TOBATNYA GADIS ANGKUH

TOBATNYA GADIS ANGKUH
31. PART 31


__ADS_3

Enam bulan masa hukuman yang dijalankan Giska saat ini. Kondisi Giska yang makin kurus, membuat gadis ini tidak bisa lagi menghasilkan ASI untuk putranya yang sudah berusia satu tahun enam bulan.


Ibunya sangat prihatin dengan keadaan putrinya yang kian memprihatinkan. Wajahnya tampak tirus dengan matanya yang cekung di tambah lingkaran hitam dibawah matanya pengaruh tidak bisa tidur nyenyak di malam hari.


Giska yang terus berdoa setiap malam di sepertiga malam untuk menemui sang pemilik jiwaNya.


"Giska, apakah kamu sakit nak?" Tanya Nyonya Nunung melihat putrinya yang sudah tidak terawat wajah dan tubuhnya.


"Tidak bunda, Giska sehat, hanya saja Giska sulit untuk tidur di malam hari." Ucap Giska tanpa menceritakan amal baiknya pada ibunya.


"Sayang!" Apakah kamu mau bunda bawa obat tidur untukmu?"


"Jangan bunda, biarkan saja nanti Giska temui dokter yang biasa berkunjung ke sini satu kali dalam seminggu."


"Baiklah, kalau begitu makan yang banyak. Bunda bawakan makanan kesukaanmu." Ucap Nyonya Nunung yang berusaha menahan air matanya jangan sampai terlihat oleh Giska.


Begitu pula Giska, yang pura-pura kelihatan tegar yang sebenarnya, ia sangat rapuh saat ini.


"Bunda, aku ingin bertemu Rangga." Pinta Giska.


"Minggu depan, bunda akan bawa Rangga. Sekarang kamu harus sehat dan semangat supaya putramu tidak takut melihatmu nanti." Ucap Nyonya Nunung.


"Bagaimana kabar mas Daffin bundamu?"


"Berhentilah berurusan dengan lelaki itu Giska. Karena dia kamu seperti ini sayang. Bunda mohon agar kamu tidak memikirkannya lagi."


"Bunda aku yang bersalah padanya bunda, aku harus tahu keadaannya." Ucap Giska yang makin sedih karena ibunya sekarang sangat membenci mantan suaminya itu.


"Aku masuk dulu bunda." Giska langsung beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke selnya.


*


Di rumah sakit, Daffin di temani oleh dua saudaranya, Mariam dan Asia. Keduanya tetap berusaha untuk menyadarkan Daffin dari komanya.


Mariam dan Asia membaca Alquran setiap saat untuk Daffin, agar Allah memberikan kesembuhan secepatnya untuk Daffin.


Dalam komanya Daffin bermimpi tentang Giska yang sedang dianiaya oleh banyak napi wanita teman satu selnya.


Di dalam mimpi itu, Giska yang mencoba bertahan hidup berlari dari kejaran para teman napinya. Tapi tiba-tiba Giska jatuh dan kedua temannya itu menarik rambut Giska hingga gadis ini diseret seperti binatang.


Giska yang sudah lelah dan kesakitan akhirnya pingsan. Temannya itu menusuk Giska dengan garpu yang mereka curi dari ruang makan.


Sesaat kemudian Giska menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan menyebut nama Allah. Daffin yang melihat Giska terkapar dengan bersimbah darah, menangis histeris. Ia tidak menyangka istrinya dibunuh secara sadis di dalam penjara wanita.


Mungkin ikatan batin keduanya, yang membuat Daffin tiba-tiba menyebut nama Giska.


"Giska, jangan pergi Giska, jangan pergi sayang!" Aku akan menjemputmu." Ucap Daffin dalam awal bawah sadarnya.


Giska terlihat makin menjauh, seperti tertelan oleh kabut asap tebal yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Giskaaaaaa!" Daffin segera membuka matanya dengan peluh yang sudah membanjiri pelipisnya.


"Mas Daffin!" Mariam memanggil abangnya yang baru sadar dari komanya namun matanya mendelik ke langit-langit kamar inapnya.


Asia segera memanggil dokter untuk melihat keadaan Daffin. Dokter segera menemui pasiennya dengan perasaan gembira ketika melihat Daffin sudah sadar dari komanya.


"Dokter, sepertinya dia baru mengalami mimpi buruk." Ucap Mariam.

__ADS_1


Dokter memeriksa keadaan pasiennya dengan seksama.


"Syukurlah, Tuan Daffin sudah sadar sepenuhnya nona." Ucap dokter Billy.


"Alhamdulillah, akhirnya doa kita terkabul mbak." Ucap Mariam lalu mencium punggung tangan masnya.


Asia menarik tangan adiknya menjauh dari Daffin. Ia membisik sesuatu pada Mariam.


"Mas Daffin baru sadar dari koma, saya harap kamu tidak bicara tentang mbak Giska sebelum mentalnya pulih." Titah Asia kepada adiknya.


"Iya mbak, aku juga tahu tentang hal itu, nggak usah kudu diajari seperti itu." Ucap Mariam kesal dengan mbaknya yang memperlakukan dirinya seperti anak kecil.


"Mbak hanya mengingatkan saja, siapa tahu kamu keceplosan." sahut Asia.


"Siapa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Daffin yang sudah duduk di atas brangkarnya setelah alat penyangga leher dan oksigen dicabut dari tubuhnya.


"Hanya mau kasih tau ummi kalau mas Daffin sudah sadar." Ujar Asia berbohong.


"Apakah selama aku dirawat, Giska pernah menjengukku?" Tanya Daffin.


"Ya Allah mbak Asia, gimana jawabnya?" Tanya Mariam sambil menyikut badan Asia.


"Kamu bisa diam nggak?'' Asia melotot ke arah adiknya Mariam.


"Apakah kalian sedang merahasiakan sesuatu dariku?" Tanya Daffin kesal dengan kedua adiknya yang kelihatan sangat mencurigakan.


"Apakah mas Daffin lapar?" Asia mencoba mengalihkan perhatian Daffin untuk tidak membahas tentang Giska.


"Aku tidak ingin makan, aku ingin jawaban dari kalian. Apakah kalian tahu tentang Giska?" Tanya Daffin lagi.


"Jawab!!" Daffin membentak kedua adiknya hingga keduanya tersentak.


"Di penjara?" Apa yang dilakukan sampai dipenjara?" Tanya Daffin.


"Karena mendorong mas Daffin hingga jatuh." Ucap Mariam.


"Tanggal berapa hari ini?" Tanya Daffinnya.


"Mas Daffin mengalami koma hampir satu tahun. Sementara mbak Giska sudah dipenjara hampir satu tahun juga." Ucap Asia.


"Aku harus ke penjara sekarang, aku harus melihatnya dan membebaskannya karena dia tidak bersalah, aku yang telah melecehkannya sehingga ia marah padaku dan tidak sengaja mendorongku dengan kencang sehingga aku kehilangan keseimbangan dan jatuh dari balkon malam itu di kamarnya." Ucap Daffin membuat kecurigaan keduanya adiknya benar adanya.


"Mas Daffin, kalau begitu selamatkan mbak Giska karena hidupnya seperti mati segan hidup pun tak mau." Ucap Mariam.


"Aku segera ke rumah sakit de." Ucapnya lalu ingin turun buru-buru dari tempat tidurnya.


"Mas Daffin ganti baju dulu, itu baju rumah sakit mas." Ucap Asia yang mencegah Daffin ketika ingin kabur dari rumah sakit.


"Beruntunglah urusan rumah sakit sudah beres, kalau tidak urusannya bisa kacau." Ucap Mariam.


Sementara Daffin menggantikan bajunya, Mariam mengabari ummi Alya dan Abahnya bahwa masnya sudah sadar.


Daffin keluar buru-buru tapi tubuhnya seketika limbung. Ternyata Daffin masih pusing dan belum kuat untuk melakukan aktivitas berlebihan karena tulang belakangnya mengalami cedera.


Susunan tulang belakangnya masih belum sempurna sembuh. Ditambah lagi ia pernah melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang kepada putranya Rangga.


"Mas Daffin belum kuat, sebaiknya di tunda dulu pergi ke penjaranya." Ujar Mariam.

__ADS_1


Mereka membantu memapah tubuh Daffin kembali berbaring di atas brangkarnya.


"Mas Daffin, nanti juga mas ketemu dengan mbak Giska dan juga putra mas yang sekarang makin tampan seperti mas Daffin, apa lagi wajahnya sama persis seperti mas Daffin.


"Benarkah?" Daffin menangis mengenang kebodohannya yang pernah meragukan keberadaan anaknya sendiri.


"Menangislah mas Daffin, sampai hati mas Daffin tidak lagi terluka. Setelah itu lupakan masa lalunya dan bangkit kembali untuk mendapatkan kembali cinta mas yang pernah hilang." Mariam menasehati Daffin yang saat ini sedang menangis menyesali perbuatannya yang berakhir duka bagi keluarga kecilnya dan juga seluruh keluarga besarnya.


Dipenjara Giska tekun membaca Alquran dan menghafalkannya. Sekarang ia sudah menghafal 20 juz. Ia lebih banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan kajian Islam.


Penjara benar-benar menempa iman dan mentalnya menjadi lebih kokoh untuk menghadapi ujian yang datang padanya bertubi-tubi.


"Ya Allah, jika aku harus Engkau panggil secepatnya, tolong matikan aku dalam keadaan bebas dari sini." Ucap Giska dalam untaian doanya di sepertiga malam.


Giska kemudian kembali berdzikir dan beristighfar sambil menunggu masuknya waktu subuh.


Teman-teman yang satu sel dengannya masih tidur mendengkur menikmati bunga tidur mereka sebagai hiburan. Sementara hiburan terbaik untuk Giska saat ini adalah lezat nya bermunajat kepada Allah yang telah memberikannya kesempatan kepada dirinya untuk melakukan taubatan nasuha atau di sebut dengan permohonan tobat yang sesungguhnya tanpa mengulangi lagi kesalahan yang sama.


Walaupun janji Allah yang selalu mengampuni dosa hambaNya yang melakukan dosa besar bagai buih di lautan yang tidak terhitung, tetap saja Allah akan menerima taubat hambaNya.Jika masih melakukan dosa dan ketika ajal tiba dikerongkongannya, pintu tobat akan ditutup.


Dalam satu bulan, ada kegiatan rohani yang diadakan oleh penjaga penjara. Kegiatan rohani yang berdasarkan tiap umat beragama ini sangat baik untuk membina mental spiritual untuk para napi yang tingkat kejahatan mereka sudah sangat parah, seakan jiwa iblis sudah bersemayam di tubuh mereka.


Di mesjid yang ada di tengah rutan tersebut, diadakan pengajian setiap Minggu. Giska yang selalu rajin dan ingin tahu banyak bagaimana mengolah iman untuk lebih dekat dengan Robby-nya.


Giska menanyakan beberapa hal yang berhubungan dengan dirinya. Ia ingin berada di dalam penjara itu bisa mendidik dirinya agar lebih dekat dengan Tuhannya.


Usai pengajian, Giska mendekati ustazah yang telah mengisi ta'lim tadi.


"Mohon maaf ustadzah, apakah saya boleh bertanya sesuatu kepada anda?" Tanya Giska santun.


"Silahkan mbak Giska!" Ujar Ustadzah Ummi Kulsum.


"Bagaimana cara kita menghadapi iman kita yang selalu naik turun setiap kali kita mendapatkan masalah atau ujian kehidupan?" Tanya Giska.


Ummi Kulsum sangat senang dengan Giska yang lebih aktif dalam mencari tahu ilmu Allah. Iapun kemudian menjawab pertanyaan Giska sesuai tuntunan Allah dan rasulnya berdasarkan Al-Qur'an dan hadits.


"Pada dasarnya, tiap Mukmin punya rasa yakin, tetapi yang membedakan hanya satu, yaitu kadar iman yang dimiliki. Semakin kuat iman yang dipelihara seorang hamba, dia laksana gunung yang berdiri tegak dan kokoh. 


Dalam salah satu kaidah usul fikih, disebutkan al-Yaqinu La Yuzalu bi al-Syak (keyakinan yang kuat tidak akan berubah dengan sebuah keragu-raguan). 


Keyakinan tersebut tak akan sanggup diempas dengan mudah oleh tiupan keragu-raguan ataupun oleh angin waswas yang di sebarkan oleh setan. Karena, setan tidak akan berhenti bermanuver guna menyesatkan anak Adam. Sebagaimana sabda Nabi SAW, Setan akan menyesatkan manusia dan tidaklah seseorang mengambil jalan lain, kecuali setan juga akan menempuhnya.” 


Sehingga, apabila dikelompokkan, tingkatan keimanan bisa dibagi ke dalam tiga lapisan. Pertama, tingkatan dasar atau disebut iman. Kategori ini biasanya diisi kalangan awam yang kadar keimanannya masih sering naik turun dan berubah-ubah. 


Tingkatan kedua, tingkatan iman yang kokoh di hati dan tidak goyah sehingga pada level ini, hampir saja seseorang mampu melihat yang gaib. Tingkat keimanan ini disebut yakin. 


Level keimanan ketiga yang tertinggi dikenal dengan istilah kasyaf. Tingkatan ini setara dengan level para wali dan nabi yang tidak lagi ada batas antara yang gaib dan alam kasat mata.


Selanjutnya, terdapat tiga cara yang bisa ditempuh untuk membangun benteng keimanan yang kuat. Pertama, mendengarkan, membaca, dan merenungkan ayat-ayat serta hadis-hadis yang menegaskan kebesaran dan kekuasaan Allah. 


Selain itu, juga teks-teks agama yang mengisyaratkan secara jelas perihal kebenaran dakwah yang disampaikan para rasul dengan segala konsekuensi yang didapat, baik dari ketaatan maupun sanksi yang diperoleh akibat pelanggaran apabila mengingkari risalah ilahiah tersebut. Cara ini sesuai firman Allah:


Allah berfirman, “Dan, orang-orang yang berjihad (mencari keridhaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS al-Ankabut [29]: 69).


Sedangkan, cara ketiga, keyakinan yang telah didapat mesti diterapkan baik secara lahir maupun batin dan berupaya sebisa mungkin menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Karena, dengan keteguhan iman dan keyakinanlah, Allah akan senantiasa membimbing dan mencurahkan kasih sayang-Nya kepada umat manusia." Ustadzah ummi Kulsum menjelaskan secara mendetail kepada Giska agar gadis ini benar-benar memahami jawaban dari pertanyaan yang ia butuhkan.


"Alhamdulillah Ustadzah, sekarang Giska lebih tenang menjalani kehidupan yang setiap manusia di uji berdasarkan kadar keimanannya." Ujar Giska lalu mencium tangan ustazah Ummi Kulsum.

__ADS_1


Gadis ini kembali ke lapasnya dengan hati tenang. Walaupun banyak sekali ujian yang kita hadapi, tapi jika kita selalu dekat dengan Allah walaupun solusi belum kita dapatkan tapi ketenangan hati sudah kita raih.


__ADS_2