TOBATNYA GADIS ANGKUH

TOBATNYA GADIS ANGKUH
33. PART 33


__ADS_3

Proses hukum untuk Giska yang diajukan oleh pengacara Daffin berlangsung dalam cepat.


Dalam satu bulan, Giska sudah dibebaskan. Daffin sendiri yang menjemput mantan istrinya itu. Ia juga meminta Giska untuk kembali rujuk sambil mengurus Giska yang saat ini mengalami kesehatan yang sangat buruk ketika masih dalam penjara.


Giska tidak bisa menjawabnya sebelum berdiskusi dengan keluarganya. Daffin mengerti keadaan Giska yang masih labil untuk memilih.


"Apakah kamu tidak merindukanku Giska?" Tanya Daffin ketika membawa pulang Giska dari penjara.


"Aku merindukan putraku Rangga, apakah saat ini dia mengenaliku dengan keadaanku seperti ini?" Tanya Giska lirih.


"Seorang anak tidak akan menolak ibu kandungnya, apa lagi ada keterikatan batin antara kalian berdua." Ujar Daffin menghibur mantan istrinya ini.


Giska hanya termenung. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil, melihat keadaan kota yang tidak pernah lagi ia lihat selama satu tahun ini.


Giska menjadi pelit bicara dan tenggelam dengan masa lalunya yang telah memberikannya banyak pelajaran hidup. Setiap tindakan yang pernah ia lakukan selalu berujung duka karena keras kepalanya.


"Giska maukah kamu menikah lagi denganku?" Daffin masih belum menyerah pada ibu dari putranya Rangga.


"Dulu kamu memulangkan aku pada ayahku, sebaiknya minta lagi kepada ayahku karena aku sudah menjadi miliknya setelah kamu kembalikan." Ujar Giska dengan tetap bersikap dingin pada Daffin.


"Aku akan melakukannya itu, tapi aku ingin mendengar langsung dari sang pemilik hati, sebelum sang pemilik dirimu memberikan restu." Ucap Daffin.


"Apakah kamu butuh jawabanku?" Tanya Giska.


"Tentunya Giska karena kita berdua yang akan menjalani rumah tangga kita." Ujar Daffin.


"Aku akan memberikan jawabanku jika ayahku merestui hubungan kita." Ucap Giska.


"Terimakasih Giska, aku janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama agar tidak menyakitimu lagi." Ucap Daffin dengan suara yang sangat parau.


Giska tidak menanggapi ucapan Daffin, dia lebih memilih diam.


Daffin merasa Giska belum menerima dirinya secara utuh. Ia tahu jika Giska saat ini lebih banyak mempertimbangkan sesuatu baik buruknya dengan berdialog dengan Sang Penciptanya.


Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di mansion milik Giska.


Kedua orangtuanya Giska yang tidak mengetahui pembebasan Giska dari lapas penjara lebih cepat dari pada hukuman yang diterimanya yaitu tiga tahun penjara dengan pengurangan masa kurungan selama Giska bersikap baik selama di penjara.


"Giska!" Nyonya Nunung yang melihat putrinya turun dari mobil begitu bahagia melihat putrinya.


"Assalamualaikum bunda!" Ucap Giska dengan tetap memasang wajah datar.


"Waalaikumuslam, nak!" Akhirnya kamu bebas juga." Nyonya Nunung memeluk putrinya sambil menangis.


Tidak lama Rangga keluar dengan berjalan lincah menghampiri neneknya.


Kini usia Rangga sudah dua tahun. Putra Daffin dan Giska ini sudah mulai pintar bicara.

__ADS_1


"Oma, itu siapa?" Tanya Rangga sambil bersembunyi dibalik tubuh Omanya.


Nyonya Nunung menggendong cucunya yang sangat tampan itu dengan wajah yang persis dengan Daffin, lalu memperkenalkan cucunya kepada kedua orangtuanya Rangga.


"Sayang, ini maminya Rangga dan itu papinya Rangga." Ucap Nyonya Nunung.


"Mami?" Tanya Rangga yang tidak ingin mendekati ibunya Giska.


"Bukan!" Itu bukan maminya Rangga." Ucap Rangga ketakutan melihat penampilan Giska yang seperti mayat hidup.


Tapi pada Daffin, Rangga malah mau di gendong.


"Sama papi aja." Ucap Rangga sambil membuka tangannya ingin digendong oleh Daffin.


Daffin yang termangu melihat wajah putranya yang persis dengan wajahnya, akhirnya tersentak saat anaknya ingin digendong olehnya.


Melihat adegan itu, hati Giska merasakan sakit tak terkira mendapatkan penolakan putranya atas dirinya.


Giska menangis dan berlari ke dalam kamarnya. Ia tidak tahan melihat Rangga lebih memilih Daffin ayahnya daripada dirinya yang telah melahirkannya dengan susah payah.


Nyonya Nunung menghampiri putrinya yang sudah berada di kamarnya.


"Giska!" Sayang, dengarkan yang akan bunda katakan. Rangga melihat fotomu dan juga videomu. Dia tidak mengenalimu sekarang karena kondisi tubuhmu yang begitu kurus tidak seperti yang dia lihat di fotomu itu sayang." Ucap Nyonya Nunung menenangkan putrinya yang sangat tersinggung dengan sikap anaknya sendiri padanya.


"Apakah wajahku sangat menakutkan bunda?" Tanya Giska.


Giska hanya mengangguk dan meminta ijin untuk istirahat dan tidak ingin menemui siapapun. Entah mengapa kebebasannya dari jeruji besi tidak memberikan kebahagiaan untuknya saat ini. Ditambah lagi penolakan putranya membuatnya pesimis dengan kehidupannya saat ini.


"Bunda, Giska mau tidur, Giska masih lelah dan Giska tidak ingin diganggu oleh siapapun." Pinta Giska pada ibunya yang sangat sabar menghadapi putrinya.


"Baiklah sayang, nanti makan siangmu biar bibi Ani yang mengantar ke kamarmu." Ucap Nyonya Nunung lalu meninggalkan Giska yang masih ingin sendiri di kamarnya.


Di ruang keluarga, Daffin sibuk bermain dengan putranya Rangga.


Tuan Ruslin memanggil Daffin dan ingin bicara dengan ayah dari cucunya itu.


"Daffin, ayah ingin bicara denganmu." Titah Tuan Ruslin.


Daffin lalu menggendong putranya lalu duduk dengan mertuanya.


"Apakah kamu yang membebaskan Giska?" Tanya Tuan Ruslin.


"Iya ayah, karena Giska tidak bersalah, jadi dia tidak pantas ada di penjara itu dan Daffin memohon maaf telah menyebabkan Giska mendekam di penjara." Ucap Daffin dengan wajah tertunduk.


"Terimakasih jika kamu menyadari kesalahanmu. Ayah harap jangan lagi menemuiku putriku karena kamu hanya memberinya air mata dan kesengsaraan batin." Ucap Tuan Ruslin sangat tegas pada Daffin yang saat ini tercengang mendengar penuturan mertuanya itu.


Degg...

__ADS_1


"Ya Allah, padahal aku baru ingin melamar putrinya lagi, mengapa malah sekarang menolakku?" Daffin merasa sangat sedih mendengar ucapan mertuanya itu.


"Apakah ada yang ingin kamu sampaikan Daffin?" Tanya Tuan Ruslin.


"Maaf ayah, beri aku kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya. Aku ingin mendapatkan kembali cinta Giska." Ucap Tuan Daffin kepada mertuanya.


"Apakah kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu Daffin?"


"Iya ayah, aku ingin putraku tumbuh dengan kasih sayang keluarga yang utuh dari kedua orangtuanya." Ujar Daffin.


"Baiklah, kalau begitu ayah merestui niat baikmu untuk menikahi lagi Giska tapi tidak saat ini, karena kondisi Giska yang terlalu rentan untuk kembali bersamamu secepat ini." Ucap Tuan Ruslin.


"Tidak apa ayah, aku akan menunggu kondisi Giska kembali pulih seperti sedia kala."


"Sampaikan niat baikmu itu pada kedua orangtuamu karena restu mereka juga penting untuk kalian." Tuan Ruslin menasehati Daffin dengan bijak.


"Terimakasih ayah, kalau begitu Daffin ijin pulang ke mansion.


"Silahkan!"


Daffin menggendong putranya yang sudah terlelap dalam pangkuannya.


"Aku ingin membaringkannya di tempat tidurnya bunda." Pinta Daffin kepada Nyonya Nunung.


"Kamarnya masih bergabung dengan kami Daffin." Ucap Nyonya Nunung lalu mengantarkan Daffin ke kamarnya.


Daffin membaringkan putranya yang saat ini sudah tertidur pulas. Sebelum meninggalkan putranya Daffin mengecup kening putranya lembut.


"Tunggulah sayang, sebentar lagi papi dan mami akan memberikan kasih sayang yang banyak untukmu. Doakan papi agar bisa bersatu lagi dengan mamimu, muuacch." Ujar Daffin.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Hari pinangan secara resmi telah tiba, dua keluarga pihak kedua calon mempelai pengantin sudah berkumpul di kediaman Tuan Ruslin sebagai ayah kandung Giska. Dari pihak keluarga Daffin yang diwakili oleh keluarga besar Kyai Azzam dan istrinya Ummi Aliya.


Keluarga besar Giska merasa memiliki kebanggaan tersendiri, ketika putri mereka akan menikah lagi dengan dengan lelaki yang sama.


Acara pinangan ini hanya dihadiri kerabat dan tetangga Giska selain keluarga Kyai Azzam dan juga keluarga Tuan Ruslin. Walaupun hanya berlangsung sederhana namun tidak mengurangi khidmat dari acara pinangan tersebut.


Daffin yang hanya memakai baju koko warna biru dan celana panjang hitam nampak gagah duduk diantara Abahnya dan juga Umminya. Sedangkan kedua adiknya Daffin duduk disebelah Nyonya Nunung sambil memangku putranya Giska yaitu Rangga.


Giska sangat merasa gugup di pinangan ke dua ini dari pada pernikahan dua sebelumnya.


Acara di mulai dengan pembicaraan permohonan dalam pinangan yang dilakukan sendiri kyai Azzam.


"Assalamualaikum Wt. Wb


Saya Tuan Ruslin sebagai ayah kandung dari putri kami Giska Ananta. Selamat datang Kyai Azzam beserta rombongan yang sudah berkenan datang ke keluarga kami untuk kedua kalinya. kediaman saya yang sederhana ini. Saya sebagai ayah kandung Giska merasa terhormat juga terharu karena kita akan menjadi besan lagi untuk kedua kalinya. Semoga pernikahan anak-anak kita nanti tidak lagi di uji dengan hal yang sangat memberatkan mereka dan kali ini saya dan kita semua berharap agar pernikahan mereka langgeng sampai kakek dan nenek. Aaaamiin." Ucap Tuan Ruslin membuka acara lamaran itu.

__ADS_1


Setelah menyampaikan beberapa


__ADS_2