkan. Banyak orang yang menghindari kejujuran karena takut orang-orang yang mereka sayangi, hargai, dan mereka pertahankan, akan melarikan diri dan menarik seluruh kepercayaan padanya. Tapi Ayna pun mengerti, bahwa kejujuran tidak selalu menjadi hal yang pahit. Kejujuran Mira yang awalnya menyakitkan ini, memang mengejutkan tapi melegakan hati Ayna bersamaan. Setidaknya Ayna mengerti, kejujuran memang harta berharga yang tak ternilai harganya.


"Makasih kamu udah jujur, Mir." Mira melonggarkan pelukannya dan mengusap kasar air matanya. Ia pandang Ayna yang tersenyum tulus. "Aku tahu ini sulit buat kamu, tapi kamu berhasil ngalahin diri kamu sendiri buat jujur. Aku maafin kamu."


Mira kembali merengkuh Ayna. "Makasih, Ayna. Makasih. Maaf, aku bertindak kayak pengecut. Sekarang aku bisa tidur dengan tenang lagi. Maaf, Ayna dan makasih. Kamu emang sahabat baik aku." Ayna tersenyum dan membalas pelukan Mira.

__ADS_1


***


Terletak di puncak bogor, Villa Ranya yang berdominasi warna putih jadi tempat yang nyaman untuk liburan. Desau angin menenangkan pikiran siapapun yang menghirupnya. Pemandangan hijau yang memanjakan mata, mampu mengusir penat seharian memandang layar komputer.


"AHH!"


Mira memekik kencang sembari berlarian begitu Hari mengejarnya dengan kodok di tangan. Mira yang sudah menangis pun bersembunyi di punggung Pras yang sibuk memanggang daging. Pras langsung memarahi Hari yang balas meledek kedekatan Pras dan Mira. Keduanya pun terhenyak. Tanpa Hari sadari, Pras dan Mira mengulum senyum yang sama.


Di sampingnya, Gio yang tak kalah sibuk memanggang daging hanya geleng-geleng kepala. Pandangannya pun beralih pada sekumpulan anak TI yang berkumpul di halaman belakang Villa. "Woy, bagi yang merasa cowok bantuin gue napa!" Kenan dan Nino yang merasa tersindir pun bergabung bersama Gio.


"Ayna, lihat sini dong!"


Ayna menoleh dan tersenyum begitu Ranya memotretnya dengan kamera digital. "Ah, kaku banget gaya lo." Ranya langsung menggandeng Ayna dan mengarahkan lensa kamera menghadap mereka. "Gini-gini ikutin gue." Ayna terkekeh geli melihat Ranya memanyunkan bibir sembari mengangkat dua jari ke dekat matanya. Ayna pun mengikuti gaya Ranya membuat gadis itu memekik girang.


"Ayo kumpul ke ruang tengah! Kita makan dulu!" pekik Kenan selaku ketua kelas. Anak TI yang kini berjumlah 24 orang itu pun makan bersama.


Setelahnya, mereka duduk santai mengelilingi api unggun diiringi alunan gitar yang dimainkan oleh Gio. Semuanya bernyanyi dan me-request lagu satu persatu. Bahkan Gio mulai melakukan stand up comedy untuk mencairkan suasana. Canda dan tawa pun melebur jadi satu yang menyebarkan rasa hangat di dada mereka.


"Gimana ya kabar Zayn?"


Ayna yang sedang meminum teh hangatnya, hampir saja tersedak. Tenggorokannya tercekat tepat setelah Mira bertanya. Ayna menurunkan gelas dan mendekapnya dengan dua tangan. Ia mencoba mencari kehangatan atau mungkin kekuatan untuk menahan hatinya agar tidak goyah.


Ayna berhasil menyelesaikan studinya di jurusan Teknik Informatika. Ia telah lulus sidang dengah hasil yang cukup memuaskan walaupun nilai akhir yang ia dapat masih kalah dari Ranya dan Kenan, tapi mampu menyelesaikannya hingga akhir adalah kebanggaan tersendiri yang tidak ternilai harganya. Lelah, penat, semuanya terbayar sudah dengan nilai yang didapat Ayna.


Ini adalah kali keempat anak sekelasnya mengadakan acara liburan di Villa Ranya yang jadi acara rutin tahunan, atau kini yang disebut acara perpisahan sebelum mereka wisuda esok hari. Semua mahasiswa mampu menyelesaikan studinya dengan baik, bahkan Mira yang sebelas dua belas dengan Ayna yang kadang tidak mengerti apa yang sedang mereka pelajari, mampu melaksanakan sidang dengan baik.


Ayna mengangguk setuju. Senyuman tipis terulas di bibirnya. "Aku juga kangen sama dia," balasnya membuat Mira tersenyum penuh arti. "Aku ke toilet dulu ya Mir."


Ayna memasuki Villa, tapi tak berjalan menuju kamar mandi. Ia justru naik ke lantai dua. Menuju kamarnya yang kini sepi karena penghuninya sedang berkumpul di halaman belakang Villa. Ayna membuka jendela dan memandang langit berhiaskan bulan purnama yang indah. "Kita masih memandang langit yang sama kan, Zayn? Aku rindu kamu. Aku nyoba buat ngelupain kamu tapi percuma, kamu berhasil ninggalin jejak di sana. Jejak yang nggak pernah bisa aku hapus, tapi ternyata bukan karena aku nggak bisa menghapusnya tapi aku yang enggan menghapusnya."


Ayna tak bisa melupakan Zayn. Ia rindu tapi tak pernah ada ujung temu. Ia tak mendapatkan informasi lain selain Zayn sedang dirawat di luar negeri. Ayna pikir, mendiamkan perasaan ini akan membuatnya hilang tak berbekas namun yang ada justru sebaliknya. Rasa itu malah makin mengakar kuat dan sulit dilepaskan.


Sehalus itukah cara cinta masuk ke tiap hati? Bahkan Ayna tak menyadari kapan ia jatuh cinta pada Zayn. Apa sejak cowok itu memeluknya dan berkata akan melindunginya atau saat Zayn memberikan boneka besar untuknya, atau saat Zayn sering menggombalinya atau saat mata keduanya bertemu di perjumpaan pertama? Ayna tak yakin kapan cinta berhasil bersemayam di hatinya.


Ilmu yang Zayn ajarkan lebih detail daripada ketika dosen yang menjelaskan karena cowok itu akan mengulangi hal yang sama terus-menerus hingga Ayna paham, berbeda dengan dosen yang hanya menjelaskan satu kali dan menuntut mahasiswanya agar langsung dapat memahami. Ayna banyak terbantu berkat Zayn. Tanpa dasar program yang Zayn ajarkan, mungkin Ayna takkan pernah bisa lulus sidang dan membuat suatu aplikasi.


Ayna mainkan ponselnya untuk melihat room chat whatsapp-nya dengan cowok itu. Ayna gulirkan pesannya yang mungkin mencapai ratusan sejak Zayn tak lagi dapat dihubungi. Pesan yang tak pernah berbalas bahkan tak pernah terkirim pada Zayn karena hanya ceklis satu. Zayn menghilang tanpa menghilangkan jejak sedikit pun. Nomor ponselnya bahkan tak bisa dihubungi langsung.


*Zayn, aku minta maaf nggak percaya sama kamu. Kamu benar, aku salah. Aku seharusnya lebih percaya sama kamu daripada Nata.


Jadi, bisa kan kamu kembali ke sini?


Aku juga punya perasaan yang sama kayak kamu. Tapi terlambat menyadarinya. Maaf.


Sampai akhir kamu selalu sayang sama aku. Bahkan, kamu udah ngehajar Nata lebih dulu. Cowok itu emang pantas dihajar. Dia deketin semua cewek sampai deketin Mira! Harusnya, aku percaya sama kamu. Maaf*.


Deretan pesan yang Ayna kirimkan semakin menimbun air mata di kelopak mata Ayna. Namun, Ayna tetap tersenyum seolah Zayn benar-benar ada di depan matanya.

__ADS_1


*Aku berhasil nyelesain quiz program bahasa C lebih dulu dari Ranya. Aku hebat, kan?


Aku selalu inget kata-kata kamu, bahwa sebelum mempelajari sesuatu kita harus ngerti konsepnya seperti apa. Aku sempet kesulitan, tapi akhirnya aku berhasil ngerti*.


Ayna tersenyum saat cairan bening meluruh begitu saja ke pipinya. Tak banyak kenangan yang ia ingat selain adu mulut dan saling menantang. Jika saja Ayna tahu arti di balik sorot sendu yang sering Zayn tampakkan kala menunggunya di luar gedung, pandangan kosong Zayn bila ia sedang menyendiri, dan senyumannya yang kadang tak seirama dengan matanya yang hampa adalah cara Zayn memberi tahu bahwa ia sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, Ayna akan lebih menghargai keberadaan Zayn.


*Kamu tahu, ada sesuatu yang ingin banget aku pelajari kalau kamu udah kembali. Aku sangat ingin paham tentang sesuatu dan cuma kamu yang bisa ngajarin aku hal itu.


Kamu tau itu apa? Ya, mempelajari kamu*.


Ayna menghapus kasar air matanya. Jantungnya terasa dihujam. Ia mulai mengetikkan pesan baru pada Zayn. Ayna selalu percaya, Zayn akan membacanya suatu hari nanti.


Zayn, kapan kamu kembali ke sini? Aku rindu kamu. Kamu nggak seneng ngeliat murid kamu bisa dapat IPK 3,5?


Tanpa Ayna tahu, ada kaki yang sedang melangkah menaiki undakan tangga menuju lantai dua.


Itu nilai yang gede, kan? Yah walaupun aku yakin, tanpa kerja keras kamu pasti dapat IPK sempurna.


Orang itu berjalan di lorong sembari menoleh mencoba mencari seseorang yang tidak ia temukan di lantai dasar.


Aku sayang sama kamu, tapi sampai detik ini aku masih nggak berani buka surat dari kamu. Keyakinan aku bahwa kamu masih bernapas dan sama-sama menunggu seperti aku yang menunggu kamu, buat aku kuat ngejalanin kuliah yang kadang bikin lelah dan hampir buat aku nyerah di tengah jalan.


Orang itu terdiam di ambang pintu yang terbuka. Ia mengintip seorang gadis yang jadi alasannya untuk bertahan. Gadis yang telah dinantinya selama ini. Seulas senyuman tampak di bibir merah mudanya.


Jadi, cepet kembali ke sini. Kita baca suratnya bareng-bareng, Zayn. Aku rindu kamu dan aku nggak pernah tahu ternyata rindu bisa semenyiksa ini.


Ayna menurunkan ponselnya sembari menghela napas lega. Ia selalu merasa lega ketika telah menuangkan segala isi hatinya jadi bentuk tulisan yang ia kirimkan pada Zayn. Walau hanya centang satu, Ayna yakin nomor ini masih aktif. Ia tidak yakin itu apakah nomornya benar-benar aktif atau hanya sekedar alasan untuk membuatnya bertahan pada rindu yang menyesakkan?


Ia keluarkan surat lecek dari sweater-nya yang sudah berbentuk bola, namun karena licin, surat itu meluncur lepas dari tangannya ke lantai.


Ayna mengembuskan napas sembari melangkah dan menjulurkan tangan hendak mengambil kertas yang berguling itu. Namun, tiba-tiba ada tangan lain yang meraih kertas itu lebih dulu bersamaan dengan pesan yang muncul di ponselnya. Ayna yang terkesiap, menjatuhkan ponselnya yang masih berada di room chat-nya dengan Zayn. Ia terperangah ketika pesan yang ia kirimkan pada Zayn berubah jadi centang biru dan muncul satu pesan baru di bawah pesan terakhir Ayna.


Zayn: I looping you forever, Ayna.


Ayna meneguk. Hanya Zayn yang akan memelesetkan kata love menjadi loop yang berarti berulang. Ia perlahan gerakkan bola matanya dari bawah ke atas pada seseorang yang berdiri di hadapannya ketika jantungnya berdegup tak karuan. Ia tak ingin harapannya dihancurkan, sekali saja tolong, jangan hancurkan harapannya.


"Zayn?" tanyanya pada seorang lelaki bertubuh tegap dengan kulit pucat dan senyumnya yang lebar. Sorot matanya begitu hidup dan cerah. Jaket denim serta celana jeans putih melekat di tubuhnya, tak lupa kupluk hitam yang menyembulkan sebagian rambut depannya.


"Hai, Antivirus."


Ayna mengembangkan senyum bersama air mata yang menetes keluar. Ia langsung memeluk Zayn erat, membuat cowok itu terperangah lalu tertawa saat matanya turut berlinang.


Zayn membalas pelukan Ayna tak kalah erat. Keduanya lampiaskan rasa rindu yang menyiksa batin masing-masing. Ayna tak sanggup menahan tangisannya. Ia mulai menangis sesenggukan. Rasa haru dan bahagia melihat Zayn mampu berdiri tegap di hadapannya tak dapat terdefinisi dengan kata-kata. Ia bahagia.


"Aku sayang kamu, Ayna Nabila. Terus berulang, tanpa henti."


"Aku juga."

__ADS_1


*** TAMAT ***


__ADS_2