Times New Romance

Times New Romance
Bab 19 :: Curiga


__ADS_3

BAB 19


Curiga


{}


Setelah meminum obat terkecil berbentuk pil hingga kapsul dan tablet yang berukuran hampir seruas jari, Zayn pandangi pantulan dirinya di cermin toilet. Ia tersenyum lebar yang membuat mata kecilnya menyipit. Masih jelas di ingatan ia menyatakan perasaannya pada Ayna. Gadis itu tak mengedipkan mata sekian detik dan semburat kemerahan begitu saja menyebar di pipinya.


Zayn menahan senyuman agar tak mengembang lebih lebar dari ini. Sembari membuat bentuk pistol dengan tangannya, ia berucap, "Wah, kamu emang keren banget, Zayn Abhicandra." Ia juga tak percaya bisa-bisanya ia menyatakan cinta saat sedang belajar di kelas. Ucapan itu meluncur begitu saja tanpa Zayn tahu bagaimana cara menghentikannya. Namun yang pasti, Zayn tidak menyesal karena cepat atau lambat Ayna memang harus tahu perasaan Zayn.


Bukan hanya Ayna yang terkejut karena setelah Zayn mengatakan itu, ia merasa hatinya meletup-letup seakan ada kembang api yang meledak di dalam sana. Bahkan kata-kata tak mampu mewakilkan apa yang Zayn rasa.


Zayn belum pernah jatuh cinta. Setelah pertemuannya dengan Ayna, ia jadi mengerti bahwa perasaan yang dulu sempat ia miliki pada Handini, teman Nata yang sering mengunjungi rumahnya, hanya sebatas kasih sayang terhadap teman. Karena perasaannya kali ini terasa lebih nyata dan mendebarkan. Perasaan ini mampu menggerakkan seseorang tanpa mengedepankan logika. Asalkan keinginan hati terpenuhi, segala tindakannya selalu ingin dimaklumi.


Zayn tak yakin sejak kapan rasa ini bermula. Padahal Ayna bukan gadis yang perhatian padanya. Justru gadis menyebalkan dan gadis pertama yang menyatakan Zayn tidak menarik, tapi hari-hari yang dilalui bersama membuat Zayn tidak ingin melepaskan Ayna bersama laki-laki lain. Tindakan egois yang bermuara pada nama cinta. Ia hanya ingin gadis itu melihatnya dan bersamanya. Kini Zayn berharap, Ayna tak salah paham dengan ucapannya. Apalagi hanya menganggap itu gurauan semata.


***


Bila ia sudah berada di rumah, Ayna pasti akan menggigit bantal dan berteriak sekencang-kencangnya. Ia tak mengerti apa maksud perkataan Zayn. Benarkah cowok itu menyukainya? Zayn memang senang menggombalinya. Seharusnya, Ayna bisa bersikap biasa saja seperti waktu-waktu sebelumnya, tapi sorot teduh yang menatapnya tepat di mata seolah menyampaikan pesan bahwa Zayn benar-benar serius akan ucapannya.


Ayna memilih berlama-lama di kelas lebih dahulu ditemani oleh Mira saat semua temannya sudah meninggalkan kelas. Jantungnya masih berdegup kencang. Ayna yang tengah memasukkan buku ke tas seketika menenggelamkan wajah ke tasnya dan memekik kencang-kencang. Mira hampir melempar ponselnya mendengar teriakan Ayna.


“Ayna, ngagetin aja kamu!” Mira menepuk-nepuk punggung Ayna berusaha menyadarkan gadis itu. “Kamu kenapa? Sakit? Atau udah gila?” heran Mira.

__ADS_1


Ayna menegakkan punggung dengan raut wajah sebal. “Ih, Mira! Kamu kalau ngomong suka bener deh.” Ayna bersidekap di kursinya.


“Hah? Jadi kamu beneran gila? Ya ampun, Ayna, emangnya kenapa lagi? Zayn ngapain kamu sih?” terka Mira yang sudah tak aneh bila Ayna tiba-tiba berlaku gila seperti ini. Pasti Zayn tersangka utamanya.


“Ah, aku juga bingung, Mir. Yang jelas Zayn bener-bener udah gila!” rutuk Ayna.


“Kalau Zayn gila kan udah rahasia umum, Ayna. Tapi kalau kamu yang gila itu baru keajaiban.” Mira menyampirkan tasnya seraya berdiri. “Emang kenapa? Zayn nembak kamu?”


Ayna terbelalak. Darimana Mira tahu? Apa semua orang mendengarkan ucapan Zayn yang sangat kecil itu bahkan hampir terdengar seperti bisikan? Ia tatap Mira dengan was-was. "D-darimana kamu tahu?" tanyanya hati-hati.


Sontak, Mira menjatuhkan rahang mendengar penuturan Ayna yang secara tidak langsung membenarkan ucapannya. “Apa? Beneran? Wah, padahal aku cuma asal nebak, Ayna."


Ayna meringis di kursinya. Bodoh kamu, Ayna! Ayna langsung melambaikan dua tangannya pada Mira. "Enggak-enggak, Mir," elak Ayna namun Mira langsung menyipitkan mata curiga.


"Ah udahlah terserah kamu deh, Mir!" Ayna pun bingkas dari kursinya. "Awas aja kalau kamu mikir yang enggak-enggak!" tukasnya sembari menunjuk wajah Mira. Sedangkan yang ditunjuk malah semakin terbahak puas. Ayna pun mengentakkan langkah meninggalkan Mira.


Mira mengusap sudut matanya yang berair karena terlalu puas tertawa. Ia pun menyusul Ayna dan melingkarkan tangan di lengan gadis itu. Ayna yang sebal berpura menghiraukan Mira. "Eh, jangan marah dong, Ay. Iya deh aku janji nggak bakal bilang kalau kamu ditembak sama Zayn."


Ayna melotot. "Mira!" Mira tertawa geli lalu memohon ampun pada Ayna agar tak melemparkan sepatu ke wajahnya.


Di balik punggung mereka, Ranya dan Via keluar dari kelas sebelah. Awalnya mereka hanya sedang merias wajah, tapi tak sengaja mereka mendengar percakapan Ayna dan Mira di kelas. Ranya tak menyangka bisa-bisanya Ayna malah berkata bahwa Zayn menyatakan cinta padanya. Bukankah gadis itu yang mengatakan bahwa Ayna ingin membuat Zayn menjauh darinya? Tapi nyatanya Ayna malah membuat Zayn lebih lengket. Ranya merasa ditipu.


“Sabar, Ranya. Kita tagih aja perjanjian kita,” cetus Via.

__ADS_1


Ranya terkekeh hambar. “Nggak perlu, Via, gue punya cara yang lebih bagus biar Ayna sekalian aja pindah dari kampus. Bukannya itu keinginan dia?” tanyanya. Via pun mengangguk. Walaupun mereka berdua tak pernah mendengarkan pernyataan langsungnya dari bibir Ayna, tapi mereka sering mendengar percakapan antara Zayn dan Ayna di kelas bahwa Ayna selalu ingin keluar kuliah. “Gue bakal bantuin dia.”


***


Kelas berakhir lebih cepat dari biasanya karena dosen sedang ada keperluan. Ketika seluruh mahasiswa sedang sibuk menyiapkan diri untuk pulang, Kenan, ketua kelas, berdiri di depan kelas didampingi oleh Ranya. “Hei, bisa tenang sebentar? Gue mau kasih pengumuman.” Seluruh mahasiswa di kelas itu pun menurut walau mendumel di dalam hati.


“Kita udah bareng-bareng hampir satu tahun, tapi belum pernah ada kegiatan bareng-bareng. Di liburan semester nanti, Ranya ngusulin kita liburan bareng di villanya di Bogor. Paling, kita harus patungan untuk biaya makan dan kunjungan ke objek wisatanya. Menurut kalian gimana?”


Gio langsung menggebrak meja, menarik atensi semua mata menatapnya. “Gue setuju banget!" serunya semangat. "Kita emang perlu liburan bareng-bareng biar nambah solid!” Kini pandangan Gio mengedar ke semua anak di kelas. “Empat tahun guys, kita bareng-bareng. Itu waktu cukup lama buat ngejadiin kita kaya keluarga,” ucap Gio yang langsung disambut tepuk tangan dan riuh teman-temannya yang jadi tersentuh.


Zayn yang biasanya enggan berpartisipasi dalam kegiatan, kini mengacungkan tangannya. “Gue ikut!” pekiknya pada Kenan saat matanya malah melirik ke arah Ayna. Gadis itu pun membuang wajahnya. “Gue nanti bakal nyumbang makanan semampu gue.”


Yang lain mulai bersahutan tanda setuju. Mira pun tampak semangat. Namun, saat melihat Ayna yang merengut seolah baru saja mendapatkan tagihan hutang, Mira mengerucutkan bibirnya sebal. “Ayna, kamu nggak mau ikut, ya?”


Ayna menghela napas panjang. “Aku bukannya nggak mau ikut. Tapi,” Ayna melirik Ranya yang ternyata membalas tatapannya. Ranya tampak sangat menikmati raut wajah Ayna yang tertekan. Ayna pun mengalihkan pandangan pada Mira. “Aku–”


Mira langsung keluar dari bangku dan menghampiri Ayna. Ia berlutut di depan meja gadis itu. “Jangan gini dong, Ay. Kan cuma setahun sekali. Kapan lagi kita bisa liburan bareng-bareng? Ada kemungkinan besar tahun depan belum tentu bisa ya, kan?”


Mira membujuk Ayna dan mengeluarkan segala rayuan. Ayna merasa bahwa Ranya akan melakukan sesuatu padanya di sana. Acara ini terlalu tiba-tiba dan terasa dibuat-buat. Apalagi karena ini usulan Ranya, semakin mengudara saja pemikiran negatif Ayna. Tapi melihat Mira yang tak berhenti membujuk, hati Ayna pun luluh. Ya, kapan lagi, Ay? Ayna pun setuju yang membuat Mira menjerit bahagia.


“Makasih, Ayna. Nanti kita belanja persiapannya bareng-bareng,” ucap Mira lalu duduk di kursinya.


Kenan yang berdiri di depan kelas tersenyum puas. “Bagus kalau kalian setuju. Dan untuk meringankan biayanya, gue tunjuk Siti sebagai bendahara kita. Kalian bisa mulai ngumpulin uangnya dari sekarang.”

__ADS_1


***


__ADS_2