
BAB 4
Loading
{}
Aksi Zayn menantang senior saat kegiatan pentas mahasiswa langsung jadi sorotan panas begitu memasuki hari pertama kuliah. Banyak kakak tingkat yang sengaja melewati gedung jurusan teknik hanya untuk melihat langsung siapa pelaku yang berani-beraninya mempermalukan Gilang, Ketua Himapro. Decakan kagum, ucapan menyindir, atau bahkan perkataan kasar kadang terlontar dari bibir kakak tingkat. Jurusan Teknik Informatika mendadak terkenal. Ayna yang dasarnya membenci sorotan, harus rapat-rapat menutup wajah ketika keluar masuk gedung jurusan. Karena setelah insiden kupluk yang dilempar itu, setiap nama Zayn disebut-sebut, maka otomatis nama Ayna ikut terseret bersamanya.
"Dia cewek yang bareng-bareng sama Zayn yang disidang sama dosen, kan?" tanya cewek berambut curly pada cewek lain di sampingnya. Ayna yang baru memasuki kelas berusaha mengabaikan tatapan mereka dan memilih duduk di kursi paling depan.
"Iya, Ranya. Gue baru tahu ternyata dia satu jurusan sama kita," balas cewek di samping Ranya yang duduk di bangku barisan tengah.
"Ah, ternyata saingan gue orang kayak dia toh. No problem masih lebih cantik gue, 'kan Via?" ucap Ranya yang disambut anggukan dari Via.
Kayak dia? Ayna mengetatkan rahang mencoba menelan kembali sumpah serapah yang hampir lolos dari bibirnya. Sudah salah masuk jurusan, sepertinya ia juga harus berurusan dengan cewek yang belum matang akalnya. Sudah masuk jenjang kuliah tapi pemikirannya begitu kekanakan seolah Zayn adalah miliknya. Memangnya sejak kapan laki-laki bisa jadi milik seseorang hanya karena orang itu menyukainya? Ayna tersenyum miris. Semoga ia tidak pernah berurusan dengan Ranya dan Via.
Mahasiswa Teknik Informatika semester satu yang mayoritas laki-laki pun mulai berdatangan. Jumlah perempuan di kelas ini hanya 9 dari total 25 mahasiswa.
Ketika Zayn memasuki kelas, ia langsung bertatapan dengan Ayna. Zayn pun melambaikan tangan saat tatapannya seolah berkata, 'Hai, kita ketemu lagi, kan?' Yang Ayna balas putaran bola mata. Zayn terkekeh menanggapinya.
"Hei, bro! Gue Gio. Lo Zayn, kan? Duduk di sini aja!" tawar Gio pada Zayn. Zayn pun mengangguk dan balik menyapa cowok itu lalu duduk di sampingnya. Begitu Zayn menyimpan tasnya di atas meja, Gio dan sebagian anak kelas, yang sudah duduk manis, susah payah menahan tawa.
Zayn mengernyit heran sembari mengangkat tasnya. Mata Zayn membulat begitu cairan lem perekat menempel di seluruh bagian tasnya. Gio pun menyemburkan tawa lalu menjulurkan tangan pada Zayn untuk bersalaman. "Just kidding. Hidup jangan dibawa serius amat ya, kan?" kekehnya sembari menyodorkan satu botol berisi cairan. "Nih, gue bawa cairan anti lengketnya." Zayn menganga tapi ikut tertawa setelah ia melayangkan tinju kecil ke perut Gio.
Ayna yang memperhatikan, langsung menggelengkan kepala. Mengapa juga ada makhluk jail seperti Gio di kelasnya? Candaannya sama sekali tidak lucu. Ayna meringis. Makin pelik saja kehidupannya di kampus. Ayna pun mendongak dan mendapati cewek yang baru memasuki kelas.
Cewek berponi dan berpipi bulat itu tampak kebingungan untuk memilih kursi yang mulai penuh. Ayna hendak mengacungkan tangan untuk menawarkan kursi kosong di sampingnya, namun tindakannya kalah cepat dengan suara yang tiba-tiba menginterupsi dari kursi di belakang Ayna. "Duduk sini aja!" cetus Gio menunjuk bangku di samping Ayna.
Mira pun mengangguk mengikuti tawaran cowok itu. Ayna merasa ada yang tidak beres karena Gio yang menawarkan. Ia pun menoleh ke belakang di mana Gio yang cekikikan sudah menyiapkan saus sachet yang kemasannya terbuka. Ayna terbelalak, ia pun menoleh pada Mira yang sudah bersiap duduk. "Hei, jangan duduk di--" Terlambat, Mira telah menduduki saus yang dengan cepat Gio taruh di sana tiba-tiba.
Gio dan beberapa mahasiswa lain pun tertawa ketika Mira merasakan ada yang merembes di kain celananya. Mira pun berdiri dan menganga begitu melihat cairan kental merah itu sebagian menyebar di permukaan kursi dan menempel di celananya. Ia menatap Gio tak percaya. "Kamu?"
"Selamat datang di kelas. Itu ucapan selamat datang dari gue." Gio langsung menyambar tangan Mira untuk bersalaman. "Gue Gio. Lo siapa?"
Ayna mengentakkan kaki lalu berdiri. Ini sudah kelewatan. "Emangnya penting kamu tanya nama dia setelah kamu jailin dia?" Gio tersentak, namun tak merasa terintimidasi. Senyumnya malah makin melebar membentuk seringai. Ayna menghela napas sebal lalu menoleh pada Mira. Mata gadis itu mulai mengembun. "Ayo, kita ke kamar mandi dulu." Ayna pun menuntun Mira yang tampaknya akan segera menangis. Seruan mengejek pun mengiringi kepergian mereka.
Di kursinya, dua alis Zayn berpaut. Ia tidak menyangka Ayna bisa bertindak heroik seperti itu. Ia pikir, Ayna hanya gadis manja yang segala keinginannya harus dituruti. Apa yang baru saja dilihatnya membuat Zayn tersenyum penuh makna.
__ADS_1
***
Sembari mengantar Mira, Ayna berkenalan dengan cewek itu. Ayna pun melepaskan sweater putihnya untuk menutupi bagian kotor celana Mira yang sudah dibasuh air. Mira mulai terisak karena terkejut mendapatkan perlakuan tidak mengenakan begitu menginjakkan kaki di kelas. "Dia cuma iseng kok, Mir. Jangan diambil hati ya."
Mira menutup wajahnya, menahan tangis. "Tapi itu berlebihan, Ayna. Emangnya aku salah apa sih dia sampe malu-maluin aku kayak gini?" Ayna menggeleng. Ia juga tak mengerti apa maksud tindakan Gio. Karena bukan Mira saja yang kena aksi jahilnya.
Ayna dan Mira pun kembali kelas. Mereka mengikuti pelajaran semestinya dan beberapa kali berbincang membahas sesuatu. Mereka bertambah dekat seiring dengan waktu. Hutang budi telah mengikat pertemanan mereka.
Ketika mata kuliah telah berakhir, Ayna yang sibuk membereskan barang bawaannya ke dalam tas dikejutkan dengan secarik kertas yang tiba-tiba disimpan di atas mejanya. Ayna mendongak dan ia temukan Zayn yang tersenyum padanya. "Aku duluan, Antivirus."
Ayna mengernyit heran ketika Mira tiba-tiba merapatkan tubuhnya dengan Ayna. "Apa-apa? Zayn bilang apa?"
"Aku juga nggak tahu." Gadis itu pun membalikkan kertas yang Zayn berikan dan menjatuhkan rahang begitu membacanya. Sementara Mira terbahak tak percaya.
The process of Ayna loving Zayn is loading.
***
Hari demi hari pun berlalu, tapi Ayna masih merasa tak betah untuk kuliah. Pikirannya terus memutar bayangan bagaimana jika ia sedang belajar di jurusan manajemen bukannya di kelas teknik informatika, pasti Ayna akan lebih nyaman dan mudah menerima pelajarannya. Ia harus cepat-cepat keluar dari kampus ini sebelum semua pendaftaran kampus swasta ditutup.
Ayna tak pantang menyerah mencoba membujuk ayahnya untuk pindah kuliah sekarang atau lebih baik Ayna berhenti dan mengikuti ujian tahun depan, tapi ayahnya menentang keras dan meminta Ayna untuk menjalaninya dengan ikhlas. Faza tidak tahu saja bagaimana hari-hari di kampus menjadi hari tersuram bagi Ayna.
“Hai, Antivirus!” sapa Zayn yang kini duduk di meja Ayna setelah dosen meninggalkan kelas. Ayna berdecak dan memutar bola mata tak acuh. Nggak usah dikasih panggung, Ayna. Nanti dia kesenengan, batin Ayna sembari membereskan alat tulisnya.
Mira, yang duduk di samping gadis itu, menyenggol bahu Ayna. Ia berusaha agar Ayna memperhatikan Zayn yang sedari tadi menatap gadis itu. “Pangeran kamu dateng lagi tuh,” cibir Mira yang langsung mendapat pelototan sebal dari Ayna. Bahkan teman sekelasnya pun sudah tak heran apabila Zayn tiba-tiba saja menghampiri Ayna.
“Ada orang yang nyapa kok dicuekin?” Zayn mencibir lalu menepuk-nepuk puncak kepala Ayna yang langsung gadis itu tepis dengan sebal. “Udah sarapan belum, Antivirus?” tanya Zayn memamerkan gigi putihnya.
Ayna berdecak. Ia tatap Zayn menahan geram. “Aku bukan antivirus!” sanggahnya membuat cowok yang senang memakai kupluk hitam itu tertawa kecil.
“Kamu udah bikin aku terjangkit virus rindu dan cuma kamu antivirusnya, Ayna,” ucap Zayn disusul sahutan dan pekikan tertahan dari penghuni kelas yang menyaksikan ini.
Ayna mengepal tangan erat-erat saat Mira malah ikut tertawa bersama yang lainnya. Ayna pun merunduk ketika melihat Ranya yang menganga tak percaya. Ranya tampak mengipasi diri yang terasa gerah melihat Zayn dan Ayna. Ia pun menggandeng Via keluar dari kelas saat Ayna mengetatkan rahang, menahan sebal. Salahkan saja Zayn bila Ranya jadi musuhnya di kelas.
Pras, cowok bermata besar dan berambut kuning keemasan itu pun menghampiri Zayn dan merangkul bahu cowok itu. “Makin kenceng aja gasnya, Zayn,” godanya.
Zayn tesenyum. Matanya tak beralih dari Ayna sedetik pun. Ia sedang mencari sesuatu di sana. Perhatiannya. “Kalau nggak kenceng, entar kena tikung,” sahutnya yang disambut gelakan tawa. Termasuk dari Pras yang langsung memiting kepala Zayn geregetan.
__ADS_1
“Paling bisa ya lo,” ucap Pras sembari melepaskan Zayn. Pras pun menatap Ayna yang tampaknya sudah bertanduk dua di kursinya. Gadis itu memutar bola mata sama sekali tak berminat pada percakapan dua cowok di depannya. “Sampai kapan lo jual mahal, Ay? Lo nggak tertarik pacaran sama hacker ini?”
Ayna mendengkus, “Pacaran? Kamu aja yang pacaran sama dia! Aku sih ogah.” Ayna langsung berdiri sembari menggandeng Mira. Ia berjalan melewati Zayn yang melambaikan tangan seolah tak ada dosa yang baru saja ia lakukan. Ayna mengentak langkah, seakan lantai yang ia pijak adalah Zayn Abhicandra.
Zayn tergelak begitu Ayna dan Mira hilang dari pandangannya. Namun, hal itu tak berlangsung lama ketika satu suara memanggilnya dari luar kelas.
"Zayn, lo dipanggil sama Gilang," ucap Nino datar sembari menaikkan kacamatanya yang melorot.
Pras menoleh pada Zayn yang menghela napasnya. Ia tahu, ia tidak akan dibebaskan dengan mudah.
***
Ayna mendumel sepanjang jalan menuju kantin. Wajah Zayn dan gombalannya yang mengerikan masih terngiang di kepalanya. Sekarang, bukan hanya membujuk ayah yang menjadi rintangan, tapi Ayna harus berurusan langsung dengan Zayn yang menyebalkan. Kuliahnya semakin memburuk tiap harinya bukan semakin membaik.
“Muka kamu jangan ditekuk mulu dong, Ay,” ucap Mira ketika mereka menapakkan kaki di area kantin. “Malu tahu kusut banget kayak baju belum disetrika.”
Ayna membuang napas kasar. “Aku nggak lagi bercanda, Mir!” pungkasnya. “Dosa apa sih aku sampai harus berurusan sama Zayn si pembuat onar itu? Dia tuh makhluk paling astral tahu nggak?”
Ayna dan Mira pun duduk di bangku kantin setelah memesan mi ayam untuk mengganjal perut. Jeda kuliah masih dua jam lagi. Mereka bisa bersantai di kantin lebih lama.
Mira tertawa. “Kayaknya cuma kamu yang anggap dia makhluk astral.” Mira bertopang dagu mulai membayangkan sosok Zayn. “Dia tuh cowok ganteng, putih, keren, berani banget lagi. Saking gantengnya aku pikir dia bidadara yang lagi nyamar,” cetus Mira dengan sorot memuja, membuat Ayna bergidik jijik.
“Fix, kamu udah gila, Mir!” tandas Ayna yang disambut kekehan Mira.
“Kamu yang gila, Ayna. Cowok sebaik dan seganteng Zayn aja kamu cuekin. Awas nanti nyesel,” ucap Mira pada Ayna yang jadi bungkam.
Mi ayam pun dihidangkan di hadapan mereka. Mira langsung menyantap mi ayam dengan tamak. Gadis itu berkata hobinya adalah makan. Sementara Ayna, hanya mengaduk-aduk mi tanpa menaruh minat. Lidahnya jadi terasa pahit dan mi ayam di hadapannya jadi tidak menarik. Pikirannya melayang memikirkan perkataan Mira. Nyesel? Nggak lah ya! batin Ayna sebal.
***
**Hai gimana sampai di bab ini? Seru atau udah mulai bosen?
Karena ceritanya membahas jurusan Teknik Informatika. Jadi makna virus di sini bukan virus penyakit ya! Yah, walaupun sama aja sih hehe**
*Glosarium:
Virus Komputer: program / aplikasi yang dapat menggandakan dirinya sendiri dan menyebar dengan cara menyisipkan dirinya pada program dan data lainnya. Biasanya user tidak mengetahui jika komputer yang di milikinya terjangkit virus sampai salah satu data hilang atau program yang ada pada komputer tidak bisa di jalankan.
__ADS_1
Antivirus: sebuah jenis perangkat lunak yang digunakan untuk mengamankan, mendeteksi, dan menghapus virus komputer dari sistem komputer*.