TOBATNYA GADIS ANGKUH

TOBATNYA GADIS ANGKUH
37. PART 37


__ADS_3

Hampir satu bulan Giska dan Daffin berada di kota Paris Perancis. Kerinduan Giska kepada putranya tidak terelakkan sampai saat ini.


Rasa jenuhnya mulai datang menghinggapi hatinya. Daffin yang tidak ingin cepat pulang ke Indonesia sebelum istrinya dinyatakan hamil oleh dokter.


Mereka kini sudah berpindah ke hotel lainnya sesuai dengan tempat wisata yang akan mereka kunjungi.


Tapi keindahan kota Paris tidak membuat kerinduan Giska kepada putranya Rangga.


Daffin yang sudah menyelesaikan tugasnya, segera menemui istrinya yang duduk melamun di balkon kamar hotelnya.


Dengan cepat Daffin menempelkan bibirnya yang hangat kepada Giska. Mendapat kecupan dengan tiba-tiba mata Giska terbelalak dan ia sangat suka setiap kejutan yang diberikan Daffin mampu membuatnya bertahan walaupun kebahagiaannya belum terasa sempurna tanpa hadirnya baby Rangga.


Giska kembali diam usai mendapat kecupan dari suaminya lalu dia mulai membuka suara menyampaikan perasaan yang menyesakan dadanya pada suaminya tapi kata-katanya seakan tercekat di kerongkongannya. Daffin yang menatap wajah teduh istrinya lalu berusaha menghibur ratunya.


"Sayang, tolong jangan melamun lagi, aku tidak ingin melihatmu bersedih. Tidak lama lagi kita akan bertemu dengan putra kita." Ujar Daffin.


Kini Giska sudah tidak sabaran ingin menemui putranya membuat sang suami sedikit kesulitan menenangkannya.


"Mas Daffin, Saat ini aku sangat merindukan baby Rangga , aku sangat ingin memeluknya," ucap Giska dengan wajah sendu.


"Sayang tidak semudah apa yang kita inginkan, kau tahu sendirikan posisi kita saat ini sedang berada di luar negeri. Kita akan segera bertemu dengannya. Bukan hanya kamu yang merindukannya, aku juga sayang.


"Apa maksudmu mas Daffin, aku tidak paham, apa salahnya jika kita secepatnya pulang ke tanah air.


"Sayang, dengar!"


Kita sudah sepakat, kalau kita akan pulang jika kamu dinyatakan hamil oleh dokter. Aku tidak sabar ingin mendapatkan lagi anak darimu sayang. Memberikan adik untuk putra kita Rangga. Ia harus punya teman untuk bisa ia ajak main bersama selain dengan kita orangtuanya.

__ADS_1


"Jadi kalau aku belum hamil, terus kita nggak pulang-pulang?" Gerutu Giska kesal.


"Doakan semoga kamu cepat hamil, dengan begitu kita akan segera kembali ke tanah air." Ucap Daffin menghibur istrinya.


"Ya sudah, kalau mas Daffin seperti itu, Giska manut saja deh maunya mas Daffin." Ujar Giska yang tidak ingin lagi berdebat dengan suaminya.


"Nah, itu baru istriku, kamu makin cantik kalau kamu patuh pada suami ini sayang," goda Daffin yang kembali menyegel bibir istrinya dengan kecupan seraya mengangkat tubuh istrinya ala bridal style membawanya ke kamar dan menaruhnya di atas kasur king size itu.


Kemudian Daffin meneruskan tarian kecil dibibirnya untuk mengusai bibir Giska, keduanya melepas dan menyatukan kembali dengan nikmatnya, suara deru nafas memburu pun kembali terekam pada rongga telinga sepasang anak manusia tersebut.


Tersenyum, saling menatap dan kembali memagut bibir, itulah aktivitas mereka siang ini hingga puas. Sepertinya Daffin adalah tipe pria yang suka menikmati aroma nafas dan hangatnya saliva hingga beberapa menit kemudian mengadu bibir mereka yang masih tampak betah dan tidak akan pernah jenuh walau hati keduanya masih terenggut kerinduan pada sosok putranya yang telah menyatukan dua orang asing ini yang awalnya saling bermusuhan.


Takdir telah mempermainkan kehidupan keduanya hingga akhirnya drama kehidupan ini harus diperankan, tidak perduli peran apa yang akan mereka mainkan, yang mereka tahu hanyalah sebagai pemeran yang harus lakukan semua adegan drama kenyataan tanpa ada kata protes ataupun berusaha melarikan diri dari kenyataan.


Setelah puas menikmati kemesraan mereka siang ini, Daffin mengajak istrinya untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di setiap kota yang ada di Perancis.


"Sayang, kita harus bersiap secepatnya, karena sebentar lagi kita akan dijemput oleh salah satu staffku yang bekerja di perusahaan ku di negara ini," pinta Daffin.


Tempat wisata selanjutnya yang akan mereka kunjungi adalah Verdon Gorge Canyon.


Verdon Gorge Canyon merupakan tempat wisata alam di Perancis yang menawarkan keindahan sungai, tebing batu kapur, ngarai, yang dibalut dalam keseruan wisata yang beragam.


Verdon Gorge lokasinya berada di bagian selatan Perancis. Dikenal juga dengan nama Gorges Du Verdon, yakni sebuah sungai elok yang memiliki panjang 25 kilometer, serta kedalamannya bisa mencapai 700 meter.


Giska menikmati destinasi wisata yang indah, yang merupakan pemandangan panorama alam terbuka yang memanjakan mata mereka.


"Mas Daffin, ini sangat indah sayang. Aku sangat suka." Ucap Giska lalu mengambil beberapa foto keren dengan berselfi bersama suami tercinta.

__ADS_1


Puas menikmati alam wisatanya kini Giska dan Daffin berburu kuliner. Permasalahan yang selalu mereka hadapi adalah mencari kuliner yang halal. Walaupun ada yang menjual makanan halal, namun lokasi tempuhnya cukup jauh dari tempat wisata yang mereka kunjungi.


Giska yang sudah tahu ini bakal terjadi, ia sengaja membawa sendiri makanan berupa roti yang mudah untuk mengganjal perut mereka.


Daffin sangat senang dengan istrinya yang selalu mempersiapkan sesuatu untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak terduga yang terjadi pada mereka yang saat ini sedang mencari restoran halal namun mereka sudah keburu lapar.


"Kamu sangat keren sayang, bisa mempersiapkan makanan untuk bisa kita makan sebelum sampai pada restoran halal." Ucap Daffin memuji istrinya.


"Dari pada nahan lapar, mending bawa sendiri makanan ringan sayang. Roti yang lebih kuat bertahan di perut dari pada kue." Imbuh Giska.


Setelah cukup jauh menempuh perjalanan hanya untuk mencari restoran halal. Akhirnya pasangan ini tiba juga di restoran yang menyajikan makanan halal, cukup sulit mendapatkan restoran dengan lebel halal di negara tersebut namun karena hukum agamanya sudah mengharamkan suatu jenis makanan, maka mereka hanya bisa bersabar mencarinya walaupun jaraknya lumayan jauh.


Salah satu menu makanan yang terkenal di tempat ini adalah Fine Dining berbahan dasar daging sapi atau daging domba yang ditambah dengan kuah khas yang menggoda selera. Restoran pilihan para pelancong muslim ini menyajikan makanannya dengan suasana kontemporer dan juga hangat.


Daffin dan Giska langsung memesan makanan untuk mereka karena perut mereka sudah menagih untuk segera di isi.


"Ternyata suka dukanya menjadi wisatawan muslim seperti kita ya mas Daffin." Ujar Giska yang sudah mulai mengeluh masalah makanan.


"Iya sayang, mungkin bukan hanya kita yang paling menderita jika berwisata di tempat indah dan romantis tapi sulit menemukan makanan halal." Ujar Daffin.


Giska baru menyadari ketika melihat didalam restoran itu banyak sekali muslim dari berbagai negara yang sedang menikmati makanan halal sama seperti mereka.


Sebelum meninggalkan kota Paris Perancis, Giska dan Daffin melakukan makan malam romantis.


Daffin membelit pinggang Malika dan Malika mengalungkan tangannya pada leher Rei, jarak wajah mereka begitu dekat dengan deru nafas yang sulit terkendali karena saling merasa gugup.


Liukan tubuh keduanya mengikuti alunan musik dengan pikiran yang sibuk untuk bisa ditelusuri. Daffin ingin mengatakan perasaannya secara langsung pada Giska malam ini, betapa hatinya sudah tidak bisa lagi membendung cinta nya pada Giska saat pertama kali melihat wajah Giska di malam pertama mereka di jodohkan oleh kedua orang tua mereka tujuh tahun yang lalu.

__ADS_1


"Aku mencintaimu!!"


"Aku mencintaimu!!"


__ADS_2