
Biarkan aku memanjakanmu, Mas Daffin," pinta Giska yang sama sekali tidak lagi merasa tertekan seperti sebelumnya.
Gadis itu membalik posisi tubuhnya, ia mendorong tubuh Daffin lembut, hingga punggung suaminya yang berotot itu menempel pada kasur secara perlahan, Giska mulai menjelajahi bagian dada dan perut Daffin dengan lidahnya.
Saat wajah Giska tepat dibawah perut bagian bawah suaminya, ia menatap kotak yang tersusun rapi dengan urat-urat besar yang mengarah pada area sensitif milik suaminya.
Saat Giska menyadari bahwa lawan mainnya ini bukan laki-laki yang mudah ditaklukkan dengan mudah, mungkin Giska sedikit repot kali ini karena biasanya dirinyalah yang selalu menikmati setiap sentuhan dari suaminya selama tiga tahun lebih usia pernikahan mereka dulu, walaupun pada akhirnya mereka harus bercerai dan sekarang kembali bersatu.
Sebagai rasa terima kasihnya dan menebus rasa berdosanya selama ini pada suaminya, Giska kini berusaha keras untuk membahagiakan sang suami dengan servis yang sempurna.
Giska mulai melakukan dengan sentuhan lembut pada bagian tubuh yang paling Daffin suka dengan sepenuh hatinya. Laki-laki tampan ini pun mulai mengerang nikmat setiap sentuhan yang diberikan oleh istrinya.
"Kamu makin pintar sayang," puji Daffin sambil membelai rambut Giska yang berwarna coklat kehitaman, panjang dan sedikit bergelombang.
Giska tersenyum mendengar pujian dari suaminya. Sebenarnya bukan hanya sentuhan Giska saja yang hampir membuat Daffin menggila, namun karena hati keduanya kini mulai menyatu tanpa ada lagi penolakan dari istrinya yang dulu sempat membuatnya gila karena sulit menaklukkan hati wanitanya.
"Eehm.."
Giska mengeluarkan suara erotis yang manis sambil memainkan milik suaminya yang sudah tegak sempurna, di saat yang sama, mata Daffin terus menatap tajam ke arah Giska yang sedang berusaha memberikan sentuhan terbaiknya.
Semakin lama gerakan dari mulut Giska semakin energik berirama, setelah dalam waktu yang lumayan lama, Daffin mengeluarkan suara manjanya sembari meluncurkan lahar kental miliknya.
"Kamu sangat luar biasa istriku," puji Daffin lalu menarik tubuh istrinya dan kembali memagut bibir sensual yang sudah membawanya terbang ke angkasa seperti pesawat yang mereka tumpangi saat membawa mereka menjelajah wilayah yang sedang menempuh jarak yang sangat jauh melewati beberapa negara untuk mencapai tujuan kota romantis sedunia, yaitu kota Paris Perancis.
"Aku tidak salah memilihmu sayang, kamu cantik bahkan sangat cantik, jenius, manja dan hebat juga dalam urusan ranjang," puji Daffin sekali lagi sambil tersenyum puas menatap sayu pada wajah istrinya yang mirip artis luar negeri Gigi Hadi yang saat ini lagi melejit namanya di dunia film Hollywood.
"Mau lagi sayang?," tanya Giska yang ingin menggoda, padahal ia tahu ini bukan bagian akhir yang diinginkan oleh suaminya.
"Jangan tanyakan itu sayang, itu sangat kejam bagiku," jawab Daffin sambil menatap Giska penuh harap dengan tatapan matanya yang sudah mulai berat dikuasai oleh gelora birahinya.
Saat itu Giska tersenyum manja untuk membuat Daffin makin penasaran akan dirinya dan membuat suaminya ini makin terbuai dalam asmara yang memabukkan yang tercipta olehnya.
Bagi Daffin ini adalah siksaan besar untuk dirinya, namun bagi Giska ini adalah godaan nakal yang menghanyutkan. Giska kembali berdiri dan menyatukan bibir Daffin dengan bibirnya, tak ingin terlihat lemah lelaki tampan ini segera menghampiri bukit kembar milik istrinya.
Kemudian Daffin membalikkan tubuh istrinya berganti posisi sehingga tubuh atletisnya kini mengusai tubuh mulus istrinya, suka dengan suara manja yang keluar dari mulut istrinya, Daffin memainkan kuping istrinya dengan penuh perasaan, setelah melihat Giska mulai melemah, Daffin lalu memberikan rangsangan demi rangsangan yang membuat istrinya ikut merasakan kenikmatan yang diberikan olehnya.
Daffin memandangi gundukan kembar milik istrinya yang begitu menggiurkan, sekarang keduanya saling menatap tubuh mereka. Daffin pun nampak menatap lebih dalam lekukan tubuh molek istrinya yang sangat sempurna tanpa ada lapisan lemak yang berlebihan ditubuh wanita yang sudah memberikannya satu putra ini.
Tubuh itu masih sama seperti lima tahun yang lalu yang pernah ia nikmati. Pemandangan yang menakjubkan itu berhasil membuatnya terbakar apa lagi harum tubuh Giska mulai menggodanya kembali, yang makin membuat miliknya kembali menegang.
Tanpa membuang waktu Daffin mengejar buruannya, menyapu dengan lidahnya di setiap inci tubuh istrinya.
"Sstt, sayang!" Gumamnya seraya menuruni bawah leher Giska yang menyembul sempurna.
Giska menggigit bibir bawahnya seraya menengadahkan kepalanya, bibirnya tersenyum merayu, sementara matanya berbinar-binar ketika Daffin menikmati bukit kembarnya itu, sentuhan demi sentuhan dirasakannya dengan penuh kenikmatan.
Sentuhan yang mampu menembus alam pikiran Daffin yang menggugah perasaannya untuk mengatakan bahwa, Ia sangat mencintai istrinya sampai ke dalam dasar hatinya yang terdalam.
Daffin menahan kegelisahannya sambil menggenggam kasur dan menegangkan otot dada serta perutnya.
"Sayang, aku sangat menginginkanmu istriku Giska, kau milikku sayang, Giska!"
Aaaah!!" Terdengar jelas di telinga Giska.
Hal itu membuat sang istri makin menggeliat gemulai lalu terbuai dalam lautan asmara yang tercipta.
__ADS_1
"Daffin!!"...Oh..sstt"
Panggil Giska manja sambil menatap mata Daffin yang sudah makin terangsang mengundang hasratnya untuk melakukan lebih.
"Saya sangat ingin sayang dan tidak bisa menundanya lagi, bolehkah?" Pinta Daffin santun memohon pada istrinya agar Giska merelakan dirinya disentuh dengan miliknya lagi setelah berpisah dan kini kembali rujuk.
Tiba-tiba saja Giska makin terpacu mendengar rengekan manja suaminya yang berada di atas tubuhnya. Tak lama Daffin mulai memasuki tubuh istrinya yang sudah lama ia impikan semua momen itu membuat keduanya mengerang manja sembari menatap satu sama lain.
Bagi Daffin ini adalah kesekian kalinya ia menikmati tubuh yang sama dengan status yang berbeda karena keduanya kembali rujuk setelah tiga tahun berpisah karena keegoisan keduanya.
Kali ini ia menikmati lagi milik istrinya yang masih terasa ketat dan menjepit seperti pertama kali Daffin menjamah tubuh ini, entah apa yang dipakai wanita ini pada bagian int*mnya, yang membuat Daffin makin terbakar dalam lautan kenikmatan yang tak bertepi.
Penyatuan tubuh ini yang dirindukannya yang mengobati jiwanya, satu-satunya wanita yang berhasil membuatnya kembali merasa berharga, yang sebelumnya hampir membuatnya putus asa dan sakit hati ketika Giska yang sulit ia obati hati wanitanya karena kebodohannya.
Sementara bagi Giska inilah usahanya untuk memberikan kepuasan untuk sang suami tercinta. Dual hal indah yang ingin dilaluinya dan kini dirinya melakukan lagi dengan penuh kebanggaan.
Giska mengerang bersama dengan air mata yang menetes haru, ia pun terus mend**h, gelisah sambil menahan perih yang luar biasa padahal segelnya sudah pernah dibuka oleh lelaki yang sama yang telah merasakan mahkota sucinya setelah tiga bulan pernikahan pertama mereka.
Sementara Daffin yang tanpa puas dengan sensasi rasa yang sama yang pernah dirasakannya pertama kali yang memasuki gawang kegadisan istrinya, saat dirinya baru pertama kali menemukan Giska yang sedang mabuk ketika dijebak oleh Reza mantan kekasih istrinya itu, yang sengaja menaburkan obat perangsang ke dalam minuman Giska.
Bergerak dan menghentakkan dengan cepat, ia terlihat ingin menikmati rasa yang sama ini untuk pertama kalinya di pernikahan kedua mereka.
Tiga puluh menit mengadu pinggul, hingga lahar milik suaminya kembali menyembur ke dalam rahim sucinya, lalu disusul dengan suara des*han yang manja dan terengah-engah.
"Ssst uuuhhhmmm!" Giska berdesis, suara desisan demi desisan yang terlontar dari mulutnya, kemudian ia memeluk tubuh suaminya yang sudah dipenuhi peluh.
"Luar biasa kamu sayang! luar biasa sekali, ini seperti mimpi bagiku sayang," ucap Daffin mengagumi istrinya.
"Apakah itu benar?" Tanya Giska penasaran.
"Iya sayang dan saya sangat bahagia," tutur Daffin yang memutuskan untuk duduk sambil memperhatikan lagi wajah cantik istrinya yang makin bersinar setelah menggapai surga dunia yang telah diberikan sang istri pada tubuhnya.
Keduanya tersenyum puas dan bernafas lega setelah melakukan ritual ibadah yang meleburkan dosa atas ridhho Illahi.
"Sempurna!" Gumamnya seraya meletakkan tubuh yang telah diselimuti peluh disisi kanan Giska.
Giska masih merasakan kesulitan dengan tubuhnya yang telentang tanpa busana di atas kasur.
Tidak jauh dari Daffin dengan mata berkaca-kaca Giska terus menatap laki-laki dengan tubuh kekar yang sekarang sudah sah menjadi suaminya lagi, sambil tersenyum. Daffin pun juga tersenyum menatap wajah istrinya yang tidak pernah membuatnya bosan menatap.
"Apakah kamu baik-baik saja sayang?" Tanya Daffin sambil menatap kedua manik hitam Giska dengan kelopak mata yang sayu.
"Iya sayang"
"Bolehkah aku melihat sesuatu dari milikmu?" Tanya Daffin.
"Tentu saja apapun itu," jawab Giska.
"Perlihatkan lagi milikmu aku ingin menatapnya, sampai mataku lelah.
"Hari ini aku telah menyerahkan diriku sepenuhnya padamu sayang, kau boleh melihatnya atau melakukan apapun atas diriku karena aku tidak akan lagi menghalangimu untuk melakukannya." Ucap Giska lalu membuka lagi kedua kakinya untuk memperlihatkan bagian sensitifnya kepada suaminya.
Daffin kembali menatap bagian bawah perut istrinya, kemudian di usap dengan jarinya, kali ini Daffin menyapu bagian bawah perut istrinya dengan lidahnya, menyusuri gundukan kecil bulat yang tidak di tumbuhi bulu apapun.
Daffin kembali menjelajahi lidahnya, menelusuri sampai bagian dalam yang tersembunyi dengan lidahnya. Giska kembali mend*s*h, merasakan sensasi yang luar biasa dari lidah suaminya pada bagian sensitifnya, hingga membuatnya terpekik menahan nikmat yang sudah menjalari tubuhnya seperti sengatan listrik.
__ADS_1
Ia kemudian mengeluarkan suara lenguhan itu kembali terdengar memacu adrenalin Daffin untuk lebih memberikan servis terbaiknya untuk memuaskan kembali tubuh istrinya.
Daffin makin menjadi menggila mendengar teriakkan erotis sang istri dengan liukan tubuh istrinya yang menggodanya untuk melakukan lebih dalam mengusai tubuh mulus itu. Giska menggeliat diiringi erangan dan lenguhan dengan nafas yang sudah tidak beraturan.
"Ahhkk!" Mas Daffin...aku menyerah sayang." Adu Giska yang tidak mampu lagi mempertahankan gejolak jiwanya, hingga tubuhnya bergetar hebat menjambak rambut suaminya karena merasakan kenikmatan tiada tara.
"Cukup sayang, aku sudah tidak kuat," pinta Giska lirih dengan nafas yang tersengal-sengal setelah mendapatkan serangan dari mulut suami pada bagian bawah perutnya.
Daffin kemudian bangkit dari perut istrinya dan memeluk tubuh itu lagi kemudian membalikkan tubuh istrinya dan mengarahkan senjata laras panjangnya ke dalam tubuh Giska.
Hentakan demi hentakan berpacu bersama peluh yang kembali mengeluarkan aroma tubuh istrinya. Harum semerbak yang berasal dari aroma tubuh Giska membuatnya makin terangsang, hingga akhirnya semburan itu berhasil menembak jauh lahar miliknya dalam rahim Giska.
Daffin kemudian menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh Giska kemudian memeluk tubuh polos itu merapat masuk dalam pelukannya, keduanya kemudian tidur karena lelah setelah satu jam mereka bergumul.
Waktu subuh mulai menyapa penghuni bumi, dari jauh terdengar sayup-sayup kumandang adzan menggema berasal dari ponsel mereka, Giska bangkit membersihkan dirinya kemudian berwudhu membasuh setiap anggota dalam rukun wudhu. Dia tidak lupa membangunkan suaminya, Daffin yang belum bisa menahan rasa ngantuknya kembali tidur.
Giska mengguncang tubuh suaminya kembali, Daffin akhirnya bangkit melangkahkan kakinya ke kamar mandi dengan langkah sedikit gontai. Giska sudah menyiapkan perlengkapan sholat untuk suaminya kemudian mereka melakukan ibadah sholat subuh berjamaah pertama kali sebagai suami istri. Usai sholat subuh Giska menyalami suaminya, Daffin mengecup pucuk kepala istrinya.
"Sayang nanti setelah sarapan pagi di hotel kita cek out ya," ucap Daffin kepada istrinya yang sedang merapikan kembali peralatan sholat mereka.
Daffin memilih untuk tidur lagi karena hari masih gelap. Giska juga ikut menemani suaminya.
Alarm pun berbunyi. Giska bangkit membangunkan suaminya untuk melakukan aktivitas lainnya. Daffin segera mengerjapkan matanya karena ponselnya juga ikut menggema nama panggilan alarm dengan sebutan Giska.
Waktu sekarang menunjukkan pukul tujuh pagi.
Giska tersenyum mendengar alarm dengan sebutan namanya.
Sekarang ia baru mengerti bahwa Daffin sangat mencintainya.
"Sayang kita sholat dhuhur nanti berjamaah yuk!" Bisik Giska lirih diikuti anggukan suaminya.
Giska mencium punggung tangan suaminya, Daffin mengecup kening istrinya.
Senyum keduanya terukir indah menyambut pagi di kota romantis itu.
Wajah cantik Giska seakan menyatu dengan fajar pagi yang makin menanjak terang menapaki pagi hari.
Keduanya keluar dan duduk di teras hotel melihat taman indah yang terhampar luas di area hotel tersebut.
Daffin memangku Giska sambil memeluk pinggang istrinya. Bibirnya tidak berhenti mengecup ceruk leher jenjang milik istrinya.
"Emang belum bosan semalam suntuk melakukannya?" Tanya Giska yang merasa terangsang lagi, apa yang dilakukan suaminya saat ini.
"Mana ada orang bosan dengan percintaan panas?" Balas Daffin.
"Nanti saja kalau sudah sarapan karena saat ini aku sangat lapar." Ujar Giska.
"Astaga!" Harusnya kita bawa makanan ringan yang banyak agar tidak kelaparan seperti ini." Ujar Daffin.
"Sudahlah, nanti saja kita beli kue dan roti di sekitar hotel ini, Tanggung sebentar lagi mau sarapan." Ujar Giska.
Keduanya menunggu tibanya waktu sarapan pagi untuk mengisi kembali energi mereka sebelum melakukan aktivitas selanjutnya.
Entah apa yang akan mereka lakukan nanti setelah sarapan pagi karena pengantin ini sepertinya lebih betah berada di dalam kamar dari pada mencuci mata untuk menikmati kota Paris Perancis.
__ADS_1
"Sayang, nanti kalau habis sarapan kita mau ke mana?" Tanya Daffin dengan membuka obrolan pagi.
"Nanti saja kita pikirkan lagi sayang, karena banyak sekali tempat wisata yang ingin aku kunjungi denganmu hari ini." Jawab Giska.