TOBATNYA GADIS ANGKUH

TOBATNYA GADIS ANGKUH
21. PART 21


__ADS_3

Kiyai Azzam dan istrinya membesuk menantu mereka Giska. Giska yang masih depresi tidak begitu mempedulikan kedatangan mertuanya. Ia berada di dunianya sendiri.


Walaupun sakit hati melihat keadaan putrinya, Tuan Ruslin dan istrinya, tetap menyambut silaturahim kyai Azzam dan ummi Alya yang mengunjungi putri mereka.


"Assalamualaikum Tuan Ruslin!" Sapa kyai Azzam ketika mereka bertemu.


Keduanya saling bersalaman dan berpelukan. Nyonya Nunung dan ummi Alya nampak hanyut dalam kesedihan mereka, ketika melihat keadaan Giska yang semakin kurus dengan perut yang makin membesar karena sudah memasuki usia delapan bulan.


"Bagaimana perkembangan kehamilan Giska, nyonya Nunung?" Tanya Ummi Alya.


"Masih sama saja Ummi, Giska menolak untuk makan walaupun kami sudah berusaha membujuknya agar ia memikirkan kandungannya." Ujar Nyonya Nunung dengan wajah sendu.


Ummi Alya mengecup kening Giska, sedangkan menantunya ini hanya memandang wajah ibu mertuanya tanpa ekspresi.


"Sayang, jika Daffin datang menemuimu apakah kamu akan makan? Bagaimana kalau dia sudah menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepadamu? apakah kamu akan memaafkannya?" Ummi Alya membisikkan sesuatu kepada Giska yang terbaring lemah.


"Aku tidak akan pernah memaafkan nya karena aku tidak menginginkan anak ini hidup sekalipun dia sujud di hadapanku." Ujar Giska dengan wajah datar.


Keluarganya yang mendengar ucapan Giska untuk pertama kalinya kepada umi Alya, merasa sangat terkejut karena hampir satu bulan dirawat di rumah sakit, Giska sedikitpun tidak mau bicara.


"Giska sayang, kamu dengar apa kata ummimu nak?" Tanya Nyonya Nunung sambil menggenggam tangan putrinya.


"Bilang mas Daffin! aku tidak ingin melahirkan anak ini." Ucap Giska dengan nada datarnya.


"Kamu seorang ibu nak, tidak ada seorang ibu yang menolak kehadiran anak yang selama ini ia nantikan." Ucap Nyonya Nunung.


"Giska mau tidur bunda." Ucap Giska yang tidak ingin berdebat dengan dua ibu yang ada di hadapannya ini.


"Biarkan dia istirahat jeng Nunung," ucap ummi Alya yang tidak ingin lagi menganggu Giska.


Tok..tok!"


Daffin masuk bersama dengan dua dokter dan perawat Dita.


Tuan Ruslin dan Nyonya Nunung sedikit heran dengan kedatangan Daffin yang di dampingi oleh dua dokter.


"Ada apa ini Daffin?" Tanya Tuan Ruslin menahan geram kepada putra dari sahabatnya itu.


"Silahkan masuk dokter!" Ucap Kyai Azzam pada dua dokter yang mendampingi putranya.


"Ada apa ini kyai Azzam?" Tanya Tuan Ruslin pada sahabatnya ini.


"Mohon maaf sebelumnya Tuan Ruslin, mohon Tuan dan Nyonya Ruslin untuk duduk dan mendengarkan penjelasan putra saya Daffin dan dua dokter dari rumah sakit yang telah melakukan pemeriksaan kesuburan putraku." Kyai Azzam mencoba menengahi permasalahan putranya.


"Dan siapa gadis itu?" Tanya Nyonya Nunung yang heran ada perempuan lain yang datang bersama dengan menantunya Daffin.


"Nanti akan di jelaskan oleh putra saya nyonya Nunung, kami harap Anda berdua tidak menyela pembicaraan putra saya sebelum ia menyelesaikan perkataannya." Ujar Kyai Azzam.


"Silahkan!" Titah Tuan Ruslin.


"Assalamualaikum Wt. wb.

__ADS_1


Mohon maaf sebelumnya Ayah, bunda, Daffin sudah melakukan kesalahan besar pada Giska.


Daffin sudah mencoba memeriksa ulang kesuburan Daffin pada dua rumah sakit yang berbeda dan hasil laporan medisnya menyatakan kesuburan Daffin sehat dan tidak bermasalah.


Karena merasa kesal dengan rumah sakit pertama yang memeriksa kesuburan Daffin, akhirnya Daffin mendatangi lagi dokter Irwan untuk meminta pertanggungjawaban darinya dan ternyata ketika melakukan tes yang sama ternyata sehat.


Silahkan dokter untuk menjelasannya kepada keluarga besar saya!" Daffin beralih ke dokter Irwan.


"Mohon maaf Tuan-tuan, saya sama sekali tidak melakukan kesalahan pada tes kesuburan Tuan Daffin. Karena merasa curiga, saya meminta bantuan dokter Priyono untuk mencari tahu penyebabnya. Mungkin dokter Priyono bisa menambahkannya. Dokter Irwan mempersiapkan dokter Priyono untuk memperkuat pernyataannya.


"Kami kemudian memeriksa CCTV Lab yang memang terpasang secara tersembunyi, dan menemukan seseorang yang telah dengan sengaja menukar sampel milik Tuan Daffin dengan sampel milik pasien lain.


Setelah di telusuri kebenarannya dan melihat siapa yang tega memfitnah dokter kami ini, ternyata perawat Dita yang merupakan perawat yang tidak bertugas di Lab saat itu." Ucap Dokter Priyono.


"Dita sekarang jelaskan alasanmu pada kami!" Titah Ummi Alya kesal.


Dita sudah terisak duluan, sambil menahan rasa malunya pada kedua gurunya. Iapun bertutur sesuai dengan pengakuannya pada Daffin saat masih berada di tahanan kantor polisi.


"Saya mencintai mas Daffin saat masih duduk di bangku SMA. Cinta saya tidak terbalas, belakangan saya tahu bahwa Giska yang merupakan mantan pacar dari sepupu saya Reza telah menikah dengan mas Daffin.


Ketika bertemu lagi dengan mas Daffin di rumah sakit tempat saya bekerja, saya sangat senang. Tapi saya merasa curiga mengapa mas Daffin harus melakukan pemeriksaan kesehatannya kepada dokter Irwan. Akhirnya saya mencari tahu sendiri dan ternyata mas Daffin sedang memeriksa kesuburannya.


Ketika sampel mas Daffin sudah ada di Lab, saya menukar sampel miliknya dengan sampel yang sudah di tandai oleh pihak lab bahwa sampel milik pasien lain mengalami masalah kesuburannya.


Makanya saya menukarnya dengan menggantikan lebel nama yang merekat pada sampel itu." Perawat Dita menjelaskan secara rinci pada orang-orang yang berada di kamar inap VVIP milik Giska.


"Astaga Dita, mengapa kamu tega melakukan itu?" Tanya ummi Alya yang menyayangkan sikap mantan santrinya ini.


Giska yang mendengar semua ucapan Dita, berusaha bangun dan meminta ibunya menolongnya turun dari brangkarnya menghampiri perawat Dita.


"Jadi kamu menyukai mantan suamiku ini?" Tanya Giska yang tiba-tiba menjadi lebih semangat.


Perawat Dita hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Giska.


Ia tetap menangis sambil tertunduk malu dan menyesal.


"Jika kamu mau ambil saja bodoh!" Tapi jangan membuat bajingan itu memfitnahku dengan mengatakan aku berzina dengan dengan sepupumu yang bajingan itu." Ucap Giska lalu menampar pipi perawat Dita dengan sangat kencang.


Plak..plak!"


Semua yang ada di situ tidak ingin membantu memisahkan Dita dan Giska. Mereka membiarkan Giska meluapkan amarahnya, agar gadis itu tidak terperangkap lagi dalam depresinya saat ini akibat ulah perempuan terkutuk ini.


"Saya mohon maaf Giska, mas Daffin tidak bersalah, dia hanya korban dari keserakahan yang aku perbuat padanya." Ucap Dita yang sudah duduk bersimpuh di bawah kaki Giska.


"Aku tidak sudi hidup dengan laki-laki yang tidak mempercayai perkataanku sama sekali, walaupun dia adalah korbanmu. Kalian berdua sama-sama manusia yang sangat menyedihkan.


Otak kalian di penuhi dengan ilmu agama untuk membentuk akhlak kalian lebih mulia, tapi mental kalian tidak cukup ampuh untuk mengatasi masalah dengan ilmu yang telah kalian dapatkan selama di pesantren dan bangku kuliah." Ujar Giska dengan wajah nyalang menatap tajam wajah suaminya.


"Giska sayang, aku mohon maaf Giska! aku ingin rujuk denganmu lagi sayang, aku memang bersalah dan sangat fatal kesalahanku." Ucap Daffin yang juga bersimpuh di kaki Giska.


"Bunda bawa kedua orang ini keluar dari kamar inapku!" Titahnya menggema di ruangan itu.

__ADS_1


"Daffin, Dita, mohon tinggalkan tempat ini!" Pinta ummi Alya pada putranya dan mantan santrinya Dita.


"Tuan Ruslin dan kyai Azzam kami mohon maaf atas ketidak nyamanan ini. Kami izin pamit kembali lagi ke rumah sakit." Ucap dokter Priyono di ikuti oleh dokter Irwan.


Nyonya Nunung meminta putrinya untuk kembali berbaring. Kedua ibu ini membantu merapikan tubuh Giska untuk berbaring dengan nyaman.


Tuan Ruslin dan kyai Azzam diam membisu. Keadaan yang tidak mengenakkan ini membuat keduanya sama-sama bingung karena Giska menolak untuk rujuk lagi dengan Daffin.


"Jeng Nunung, saya atas nama ibu dari Daffin memohon maaf atas perbuatan Daffin kepada nak Giska." Ucap ummi Aliya dengan mengatupkan kedua tangannya sambil menangis.


"Saya tidak tahu harus berbuat apa ummi, saya hanya ingin Giska sembuh." Ucap Nyonya Nunung ikut menangis.


"Tuan Ruslin, saya akuin kesalahan putra saya yang belum dewasa dalam menyelesaikan masalah, jiwa mudanya yang tidak bisa terkontrol dengan baik, hingga menyebabkan dirinya sendiri tersakiti dan menyakiti nak Giska.


Saya tidak tahu cara menebus kesalahan Daffin pada nak Giska. Tuan Ruslin, jujur saya sangat malu dengan perbuatan putra saya." Ucap Kyai Azzam pasrah dengan keadaan ini.


"Kyai Azzam, doakan Giska agar putriku melahirkan cucu kita dengan selamat dan keadaan Giska kembali pulih!" Tapi melihatnya banyak bicara hari ini membuat kami lega walaupun hanya amarah yang ia sampaikan kepada Daffin dan temannya itu." Ucap Tuan Ruslin.


"Kami selalu mendoakan nak Giska, Tuan Ruslin, semoga Allah membolak balikkan hati Giska agar memikirkan kembali keputusannya. Saya harap hubungan kita tetap terjaga Tuan Ruslin," ucap Kyai Azzam bijak.


"Yah, beginilah kita sebagai orangtua yang hanya sebagai pemeran figuran dan kadang harus ikut berperan dalam menyelesaikan setiap perkara yang mereka timbulkan. Tiap permulaan pernikahan yang dibina oleh sebuah rumah tangga akan berjalan mulus sampai kematian menjemput.


Ada yang diuji di awal pernikahan, pertengahan pernikahan dan jarang sekali terjadi di akhir pernikahan kecuali orang-orang terpilih yang Allah uji dengan kemampuan hambaNya yang selalu berserah diri, entah melalui penyakit pasangannya maupun godaan dari pihak luar seperti rumah tangga anak mereka yang kacau seperti kita ini Tuan Ruslin.


Harusnya kita menikmati hari tua kita dengan melihat cucu kita bermain dan mempersiapkan diri kita pada ajal yang setiap saat menjemput kita." Ucap kyai Azzam dengan ilmu batinnya menyikapi permasalahan yang terjadi pada rumah tangga anak-anak mereka kini.


"Tidak ada satupun sebuah keluarga bahagia akan mengakhiri pernikahannya dengan perceraian. yang saya sangat sesali dari peristiwa ini sikap terburu-burunya Daffin yang tidak memperhatikan mental Giska yang saat ini sedang hamil saat itu.


Keraguannya pada cinta tulus Giska telah menyelimuti jiwanya, sehingga Giska merasa cinta yang ia dapatkan dari Daffin hanya sebuah cinta yang semu." Imbuh Tuan Ruslin yang memberikan komentarnya atas peristiwa yang sangat menyakitkan putrinya.


"Dari awal saya sudah memperingatkan Daffin untuk tidak langsung mempercayai hasil laporan medisnya, namun putraku itu sangat keras kepala Tuan Ruslin. Dia menolak semua nasehat baik kami sampai akhirnya nuraninya sendiri yang terketuk untuk melakukan lagi pemeriksaan ulang kepada dirinya." Timpal ummi Alya.


"Itulah cara Allah memperlihatkan kekuasaanNya melalui setiap doa yang kita panjatkan untuk bisa mendapatkan petunjuk dariNya, dan Allah mengetuk hati Daffin dan memperlihatkan kebusukan perawat Dita yang sudah menyalah gunakan wewenangnya di rumah sakit tersebut hanya untuk mendapatkan ambisinya agar bisa mendapatkan Daffin." Ujar Nyonya Nunung.


Kedua keluarga nampak serius membahas permasalahan yang terjadi pada pernikahan putra putri mereka saat ini.


"Jeng, ini sudah larut malam, kami permisi dulu menginap di mansion Daffin. Insya Allah besok kami ke sini lagi." Ucap ummi Aliya kepada besannya.


Keluarga itu kembali berpelukan dan saling meminta maaf dan mendoakan untuk kesehatan Giska dan pernikahan Daffin dan Giska yang sedang diperjuangkan untuk rujuk kembali.


Di tempat berbeda, polisi kembali melakukan pengamanan atas perawat Dita untuk kembali ke sel tahanan polres setempat karena gadis ini masih dalam proses hukum.


Dita menerima nasibnya karena kebodohannya yang telah menyebabkan rumah tangga lelaki yang sangat dicintainya itu telah retak.


Daffin sedikitpun tidak pernah memaafkan gadis itu walaupun Dita sudah mengakui semua perbuatannya pada keluarganya.


Mental Giska yang saat ini sedang labil dalam kondisi hamil yang menjadi pertimbangannya untuk tidak membiarkan begitu saja Dita bebas dari jeratan hukum.


Daffin hanya memikirkan nasib anaknya yang sedang dikandung oleh Giska saat ini mengingat tubuh Giska yang sangat kurus karena tidak ingin makan.


"Giska, apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku kepadamu sayang." Daffin bermonolog.

__ADS_1


__ADS_2