Times New Romance

Times New Romance
Bab 24 :: Sudah Terlambat


__ADS_3

Bab 24


Sudah Terlambat


{}


Setelah Zayn membalik pergi dari Ayna, Ayna tak pernah melihat lagi Zayn di kampus. Cowok itu tak pernah datang bahkan ketika teman-teman lain menanyakannya. Cowok itu bukan hanya pergi dari Ayna, tapi pergi meninggalkan kampus. Tak pernah ada yang tahu di mana rumah Zayn bahkan nomor yang biasa dihubungi tak lagi aktif. Banyak gosip mengatakan bahwa Zayn sudah cuti kuliah, namun Ayna tak percaya. Cowok itu sangat peduli pada pendidikan dan pintar, untuk apa ia mengambil cuti kuliah yang hanya akan menghambat waktu kelulusannya?


Ayna masih menjalani kuliah seperti hari-hari biasa. Image-nya telah berubah dari mahasiswa menjadi seorang pencuri. Anak laki-laki tak terlalu mengucilkan Ayna di kelas, namun teman perempuannya menampakkan jelas kebencian. Sudah tak terhitung berapa kali, lembaran absen yang disodorkan pada Ayna dijatuhkan begitu saja ketika Ayna hendak mengambilnya, atau kakinya disandung hingga terjatuh yang mendapatkan hadiah tawa saat kakinya berdarah. Ayna tak tahu apa dosa yang telah ia lakukan hingga ia diperlakukan seperti ini.


Menjadi sosok yang tidak diharapkan di suatu lingkungan adalah hal terberat bagi seseorang. Secara fisik tak ada yang berbeda dari Ayna, tapi di dalam hati ia hancur lebur. Hatinya dipenuhi dengan tanya yang menuntut jawaban, namun tak ada satu orang pun yang sanggup menjawabnya. Hatinya tergores tiap kata sindirian yang dilayangkan padanya. Sayangnya, hati adalah benda kasat mata yang tak mampu ditangkap mata telanjang. Semua menilai Ayna baik-baik saja, namun sama sekali tidak di dalamnya.


Hanya Mira yang selalu merangkul Ayna yang hampir menyerah meneruskan. Mira tak pernah berhenti memberi Ayna kekuatan agar Ayna bertahan. "Udah sejauh ini, Ayna. Kamu jangan nyerah kuliah. Banyak orang yang ingin kuliah tapi mereka nggak bisa." Begitulah ucapan Mira menyahuti keluhan Ayna yang semakin sering Ayna lontarkan. Dan karena itulah, Ayna bertahan. Ia yakin api yang besar pun akan padam bila Ayna tak membalasnya dengan api.


"Lihat, jalannya aja sombong banget," sindir Ranya yang tak pernah bosan mengganggu Ayna. Di tengah lorong, Ayna berusaha mengabaikan apa yang didengarnya dan terus berjalan menuju kelasnya. "Dia belum pernah minta maaf sama anak kelas, kan? tanya Ranya pada Via yang mengangguk.


"Iya udah dua minggu tapi masih aja nggak tahu malu," balas Via sembari memainkan ponselnya saat pandangannya melirik Ayna seolah sedang menunggu reaksi Ayna.


"Semenjak dia jadi pencuri, Zayn juga nggak pernah datang ke kampus lagi."


"Mungkin, dia malu kalau deket-deket sama cewek kriminal." Ranya tertawa bersama Via.


Ayna mengeraskan rahang dan berhenti melangkah lalu menghadap ketiga gadis yang berdiri di lorong kelas menunggu kelas dibuka. "Aku bukan pencuri," tukas Ayna pada Ranya yang tersenyum tipis. "Kenapa kalian selalu senang nuduh aku pencuri? Aku nggak sengaja ilangin dompet itu dan aku bakal ganti semuanya!" sentak Ayna tak mampu menahan kekesalan. Ia pun mengentak langkah meninggalkan Ranya dan Via.


Ranya menyemburkan tawa mengiringi kepergian Ayna. "Masih aja sombong, dasar pencuri."


***


Dosen sedang menjelaskan di depan kelas, tapi pikiran Ayna melayang ketika memandangi layar biru tampilan program pascal. Mengapa tulisan terasa bergulir membentuk wajah Zayn yang menyebalkan? Ayna menggelengkan kepala hingga Mira mengernyit di kursi sampingnya. "Hei, Ayna? Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Mira was-was.


Ayna berhenti menggelengkan kepala dengan cepat. "Aku nggak papa, Mir," balasnya." Usahanya untuk melenyapkan pikiran tentang Zayn malah berujung kepalanya yang pusing. Ayna mendengkus, tapi mengapa ingatannya mengenai cowok tinggi pucat itu tak kunjung juga hilang dari pikirannya?


Ayna jadi teringat saat UTS tengah berlangsung, Zayn hanya memerlukan waktu lima belas menit membuat program yang diperintahkan dosen dan keluar kelas lebih dahulu. Sementara Ayna masih berkutat di komputer ketika teman-temannya satu persatu mulai keluar ruangan. Ketika dosen meninggalkan kelas, Zayn diam-diam masuk kembali dan mendekati bangku Ayna.


"Kamu ngapain di sini, Zayn?" tanya Ayna.


Cowok itu tersenyum. "Bantuin kamu, apa lagi?"


"Ini kan UTS, udah aku pengen ngerjain sendiri." Zayn mencebik lalu menitah Ayna untuk memperlihatkan hasil kerja Ayna. Zayn pun tertawa melihat hasil program Ayna yang masih error ketika dijalankan.


"Tuh, kan!" Zayn mulai melihat kesalahan apa yang Ayna perbuat lalu menghela napas pasrah. "Liat tuh! Kamu salah nempatin koma, harusnya setelah tanda kutip, Ayna."


Ayna meringis. Menyebalkan sekali. Ayna sudah memutar otaknya hampir satu jam untuk memikirkan apa yang salah. Ternyata hanya ada satu koma yang salah ia tempatkan di kode programnya.


"Makanya, pacaran itu sama programmer. Titik koma aja diperhatiin, apalagi kamu," cetus Zayn sembari memandang Ayna yang merasa pipinya memanas. Zayn pun mengacak puncak kepala Ayna lalu melangkah ringan keluar kelas.


Ayna kira itu hanya ucapan omong kosong laki-laki yang tidak boleh Ayna masukkan ke hati, tapi ternyata Zayn sudah memberikan kode secara terang-terangan pada Ayna bahwa ia menyukai Ayna.


Tanpa sadar mata Ayna memanas. Hatinya tak begitu tenang setelah mengusir Zayn dari hidupnya. Ia pikir, hatinya akan lega ketika Zayn berhenti mengganggunya, tapi mengapa hanya hampa yang ia dapatkan seolah sesuatu baru saja dirampas pergi darinya? Sepertinya Ayna sudah gila.

__ADS_1


***


"Hei, Guys! Gue punya pengumuman."


Gio membuka kata di depan kelas bersama Kenan dan Siti. Ayna yang awalnya tak berminat pun memusatkan perhatian pada ketiga orang di depan kelas. Entah mengapa jantungnya berdebar. Melihat Siti ikut berdiri di sana, meyakinkan Ayna bahwa mereka akan membahas kasus hilangnya dompet dan uang kelas.


"Gue harap kalian berhenti merundung Ayna di kelas," ucap Gio sembari menatap Ayna yang membatu di kursinya. Gadis itu tak mengerti apa yang sedang terjadi. Gio pun menatap Ranya yang sudah memutar bola mata jengah. "Terutama lo," ketus Gio membuat Ranya mendengkus geli.


"Gue? Kenapa cuma gue?" balas Ranya dengan suaranya yang melengking khas. "Uang yang dia curi bukan uang gue doang, tapi semuanya."


Gio menggebrak meja yang membuat Ranya terperanjat. Kenan langsung bergerak menahan Gio yang emosinya bisa meledak-ledak. "Kita nggak pernah punya bukti kalau Ayna yang nyuri, jadi berhenti nuduh dia sebagai pencuri." Gio pun menegapkan punggung lalu memandang seisi kelasnya. "Ini berlaku buat kalian semua."


Kenan mengangguk. "Ya, gue setuju sama Gio. Siti baru aja bilang ke gue kalau uangnya udah kembali dengan utuh."


Ranya menjatuhkan rahang dan Via membelalak saat semua mata mengerjap tak percaya. "Siapa yang ganti?" tanya Via menuntut jawaban yang mewakili tanda tanya anak kelas TI.


Kenan menghela napas panjang. "Gue nggak bisa bilang karena yang penting uangnya udah kembali lagi. Jadi gue harap, kalian bisa ngelupain masalah ini dan semoga masalah kayak gini nggak pernah keulang lagi." Kenan menatap Ayna yang duduk di kursinya. "Gue sebagai perwakilan kelas, minta maaf sama lo, Ayna."


Ayna mengangguk dan tersenyum tipis. Hatinya sedikit melapang, tapi sejuta tanya seakan menghantamnya. Siapa yang telah mengganti uangnya?


***


Ayna Nabila: Nata, kamu udah pulang?


Ayna mengirim pesan pada Nata lewat whatsapp yang hanya centang satu. Ayna menghela napas panjang sembari berjalan seorang diri karena Mira pulang lebih dulu untuk mengurus ayahnya yang sakit.


Sejak hari di mana Ayna pura-pura menelepon Nata, Nata jadi sulit dihubungi bahkan pesannya baru dibalas dua hari kemudian tak secepat biasanya. Sembari berjalan, ia berusaha menenangkan pikirannya. Seharusnya yang mengusik pikirannya adalah Nata, tapi mengapa Zayn mengambil alih pikirannya?


Ayna tak mengerti jalan pikirannya. Ayna pun berjalan dan terkejut ketika ia berbelok di tikungan gedung. Ditemukannya Nata bersama seorang perempuan. Satu tangan Nata terjulur seakan menghalangi akses perempuan bersandar di tembok. Ayna tak yakin apa yang sedang mereka bicarakan, tapi pipi perempuan itu bersemu ketika Nata tersenyum sembari menatapnya.


"Nata," panggil Ayna membuat cowok itu menoleh. Namun, tak ada raut terkejut sama sekali, Nata malah menggenggam tangan perempuan itu yang tidak Ayna kenali siapa. Hati Ayna terasa tercubit. "Ah, pantes kamu nggak bisa dihubungi, ternyata lagi sibuk sama cewek lain," sinis Ayna. Ia tak percaya melihat Nata. Orang yang hampir Ayna kasih kepercayaan seluruhnya ternyata orang yang senang bermain dengan wanita.


Nata terkekeh hambar. Dengan jarak semeter, Ayna baru menyadari banyak plester yang menempel di wajah Nata dan lengannya yang terbuka karena cowok itu mengenakan kaos polo. Beberapa lebam yang sudah membiru tampak menghiasi kulitnya. "Buat apa kamu ngehubungin aku, Ayna?"


"Buat apa?" tanya Ayna tak sanggup menahan kejengkelannya. "Aku tadinya mau nerima kamu sebagai pacar aku, Nat. Aku udah percaya sama kamu, tapi apa yang aku lihat sekarang? Kamu malah sibuk sama perempuan lain."


Nata menyeringai kecil, lalu berbisik pada perempuan di sampingnya. Perempuan itu pun mencium bibir Nata, yang hampir membuat Ayna memuntahkan seluruh isi perutnya. Namun, bukan rasa cemburu yang merayap di hatinya. Justru perasaan bersalah yang makin besar terhadap Zayn. Kamu benar, Zayn. Nata bukan cowok baik-baik. Perasaan bersalah itu menyayat hatinya. Apalagi saat Ayna sadar, sudah terlambat untuk meminta maaf pada Zayn.


Perempuan itu pun pergi ketika Nata melangkah mendekati Ayna. Nata gerakkan jemarinya membelai lembut rambut Ayna yang langsung Ayna tepis.


"Aku nggak sabar nunggu kamu, Ayna. Dan sekarang rasa suka aku udah abis buat kamu. Kamu sama sekali nggak menarik lagi."


Ayna menganga tak percaya. "Semudah itu kamu bilang di saat aku udah mulai percaya sama kamu?"


Nata merapikan kerah kaos polonya. Ia memandang Ayna tanpa minat. "Dari awal kamu nggak pernah suka sama aku, Ayna. Bahkan melihat reaksi kamu, kamu nggak terlalu kecewa melihat aku jalan sama yang lain." Ayna terdiam. Ia merenungkan kata-kata Nata dan membenarkannya dalam hati. "Kamu suka sama Zayn. Hati kamu udah milih dia bukan aku."


Ayna terbelalak. "Apa? Aku--"


"Urusan kita udah selesai." Nata menunjuk luka di wajahnya sendiri. "Zayn ngehajar aku karena kamu udah bilang kita pacaran padahal kamu nggak pernah nelepon aku. Aku awalnya nggak niat balas, tapi sayangnya aku kelepasan, Ayna. Maaf, Zayn yang kamu sayangi luka parah. Kemungkinan besar dia udah nggak dirawat di Indonesia. Aku ngerti banget gimana keluarga Abhicandra ngerawat anak satu-satunya yang sakit parah."

__ADS_1


Ayna mematung. Kata-kata Nata sulit dicerna olehnya. "Sa-sakit parah?"


Nata terperangah lalu terbahak keras. "Kamu bener-bener nggak tahu?"


"Jangan bertele-tele, Nat! Dia sakit apa?"


Nata tersenyum penuh kemenangan. "Penyakit jantung bawaan sejak lahir."


****


Ayna menaiki bus menuju RS. Graha Mulya sesuai perkataan Nata bahwa terakhir kali ambulance membawa Zayn ke sana. Ia menutup mulutnya yang menganga sembari membaca gejala penyakit jantung bawaan yang hampir semua telah Ayna saksikan secara langsung.


Di taman rekreasi, tubuh Zayn ambruk dan ia kesulitan bernapas. Kakinya tampak membiru dan mengalami pembengkakan karena darah tak mengalir lancar ke kakinya. Obat-obatan yang pernah Zayn tutupi di mobil adalah obat-obat yang wajib Zayn minum tiap hari. Mata Ayna memanas. Mengapa ia tidak menyadarinya? Ayna pun mulai menangis ketika mengingat Zayn yang enggan memainkan permainan ekstrem dan berkata itu membahayakan jantungnya.


Ayna kira itu hanya ucapan basa-basi, tapi Zayn benar-benar mengatakan itu karena sakit jantung yang dideritanya. Raut kesakitan Zayn adalah tanda gejala penyakitnya sedang kambuh.


Ayna sampai di rumah sakit dan langsung bertanya pada suster yang menjaga. "Dok, apa ada pasien bernama Zayn yang sempat dilarikan ke sini beberapa hari yang lalu?"


Suster yang baru saja menutup panggilan telepon itu, mengerutkan keningnya. "Maaf, ini dengan siapanya ya?"


"Saya temannya. Ayna Nabila."


Suster bernama Jihan itu terperangah sekian detik lalu tersenyum tipis. "Zayn sudah lama menunggu kamu."


Suster Jihan pun membawa Ayna menaiki lift menuju lantai tiga rumah sakit. Ayna menelusuri lorong sembari menerka-nerka ke mana Suster Jihan membawanya. Ayna terhenyak ketika mereka sampai pada satu pintu bangsal bertuliskan Tn. Zayn Abhicandra.


"Zayn ada di dalam?" Alih-alih menyahut, Suster Jihan membukakan pintu bangsal. Ranjang yang kosong dengan selimut yang terlipat rapi jadi pemandangan yang pertama kali Ayna lihat. Entah mengapa hatinya sesak. Bukan hanya perasaannya yang terlambat ia sadari, tapi juga Zayn yang menyembunyikan penyakitnya.


"Ini bangsal milik Zayn atau anak itu sebut kamar pribadinya." Suster Jihan tersenyum saat matanya menyorot kesedihan. "Anak itu selalu bilang, perempuan bernama Ayna akan ke sini cepat atau lambat. Zayn selalu berharap dia punya kesempatan untuk jujur sama kamu tentang penyakitnya. Tapi, dia nggak pernah punya kesempatan dan dia menitip pesan pada saya kalau suatu hari kamu datang, tolong ungkapkan tentang keadaan Zayn sebenarnya. Dia nggak mau kamu sakit hati ketika tahu Zayn punya penyakit yang nggak bisa sembuh. Dia terlahir dengan penyakit jantung bawaan dan komplikasi lain, tapi semangatnya begitu tinggi untuk kuliah karena dia nggak pernah mau melewatkan untuk menuntut ilmu agar bisa jadi anak normal yang bisa diandalkan."


Setetes air mata meluncur ke pipi Ayna. Ia tak pernah tahu cowok seceria Zayn yang tampaknya selalu hidup seperti ngengat yang senang mendekati api, justru bersusah payah menyembunyikan penyakitnya.


Ayna jadi mengerti mengapa Zayn berani bertindak melakukan apapun. Mungkin baginya, ia tak pernah punya kesempatan yang lain bila terlalu takut melakukan sesuatu karena masa tidak pernah bersahabat dengannya.


Cuplikan-cuplikan kenangan tentang Zayn pun timbul tenggelam dalam pikiran Ayna. Sesuatu melesak di dada. Begitu perih mengingatnya.


*Aku iri dan benci pemikiran pendek kamu.


Aku nggak gangguin kamu kok. Justru aku ingin membagi kebahagiaan biar kamu betah kuliah di sini.


Kalau berduaan bareng kamu, Ayna, segala hal yang kelihatannya nggak bermakna pun bisa jadi spesial.


Kamu nggak pernah buang-buang waktu aku. Justru bersama dengan kamu, aku bisa merasa hidup, Ayna*.


Ayna mulai menangis sesenggukan. Segala ingatan tentang Zayn berkelebat di dalam kepalanya. Senyuman manis Zayn. Gerakan tangannya mengacak puncak kepala Ayna. Bibir Zayn yang mencebik lucu. Dan sorot kecewa Zayn begitu Ayna mengusirnya. Berapa banyak luka yang telah Ayna tancapkan pada cowok itu?


Ayna membekap mulutnya. Ia merintih dalam tangisnya. Maaf, Zayn. Maaf. Aku nggak tahu kamu sakit. Kamu rela berjuang demi ilmu, tapi aku sama sekali nggak pernah bersyukur dan selalu nyerah untuk kuliah. Padahal, nggak ada satu pun ilmu yang nggak berguna. Kamu berhasil nyadarin aku hal itu, Zayn.


Jihan merogoh saku jas putihnya dan menyodorkan kertas putih pada Ayna. "Dia udah tahu hari seperti ini akan datang. Hari di mana dia nggak sempat mengucapkan selamat tinggal. Hari di mana kamu pasti datang ke sini mencari Zayn. Dia selalu bilang, dia udah pasang GPS Cinta buat kamu dan telepati dia pasti sampai suatu hari nanti."

__ADS_1


Ayna terkekeh geli saat air matanya menetes. "Zayn," lirihnya. Bahkan di saat-saat seperti ini Zayn masih bisa melucu saat kehadirannya tiada di sekitar Ayna.


Ayna mengatur napasnya dan mengusap wajahnya yang basah lalu mengambil surat itu. "Apa aku boleh tahu sekarang Zayn ada di mana?"


__ADS_2