Times New Romance

Times New Romance
Bab 20 :: Canggung yang Menyesakkan


__ADS_3

Bab 20


Canggung yang Menyesakkan


{}


Anak kelas TI semester dua begitu semangat untuk menabung di Siti. Mereka tahu mahasiswa kere akan kesulitan membayar dalam jumlah besar sekaligus, jadi diadakannya sistem penyicilan biaya sangat meringankan beban termasuk pada Ayna dan Mira. UAS masih sekitar dua bulan lagi, tapi anak kelas sudah sibuk menyiapkan acara apa saja yang akan dilakukan saat liburan.


Selepas menyisihkan uang jajan yang ia titip pada Siti, Ayna dan Mira beranjak keluar kelas. "Besok kamu ikut latihan kan, Mir?" tanya Ayna yang dibalas gelengan kepala.


"Maaf, Ayna. Papa aku darah tingginya kambuh jadi aku harus ke rumah sakit buat jagain besok."


Ayna mengangguk paham. Ia dan Mira masih rutin mengikuti latihan basket tiap hari sabtu. Sepertinya, Ayna akan kesepian esok hari tidak ditemani oleh Mira. Mereka pun berjalan bersama menuju halte di depan kampus.


"Oh iya, Zayn nggak nganterin kamu pulang?" tanya Mira tiba-tiba membuat Ayna terperangah. Benar juga, kemana cowok itu? Biasanya Zayn memang keluar lebih dulu dari kelas, tapi akan menunggu Ayna di luar gedung dan mencegatnya untuk mengantar Ayna pulang.


"Aku juga nggak tahu dia ke mana, Mir."


Ayna pun menoleh ke samping kiri dan terkejut pada Zayn yang tiba-tiba duduk di ujung halte. Padahal Ayna yakin tadi di sana belum ada penghuninya. Zayn melepaskan kupluk hitam yang menggantung di kepalanya. "Kenapa? Kangen ya?" Ayna mendelik tak sudi.


"Lho, Zayn? Sejak kapan kamu di situ?" tanya Mira.


Zayn tersenyum. "Barusan." Zayn berdiri dan menyodorkan minuman dingin pada Ayna dan Mira. "Tadi aku haus, jadi mampir ke minimarket dulu. Ternyata Antivirus aku udah ada di sini," ucapnya sembari mengedipkan sebelah mata pada Ayna yang langsung bergidik jijik. Penyakit Zayn yang senang menebar pesona tidak sembuh juga. "Mira, aku culik Ayna sebentar nggak apa-apa, kan?"


Mira mengangguk antusias. "Culik aja yang jauh, Zayn. Ayna juga nyariin kamu barusan." Mira meringis begitu Ayna mencubit lengannya.


"Jangan membalikkan fakta deh, Mir. Kan tadi kamu yang nanya ke aku!" sanggah Ayna tak rela dipojokkan.


Mira tertawa lalu mengangkat minuman isotonik yang Zayn berikan. "Makasih minumannya ya, Zayn. Bus aku udah nyampe." Mira pun berdiri dan berpamitan pada keduanya. "Dah, jangan lupa traktirannya kalau jadian ya!"


Ayna menganga tak percaya. Hampir saja Ayna melemparkan sepatu pada Mira yang menyebalkan di situasi seperti ini, tapi terurung niatnya karena Mira sudah terburu masuk ke dalam bus. Tampak Mira memeletkan lidahnya di balik kaca bus.


"Heh, Mira! Nyebelin banget sih!" sungut Ayna sembari berdiri.


"Udah, Ayna. Kamu jelek marah-marah kayak gitu." Ayna melotot pada Zayn. "Tapi sejeleknya kamu, aku tetep suka sama kamu."


Ayna terperangah. Tenggorokannya pun tersekat. "A-apa maksud kamu?"


Zayn menghela napas berat. "Kenapa kamu bisa lolos SD kalau kalimat itu aja nggak ngerti?" decaknya sembari geleng-geleng kepala. Ayna membelalak. Saking lebarnya Zayn jadi khawatir bola mata itu akan lepas dari tempatnya. "Eh, jangan marah dong."


Tanpa permisi, Zayn menggamit tangan Ayna dan mengisi ruang kosong jemari itu dengan jemarinya. Ayna terhenyak, ia tak mengerti situasi apa ini. "Lepas, Zayn. Nanti kalau orang ngira aku pacar kamu gimana?" Ada rasa tak nyaman yang terselip di antara kalimatnya.


Zayn tak menjawab dan langsung membawa Ayna mengikuti langkah kaki cowok itu. Mereka berjalan melalui gerbang utama membuat semua pasang mata jadi terfokus pada mereka berdua. Ini pertama kalinya Zayn menggenggam tangan Ayna di depan umum. Ayna berupaya melepaskan tangannya yang malah digenggam semakin erat. "Emang itu yang aku mau," balas Zayn datar.


Ayna enggan menjawab. Ia terlalu sibuk menutupi wajahnya dengan telapak tangan agar tak semakin menyebar rumor bahwa dirinya dan Zayn berpacaran. Ia tak ingin mendapatkan masalah yang baru karena Zayn adalah cowok primadona baru di Kampus Biru.


***


Tanpa banyak bicara, Ayna mengikuti Zayn yang menggandengnya menuju perpustakaan. Zayn tak ingin belajar jauh-jauh karena tak ingin membawa Ayna pulang terlambat. Menyembunyikan fakta bahwa ia tidak sedang dalam keadaan fit untuk beraktivitas. Selepas pingsan hari itu, Zayn semakin mudah lelah.

__ADS_1


"Jadi, sebenarnya komputer itu hanya bisa memproses data berupa angka nol dan satu atau bilangan biner. Jadi semua data yang kita input ke komputer bisa berupa gambar, video, teks, suara, semuanya akan diubah menjadi bilangan biner. Sampai sini kamu ngerti, Ayna?" tanya Zayn pada Ayna yang duduk di sampingnya. Gadis itu duduk sembari memperhatikan kertas yang dicorat-coret oleh Zayn sebagai media pembelajaran. Ayna mendiamkan pertanyaan itu cukup lama dengan kening mengerut sebelum ia menggelengkan kepalanya. Wajahnya merengut lucu antara malu tidak cepat paham dan takut Zayn akan sebal padanya.


Zayn balas terkekeh lalu mulai mengambil kertas baru dan kembali menjelaskan. "Jadi gini, Ayna. Singkatnya, apabila kita menekan satu tombol di keyboard misalnya huruf A kapital, maka yang dibaca oleh sistem komputer bukan huruf A itu. Komputer nggak ngerti karena yang mereka proses adalah data yang sudah diubah menjadi bilangan biner yang sudah disepakati dan selalu dipakai oleh komputer manapun."


Zayn pun menuliskan bilangan biner '01000001' di atas kertas membuat kening Ayna mengernyit. Kepalanya mulai pening. Ia seperti dijejal makanan yang sulit ditelan, Ayna tak terlalu mampu membayangkan apa maksud Zayn.


"Nah, bilangan biner yang aku tulis ini adalah bahasa yang dimengerti oleh komputer untuk mewakili huruf A, Ayna. Jadi yang diproses komputer adalah bilangan biner ini yang sering kita sebut byte yang terdiri dari 8 bit angka. Dan semua karakter punya bilangan binernya masing-masing. Kamu ngerti kan sekarang?"


Ayna membulatkan mulutnya. "Oh, jadi gitu."


Zayn memicingkan mata. Ia tak yakin Ayna benar-benar mengerti. "Apa?"


Ayna mendongak membalas tatapan Zayn lalu berdehem dan membuang wajahnya pada kertas. "Ya itu, yang tadi kamu jelasin kalau komputer cuma bisa baca nol dan satu dan tiap karakter di komputer punya bilangan binernya masing-masing."


Zayn mengangguk. "Ya, komputer cuma bisa baca dua angka, kayak kamu." Ayna mengerjap. Perlahan-lahan, ia kembalikan wajahnya menatap Zayn yang kini menunduk.


"Kayak aku? Kenapa?"


Zayn tersenyum. Namun, tak semanis biasanya senyuman yang kini hadir tampak lebih kecut. "Kayak kamu yang cuma punya dua jawaban atas perasaan aku. Iya atau nggak."


Ayna membatu. Dadanya bergemuruh atas perasaan yang tak pasti. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Ayna pun berdiri. "Ayo, Zayn kita pulang. Nanti ayah aku nyariin." Ayna pun berlalu ke luar perpustakaan menghiraukan Zayn yang sudah membuka mulutnya untuk menyela.


Zayn menghela napas panjang. Menatap nanar punggung gadis itu yang tampak di luar pintu kaca perpustakaan. Apa sesulit ini mendapatkan cinta dari seseorang? batinnya meringis.


***


Di kamar pribadinya, Zayn duduk bersandar di ranjang. Ia mengetik sesuatu di laptop yang ia pangku. Sembari berselancar di internet mencari materi, Zayn kerjakan tugas makalah dengan serius. Dua puluh menit menatap layar laptop, tiba-tiba pandangannya mulai mengabur. Kepalanya pun terasa dihantam benda keras lalu berdenyut kemudian. Zayn langsung menutup laptopnya dan menyimpan itu di sisi tubuhnya. "Programmer macam apa yang nggak bisa lama-lama di depan komputer?" desahnya sebelum tersedak dan terbatuk-batuk.


"Zayn!" pekik Suster Jihan yang baru memasuki bangsal kamar Zayn untuk mengecek rutin keadaan cowok itu.


Zayn terbatuk dan tampak kesulitan bernapas sebelum tubuhnya terjatuh dari ranjang. Suster Jihan pun segera memberi pertolongan pertama pada Zayn yang kini tak sadarkan diri.


***


Dua jam kemudian, Zayn terbangun. Mulut dan hidungnya tertutup alat pernapasan. Sembari menajamkan penglihatan, Zayn mengernyit heran. Langit-langit ini, dinding biru ini, suara mesin ini, bukan kamarnya. Ia pun mengerjapkan mata dan menemukan Suster Jihan yang mengenakan pakaian steril, tertutup dari rambut hingga ujung kaki, sedang mengelap tangannya yang bersimpuh darah dari batuknya sendiri. Melihat pakaian Jihan, Zayn pun sadar bahwa ia berada di ruang ICU. Zayn menggerakkan tangannya mengisyaratkan agar Jihan berhenti atau sekedar memberitahu bahwa Zayn sudah sadar. Jihan menoleh lalu menghela napas gusar.


"Aku nggak apa-apa, Kak. Nanti aku bersihin sendiri," ucap Zayn lemah.


Jihan berdecak, "Nggak apa-apa gimana, Zayn? Batuk darah kamu gejala pembengkakan paru-paru karena adanya gangguan jantung. Kamu saya larang keluar dari rumah sakit. Ini peringatan dari dokter."


Zayn menghela napas yang terasa berat. Ia pandangi langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Suara keras itu. Peringatan itu. Zayn cukup bosan mendengarnya. "Besok ada jadwal. Aku harus kuliah."


"Jangan keras kepala! Kamu buat orang tua kamu khawatir. Kamu mau bahayain diri kamu?" Jihan sudah menganggap Zayn seperti adiknya. Ia tak sungkan menyentak pasien kelas VIP yang sulit diatur ini.


Zayn tersenyum miris. Ia pun memejamkan matanya, mengusir Jihan secara halus. Ia takkan mengindahkan permintaan Suster Jihan. Sudah sejauh ini. Zayn ingin lulus kuliah bersama teman sekelasnya. Ia takkan membiarkan penyakit ini menghambatnya.


****


Zayn sering kabur dari rumah sakit dengan melepas jarum infus bahkan pura-pura tidur setelah meminum obat dan pergi ketika tidak ada yang menjaga. Ia selalu merasa sehat, tapi semua orang memperlakukannya layaknya orang yang sakit.

__ADS_1


Zayn pikir pelariannya untuk bertemu dengan Ayna mampu menenangkan hatinya yang kalut. Namun, hari-hari setelah pernyataan cintanya pada Ayna, gadis itu jadi selalu beralasan untuk pergi dari Zayn. Tak seperti Ayna biasanya, gadis itu seolah-olah sengaja memasang benteng untuk Zayn. Bahkan, Ayna selalu berusaha untuk menghindari Zayn agar tak diantar pulang olehnya. Kecanggungan luar biasa tercipta di antara mereka.


Hari ini Zayn memperhatikan Ayna yang buru-buru keluar kelas. Zayn pun menyusul langkah gadis itu yang berjalan cepat menuruni tangga. Dengan kaki panjang Zayn, cowok itu mampu menghadang Ayna di antara anak tangga. "Kenapa kamu ngehindar?" tanya Zayn tidak sabar. Jelas sorot letih tergambar di matanya, tapi Ayna terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri.


Ayna membuang tatapannya dan berjalan ke samping kanan yang langsung dihalangi oleh Zayn begitupun saat Ayna melangkah ke kiri. Ayna menghela napas kasar. "Ngapain kamu ngehalangin jalan aku?"


Zayn mainkan kerah kemejanya lalu menyambar tangan Ayna. "Aku antar kamu pulang." Ayna pun terseret mengikuti langkah kaki Zayn.


Menyusuri jalan kampus, Zayn berjalan di samping Ayna yang enggan menatapnya. Gadis itu terus memandang ke arah lain bahkan ketika Zayn mengajaknya bicara. Biasanya, Ayna tidak sedingin ini. Walaupun gadis itu memang cuek tapi ia selalu menyahut ucapan Zayn, tapi kali ini Ayna benar-benar membangun benteng kokoh antara dirinya dan Zayn.


Zayn benar-benar tak nyaman berjalan bersama Ayna seperti ini. Zayn pun berhenti melangkah lalu menoleh pada gadis itu yang keras kepala enggan menatapnya.


"Kamu kenapa, Ayna? Apa perkataan aku waktu itu ngeberatin kamu?" tanya Zayn hati-hati. Ia tak ingin Ayna menjauh darinya. Ayna, telah menjadi salah satu alasan mengapa Zayn bersikeras menantang dirinya untuk kuliah layaknya anak yang normal.


Ayna diam sekian detik lalu tertawa keras membuat Zayn mengernyit heran. "Ngeberatin? Kan kamu cuma bercanda, ya kali aku masukin ke hati."


Zayn menahan lengan Ayna yang sudah berjalan membuat gadis itu berhenti melangkah. Ayna menoleh pada Zayn. Cowok itu menghela napas panjang. "Aku nggak bercanda, Ayna." Zayn pun berdiri menghadap Ayna memegangi dua lengan gadis itu. Mengunci pergerakannya.


"Kenapa?" tanya Ayna. "Kenapa kamu bisa bilang gitu? Bukannya dari awal kamu godain aku cuma biar aku tertarik sama kamu?"


"Itu awalnya yang aku nggak tahu kapan itu berakhir dan jadi awal yang baru tanpa kepura-puraan, Ayna. Aku bilang sekarang, aku serius suka sama kamu."


Ayna mendengkus geli. "Aku anggap aku nggak pernah denger apapun dari kamu, Zayn. Cukup jadi tutor aku."


"Kenapa?" Zayn mengeraskan rahangnya. "Apa kamu nggak punya sedikitpun rasa sama aku?"


Ayna menunduk. Ia berusaha menahan buliran bening yang seketika memenuhi kelopak matanya. Ia tidak yakin apa yang ia rasakan, tapi yang Ayna tahu bersama dengan Zayn bukanlah hal yang bagus.


"Aku nggak suka kamu ngelewatin batasnya." Pandangan Ayna beralih pada mahasiswa yang mulai memperhatikan mereka. Rasa tak nyaman menyergap Ayna. Ia ingin pergi dari sini. Ayna tak ingin memperpanjang masalah. Ia benci menjadi sorotan khalayak ramai. Dan berada di sisi Zayn, hanya menarik semua atensi mengarah padanya.


Zayn sadar bola mata Ayna tak lagi mengarah padanya tapi mengarah pada orang-orang di sekitar mereka. "Apa ini karena mereka?" terkanya. "Apa kamu nggak suka tatapan penasaran mereka?"


Ayna terperangah. Namun, bibirnya merapat. Gelagat Ayna saat bola matanya berlarian ke segala arah menjawab rasa penasaran Zayn.


"Kamu nggak perlu pikirin mereka, Ayna. Mereka cuma penasaran sesaat. Mereka nggak akan nyari masalah sama kamu. Kamu cuma perlu fokus sama orang di hadapan kamu, bukan orang lain."


Tepat setelah Zayn mengatakan itu, Zayn melingkarkan sebelah tangannya di bahu Ayna menarik gadis itu ke dalam pelukannya saat tangan yang lain menepuk puncak kepala Ayna. Mata Ayna melebar saat bibirnya bergetar menahan cairan yang bergumul di matanya. Rasa kesal yang membumbung dan haru bercampur jadi satu. Zayn tidak mengerti betapa takutnya Ayna berhadapan dengan masalah. Kehidupannya di kelas sudah cukup pelik karena Ayna kesulitan memahami materi, ia tak ingin mendapatkan musuh di kelasnya sendiri apalagi orang itu adalah Ranya. Sejumput rasa bersalah pada gadis itu pun bersemayam di dadanya. Ayna tak ingin Ranya terluka karena orang yang ia suka, malah menyukai Ayna.


"Aku yang bakal berdiri tegak kalau kamu sedang rapuh dan butuh pegangan. Selama ada aku, aku bakal jamin kamu baik-baik aja, Ayna. Jangan ngehindar dari aku lagi."


Ayna membisu. Semua kata penyanggahan yang hendak ia lontarkan terasa menguap entah ke mana menyisakan rasa hangat dan nyaman yang menyebar di hatinya. Ia merasa bersalah, namun pilihan hatinya tetap di luar kendalinya. Apakah ini saatnya untuk percaya pada Zayn?


***


**Gimana?


Bagi sebagian orang, mungkin Ayna adalah tipe pengecut yang selalu ingin lari dari masalah.


Tapi percayalah, bahwa orang-orang seperti ini selalu ada di sekitar kita. Bukan karena mereka tidak mampu menyelesaikan masalah, tapi karena karakternya yang mudah khawatir jadi dia lebih memilih untuk menghindar daripada masalah jadi besar.

__ADS_1


Mungkin, kalian kurang suka karakter Ayna, tapi dengan sikap dia yang perasa. Justru dia mengedepankan perasaan orang lain daripada dirinya sendiri. Dan dia tetap saja orang yang hebat walau dalam sudut pandang yang berbeda**.


__ADS_2