TOBATNYA GADIS ANGKUH

TOBATNYA GADIS ANGKUH
30. PART 30


__ADS_3

Berkas laporan perkara tindakan pidana yang di lakukan oleh Giska sudah masuk ke pengadilan negeri Jakarta Selatan.


Tidak ada saksi yang bisa meringankan hukuman Giska membuat gadis ini harus menerima keputusan hakim yaitu lima tahun penjara.


Keluarga dari pihak Giska mengajukan banding untuk meringankan masa hukuman untuk Giska.


Daffin sebagai korban dari tindakan Giska yang mendorong lelaki itu sampai jatuh masih belum sadar dari komanya.


Kyai Azzam dan ummi Alya, seakan menutup mata dengan kondisi Giska yang merupakan ibu dari cucu mereka Rangga.


Keduanya tidak bergeming sedikitpun, walaupun Tuan Ruslin dan Nyonya Nunung sudah menghiba pada keluarga itu, namun hati keduanya seakan terbuat dari batu.


Hingga hukuman untuk Giska diringankan oleh hakim ketika pengajuan bandingnya di terima menjadi tiga tahun penjara.


Gadis yang berhati mulia ini, menerima keputusan hakim dengan senang hati. Iapun meminta kepada orangtuanya untuk selalu sabar dan merawat bayinya hingga ia bebas suatu hari nanti.


"Ayah, bunda, Giska sudah ikhlas menerima hasil keputusan hakim agung atas kasus Giska. Tolong jangan terlalu bersedih karena Giska hanya punya kalian yang akan merawat baby Rangga." Ucap Giska yang kelihatan tegar dihadapan kedua orangtuanya.


"Giska, mengapa kamu tidak berkata jujur kepada pak hakim jika kamu melakukannya tidak sengaja. Bunda tahu kamu sedang menutupi aibnya Daffin karena sudah membuatmu marah hingga kamu mendorong tubuhnya dengan kasar." Ucap Nyonya Nunung yang kesal dengan putrinya yang masih saja bungkam atas kesalahan mantan suami putrinya tersebut.


"Bunda Giska mau ke rutan, Giska pamit ya bunda," ucap Giska lalu mencium tangan kedua orangtuanya dengan takzim.


Giska di angkut ke mobil tahanan yang sudah menunggunya. Nyonya Nunung tidak tahan melihat putrinya dibawa ke penjara wanita itu menangis histeris.


"Ini semua gara-gara kamu yang menjodohkan Giska dengan putra sahabatmu itu, yang ingin membuat Giska Sholehah, tapi malah menjerumuskan dia ke dalam neraka dunia." Nyonya Nunung berang dengan suaminya.


"Bunda semua ini adalah ujian dari Allah, tidak ada hubungan pernikahan yang berjalan mulus sepanjang hidup pasangan yang sudah menikah sayang." Ucap Tuan Ruslin yang memberi pengertian kepada istrinya.


Setelah mobil tahanan yang membawa Giska pergi, kedua orangtuanya langsung pulang ke mansionnya.


Tiba di mansion, nyonya Nunung langsung masuk ke kamarnya dan menangis meraung di atas bantalnya.

__ADS_1


"Bunda, tolong jangan seperti ini sayang! kamu tahu saat ini keluarga kita menjadi sorotan oleh media. Belum lagi cucu kita Rangga membutuhkan perhatian kita setelah Giska di penjara.


Jika kita tidak kompak maka keluarga ini bisa hancur bunda." Ucap Tuan Ruslin yang ikut menangis karena tidak kuat lagi menahan kepedihannya atas kejadian ini yang menimpa putrinya Giska.


Keduanya menangis saling berpelukan. Melepaskan lara di hati mereka.


Tok...tok!"


Pintu di buka oleh Tuan Ruslin.


"Ada apa bibi Ani?"


"Den Rangga sudah tidur Tuan, apakah di bawa ke kamar Tuan atau non Giska?" Tanya bibi Ani.


"Bawa ke sini saja bibi, biarkan dia tidur dengan kami." Ucap Tuan Ruslin.


Baik Tuan!" Bibi mengambil den Rangga dulu di kamar non Giska" Ucap bibi Ani.


"Terimakasih bibi Ani." Tuan Ruslin menutup lagi pintu kamarnya lalu membaringkan cucunya di kotak tempat tidur kecilnya.


🌷🌷🌷🌷🌷


Di rumah sakit, ummi Alya bertengkar dengan suaminya kyai Azzam.


"Abah, apakah Abah tidak kasihan dengan cucu kita yang saat ini membutuhkan Asi dari ibunya. Sekarang Giska di penjara, otomatis makanan yang dia makan tidak bergizi dan itu akan mempengaruhi kualitas ASI yang dimilikinya." Ucap Ummi Aliya kesal pada suaminya.


"Setidaknya gadis itu bertanggung jawab apa yang telah ia perbuat pada putraku." Ucap Kyai Azzam tegas.


"Kamu akan menyesal, jika suatu hari nanti, kamu sudah membuat kesalahan dengan melaporkan Giska ke pihak berwajib." Ucap Ummi Aliya.


Keduanya bungkam setelah beberapa patah kata terucap dengan kasar dari mulut keduanya.

__ADS_1


Ummi Alya mendekati putranya dan membisikkan sesuatu kepada Daffin.


"Daffin bangun sayang!" Jika kamu tidak bangun, maka Giska akan membusuk di penjara dan bayimu tumbuh tanpa kasih sayang kalian berdua." Ucap Ummi Aliya dengan mengguncangkan tubuh putranya.


"Ummi, apa yang kamu lakukan kepada Daffin. Dia tidak akan bisa mendengarkanmu." Ujar Kyai Azzam kesal dengan istrinya yang selalu bertindak tanpa perhitungan.


"Setidaknya aku ingin menyampaikan kepadanya bahwa gara-gara dia yang menjadi sumber malapetaka ini terjadi. Dari awal dia meragukan kehamilan Giska, menuduh gadis itu berzina. Tapi apa yang dilakukan oleh Tuan Ruslin padamu ketika putramu membuat dirinya malu?" Mereka tetap menerimamu dengan baik, bahkan putrinya sampai dirawat di rumah sakit, mereka masih mau memaafkanmu dan terakhir ketika mengetahui kesucian putrinya terpelihara dengan baik tanpa sentuhan lelaki manapun, dia masih mau memaafkanmu. Sekarang putra kita seperti ini dan insyaallah suatu hari nanti akan sadar, mengapa justru kamu yang menjebloskan putri sahabatmu sendiri ke penjara?" Ummi Alya makin mengamuk dengan suaminya.


"Setiap tindakan pasti ada konsekuensinya Ummi dan itu sudah menjadi hukum alam, di mana Allah sudah mengatur jalan kehidupan bagi tiap hambaNya." Ujar Kyai Azzam.


"Terserah apa katamu, tapi aku akan tetap berpihak kepada Giska, bahwa dia harus bebas secepatnya dengan cara membuat anak bodoh ini terbangun dari komanya." Ucap ummi Aliya lalu meninggalkan kamar putranya untuk menenangkan dirinya.


Di dalam penjara. Giska sudah bergabung dengan para napi lainnya.


"Hei..kamu!" Apa kesalahanmu?" Bentak Lusi ketika melihat Giska masuk ke dalam tahanan milik mereka.


Mendengar pertanyaan dari teman satu selnya, Giska juga tetap bungkam kerena tidak ingin menjawab pertanyaan dari napi.


"Apakah kamu tuli dan gagu, hingga tidak mau menjawab pertanyaanku?" Tanya Luci.


"Mohon maaf, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang karena kepalaku sangat pusing." Ucap Giska yang berpura-pura menghindari pertanyaan selanjutnya dari anak buah Lusi.


"Sialan!" kamu mau mencari mati ya!" Teriak Luci sangat kesal pada Giska.


"Besok aku akan jawab pertanyaanmu karena sekarang ini saya sangat lelah karena sedang memikirkan putra saya." Ujar Giska santun.


"Cih, sombong sekali dia!" Luci kembali ke teman-temannya. Sedangkan Giska duduk menangis di pojokan karena merindukan bayinya.


Kedua adik ipar Asia masih mencari tahu kebenaran dari kasus kakak ipar mereka.


"Mariam, kita harus terus berusaha agar mbak Giska cepat bebas." Ucap Asia sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Itu sudah pasti mbak Asia, aku juga tidak tega melihat mbak Giska harus berpisah dengan baby Rangga." Ucap Mariam pada kakaknya Asia.


__ADS_2