Times New Romance

Times New Romance
Bab 13 :: Tak Pernah Terlihat


__ADS_3

Bab 13


Tak Pernah Terlihat


{}


Tak terasa, Ayna mampu mengikuti kuliah bahkan sampai menamatkan semester satu. Ayna sangat terbantu oleh Zayn cowok itu mengajari materi yang akan dijelaskan oleh dosen maupun belajar bersama menjelang ujian. Karena baru semester satu, Ayna belum menggunakan perangkat komputer sebagai media pembelajaran. Ia masih diberikan materi dasar yang menguatkan pemahaman tentang apa yang harus dipelajari di Teknik Informatika.


Awal semester baru akan segera dimulai. Di waktu libur panjangnya, Ayna rehat dari semua hal yang berkaitan dengan kampus. Ia tidur seharian, makan cemilan kesukaannya, atau membalas pesan dari Nata. Cowok itu tak pernah absen untuk memberi pesan padanya setiap hari sampai satu waktu Nata tak memberinya pesan, Ayna bisa merasa khawatir dan mengirim pesan beruntun padanya. Sedangkan Zayn, tak terlalu sering mengirimkan Ayna pesan. Sekalinya mengirim pesan, hanya membuat Ayna jengkel karena isinya gombalan menggelikan.


Di akhir liburannya, Ayna berniat menghabiskan waktu bersama teman-teman SMA yang sengaja meluangkan waktu pada hari ini. Ayna yang sampai lebih dahulu di café langsung menyambut Resa, Harum, dan Lita yang masuk bersamaan.


Mereka saling sapa dan memulai cerita dengan bernostalgia masa-masa SMA dulu yang tampaknya lebih indah dari masa sekarang. Menjadi lulusan SMA, mereka diberikan dua pilihan untuk melanjutkan kuliah atau langsung bekerja. Semua teman-teman Ayna memilih untuk melanjutkan kuliah karena mereka merasa tidak memiliki passion di bidang tertentu agar bisa bekerja di suatu perusahaan.


"Lit, jadi kamu kuliah jurusan kebidanan?" tanya Ayna yang duduk di samping Lita berhadapan dengan Resa dan Harum.


Lita pun mengangguk. "Aku iri ngeliat bibi aku yang sukses jadi bidan dan kerja di rumah sakit terkenal. Semoga aja sebelum lulus nanti aku udah bisa magang di rumah sakit yang aku mau."


Resa, cewek yang kuliah di jurusan peternakan, memakan pizza yang mereka pesan. "Kalau kamu, Ayna? Sekarang kamu kuliah di mana, jurusan apa?" tanya gadis itu sebelum menggigit roti pipih itu.


Ayna gelagapan. Ia merasa malu gagal masuk ke jurusan yang ia inginkan. Ia selalu menyembunyikan fakta bahwa ia kuliah di Kampus Biru jurusan Teknik Informatika dan berkata ia sedang kuliah saja. Tapi, Ayna tahu tak seharusnya ia merasa malu. Masih banyak orang yang bahkan tidak bisa kuliah. "Di Kampus Biru. Jurusan Teknik Informatika," balas Ayna. Ia pura-pura tersenyum. Senyum yang tampak kecut.


Harum mengernyit. "Kampus Biru? Aku baru denger. Di mana itu?" tanyanya yang sudah bisa Ayna ramal sebelumnya. Bahkan, Ayna pun baru tahu ada kampus bernama Kampus Biru.


Ayna mulai mengusap lehernya tak nyaman. "Kalian nggak bakal tahu walaupun aku kasih tahu, yang jelas masih di Kota Bandung kok."


Resa, Harum, dan Lita mencoba untuk menerima jawaban itu. Walaupun batin mereka masih dilingkupi rasa penasaran. Ayna mencoba untuk mencairkan suasana yang berubah jadi kaku. "Kalau kamu Harum? Bukannya kamu gagal masuk ke jurusan bisnis juga?"


Harum mengangguk, tapi tak tampak raut penyesalan di wajahnya. "Aku emang gagal, tapi aku juga suka masuk jurusan Bahasa Inggris. Mau pilihan satu atau ke dua, aku udah ikhlas mau masuk yang mana aja."


Ayna merengut di kursinya. "Kayanya cuma aku yang nggak suka sama jurusan aku."

__ADS_1


Lita langsung menyenggol bahu Ayna. "Jangan gitu, Ayna. Semua jurusan ada itu karena ada peminatnya. Aku yakin mayoritas penghuni kelas kamu cowok ganteng semua, ya kan?"


Harum mengangguk, mencoba menghibur sahabatnya. "Iya nih, Ay. Cowok yang berkutat di depan komputer tuh keliatannya keren tahu nggak? Jadi programmer kan susah. Harusnya kamu bangga."


Ayna mencebik. "Iya, ya? Harusnya aku bangga? Tapi, aku lulus mau jadi apa coba?"


Resa menyela, "Aku juga awal-awal dipandang sebelah mata karena ambil jurusan peternakan. Katanya jurusan itu nggak penting dan nggak keren. Tapi karena itu pilihan aku dan aku percaya diri. Semua orang jadi segan kok kalau aku jawab kuliah di jurusan peternakan. Mereka nggak tahu aja apa yang kita pelajari dan menganggap itu hal yang remeh. Padahal, kalau mereka tahu, nggak ada jurusan yang nggak berguna. Termasuk kamu, Ayna." Resa menepuk bahu Ayna mencoba mengalirkan semangat. "Semua akan segan kalau kamu percaya diri. Kamu pinter matematika di kelas jadi pasti gampang ngikutin pelajarannya."


"Iya, Ayna. Jangan pesimis gitu dong!"


"Kamu pasti bisa menguasai satu bidang dan kerja yang sesuai sama bidang itu."


Ketiga sahabatnya masih saling sahut untuk menyemangati Ayna. Perlahan dua sudut bibir Ayna terangkat bersama mata yang berlinang. Ayna pandangi semua sahabatnya yang kini menatap padanya. Ayna terenyuh lantas merentangkan tangan yang dibalas rengkuhan dari ketiga sahabatnya. "Makasih ya dukungannya. Aku nggak bakal nyerah deh. Udah satu semester aku belajar."


"Iya, Ayna. Semangat ya. Masa jenuh itu pasti dirasain sama semua mahasiswa, tapi jangan sampai hal itu bikin kamu nyerah," cetus Harum.


"Pokoknya kita harus lulus bareng-bareng ya?" pinta Resa.


Ayna, Harum, dan Resa melepaskan rengkuhan mereka dan melotot tak percaya pada Lita. Lita menggaruk lehernya canggung. "Aku salah ngomong ya?"


Mereka pun tertawa bersama.


Bahkan saat Ayna merasa dirinya sendiri tak mendukung pilihannya, justru orang-orang di sekitar Ayna yang memberikan semangat. Ayna jadi malu karena terus mempermasalahkan salah jurusan, tapi perjalanan Ayna masih panjang untuk benar-benar ikhlas menjalani apa yang tidak ia senangi. Ayna masih perlu waktu untuk betul-betul sadar apa yang ia lakukan akan berarti bagi dirinya.


***


"Tumben kamu nggak rewel minta pindah," sindir Faza lalu menyesap kopi panas di pagi hari. "Rasa kopi ayah jadi kerasa lebih nikmat kalau kamu nggak rewel."


Ayna mengentikan aktivitasnya. Ia tidak jadi mengambil piring di rak piring karena mendengar ucapan ayahnya. Ayna pun menghela napas dan berlalu untuk duduk di kursi saat Faza sedang meniupi kopinya. "Ayah sampai kapan minta Zayn buat ngajarin aku?"


Faza yang mulutnya jadi maju karena sibuk meniupi kopi, langsung menahan napasnya dan menyimpan cangkir kopi itu di meja. Tangannya bersidekap, menanggapi perkataan anaknya dengan serius. "Sampai kamu bisa belajar sendiri," balasnya.

__ADS_1


Ayna merengut. Ia tidak bisa sepenuhnya melepaskan bantuan Zayn. Apalagi, semester depan Ayna sudah mulai untuk membuat program. Materi akan semakin sulit dan Ayna selalu merasa ia akan gagal di beberapa mata kuliah. "Kalau aku nggak bisa belajar sendiri sampai lulus?"


Faza kembali menyesap kopinya sembari mengedikkan bahu. "Keterlaluan namanya," balasnya membuat Ayna mengurucutkan bibir dengan sebal. "Tapi keputusannya tetep di tangan Zayn. Karena dia yang nawarin duluan ke ayah."


Ayna mengerjap. "D-dia?" gagapnya. "Jadi ini rencana Zayn bukan rencana ayah?"


Faza menggeleng. "Ayah juga nggak ngerti tiba-tiba dia ngehubungin ayah dan minta jadi tutor kamu karena dia lihat kamu kesulitan di kelas. Kamu juga ngomel-ngomel nggak ngerti materi kuliah. Yaudah jadi ayah setuju sama permintaan dia karena kebetulan Zayn memang niat bantu kamu."


Ayna menghela napas tak percaya. Ia langsung bingkas dari sofa menuju kamarnya. Kepalanya terasa pening tak mengerti apa yang sedang terjadi. Ayna pikir, ini akal-akalan ayahnya saja, tapi ternyata ini kemauan Zayn?


Apa sebenarnya keinginan Zayn? Zayn adalah cowok misterius yang tak semudah itu dibaca pemikirannya. Ia memang mudah membuat orang tertawa dan sering menyela perkataan dosen seperti mahasiswa tengil, tapi bersama dengan Zayn dari minggu ke minggu, Ayna merasa ada yang ia sembunyikan dari senyum manisnya. Ada sirat kesedihan yang terpancar dari matanya. Ada hal yang coba ia tutup rapat-rapat dari semua orang kala ia sendirian. Namun, Zayn terlalu lihai menyembunyikannya.


Di dalam kamar, Ayna pun mengambil ponsel di atas meja lantas mengetikkan pesan pada Zayn.


Ayna Nabila: Aku udah tahu dari ayah kamu yang nawarin diri jadi tutor aku.


Ayna Nabila: Jadi apa sebenernya maksud kamu jadi tutor aku?


Ayna merasa ada yang tidak beres dengan ini. Apa yang sebenarnya Zayn inginkan? Pertemuannya dengan Zayn, bahkan sudah menciptakan kesan yang selalu ingin Ayna lupa. Begitu memalukan masa itu saat semua mata memandangnya sebagai pasangan cowok pembuat onar. Tapi setelah itu, Zayn menawarkan diri menjadi tutor Ayna? Ia tak yakin ini hanya keinginan Zayn yang senang membantu sesama. Apa Zayn benar-benar memiliki rasa pada Ayna? Ayna merasa seperti menemukan potongan puzzle bulat di antara puzzle berbentuk persegi. Mau dicoba sampai kapan pun, Ayna takkan mampu melihat gambar aslinya. Ayna tak dapat mengambil kesimpulan sedikit pun.


Jauh bermil-mil dari tempat Ayna berada, Zayn termenung setelah membaca pesan dari Ayna. Ia menuliskan pesan di layar ponselnya.


Mr. Abhicandra: Karena aku suka kamu, Ayna Nabila. Aku suka kamu.


Zayn tak pernah yakin sejak kapan rasa ini bermula. Awalnya, Zayn menawarkan diri menjadi tutor hanya ingin memanfaatkan Ayna sebagai alasan agar bisa berkeliaran di dunia luar, tapi waktu ke waktu, yang membuat Zayn terbiasa dengan kehadiran Ayna, merubah kegiatan tutoring menjadi alasan agar gadis itu selalu disisinya.


Jempolnya terasa berat untuk menekan tombol kirim. Zayn pun langsung menghapus isi pesan tersebut. Gadis itu takkan percaya. Gadis itu hanya akan menilainya sebagai canda. Berulang kali Zayn bahkan mengungkapkan isi hatinya, tapi tak pernah ada yang dianggap nyata oleh gadis itu. Selain dengkusan dan cebikkan bibir, Zayn tak pernah mendapat balasan yang ia inginkan.


Zayn pun melempar ponselnya sembarang di atas ranjang rumah sakit. Ia merapatkan kelopak mata. Mendiamkan pesan Ayna yang sudah terbaca. Zayn tidak berniat membalasnya. Alih-alih membalas pesan itu, Zayn pun mengambil lagi ponselnya lalu mengirimkan pesan yang lain.


Mr. Abhicandra: Besok jam 10. Kita ke taman rekreasi.

__ADS_1


Zayn tak ingin Ayna merasa terbebani dengan perasaannya. Gadis itu tak pernah melihatnya bahkan saat Zayn berdiri di depan matanya. Ada bayangan orang lain yang bersemayam di balik binar mata gadis itu. Zayn harus membuka mata Ayna sebelum menyatakan cintanya.


__ADS_2