
Giska sudah berada di kamar tahanan polres setempat. Ibu satu anak ini hanya menyesali perbuatannya yang telah membuat mantan suaminya itu kini terkapar koma di rumah sakit.
Walaupun seperti itu, ia sangat bersyukur karena Daffin tidak meninggal. Jika lelaki itu meninggal, hukuman untuknya akan berganti dengan tuduhan sengaja menghilangkan nyawa orang lain.
"Ya Allah, terimakasih Engkau masih memberikan kesempatan kepada mas Daffin untuk menghirup udara segar di bumi ini." Ucapnya membatin.
Dua hari kemudian, kedua iparnya datang mengunjunginya. Mereka membawakan makanan untuk Giska. Mariam dan Asia sedikitpun tidak dendam dengan Giska yang nota bene telah membuat abang mereka koma di rumah sakit.
Giska sangat malu kepada kedua adik iparnya yang datang mengunjunginya di rumah tahanan polres Jakarta Selatan.
"Apa kabar mbak Giska!" Sapa mereka lembut dan sangat bersahabat.
"Baik!" Ucap Giska dengan wajah tertunduk.
"Kami datang untuk melihat keadaanmu mbak, tidak perlu malu dan takut kepada kami karena kami sama sekali tidak membencimu. Tapi kami ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi pada mbak Giska dan mas Daffin hingga kalian bisa berantem, hingga membuat mas Daffin sampai jatuh?" Tanya Mariam yang merupakan sarjana psikologi ini.
"Aku sudah menjelaskan semuanya kepada Abah dan ummi, mengapa kalian masih menanyakan hal yang sama juga kepadaku." Giska masih merahasiakan alasan sebenarnya pada kedua adik iparnya itu.
"Mbak Giska, kami tahu mbak Giska sedang membohongi semua orang karena merasa sangat bersalah atas jatuhnya mas Daffin dari atas balkon kamar mbak Giska, makanya kami datang menemui mbak Giska di sini hanya untuk mendapatkan kebenaran dari mbak Giska sendiri ata kronologi dari peristiwa malam itu karena tidak ada saksi yang dapat meringankan tuduhan terhadap mbak Giska atas mas Daffin.
Apakah mas Daffin, berbuat kurangajar kepadamu setelah ia tidak bisa memaksamu untuk rujuk dengannya?" Tanya Asia pada Giska yang masih tidak bergeming.
"Tidak!" Ujar Giska singkat tanpa menatap wajah kedua adik iparnya.
"Mbak Giska, apakah mas Daffin berusaha melecehkanmu?" Pancing Mariam.
"Lebih baik aku kembali ke dalam sel, terimakasih untuk makanannya Asia, Mariam dan terimakasih sudah mengunjungi aku." Giska berlari menuju selnya dan tak ingin mendengar lagi pertanyaan praduga tidak bersalah dari kedua adik iparnya itu.
Mariam dan Asia makin curiga dengan sikap Giska yang berusaha menutupi kejahatan Abang mereka kepada gadis itu.
"Ternyata dugaan aku benar mbak, kalau mbak Giska dilecehkan oleh mas Daffin." Ucap Mariam kepada kakaknya Asia.
"Saya rasa begitu Mariam, kasihan mbak Giska, hatinya dilukai berkali-kali oleh mas Daffin. Sekarang dia harus menjadi tersangka di saat baby Rangga sudah mulai berangsur pulih pasca operasi pencangkokan sumsum tulang belakang dari mas Daffin." Ucap Asia sedih.
"Sebaiknya kita kembali ke rumah sakit, kamu tungguin baby Rangga dan aku tungguin mas Daffin, biar Nyonya Nunung dan Ummi bisa istirahat." Ucap Mariam pada kakaknya Asia, lalu keduanya meninggalkan polres Jakarta Selatan itu.
__ADS_1
Giska membagikan makanan yang dibawakan oleh kedua adik iparnya itu, kepada tahanan yang lain. Tiga orang teman tahanannya sangat kaget dengan Giska yang rela membagikan makanan yang sangat enak untuk mereka.
Sedangkan selama Giska berada di tahanan, mereka sedikitpun tidak peduli dengan gadis ini. Mereka hanya makan bertiga kalau ada keluarga mereka yang datang membawakan makanan untuk mereka.
"Mengapa kamu sangat baik kepada kami, padahal kami sangat jahat kepadamu, kami tidak pernah membagikan makanan kami untukmu." Tanya salah satu teman sel Giska.
"Ini terlalu banyak, tidak mungkin aku menghabiskannya sendiri, lagi pula saya biasa makan dengan banyak orang, entah itu orang tua, saudara maupun sahabat. Jadi melihat kalian saya jadi teringat pada mereka." Ujar Giska bohong.
"Terimakasih atas kebaikanmu."
"Sama-sama."
"Apa kesalahanmu?" Tanya Ranti teman satu sel tahanan Giska.
"Mendorong mantan suamiku hingga jatuh." Jawab Giska singkat.
"Apakah dia mati?"
"Sedang koma di rumah sakit."
"Apakah dia melakukan kekerasan kepadamu?"
"Setidaknya hukumanmu ringan karena mantan suamimu itu tidak sampai meninggal dunia." Ucap Ranti.
"Apakah kamu sedang menyusui bayimu?" Tanya Lala ketika melihat baju tahanan milik Giska basah.
Giska hanya mengangguk lalu kembali menangis karena ingat dengan bayinya Rangga.
"Apakah kamu merindukan putramu?" Tanya Delia.
Giska makin meraung ditanya seperti itu oleh teman-temannya.
"Baiklah kami tidak akan mengganggumu lagi, sekarang kamu makanlah. Biar kamu kuat setelah kamu bebas dari sini. Pikirkan putramu karena seorang ibu akan menjaga kesehatan tubuhnya hanya ingin berjumpa dengan anaknya." Ujar Ranti.
Giska mulai mencicipi makanan itu sambil berurai air mata, membayangkan wajah putranya yang saat ini, katanya sudah lebih baik oleh kedua adik iparnya.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Dua hari kemudian, baby Rangga dibawa pulang oleh kedua orangtua Giska ke mansion mereka.
Setiap dua kali sehari, pelayannya Giska mengambil ASI milik Giska untuk diberikan kepada babynya Rangga.
Tuan Ruslin dan Nyonya Nunung cukup bahagia, walaupun tidak sepenuhnya karena Giska masih tersandung dengan kasus percobaan pembunuhan terhadap Daffin.
Tapi adanya baby Rangga membuat mereka sedikit terhibur.
"Kasihan sekali nasibmu sayang, kamu harus menerima hukuman atas perbuatan kedua orangtuamu yang sangat egois itu." Ucap Nyonya Nunung.
"Sayang, walaupun baby Rangga tidak mengerti ucapanmu tapi ia bisa merasakan kesedihan yang sama yang kamu rasakan saat ini. Tolong jangan ceritakan kepada bayi hal-hal yang sedih, otaknya masih suci, harusnya isi hal-hal yang bermanfaat, dengan memperdengarkan dia morottal Al-Qur'an, siapa tahu cucu kita bisa jadi seorang hafidz." Ucap Tuan Ruslin pada istrinya.
"Iya, maaf ayah! bunda nggak akan lagi cerita hal sedih pada baby Rangga." Ucap Nyonya Nunung lalu membaringkan lagi cucunya ke dalam boks bayi yang ada di kamar mereka.
"Kita berdoa saja yang terbaik untuk putri kita Giska, semoga Daffin segera sadar dan Giska tidak dituntut dengan hukuman yang berat." Ucap Tuan Ruslin lalu beranjak dari tempat tidurnya.
Di rumah sakit, kondisi Daffin stabil, karena organ vitalnya berfungsi dengan baik. Dokter terus memantau kondisi pasien mereka ini.
"Kita harus mengupayakan pengobatan pada Tuan Daffin. Jika dia sampai meninggal kasihan ibu dari baby Rangga. Pasien termuda yang lama nginap di rumah sakit ini." Ujar dokter Bily kepada rekan seprofesinya ketika mereka mengadakan meeting siang itu.
"Siap dokter!" Ujar tim dokter yang lainnya.
Di kamar inap VVIP milik Daffin. Kedua adik Daffin menceritakan kondisi Giska yang saat ini sedang berada di tahanan polres Jakarta Selatan.
"Mas Daffin, kami tahu saat ini kamu tidak sadar, tapi kami yakin mas Daffin mendengar apa yang kami katakan ini tentang mbak Giska." Ucap Asia.
"Mas Daffin, tolong cepat sadar!" Kasihanilah mbak Giska, karena mas Daffin, dia harus mendekam di penjara atas kekhilafannya telah mendorong mas Daffin hingga jatuh dari atas balkon.
Mbak Giska setiap hari harus mengirimkan ASInya untuk baby Rangga. Apakah mas Daffin tidak kasihan melihat ibu dan bayi itu terpisah gara-gara mas Daffin." Mariam menceritakan kondisi terakhir Giska pada Daffin yang masih diam membisu dan hanya bernafas dengan bantuan tabung oksigen di kamar inap VVIP tersebut.
"Kami baru saja menengok mbak Giska di rumah sakit. Tubuhnya nampak tidak sehat lagi karena terlalu memikirkan mas Daffin. Mas Daffin tidur di sini dengan tenang, tapi mbak Giska di penjara sangat menderita.
Jika mas Daffin sangat mencintainya tolong mas Daffin segera sadar dari koma agar mbak Giska segera bebas.
__ADS_1
Kasihan juga baby Rangga, tidak bisa merasakan kasih sayang orangtuanya setelah ia bisa bebas dari tabung incubator dan terlepas dari alat medis dari tubuhnya." Ujar Mariam lagim
Daffin bereaksi usai mendengar kondisi Giska yang ada di penjara karena dirinya. Ia menggerakkan sedikit jarinya seakan mengatakan bahwa dia mendengar apa yang dikatakan oleh kedua adiknya.