Times New Romance

Times New Romance
Bab 18 :: Looping Forever


__ADS_3

BAB 18


Looping Forever


{}


Presentasi Kelompok Ayna berlangsung lancar, bahkan Gio yang sejatinya tak paham akan materi bisa membuka presentasi dan mengarang tentang apa yang baru ia baca di powerpoint untuk dijelaskan pada teman-temannya. Ia gunakan perumpamaan-perumpaan sehari-hari yang tak jarang mengundang gelak tawa seisi kelas. Walaupun begitu, maksud dari isi materi mampu tersampaikan.


Selepas presentasi dan tanya jawab, Ayna nyaris terbahak puas begitu kelompoknya dinasehati oleh dosen agar tidak membuat presentasi seperti itu. Seharusnya keterangan rinci dimasukkan saja di makalah dan cukup dijelaskan tiap anggota, tidak perlu ditampilkan di powerpoint. Ranya hanya bisa menunduk patuh saat dosen memberitahu sementara Ayna rasanya ingin tertawa sepuas-puasnya di depan wajah Ranya.


Ayna kembali duduk di kursinya yang disambut oleh Mira. Ranya tampak memutar bola mata begitu melewati bangku Ayna dan Mira. Ayna dan Mira, yang sudah mengerti kekesalan Ayna, pun tertawa puas melihat muka Ranya merah padam.


Kelas kembali dilanjutkan dengan dosen yang memberikan penjelasan ulang tentang materi yang dibawakan oleh kelompok Ayna.


***


Ayna membasuh wajahnya di toilet. Ketika ia mengangkat kepala, ternyata ada Ranya dan Via yang menatap pantulan bayangan dirinya. Ayna menghela napas. Berusaha mengabaikan dua gadis centil itu dengan melewatinya. Namun, ketika ia hendak membuka pintu toilet, Ranya langsung mencekal tangannya.


"Kenapa, Ranya?" tanya Ayna berusaha tenang walau batinnya menebak-nebak apa yang ingin cewek ini katakan sampai menemuinya di toilet kampus. Ini kali pertama, Ranya mengajak bicara dirinya empat mata.


Ranya berdehem sebelum berucap, "Hubungan kamu sama Zayn apa?"


Tidak salah lagi, dugaan Ayna tidak meleset. Ayna langsung menggeleng. "Nggak ada hubungan apa-apa. Jadi kamu nggak perlu cemburu."


Ranya tertawa sumbang. "Lo mau gue nggak cemburu, tapi lo selalu deket-deket sama Zayn?"


Ayna menghela napas jemu. Di usia ini harusnya Ranya bisa bersikap sedikit dewasa. Ayna merasa Ranya adalah contoh manusia yang tidak matang bersamaan biologis dan akal pikirnya. Ya, walaupun Ayna juga merasa ia belum sepenuhnya dewasa, tapi ia tidak akan repot-repot mengakui hal yang jelas-jelas bukan miliknya. Seperti Ranya yang seolah telah memiliki Zayn.


"Asal kamu tahu, bukan aku yang deketin dia. Aku juga merasa terganggu dideketin terus sama dia." Ayna mencelos berusaha melewati Ranya dan Via yang menghalangi pintu toilet.


"Jangan sombong, Ayna. Zayn nggak mungkin deket-deket sama cewek biasa kayak lo. Lo tuh cuma ngerepotin dia. Lo nggak pantes bareng-bareng sama dia. Jadi buat dia ngejauh dari lo baru gue percaya lo nggak ada hubungan apa-apa."

__ADS_1


Ayna berdecak. Ia malas berdebat dengan Ranya. Ayna langsung menyenggol bahu Ranya dan Via bersamaan yang menghalangi pintu membuat kedua gadis itu terbelalak. Ayna meraih kenop pintu lantas berucap, "Itu juga yang aku mau."


Ayna pun keluar meninggalkan Ranya dan Via yang saling tatap penuh tanya.


***


Peringatan Ranya benar-benar membuat Ayna tak nyaman. Gadis itu jadi tak fokus mengerjakan program yang padahal hanya diminta untuk mengikuti kode program yang ditampilkan di proyektor. Tanpa Ayna sadari, Mira yang duduk di samping Ayna diminta oleh Zayn untuk bertukar kursi sejenak. Awalnya Mira menolak tapi luluh juga setelah Zayn memohon-mohon dengan puppy eyes-nya. Untung Zayn yang melakukan itu, kalau Pras yang melakukannya mungkin Mira sudah menahan mual.


Zayn bertopang dagu memperhatikan Ayna yang tampak seperti mayat hidup. Pandangannya kosong melihat ke layar monitor dan tangan yang hanya diam di atas keyboard. Zayn pun menyentuh jemari Ayna, membuat gadis itu terlonjak hampir memekik bila tidak segera menutup mulutnya.


Ayna langsung memindai sekitar dan menemukan Mira di kursi belakang bersama Pras dan Hari, lalu ia kembali menatap Zayn yang menyengir tidak jelas. Tabokan pun melayang ke sebelah lengan cowok itu. "Ngapain sih kamu duduk di sini?" bisik Ayna sedikit risih saat matanya melirik ke Ranya yang duduk di bangku paling depan. Syukurlah, Ranya belum menyadarinya.


Zayn mencebik sembari mengusap lengannya. "Kamu nggak kesambet, kan? Malah diem aja kayak patung," ucapnya.


Gara-gara kamu, batin Ayna sebal. Ia pun mencoba mengabaikan Zayn dengan melihat layar proyektor. Kening Ayna langsung mengerut. Ia tertinggal banyak materi. "Bingung ya?" ledek Zayn yang menerima pelototan dari Ayna.


"Kita lagi belajar metode looping di pascal." Zayn langsung bercerita dengan suara yang tidak terlalu keras karena yang lain tengah sibuk melaksanakan perintah dosen untuk menuliskan kode di komputer masing-masing atau disebut coding. "Looping adalah metode dasar pemrograman yang artinya pengulangan."


Zayn mengangguk dengan mata berbinar takjub. "Wah, hebat kamu, Ayna. Kemajuan pesat kamu ngerti apa yang aku maksud." Ayna mengulum bibir menahan senyuman bangga.


Zayn mulai mengambil alih komputer Ayna, dengan memutar layar monitornya. Tampilan monitor sudah berada di software Turbo-Pascal 7. Zayn langsung membuat halaman baru di aplikasi tersebut dan memutarnya kembali pada Ayna. "Nah, coba ikuti perintah aku. Kita bakal buat salah satu contoh perulangan."


Ayna menurut. Ia pun mulai mengikuti instruksi Zayn berupa kode program atau syntax yang diucapkan perlahan-lahan. "Coba tulis nama programnya. Tulis program, spasi." Ayna mengikutinya dan menekan tombol space di keyboard lalu mengernyit setelah Zayn melanjutkan, "Loving underscore You," imbuhnya.


Ayna berdehem ketika Zayn balik menatapnya. Ayna merasa lab komputer seketika memanas atau ini hanya dirinya? "Pe-perasaan yang tadi bapak contohin judul programnya bukan ini," elak Ayna. Ia merutuk dalam hati mengapa bisa-bisanya bicara gagap seperti ini?


"Udah ikutin aja." Mau tak mau, Ayna pun melanjutkan karena ia tidak mengerti sama sekali.


"Setelah itu," Zayn melanjutkan mengeja satu persatu karakter yang harus Ayna ketik. Dan Ayna semakin memanas begitu Zayn selesai mengucapkan sebuah perintah untuk menuliskan sesuatu di program pascal.


Writeln ('I love you until-', i , 'times');

__ADS_1


Ayna mencoba untuk tidak terpengaruh, tapi tetap saja membaca perintah itu ada rasa asing yang tiba-tiba menyelinap di relung dadanya. Apa Zayn sedang menyatakan cinta padanya? Atau ini hanya main-main saja? Ah, rasanya Ayna bisa gila karena tidak mengerti jalan pikir Zayn.



Zayn selesai memberikan instruksi. Sebelum program perulangan itu dijalankan, Zayn menjelaskan, "Nah, logikanya di sini adalah apabila variabel i sama dengan 1, maka otomatis sistem akan menjalankan fungsi i sama dengan i ditambah 1 sampai syaratnya dipenuhi. Kamu tahu yang mana syaratnya?"


Ayna mencoba menganalisa dan menunjuk satu kata di layar monitor. "Yang ini?" ragunya seraya menunjuk kata true di antara while dan do.


Zayn mengangguk. "Yaps, selama variabel i ditambahkan dengan satu bernilai benar atau true, maka perulangannya akan," Zayn menjeda lalu menitah Ayna, "Coba sekarang run programnya."



Ayna pun menjalankan perintah Zayn dan terkejut dengan hasil yang tampak. Hasil program adalah variabel i yang berubah jadi angka beserta kalimat 'I love you until- times' yang muncul berbaris mencapai ribuan dan terus berulang tanpa henti.


"Lho kok gini, Zayn? Kenapa nggak berhenti-berhenti? Program aku error ya?" panik Ayna membuat Zayn terkekeh.


"Udah bener kok Ayna. Karena tadi kita nggak naruh syarat berapa kali perulangan akan dilakukan, kita menggunakan kode true yang berarti selama i ditambahkan satu hasilnya benar, ya perulangan akan dilakukan terus-menerus." Zayn menatap Ayna yang masih panik apalagi karena Ayna tidak berhasil keluar dari aplikasi itu. "Ayna," panggil Zayn.


"Ini gimana, Zayn? Aku nggak bisa ngeklik apa-apa," panik Ayna sembari menekan berbagai tombol di keyboard dengan asal.


Kepanikan Ayna pun berhenti ketika Zayn meraih jemari Ayna yang berkutat di atas keyboard. Sentuhan itu seperti aliran listrik yang menyengat sampai ke jantung. Ayna terhenyak. Ia pandangi Zayn dengan mata membulat tak mengerti.


"Perulangan itu kayak rasa suka aku ke kamu. Terus berulang, tanpa henti." Ayna merasa sekujur tubuhnya seakan mati rasa. Waktu terasa berhenti, tak ada yang mampu Ayna dengar selain detak jantungnya yang berdebar hebat. Tak ada raut bercanda dari wajah Zayn. Tatapannya begitu teduh seolah ia ingin meyakinkan bahwa perkataannya benar-benar serius.


"I Looping You Forever, Ayna," imbuh Zayn sembari terkekeh geli lalu melepaskan tangan Ayna dan menekan satu tombol di keyboard yang bisa mengeluarkan aplikasi itu dari proses running tanpa henti dan kembali menjalankan programnya dari awal.


Zayn pun diam-diam kembali ke tempat duduknya dan menitah Mira kembali. Mira misuh-misuh di kursinya Karen disuruh pindah ke sana kemari. Ia mengernyit pada Ayna yang mematung. "Ay, Ayna? Hei, sadar dong, Ay," cemas Mira menggoyang-goyangkan tubuh Ayna. Gadis itu terkesiap begitu kesadarannya kembali. "Kamu kenapa sih?" Ia tak melihat apapun yang terjadi antara Zayn dan Ayna.


Ayna berdehem canggung dan pura-pura mengetik di program pascalnya. Pikirannya terasa buyar dan hanya satu pertanyaan yang terus berputar di kepala Ayna. Zayn menyukainya? Yang benar saja.


***

__ADS_1


Ada yang mau nyobain coding di pascalnya? Haha.


__ADS_2