
Bab 11
Kalkulus dan Komputer
{}
Di kamarnya, gadis itu duduk di tepi kasur. Pandangannya terkunci pada tas putih, yang hampir dua jam dipilihnya, yang kini duduk manis di atas meja belajarnya. Tas yang seharusnya jadi hadiah untuk Mama Nata, Nata berikan untuk Ayna. Katanya, dari awal Nata memang berniat membelikan hadiah untuk Ayna, tapi karena takut Ayna keberatan, Nata menyembunyikannya sebagai hadiah untuk ibunya.
Ayna mendesah tak percaya. Tas yang harganya bahkan melebihi uang jajan Ayna sebulan berada di dalam kamarnya. Ia tak mengerti getaran apa yang ia rasa dalam hati. Semesta seolah bekerja sama untuk membuat Ayna kebingungan setengah mati.
Setelah Nata mengungkap perasaan, gadis itu tak segera memberi jawaban. Ayna masih butuh waktu. Semuanya terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Ayna belum siap untuk menghadapi semua. Ayna pun berbaring di kamar tidurnya. Ia harap segala kejadian yang terjadi padanya, mampu ia pahami ketika pagi menyapa. Ayna pun terlelap dalam lautan kebimbangan. Kali ini, ia biarkan waktu yang akan menjawabnya.
***
Gadis itu menguap sepanjang jalan menuju gedung jurusan teknik. Bayangan tubuhnya tidak memanjang tidak juga memendek, tapi hampir tepat di bawah kakinya. Panas terik matahari membuat mata Ayna menyipit. Dalam hati ia menggerutu, kenapa sih ada jadwal kuliah di siang bolong? Baginya, ini waktu yang sangat pas untuk tidur siang, bukannya belajar. Semangat mahasiswa jadi luntur seiring matahari yang merangkak ke puncak. Tak tertinggal rasa kantuk yang pasti menguasai mata seiring pelajaran. Ya, walaupun ia paham tak semua dosen hanya mengajar di satu fakultas, jadi pembagian ini penting dilakukan, tetap saja hal ini menjadi salah satu hal yang menyebalkan bagi mahasiswa baru yang harus adaptasi seperti Ayna.
Akhirnya, Ayna sampai di lab komputer dan langsung mendaratkan pantat di salah satu kursi baris ketiga. Ia tidak mau duduk paling depan karena merupakan baris yang jadi sasaran empuk untuk ditanya, yang salah satu kursinya sudah diisi oleh Nino, cowok berkacamata yang selalu datang pertama. Ayna juga tidak mau duduk terlalu di belakang. Itu tempat kramat bagi para cowok yang senang bermain game daripada mendengarkan dosen. Ayna memilih untuk jadi mahasiswa yang tidak terlihat saja dengan memilih duduk di bangku tengah. Cari aman, pikirnya.
Satu persatu teman sekelasnya pun berdatangan. Mira langsung menyapa Ayna saat gadis itu menempelkan pipinya di atas lipatan tangan. Mira pun duduk berdekatan dengan gadis itu. Di ambang pintu muncul Zayn, Pras, dan Hari beserta dua teman perempuan yang sepertinya mengobrol dengan Zayn. Tampaknya, binar cowok itu benar-benar kembali setelah redup tempo hari. Zayn kembali menebar senyum kepada siapapun, termasuk pada Ranya dan Via.
Dua gadis berwajah lancip dan bertubuh ideal itu tak berhenti terkekeh ketika berbincang dengan Zayn. Mereka terlihat begitu hanyut dalam percakapan. Bahkan sesekali, Ranya mendekatkan bibirnya ke telinga Zayn untuk membisikkan sesuatu, yang membuat keduanya tertawa setelahnya dan Via yang mencubit gemas lengan Zayn. Ayna berdecak, tapi ia gagal menahan hati yang terasa terhimpit. Rasa sesak pun menyebar di dadanya karena sesuatu yang tidak Ayna pahami. Ayna berusaha menepis perasaan aneh itu.
Zayn memang terkenal supel dan senang bercanda. Ia tidak pernah memilih-milih teman, baik itu laki-laki maupun perempuan. Zayn seperti magnet yang mampu menarik orang-orang di sekitarnya untuk memperhatikannya. Entah karena tindakan ataupun ucapannya yang konyol, Zayn seperti mesin yang mudah membuat orang tertawa. Tawa yang berujung rasa nyaman bila berdekatan dengan cowok itu.
Ayna masih memperhatikan mereka dan ia nyaris tertawa saat Ranya tiba-tiba memberikan cokelat untuk Zayn yang langsung Zayn oper pada Hari. Hari yang menerima itu tampak gembira lalu menaik turunkan alisnya pada Ranya sembari mengucap terima kasih. Ranya mendelik, wajahnya berubah masam. Mereka pun berpisah untuk duduk.
Tanpa sadar, Ayna masih mengulum senyum bertepatan ketika Zayn lewat di hadapannya. Cowok itu langsung mencubit tulang hidung Ayna, membuat gadis itu menegakkan punggungnya. Ayna merengut sebal ketika Zayn menampilkan senyum usil. “Kenapa? Senyumin aku yang ganteng ya?”
Ayna berdecih lalu memalingkan wajah. “Bukan, tadi aku liat semut lagi genit-genitan,” balasnya asal, membuat Zayn tertawa. Padahal Ayna tidak melihat semut. Ia melihat Ranya dan Via.
Zayn mengacak puncak kepala Ayna. “Kayaknya di otak kamu ada yang lagi error ya, Ayna? Mau aku bantu solve problem-nya?” Ayna langsung menepis tangan itu dan mengibaskan tangan mengusir Zayn yang tergelak. Cowok itu pun duduk di bangku paling belakang bersama kerumunan cowok yang lain. Ketika Ayna dan Zayn berpisah, Ayna merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Di arah jam dua, Ranya, dengan tatapannya yang tak suka.
***
Zayn sudah memantapkan hati untuk mencoba bersikap biasa saja walau dalam hati, ia terbakar rasa cemburu. Ia baru tahu ternyata perasaan ini benar-benar sangat kuat sampai mampu merenggut kedamaian hati Zayn. Selama Nata dan Ayna tak benar-benar memiliki hubungan, Zayn berusaha untuk mentoleransi hal tersebut.
__ADS_1
“Aku udah izin buat ngajarin kamu di kafe,” ucap Zayn pada Ayna begitu mereka selesai kuliah. Ayna diseret paksa oleh Zayn menuju mobilnya. Zayn membukakan pintu untuk Ayna tapi gadis itu malah mematung. Enggan masuk ke mobil.
“Kenapa Ayna?” tanya Zayn melihat Ayna yang menekuk wajahnya. Walaupun memang biasa seperti itu, tapi kali ini tampaknya ada hal yang tengah mengusik gadis itu.
“Aku nggak mau belajar, Zayn. Aku ngantuk mau tidur,” kilah Ayna.
“Ya udah tidurnya setelah kita belajar. Aku jamin seratus persen tidur kamu jadi lebih nyenyak dibanding biasanya. Gimana? Ide bagus, kan?”
“Ih, Zayn.” Ayna refleks memukul lengan Zayn ketika cowok itu tertawa.
“Ayo, Ayna. Minggu depan ada kuis kalkulus. Emang kamu udah ngerti sampai mana? Aku yakin kamu cuma dateng ke kampus biar dapat uang jajan aja, kan?” tebak Zayn yang seratus persen tepat.
Uang jajan memang prioritas utama Ayna sampai ia bisa bertahan sejauh ini. Mengingat tak ada lagi ibu yang bisa meluruhkan hati ayah yang keras kepala, Ayna harus berpikir dua kali untuk berhenti kuliah karena ayahnya mengancam tidak akan memberikan uang jajan. Sungguh ironi, ia kuliah demi perutnya supaya terisi.
Ayna berdecak ketika Zayn tersenyum lebar berasa menang. Cowok itu mengedikkan kepala menitah Ayna untuk segera masuk mobil. Ayna pun masuk ke mobil Zayn walau hatinya terbebani. “Belajarnya yang cepet, aku nggak mau lama-lama bareng sama kamu.” Nanti ada yang cemburu, batin Ayna bersamaan dengan sekelebat ingatan Ranya yang menatapnya tajam di kelas. Ayna malas berurusan dengan gadis centil itu.
Sembari melajukan mobilnya keluar kawasan Kampus Biru, Zayn berdecih, “Itu tergantung muridnya mau dengerin tutornya atau nggak,” sindirnya membuat Ayna merengut.
Mereka pun tiba di café yang cukup lengang dari pengunjung. Lantunan instrumen musik yang terdengar menciptakan suasana yang damai. Hiasan vintage mendominasi ruangan dengan dinding yang dilapisi kayu. Zayn memilih café yang tepat untuk belajar.
“Minggu depan kuis kalkulus, kamu bisa kan?”
Ayna memutar bola mata malas. “Bukannya kita jurusan komputer? Kenapa juga harus belajar kalkulus? Lagian program yang kita buat juga nggak pake itung-itungan rumit kaya gitu.” Ayna mendumel. Ia tidak bisa memaksakan diri untuk menerima pelajaran yang tidak ia pahami. Oleh karena itu, tanpa sadar Ayna enggan belajar bukan karena pelajaran itu sulit, melainkan ia telah menolak untuk mempelajarinya.
Zayn berdecak sembari menggelengkan kepala. “Denger ya, Ayna. Kamu tahu fungsinya kenapa matematika wajib dipelajari bahkan dari kita SD?” Ayna termenung. “Karena dasarnya matematika itu adalah alat hitung yang memudahkan manusia. Kita bisa menyederhanakan persoalan kehidupan agar lebih cepat dihitung. Coba aja kamu lihat bangunan ini. Kalau sampai sekarang nggak ada orang yang ngerti caranya berhitung, apa tukang bangunan bakal bawa bata satu persatu baru dihitung biar tahu berapa bata yang diperlukan?”
Ayna melongo.
“Dan apa hubungannya jurusan kita dengan kalkulus? Kalkulus itu merupakan suatu alat hitung yang sangat efektif untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan suatu perubahan. Perubahan di sini adalah perubahan nilai dari suatu variabel.
“Bagi programmer yang tugasnya merancang suatu program. Kita perlu perhitungan itu bila ingin membuat suatu sistem informasi yang bertujuan untuk memudahkan pengambilan keputusan sesuai perhitungan dari perubahan data tadi, walaupun nggak semua aplikasi perlu hal ini tapi ini penting untuk diketahui sebagai sarjana komputer.”
Ayna sudah menganga sejak Zayn membuka mulut untuk bercerita. Awalnya, Ayna berminat mendengarkan, tapi kepalanya jadi berdenyut karena ucapan Zayn tidak habis-habis. Kini, Zayn tersenyum pada Ayna. “Jadi, kamu ngerti, kan?”
Ayna menggeleng, “Nggak,” polosnya.
__ADS_1
Zayn tertawa lalu mencubit gemas dua pipi Ayna yang tampak terhipnotis karena ucapan panjang lebar Zayn. Ayna mendengkus dan mengusap dua pipinya yang memerah.
“Intinya kita harus belajar kalkulus sebagai metode untuk melatih daya pikir dan logika kita. Jadi sudah siap kan, Nona Ayna?”
Ayna menghela napas pasrah. Zayn mulai menyodorkan kertas untuk masing-masing dan mulai mengajari Ayna dengan satu soal yang ia berikan. Ayna sudah pernah belajar kalkulus sewaktu SMA, nilainya tidak terlalu hancur. Ayna tergolong murid cukup pintar terutama di bidang matematika. Tapi sayangnya, Ayna tidak terlalu memahami apa yang dulu ia pelajari. Ia hanya menghafal rumus sebelum ujian dan melupakannya begitu keluar dari ruang ujian. Guru tidak memberikan alasan mengapa muridnya harus mempelajari suatu ilmu. Ayna merasa, ia hanya menjadi robot yang harus mengerjakan apa yang dititah guru untuk mencapai kelulusan tanpa ia mengerti tujuan apa dibaliknya.
***
"Aku nggak tahu ternyata kamu pinter matematika," ucap Zayn ketika berjalan keluar dari cafe. Di sampingnya, Ayna tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
Zayn hirup dalam-dalam aroma jalanan yang berbeda dengan aroma bahan kimia di rumah sakit. Ada beragam aroma yang kadang membuatnya mengernyit heran, entah wangi masakan restoran, bau asap rokok, atau aroma tanah basah selepas hujan yang wanginya menenangkan. Hatinya mengembang. Senyumnya otomatis melebar. Berkat Ayna, Zayn bisa keluar dari rumah sakit ataupun kampus. Seperti dugaannya, Soraya akan mengizinkan Zayn asalkan tidak melanggar rambu-rambu yang telah ditetapkan untuknya.
Berjalan santai menikmati pemandangan kota yang biasanya hanya bisa Zayn nikmati dari lantai atas rumah sakit, benar-benar membuatnya terlena dan tersiksa bersamaan. Ia kagum pada ciptaan Tuhan dengan segala skema yang ditetapkan sehingga kehidupan orang-orang tampak begitu indah di matanya. Namun, ia tak bisa menepiskan sesak yang menjalar di dada karena ia hanya bisa jadi penikmat semata. Walaupun begitu, Zayn masih belum puas. Masih banyak tempat yang belum pernah dikunjunginya dan ia tidak akan pernah mendapatkan izin bila itu keinginannya.
"O iya, Ayna."
Ayna yang hendak berjalan ke depan pintu mobil Zayn, mengurungkan niat dan menghadap cowok itu. "Apa?"
"Gimana kalau nilai UAS kamu nanti rata-rata nilainya A, kita pergi ke taman rekreasi?" tawar Zayn.
Ayna terkekeh geli. "Kenapa aku nggak bisa minta hadiahnya sendiri?"
Zayn mencebik, "Ya udah, apa?"
"Kamu berhenti jadi tutor aku."
Seandainya Ayna tidak mengalihkan pandangan dari Zayn, gadis itu pasti melihat raut wajah Zayn yang mengeras. Kalimat sederhana yang meluncur itu berefek luar biasa pada jantung Zayn yang terasa terhimpit. Apalagi, karena Ayna mengucapkan hal itu tanpa berpikir dua kali. Zayn merasa ia hanya butiran debu di mata Ayna.
Zayn menghela napas sebelum berucap, "Kalau itu, urusan aku dan ayah kamu. Ayo, ke taman rekreasi aja. Aku yakin kamu udah lama belum ke sana lagi. Iya, kan?" bujuknya.
Ayna menimang jawaban. Dilihatnya Zayn yang tampak bersemangat. Binar matanya memancarkan permohonan pada Ayna. Ia tidak mengerti mengapa Zayn sangat ingin ke sana. Ayna ingat terakhir kali ia mengunjungi taman bermain adalah sewaktu SMA kelas satu. Sejak saat itu, Ayna tidak pernah jalan-jalan ke mana pun lagi. Oleh karena itu, Ayna mengangguk setuju.
Senyuman lebar pun terbit di bibir Zayn. "Oke! Aku bakal ngajarin kamu sampe bener-bener paham biar kamu dapat nilai A," cetus Zayn sembari melangkah ringan menuju mobilnya.
Ayna menggelengkan kepala sembari menahan tawa. Zayn tampak seperti anak kecil yang excited mendengar wacana liburan seolah ia tak pernah menginjakkan kaki di sana.
__ADS_1