
BAB 5
Teman Lama
{}
Punggung Zayn menubruk dinding ketika satu kakak tingkat berbadan tinggi besar menoyor kasar bahunya. Zayn terkekeh miris, tapi ia tak terintimidasi sama sekali. Butuh usaha lebih keras untuk membuat Zayn meringkuk ketakutan. Zayn pun tersenyum memandang ramah tiga kakak tingkat di hadapannya. "Ada masalah apa ya?" tanyanya pura-pura tidak mengerti apa yang terjadi.
Begitu Zayn bertemu dengan Gilang di depan kelas, cowok jangkung itu meminta Zayn untuk mengikuti mereka ke luar gedung kampus. Berada di jalan kecil di antara dua gedung jurusan, Zayn menghadap Gilang dan dua temannya, anak Himapro.
"Gue nggak suka basa-basi," ungkap Gilang. "Jadi apa maksud lo ngeretas web kampus dan nayangin video gue?"
Zayn mengerucutkan bibirnya lalu menggeleng. "Nggak ada maksud apa-apa. Saya kan sudah bilang itu sebagai pertunjukan. Dan kebetulan, saya nemu video itu nggak sengaja di laptop Kak Ketua. Jadi, apa saya salah?"
Gilang terkekeh tak percaya. "Tapi kenapa sampai sekarang website-nya belum lo pulihin? Lo sengaja ya nyari gara-gara?"
Zayn mengedikkan bahu. Sebelah alisnya menukik naik. "Bukannya kakak Ketua Himpunan Mahasiswa Programmer? Kenapa nggak bisa mulihin sendiri?" ucap Zayn tanpa berpikir. Ia tidak tahu kalau ucapan itu langsung menyulut api dari ketiga anak Himapro.
"Banyak omong lo!" tukas lelaki gempal di sisi kiri Zayn, yang tadi menoyor bahunya, sembari melayangkan tinju yang refleks membuat Zayn memejamkan matanya dengan pasrah. Tapi sekian detik setelahnya tinju itu tak pernah sampai di tulang pipi Zayn. Ketika kelopak mata Zayn terbuka, ia temukan ada tangan menahan tinju itu.
"Gio?" Gio yang disebut melemparkan tangan Jayyus lalu merangkul bahu Zayn. Zayn mengernyit heran.
"Lo?" tukas Gilang sembari melotot.
"Iya, gue. Kenapa? Masalah buat lo?" Gilang memutar bola mata. "Udahlah lepasin Si Zayn Malik ini. Dia nggak melakukan hal yang aneh-aneh kan?"
"Zayn Abhicandra," sergah Zayn membenarkan.
__ADS_1
Gio menoleh lalu mengibaskan sebelah tangannya. "Terserah gue." Ia kembali tatap Gilang yang sudah mengepulkan asap. "Lo nggak perlu buat perhitungan sama dia, kak. Gue yang malu sebagai adik lo!"
Pernyataan tiba-tiba itu menarik semua mata untuk memandang heran Gilang dan Gio bergantian. Mereka baru tahu keduanya adalah kakak beradik. Termasuk Zayn yang menganga tak percaya. Tak ada mirip-miripnya. Wajah Gio lebih persegi ketimbang Gilang yang sedikit lonjong. Mungkin satu sama lain mewarisi gen ayah atau ibunya saja bukan keduanya.
Gilang mengepalkan tinjunya. "Lo nggak usah ikut campur masalah gue."
"Sayangnya, gue udah ikut campur tuh," balas Gio sembari meleletkan lidahnya berasa menang.
Gilang membuang napas kasar lalu merapikan jas almamater kampus yang berwarna biru terang. Ia pun mengajak teman-temannya untuk meninggalkan Zayn dan adiknya. Gio menahan perutnya yang sakit karena tertawa puas melihat kakaknya yang tidak bisa berkutik. "Gue kayanya harus terima kasih sama lo, Zayn!" pungkas Gio.
Zayn ikut menghela napas lega. "Kenapa?"
"Gue selalu jadi kacung di rumah tapi gue merasa merdeka di kampus bisa malu-maluin dia. Berkat lo tentunya."
Zayn pun tersenyum. "Ya, sama-sama. Berkat lo, gue juga nggak jadi babak belur." Zayn pun pamit tapi bahunya kembali dirangkul oleh Gio. Gio tersenyum lebar. Dan saat itu Zayn tahu, tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini. Zayn pun menyetujui permintaan Gio untuk mentraktirnya makan di kantin.
***
Setelah dosen meninggalkan kelas, Ayna diam-diam langsung menyusul dosen di belakang. Bukan ingin mengumpulkan tugas, tapi ia ingin lepas dari Zayn yang pasti akan mengajaknya pulang bersama. Cowok itu tak pantang menyerah walau sudah Ayna tolak berulang kali. Ayna harus cepat-cepat menjauh dari radar yang dimiliki Zayn.
Ayna menepi di gedung perpustakaan. Napasnya saling susul menyusul. Ia lelah setelah mengitari gedung jurusan teknik. Kepalanya pun berputar ke segala arah untuk memastikan bahwa ia benar-benar aman. Tak ada tanda-tanda Zayn maupun anak TI di sekitaran Ayna. Ayna menghela napas lega. Ia harus cepat-cepat keluar dari kampus.
Pelariannya kali ini sukses. Rasanya seperti melepaskan ikatan yang mencekik lehernya dan kini ia bisa bernapas lega sepuasnya. Ayna duduk dengan nyaman di halte kampus tanpa kehadiran Zayn. Cowok itu membawa mobil hitam ke kampus. Jadi, sudah pasti cowok itu akan keluar lewat parkiran mobil di jalur timur bukan melalui jalur utara di mana Ayna berada.
Ayna mengeluarkan ponsel ketika seorang cowok berjaket hitam duduk di sampingnya. Cowok itu tersenyum sopan pada Ayna sebelum memainkan ponselnya. Ayna tersenyum canggung ketika membalasnya, tapi pandangan Ayna tak bisa lepas dari perawakan cowok itu. Ia merasa pernah melihatnya. Cowok yang dipandangnya pun sedikit-sedikit mulai melirik ke arah Ayna, entah karena ia merasa risih diperhatikan gadis itu atau karena merasakan hal yang sama dengan Ayna.
Mata mereka kembali bertemu dan saat itu pula Ayna menutup mulutnya yang menganga tak percaya. “Nata?”
__ADS_1
Cowok yang dipanggil Nata itu pun menunjuk Ayna. “Ayna Nabila, kan? Yang sekolah di SMP Permata?”
Ayna mengangguk antusias. Ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman. “Wah, kamu mahasiswa kampus ini juga?” Nata mengangguk, mengiyakan. “Jurusan apa?” tanya Ayna.
“Jurusan Bisnis Manajemen. Kalau kamu?”
Senyum sumringah di wajah Ayna mendadak surut. “Jangan ditanya, aku salah masuk jurusan. Aku inginnya masuk jurusan kayak kamu tapi ayah aku malah daftarin aku ke jurusan Teknik Informatika tanpa izin."
Ayna jadi teringat di waktu subuh saat itu ketika Ayna belum sadar dari tidur sepenuhnya, Faza tiba-tiba menodongkan kertas dan menyelipkan tangan Ayna dengan pulpen. Faza meminta Ayna untuk tanda tangan dengan cepat, tapi Ayna tidak mendapatkan jawaban kertas apa itu walau sudah ditanya berulang kali. Dan ternyata Ayna baru tahu itu formulir pendaftaran mahasiswa baru jurusan Teknik Informatika. Faza berkata, hari itu adalah hari terakhir pendaftaran dan ia tidak ada waktu, karena sibuk bekerja, untuk kembali ke kampus dan meminta formulir yang lain. Jadi Ayna harus ikhlas menerima jurusannya apapun itu. Lagipula, Faza tahu Ayna menginginkan jurusan manajemen hanya ikut teman-temannya bukan betul-betul minat Ayna.
Ayna memang bukan anak spesial yang memiliki bakat terpendam. Ia hanya anak biasa yang lahir dari keluarga biasa. Ayah bekerja kantoran sementara ibu meninggal saat Ayna menginjak kelas dua SMA. Ayna memilki banyak hal yang ia suka tapi tak pernah ada minat untuk menggeluti salah satunya. Ia senang menggambar walau tidak terlalu bagus, ia senang memotret walau hasilnya tidak bisa diprediksi kapan memuaskan, dan ia suka memasak ya walaupun kadang keasinan. Ayna merasa tidak memiliki bakat walaupun ia bisa melakukan apa saja.
Ayna paling tidak suka bila ditanya tentang cita-cita. Ia akan menjawab jawaban paling klise dari semua orang, menjadi guru. Padahal Ayna tidak ramah dan tidak cukup memiliki kesabaran untuk menghadapi anak yang sulit menerima ajaran. Bahkan terakhir kali, Ayna malah dibenci adik temannya karena memarahi dan menyindirnya tidak pintar karena gagal menjawab soal perkalian. Ayna memang kelewatan.
Menginjak usia delapan belas tahun, Ayna dituntut untuk bisa memilih apa yang ia inginkan setidaknya apa goals yang ingin ia capai. Namun Ayna akan menjawab dengan gelengan dan berkata, "Aku cuma pengen hidup bahagia dan kaya raya." Namun, ia tahu jalan apa yang harus ia tempuh untuk mewujudkannya.
Banyak orang yang terjebak bersama mimpi yang tak terwujud karena mereka hanya membayangkan hasil, tanpa memikirkan proses apa yang harus mereka lakukan untuk menggapainya melalui potensi diri masing-masing. Dan Ayna adalah bagian dari mereka yang belum bisa mengenali apa sebenarnya potensi diri yang ia miliki.
“Sabar, Ayna. Anggap aja ini masa pengenalan kampus, baru tahun depan kamu pindah jurusan. Tapi resikonya kamu harus ngulang dari semester satu. Kamu nggak keberatan?”
Ayna menghela napas berat. Kalau seperti itu, untuk apa ia menghabiskan waktu tiap hari datang ke kampus? Ayna ingin segera pindah dari sekarang bukan nanti. “Gatau deh, Nat. Umur cewek kan jadi perhitungan. Kalau aku ngulang dua semester, nanti aku ketinggalan lulus dibanding temen-temen aku,” curhat Ayna dengan bibir mencebik.
Nata tertawa. “Ya udah jalanin aja kalau gitu. Mungkin kamu nggak suka karena belum kenal sama jurusannya, pasti ada alesan kenapa kamu salah masuk jurusan, Ayna.”
Ayna mengangguk berusaha menerima perkataan Nata yang ada benarnya juga. Ayna tidak pernah memikirkan hal itu. Ia terlalu sibuk merutuki nasib yang tidak sejalan dengan keinginannya. Ayna tidak pernah mau melihat alasan mengapa hal ini menimpanya.
“Kamu bener, Nat. Aku yang nggak nyari alasannya.” Nata hanya balas tersenyum. Lalu kemudian, bus yang ditunggu Ayna pun datang. Gadis itu pun pamit pada Nata ketika cowok itu tiba-tiba menahan pergelangan tangannya. Ayna mengerjap tak paham.
__ADS_1
“Aku minta nomor kamu,” ucap Nata tersenyum manis.
****