
Bab 16
Pertandingan Harga Diri
{}
“Kamu ngapain sih nantangin Nata buat tanding basket?” gerutu Ayna pada Zayn yang duduk di kursi penonton stadion basket. Amarah menyelimuti cowok jangkung itu. Ia telah dipermalukan oleh Nata. Bisa-bisanya Zayn sempat membisu hanya karena perkataan Nata.
“Kamu ngejadiin aku taruhannya, lagi. Aku bukan barang ya, Zayn!” celoteh Ayna tak habis pikir dengan jalan pikiran cowok itu. Ia sudah bukan anak SD yang senang menantang temannya, untuk apa ia melakukan ini? Ah, Ayna ingat. Bahkan senior dan dosen killer pun bisa dilawan oleh Zayn, apalagi Nata yang setingkat dengannya. Zayn memang tidak punya takut.
Zayn menunggu lapangan basket kosong yang masih diisi oleh anak UKM basket cowok. Ia menarik dan mengembuskan napas dengan cepat lalu menatap Ayna tepat di mata. “Ya terus, apa ada cara biar kamu bisa ngejauhin Nata? Dia bukan cowok baik-baik, Ayna. Aku kenal Nata lebih lama dari kamu dan dia nggak punya sisi baik sedikit pun.”
Ayna mencibir, “Kamu berlebihan, Zayn. Nata nggak kayak gitu kok.” Zayn membuat gestur mau muntah. “Ini pasti cuma akal-akalan kamu aja yang seneng liat aku menderita.”
Zayn mendesis, “Lihat, kan? Kamu nggak bakal percaya apapun yang aku bilang. Aku bakal tanding bentar lagi. Jadi,” Zayn berdiri dari duduknya. Ia patahkan jarak antara dirinya dan Ayna. Gadis itu melebarkan mata. Jarak ini begitu dekat sampai aroma mint dari tubuh Zayn terhirup indra penciumannya. Zayn pun berbisik di telinga Ayna, “Doain aku menang ya, Antivirus.”
Zayn pun turun dari bangku penonton ketika Nata sudah memanggilnya dari bawah. Ayna yang sempat mematung mampu mengembalikan kesadarannya. Ia pun menggeleng kuat berusaha menepis rasa panas yang menyambangi dua pipinya. Dasar Zayn tukang modus!
***
__ADS_1
Hanya ada Zayn, Ayna, dan Nata di dalam stadion. Suara pantulan bola basket dan decitan sepatu terdengar menggema di ruangan besar yang kini sepi. Nata dan Zayn saling berebut bola dengan memakai setengah lapang dan satu ring. Pemenangnya adalah siapa yang mampu memperoleh poin terbanyak dalam waktu lima belas menit. Pertandingan satu ronde yang mendebarkan.
Ayna menggigit bibir dalamnya hingga memerah. Ia tak memihak siapapun. Tak ada bedanya mau Zayn atau Nata yang memenangkan pertandingan ini, tapi yang membuat Ayna khawatir adalah Zayn. Ia ingat betul kaki Zayn bengkak cukup besar. Apa cowok itu tak kesakitan melompat dan berlari seperti itu?
Lima belas menit berlalu, permainan pun dihentikan. Sekujur tubuh Zayn dan Nata dibanjiri keringat saat napas keduanya jadi tersengal. Mengakhiri pertandingan, Nata menyeringai puas pada Zayn.
Zayn yang memegang bola terakhir pun membanting kasar bola itu ke lantai hingga bola terpantul tinggi. Cowok itu pun menyeret langkahnya menuju ruang ganti olahraga di dalam stadion.
Mata Zayn mulai berkunang. Kepalanya pun terasa pening seakan dihantam balok yang besar, tapi Zayn tetap berjalan tegak berpura-pura kuat. Ia tak boleh membiarkan siapapun menyaksikan kekalahannya, terutama gadis itu. Pertandingan yang sebenarnya tengah berlangsung antara Zayn dan penyakitnya.
Sesampainya di ruang ganti, tubuh Zayn meluruh ke lantai. Dadanya terasa menyempit. Ia mencengkeram kerah pakaiannya dan berusaha memekik, namun tak ada satu pun kata yang mampu terucap. Perlahan-lahan, kesadarannya pun memudar sampai gelap memeluknya.
***
"Lima jam. Tidur kamu nyenyak juga. Udah bangun, Zayn?" tukas seorang lelaki yang sibuk memainkan helaian daun di pot kecil yang dipasang dekat jendela ruang rawat.
Zayn mengerjapkan mata sekali lagi agar mampu melihat dengan jelas cowok yang berbicara dengannya. Punggung itu milik Nata yang sudah berganti pakaian kasual. "Mana Ayna?" tanya Zayn. Hanya ini yang ia pikirkan.
Nata terkekeh lalu berbalik menghadap Zayn yang berbaring di ranjang klinik. Tak ada raut panik yang menyambangi wajahnya seolah ia sudah bisa menerka sebelumnya apa yang akan terjadi pada Zayn setelah bertanding dengannya. "Tenang, Zayn. Aku udah antar dia pulang. Aku bilang kamu butuh istirahat. Jadi dia nggak tahu kamu pingsan."
__ADS_1
Zayn menghela napas kecewa. Harusnya ia yang mengantar gadis itu, tapi sial! Karena tindakannya malah memberikan kesempatan bagi Nata untuk mengantar Ayna.
Pertandingan sengit yang terjadi di antara keduanya memperoleh hasil dua puluh banding sepuluh dengan Nata yang menjadi pemenangnya. Zayn tidak bisa mengimbangi permainan lincah cowok itu yang lihai bergerak ke sana ke mari. Bahkan, itu adalah pertama kalinya Zayn memegang bola oranye dan bermain basket. Zayn hanya menerka pola dan tata cara bermain anak UKM basket sebelumnya. Kalau Soraya tahu, Zayn pasti akan dilarang kuliah lagi.
"Kenapa kamu maksain diri buat main basket. Kamu nggak kuat buat itu, Zayn," ucap Nata. Ia sudah mengenal Zayn sejak SD. Mereka sering bermain bersama walau tepatnya Nata yang mengunjungi Zayn saat cowok itu terjebak di rumah bersama ranjang, mesin jantung, penutup mulut, dan beragam selang pernapasan yang melilit dirinya. Penyakit Zayn masih parah saat itu dan perlu perawatan intensif.
Awalnya, Nata menganggap Zayn makhluk aneh yang tidak bisa keluar dari rumah. Nanar, pandangan Zayn. Tersekat kaca jendela, Zayn hanya bisa menyaksikan anak seusianya berlari dan tertawa. Nata pun tergerak hatinya untuk menyapa Zayn yang lambat laun membuatnya mengerti ternyata tak ada yang berbeda antara dirinya dengan Zayn. Cowok itu hanya kurang beruntung tidak terlahir dengan jantung yang sehat.
"Ini demi Ayna. Biar dia nggak ketipu kayak Handini," balas Zayn tajam. "Tapi sayangnya aku gagal menyingkirkan Anda. Aku harus cari cara lain."
Nata terkekeh hambar. "Handini? Cewek komplek seberang yang pernah kamu suka?"
Zayn mendengkus kecil, "Aku nggak suka sama dia, Nat. Aku cuma kasihan sama dia yang suka sama orang brengsek seperti Anda."
Zayn tatap Nata yang menyeringai padanya. Cowok itu tak merasa tersinggung. Padahal dalam situasi normal, harusnya cowok yang disebut brengsek itu mungkin akan melayangkan tinju ke pipi Zayn, tapi, ya karena inilah Nata yang sebenarnya. Sepertinya, hanya Zayn yang mengetahui sifat asli Nata.
Nata menghampiri Zayn ketika cowok itu pelan-pelan bangkit dan duduk di tepi ranjang. "Aku udah berubah, Zayn. Aku benar-benar suka sama Ayna. Aku nggak rela nyakitin dia."
Zayn tersenyum miring. Ia lepaskan jarum infus di tangan kirinya lantas berdiri menyamakan posisinya dengan Nata. "Lima tahun yang lalu, kamu bilang hal yang serupa."
__ADS_1
***