
BAB 7
Logika dan Cinta
{}
Zayn mengganti pakaian kasualnya dengan pakaian longgar putih bercorak hijau muda begitu ia tiba di kamar pribadinya. Berbaring di atas kasur jadi rutinitas yang wajib ia lakukan. Sepulangnya dari rumah Ayna, Zayn memang sedikit kelelahan, tapi senyumnya justru terbit lebih lebar dari biasanya.
Pertemuannya dengan Faza benar-benar hal yang membahagiakan bagi Zayn. Karena izin dari pria itu, Zayn bisa memanfaatkannya untuk bebas berkeliaran di luar rumah sakit. Bukan hanya pulang pergi dari kampus seperti saat ini, tapi ia punya alasan lain bila mengajak Ayna untuk belajar di luar kampus. Keinginan yang ia pikir hanya sebatas angan, kini berada di genggaman. Zayn tidak menyangka ternyata mendekati Ayna bisa memberikan timbal balik yang menguntungkan baginya.
Zayn terlahir dengan penyakit jantung bawaan yang parah sejak lahir. Ia tidak pernah punya kesempatan untuk menikmati hidup normal semasa hidupnya. Di saat anak kecil seumurannya tengah merangkak, Zayn bersusah payah bernapas dengan bantuan selang pernapasan. Di saat anak kecil berlarian di taman, Zayn berusaha untuk berhenti memuntahkan obat yang pahitnya terasa menempel di lidah. Di saat anak remaja mulai bergandengan bersama temannya, Zayn hanya bisa menyapa obat, jarum infus, dan mesin defibrillator. Zayn tidak punya teman selain benda-benda itu, walaupun pernah ada seseorang yang sering menjenguknya.
Penyakit jantung bawaan ini merenggut habis waktu Zayn untuk hidup dengan normal. Ia harus berjuang melawan penyakitnya atau penyakit itu yang akan berkuasa atas diri Zayn sepenuhnya. Walaupun terpenjara di ruangan beraroma bahan kimia, Zayn kukuh pendirian selalu ingin belajar agar suatu hari apabila Zayn mampu keluar dari rumah sakit, Zayn tidak harus menanggung malu dan dicap anak aneh bila bertemu dengan orang lain. Homeschooling bahkan sampai mengikuti ujian nasional, Zayn lakukan. Ia merasa normal bila bisa melakukan hal yang orang normal lakukan.
Zayn mengedarkan pandangan pada ruangan yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar untuknya. Memang ini adalah kamar istimewa dengan fasilitas pasien yang lengkap, tapi bagi Zayn, tak ada bedanya ruangan biasa dengan ruangan VIP, ia sama-sama hanya akan terikat di ranjang.
Ia turun dari ranjang lalu berjalan menuju jendela kamar. Hamparan kota yang menyapa indra penglihatannya begitu memanjakan. Beratapkan langit jingga keunguan seolah jadi penenang yang ampuh. Karena bagi Zayn, di sanalah kehidupan yang sebenarnya. Bukannya di ruangan pengap beratap yang membuatnya terjebak bersama obat dan jarum suntik.
Zayn hanya ingin bebas. Hanya itu keinginan kecilnya yang tak pernah sesederhana itu untuk diwujudkan. Dan ia bersyukur bertemu dengan Ayna yang bisa membantu mewujudkannya.
***
Memasuki minggu ketiga, perkuliahan makin padat dengan tugas mandiri maupun kelompok. Minggu ini saja Ayna masuk di tiga kelompok berbeda. Dan salah satunya, ia sekelompok dengan Zayn. Cowok itu tampaknya sangat gembira mengetahui itu, berbanding terbalik dengan Ayna yang masam.
Ayna masih menjalani hari-hari kuliahnya dengan terpaksa. Walaupun mata kuliah yang diajarkan di semester satu masih pengantar sebelum masuk ke mekanisme yang lebih dalam mengenai cara kerja komputer maupun perangkat lunaknya, tapi Ayna sudah merasa jadi orang paling bodoh di kelas. Ia sama sekali tak mengerti apa yang dijelaskan dosen. Alhasil, ia tidak pernah fokus di kelas. Terutama, saat mata kuliah logika matematika.
"Coba kamu yang duduk dekat jendela," ucap Pak Hamdan sembari menunjuk seorang gadis yang tengah sibuk mencoret-coret bindernya.
Semua mata seketika memandang orang yang ditunjuk. Termasuk Mira yang menoleh pada Ayna di sampingnya. Ayna tampak tak acuh. Lebih tepatnya, tenggelam dalam lautan pikirannya sendiri. Mira pun menoel bahu Ayna dan mengedikkan dagu ke arah dosen. Ayna menghela napas pasrah lalu mengangkat tangannya ragu-ragu, "Iya, Pak?"
Pak Hamdan yang tengah berdiri di depan papan tulis lantas menuliskan notasi konjungsi logika matematika; p ^ q. "Jika p bernilai benar dan q bernilai salah. Maka konjungsi p dan q adalah?" tanyanya pada Ayna.
Di kursinya, Ayna gelagapan. Ia tidak memperhatikan Pak Hamdan berbicara sejak satu jam terakhir. Walaupun Ayna pernah mempelajari logika matematika sewaktu SMA, tapi Ayna tak mampu mengingatnya. Mungkin tepatnya, karena Ayna tak betul-betul memahami apa yang telah ia pelajari.
__ADS_1
"Jadi apa jawabannya?" desak Pak Hamdan. "Benar atau salah?" Melihat Ayna yang tetap diam, ia mengimbuh, "Daritadi ngapain aja?"
Mulut Ayna sudah terbuka tapi tidak ada kata yang keluar. Ranya di kursinya menggembungkan pipi menahan tawa. Ia senang melihat Ayna dipermalukan. Sementara Gio yang menahan kantuk jadi terbelalak mengetahui ada hal seru yang sedang berlangsung. Ia takkan ketinggalan momen-momen seperti ini saat dosen seakan hendak menelan mahasiswanya hidup-hidup karena ketahuan tidak mendengarkan.
Ayna meringis di kursinya. Sungguh memalukan bila Ayna salah menjawab dan Pak Hamdan pasti akan memarahinya, tapi Ayna sama sekali tidak tahu jawaban apa yang benar. Ayna pun berkata, "Ben--"
"Salah, Pak," interupsi Zayn yang duduk berjarak dua meja, sejajar dengan bangku Ayna.
Semua kepala menoleh mengarahnya, termasuk Pak Hamdan. "Kenapa bisa salah?" tanyanya.
Zayn menampilkan deretan gigi. Ia sama sekali tidak terancamdengan sorotan tajam Pak Hamdan. "Karena logikanya, bila p bernilai benar adalah aku mencintai kamu dan q bernilai salah adalah kamu mencintai dia. Maka konjungsi p dan q adalah--" Zayn sengaja menahan ucapannya untuk memancing rasa ingin tahu seluruh penghuni kelas sebelum melanjutkan, "--patah hati, Pak!"
Sontak seluruh kelas terbahak. Apalagi mimik wajah Zayn yang seolah-olah sedang memberikan jawaban yang serius. "Berarti logikanya itu tindakan sia-sia dan bernilai salah kan, Pak?" imbuhnya yang bahkan memancing tawa Pak Hamdan. Dosen yang terkenal garang itu kini geleng-geleng kepala.
Di sela bisingnya tawa, Ayna yang ikut mengulum senyum merasa ada seseorang yang sedang menatapnya. Ayna pun menoleh ke arah bangku Zayn. Dan benar saja, cowok itu menatapnya lalu menutup kedua matanya sekian detik seakan berisyarat, tenang aja.
Ayna pun mengalihkan pandangan ketika jantungnya berdegup tak karuan. Hati Ayna terenyuh. Karena tindakan cowok itu, Ayna tidak jadi dipermalukan anak kelas dan tidak kena amukan Pak Hamdan. Ayolah, Ayna jangan lemah, batin Ayna meyakinkan hatinya agar tidak mudah goyah karena hal sepele seperti ini.
****
"Apa sih, Mir? Jangan mulai deh." Ayna mendecih sembari memasukkan barangnya ke dalam tas dengan sebal. Mira senang sekali menjodohkannya dengan Zayn. Memang apa yang hebat dari cowok berkulit pucat itu? Walaupun Ayna memang terbantu tadi, tapi Ayna tidak akan mudah membuka hati. Ayna tidak bisa menerima bila Zayn benar-benar menyukainya apalagi mengingat ucapan cowok itu yang memang bertekad membuat Ayna tertarik dengan Zayn agar ia betah kuliah. Ayna yakin, Zayn sama seperti cowok kebanyakan yang senang bercanda tanpa ada maksud lebih.
Ketika Mira melihat Zayn yang datang hendak menghampiri meja Ayna, Mira langsung melambaikan tangan pada gadis itu. "Ay, aku duluan ke kantin ya. Pangeran kamu udah dateng tuh." Mira memeletkan lidah pada Ayna yang sudah mengangkat tinjunya ke udara. Mira pun berlari keluar ruangan yang diperhatikan salah satu cowok di kelas.
Cowok itu tersenyum dan merangkul Hari di dekatnya. "Zayn, susul kita ke kantin ya," ucap cowok yang tidak lain adalah Pras.
Zayn yang disebut mengacungkan jari tanda oke. Pras dan Hari pun keluar dari kelas menyusul Mira. Zayn menekuk lutut dan bertopang dagu di sisi meja Ayna. Ayna mendelik melihat Zayn memandangnya terang-terangan. "Apa?" sinis Ayna.
Zayn memajukan bibir. Ia tidak puas dengan sambutan gadis itu. "Jangan cemberut, Ayna. Harusnya kamu terima kasih tadi aku udah nyelametin kamu dari dosen killer," ucapnya yang dibalas putaran bola mata gadis itu. "Aku nggak mau kamu nggak fokus di kelas kayak tadi di matkul kedua." Zayn langsung berdiri dan menggamit tangan Ayna.
Ayna yang merasa risih berusaha menarik tangannya. "Lepasin, Zayn. Mira udah nunggu aku."
Zayn menggeleng dua kali. "Kamu nanti kabur kalau aku lepasin." Ayna menghela napas tak percaya dengan sikap Zayn yang seenaknya. Zayn pun berjalan yang otomatis menarik Ayna saat tangan mereka berpautan.
__ADS_1
Ayna kelabakan mengikuti langkah panjang cowok itu keluar dari kelas. "Zayn, kita mau ke mana sih? Lepasin dulu!" pekiknya. Ia merasa diseret oleh Zayn.
Zayn menoleh lalu mengeratkan genggaman tangannya pada Ayna. "Kita belajar di kantin bareng Mira," putusnya tidak menerima bantahan walau Ayna sudah merengek agar Zayn melepaskan tangannya.
"Zayn," panggil Ayna. Zayn pun menoleh sembari mengangkat alisnya. "Apa kamu bakal terus-terusan kayak gini? Ngintilin aku ke mana aja dan berbuat seenaknya?"
"Kalau dengan ini kamu bisa selalu ada di deket aku, kenapa nggak? Asal kamu tahu, aku bersyukur ketemu sama kamu."
"Apa?" Ayna mengernyit heran. "Kamu suka sama aku?" tanyanya tanpa basa-basi. Bila Ayna punya rasa, pasti ia tidak akan seberani ini.
Zayn membelalak. "Nggak! Kamu bukan tipe aku, Ayna."
Zayn yakin ia tidak menyukai Ayna. Gadis yang diimpikan Zayn itu tingginya semampai, suaranya bagus, dan punya sikap lemah lembut. Namun, semua hal itu tak bisa Zayn temukan di diri Ayna. Tinggi gadis itu hanya mencapai telinga Zayn, suaranya cempreng, dan suka mencak-mencak. Tidak ada ramah-ramahnya sama sekali. Rasa syukur bisa bertemu dengan Ayna, hanya sebatas rasa syukur karena Zayn jadi punya alasan untuk berkeliaran di luar kampus. Hanya itu, yang baru Zayn tahu.
"Yaudah lepasin tangan aku."
"Nggak mau."
Ayna mendesis tak percaya. "Denger ya, Zayn. Aku udah cukup menderita harus kuliah salah jurusan jadi berhenti gangguin aku. Aku ingin kuliah dengan tenang sampai aku bisa keluar dari sini."
"Aku nggak gangguin kamu kok. Justru aku ingin membagi kebahagiaan biar kamu betah kuliah di sini. Lagian jagain kamu," Zayn mengangkat genggaman tangan mereka lalu melanjutkan, "juga permintaan ayah kamu."
Ayna berdecak. Satu tangan bebasnya mengepal menahan sebal. "Kalau ini semua demi permintaan ayah aku, mending kamu mundur sekarang. Kamu melakukan hal yang sia-sia, Zayn. Aku tetep bakal keluar dari kampus ini."
Ayna tidak ingin lambat laun ia merasa berhutang budi pada Zayn. Sudah cukup ini terakhir kalinya Zayn membantu dirinya di kampus. Lagipula, Ayna masih berkeinginan untuk pindah jurusan sebelum semuanya terlambat. Dan kemunculan Zayn, membuat semuanya semakin terhambat.
"Aku nggak bakal pernah ngundurin diri sampai tujuan aku dan keinginan ayah kamu tercapai, Ayna," ucap Zayn menepuk-nepuk puncak kepala Ayna sembari tersenyum tipis.
Ayna membuang napas kesal sembari menepis tangan Zayn. "Terserah deh. Kalau kamu milih itu, aku yang bakal buat kamu benci sama aku."
Zayn menaikkan sebelah alisnya, tak merasa terancam. "Coba aja. Aku nggak bakal nyerah dengan mudah."
***
__ADS_1
Yeay sudah sampai bab 7. Tolong beri saran dan komentarnya ya!