TOBATNYA GADIS ANGKUH

TOBATNYA GADIS ANGKUH
25. PART 25


__ADS_3

Nyonya Nunung menemui putrinya saat di pindahkan lagi ke kamar inapnya. Giska tersenyum melihat ibunya yang menangis haru melihat dirinya sudah berhasil melahirkan putranya.


"Bunda, akhirnya Giska bisa melahirkan dengan mudah, Giska sekarang sudah menjadi ibu yang sempurna, tapi Giska belum melihat bayi Giska bunda. Mereka belum membawanya pada Giska. Padahal Giska ingin segera menyusuinya." Ujar Giska yang belum mengetahui keadaan bayinya yang saat ini bermasalah.


"Sayang, bunda harap kamu sabar dan ikhlas menerima cobaan lagi dari Allah." Ujar Nyonya Nunung sambil membelai rambut panjang putrinya.


"Ada apa sebenarnya bunda, emang ada masalah dengan bayiku?" Tanya Giska dengan mengernyitkan dahinya menatap heran wajah ibunya yang terlihat sendu bukan bahagia karena ia sudah memberikan ibunya seorang cucu.


"Putramu berada di incubator, di ruang NIKU. Tubuhnya membiru dan ia harus menjalani operasi pencangkokan sumsum tulang belakang dan itu harus diambil dari ayah kandungnya Daffin.


Dokter akan melakukan operasi jika berat tubuh bayimu sudah normal dengan usianya sudah mencapai dua bulan." Ujar Nyonya Nunung kepada putrinya yang sedang termangu mendengar penuturannya.


Belum sempat Giska menjawab perkataan bundanya tentang kondisi anaknya, Daffin datang dengan membawa amarah yang membara. Ia tidak lagi memikirkan keadaan Giska pasca melahirkan yang belum sempat istirahat karena berjuang menyelamatkan sang putra tercinta.


"Apakah kamu sudah puas Giska? setelah menghukum putraku atas kesalahanku?" Tanya Daffin menatap lekat wajah Giska yang masih sangat pucat.


"Bukankah semua malapetaka ini bersumber padamu?" Bagaimana mungkin aku bisa menjalani kehamilanku dalam keadaan tenang, jika kamu terus membuat diriku tertekan?" Mentalku benar-benar hancur mendengar semua tuduhan yang tidak mendasar yang kamu alamatkan kapadaku.


Jika keadaan bayiku seperti itu, tanyakan hal itu pada dirimu sendiri. Dan orang yang harus disalahkan dalam hal ini adalah dirimu, Tuan Daffin yang terhormat!" Giska mendamprat balik tuduhan suaminya.


"Daffin, bisakah kalian bersikap dewasa sedikit menghadapi setiap masalah?" Tidakkah kau lihat putriku baru saja berjuang melawan maut dan kamu datang lagi dengan menghujat dirinya seakan dia yang paling bersalah atas kondisi bayimu saat ini." Nyonya Nunung ikut menyerang Daffin.


Seketika Daffin tertegun, merasa apa yang dikatakan mantan istrinya dan ibu mertuanya ini benar adanya. Giska tidak sepenuhnya salah, dia yang menyebabkan Giska harus menderita menjalani kehamilannya.


"Di saat aku hamil, kamu menuduhku berzina dan tidak mengakui bayiku adalah putra kandungmu dan setelah kebenaran atas dirimu terungkap, kamu menyesali dirimu dan berusaha ingin mendapatkan maaf dariku.


Dan sekarang ketika putramu sudah lahir kamu mengabaikan perasaanku dan juga kondisi tubuhku yang baru saja melahirkan putramu dengan penuh perjuangan. Kamu datang menghakiminya diriku atas kesalahanku yang membuatnya menderita.


Tanyakan dirimu sendiri, siapa yang menyebabkan bayimu lahir dalam kondisi yang sangat memprihatikan. Kamu bahkan tidak memberikan aku selamat karena telah melahirkan putramu, sekedarnya untuk menyenangkan hatiku. Kamu lebih peduli dengan dirimu sendiri dari pada memikirkan perasaanku dan juga bundaku yang sudah tiga bulan berada di sini menemani diriku." Ucap Giska sarkas kepada mantan suaminya itu.

__ADS_1


Dengan langkah seribu, Daffin meninggalkan lagi kamar inap Giska. Berjalan melewati setiap koridor rumah sakit dengan hati yang sangat gusar. Ia kembali ke mansionnya dan masuk ruang olahraga miliknya.


Di rumah sakit, Giska pun juga menyesal atas perbuatannya. Keegoisannya telah menyakiti bayinya yang dikandung selama sembilan bulan lebih. Bayi mungil itu harus berjuang keras untuk bertahan hidup di dalam tabung incubator dengan beberapa alat medis untuk membantunya bertahan.


"Sayang!" Maafkan mami sudah membuatmu sengsara." hiks..!" Ucap Giska saat melihat bayinya, yang hanya mengenakan pampers tanpa baju ataupun selimut yang menutupi tubuh mungil itu.


Maaf nona Giska!" Jika anda ingin memberikan ASI pada bayimu, silahkan menggunakan alat memompa ASI dan masukkan ke botol untuk diminum putramu nanti!" Ucap suster Yuni.


"Apakah aku tidak bisa menyusuinya secara langsung suster?" Giska makin merasa bersalah tidak bisa memeluk putranya apa lagi menyusuinya secara langsung.


"Bayinya tidak boleh terkena udara luar, karena tubuhnya masih rentan. Ia harus tetap dirawat di dalam tabung inkubator sampai dokter menyatakan bayinya sudah siap dibawa pulang." Suster Yuni menjelaskan kondisi bayinya Giska kepada Giska dan kedua orangtuanya yang saat ini ikut melihat cucu mereka yang ada di tabung incubator di ruang NIKU tersebut.


"Biasanya butuh berapa lama suster bayi bisa keluar dari incubator?" Tanya Nyonya Nunung.


"Tergantung kondisi bayinya jika si baby banyak mengkonsumsi ASI dari ibunya, bayinya bisa dibawa pulang, tapi mengingat keadaan bayinya harus menjalani operasi pencangkokan sumsum tulang belakang, maka kepulangannya ditunda untuk sementara waktu." Ucap suster Yuni.


"Ya Allah, harusnya aku pulang sambil menggendong bayiku, tapi aku hanya pulang sendiri tanpanya. Bunda, Giska sangat menyesal karena Giska tidak pernah mendengarkan perkataan bunda....hiks...hiks!" Ucap Giska.


"Penyesalan memang selalu datang terlambat sayang, ketika amarah lebih dominan mengusai pikiran dan hati, biasanya orang tidak peduli pada hidupnya, apa lagi pada orang disekelilingnya." Ucap Nyonya Nunung yang sudah pasrah pada keadaan.


"Di tengah ujian seperti ini, lebih baik banyak berdzikir sayang walaupun kamu masih dalam keadaan nifas." Lanjut ibunya.


"Iya bunda, Giska akan ingat selalu nasehat bunda, Giska nggak mau keras kepala lagi." Ucap Giska yang sudah berjanji pada dirinya sendiri demi putranya.


Hanya Giska yang diperbolehkan pulang ke mansionnya, sedangkan putranya masih tetap bertahan di rumah sakit hingga tubuhnya pulih.


Orangtuanya Daffin yang baru datang dari Solo, menemui putranya terlebih dahulu sebelum mereka membesuk Giska dan cucu mereka. Daffin yang duduk di sudut sofa, terlihat tertunduk sedih dengan wajah sembab karena terlalu banyak menangis.


Daffin menceritakan keadaan bayinya yang saat ini sedang dirawat di ruang NIKU kepada kedua orangtuanya. Kyai Azzam dan nyonya Ummi sangat terpukul mendengar kabar buruk ini dari putranya Daffin.

__ADS_1


"Menyesali perbuatan kamu dan Giska, tidak ada gunanya Daffin. Yang harus kamu lakukan saat ini adalah untuk memulihkan putramu dengan mengikuti saran dokter. Hanya itu satu-satunya cara untuk menolong bayi malang itu, korban dari keegoisan kalian berdua." Kyai Azzam menasehati putranya Daffin agar tidak terlalu terpuruk dengan keadaan yang ada, tanpa ingin menghakimi kesalahan kedua putranya.


"Daffin, setiap perkataan orang tua itu di dengarkan, karena orangtua itu lebih berpengalaman dalam mengatasi segala permasalahan. Hidup kita akan lebih tenang jika mau mendengarkan orang lain, apa lagi untuk tujuan mulia. Giska tidak bersalah dalam hal ini, karena dia adalah korbanmu juga." Rupanya ummi Alya tidak sebijak suaminya karena begitu geram dengan sikap putranya yang sulit dinasehati olehnya saat itu.


"Dengar Daffin, Rosulullah pernah berada di posisimu, pernah ada rasa cemburunya pada ibunda Aisyah yang saat itu ketinggalan rombongan karena tertidur ketika melakukan safar.


Ketika menyadari istrinya Aisyah tidak berada di rombongan mereka, akhirnya dicari oleh semua sahabat. Rupanya ibunda Aisyah tertinggal bersama seorang sahabat Rosulullah. Sejak saat itu ada rasa curiga pada istrinya dan ia juga memulangkan istrinya Aisyah ke orangtuamu Abu bakar Siddiq.


Tubuh ibunda Aisyah sampai kurus karena terlalu memikirkan kondisinya karena suaminya yang tidak mempercayainya, apa lagi, gosip di Madinah makin digencarkan oleh orang-orang munafik yang menyudutkan ibunda Aisyah yang dianggap berselingkuh saat itu.


Ibunda Aisyah hanya bisa menangis dan pasrah serta tetap berharap pertolongan Allah datang padanya. Tapi saat itu, Allah tidak langsung menegur Rosulullah, Allah memberikan kesempatan kepada Rosulullah untuk berpikir.


Hari itu, Rosulullah mendatangi Aisyah, sedangkan Abu Bakar dan istrinya yaitu para mertua Rasulullah berada di dekatnya. Saat itu, wahyu dari Allah SWT belum jua turun. Sehingga, Rasulullah meminta klarifikasi dari istrinya itu.


Aisyah menegaskan dengan suara yang teramat sedih, dirinya telah difitnah berselingkuh.


Karena tidak ada solusi akhirnya Allah SWT menurunkan ayatnya untuk membela langsung ibu Aisyah melalui malaikat Jibril.


Lalu," kata Aisyah menuturkan, "aku kembali ke kamar dan berbaring di pembaringan. Demi Allah, Rasulullah belum meninggalkan tempat duduknya, dan belum keluar seorang pun dari dalam rumah ini.


"Akhirnya, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi SAW. Aku mengetahui ini karena tampak tubuh beliau bergetar. Begitulah keadaan beliau ketika menerima wahyu.


Setelah selesai menerima wahyu perkataan pertama yang diucapkan beliau adalah," Bergembiralah wahai Aisyah! Allah telah menyatakan kamu tidak bersalah!"


Maka ibuku segera menghampiriku dan berkata kepadaku, ‘Bangun dan hampirilah Rasulullah!’


Aku berkata." Demi Allah aku tidak mau menghampirinya. Aku hanya memuji Allah, sebab Dialah yang menurunkan pernyataan kesucianku.'"


Wahyu yang dimaksud adalah surah an-Nuur ayat 11-20. Inilah firman-Nya yang membebaskan Aisyah dari segala tuduhan dan fitnah keji.

__ADS_1


__ADS_2