TOBATNYA GADIS ANGKUH

TOBATNYA GADIS ANGKUH
23. PART 23


__ADS_3

Mendengar perkataan Daffin, Giska begitu syok. Ia baru menyadari kesalahannya yang terlalu mementingkan perasaannya. Hatinya sangat sakit mendengar Daffin baru mau bertemu dengannya dan meminta maaf kepadanya.


"Jika kamu ingin menghukumku, tunggu bayi kita lahir dan aku dengan rela menerima segala bentuk hukuman yang akan kamu berikan kepadaku." Ucap Daffin dengan tangis tertahan.


"Bayi kita?" Sekarang kamu baru mengakui anak ini adalah bayimu? setelah apa yang kamu lakukan padaku? bahkan menghina anak ini hasil dari hubungan zina.


Bre**sek!" Saat hatiku sudah terkoyak begitu dalam dan berdarah, kamu baru datang untuk memohon dengan segala drama melo yang kamu suguhkan kepadaku, apakah tidak salah?" Gumam Giska dalam hati.


"Giska bicaralah kepadaku!" Katakan sesuatu!" Setidaknya yang membuat hatimu sangat lega. Daffin masih memaksa Giska untuk mengatakan apa saja agar gadis ini tidak memendam terus rasa kecewanya kepada dirinya.


"Apa yang harus aku katakan!" Marah atau memaafkanmu?" Kau yang terlalu menantangku, hingga hatiku sudah beku dan sekarang baru kamu repot ingin mencairkannya." Giska tetap membatin.


"Giska apakah aku boleh menyentuh perutmu sayang?" Aku ingin merasakan gerakan bayi kita." Pinta Daffin.


Giska membalikkan tubuhnya dengan posisi telentang, ia menatap wajah mantan suaminya dengan mata nyalang. Menatap wajah lelaki yang telah menghinanya habis-habisan. Menatap wajah lelaki yang telah menolak permohonannya untuk tidak menceraikan dirinya saat berada di ruang pengadilan sidang perceraian.


"Keluar!" Kau bukan muhrimku lagi, kau hanya mantan suami." Giska mengusir Daffin dari kamar inapnya.


"Kita masih bisa rujuk sayang, karena kamu masih dalam masa Iddah, masih dalam masa menunggu. Kita bisa mulai dari awal lagi, kita lupakan semua ini dan membina lagi rumah tangga kita dan menunggu kelahiran putra pertama kita sayang." Ucap Daffin berapi-api.


"Bukankah aku yang lebih dulu memohon padamu? Merengek padamu seperti perempuan hina yang perlu dikasihani olehmu? Di mana hati nuranimu saat itu? Di mana rasa pedulimu dengan wanita hamil yang bersikeras bersumpah agar kamu mempercayai dan yakin pada diriku bukan pada hasil medis itu?"


Di mana kamu saat aku dalam keadaan tertekan dan tidak ingin makan hingga aku drop hanya untuk meminta empati darimu?" Giska membalas semua perkataan Daffin yang barusan mengemis padanya.


"Giska, aku mohon sayang, maafkan aku karena terlalu percaya hasil medis itu disaat yang sama, kamu dinyatakan hamil oleh dokter dan itu terhitung dengan peristiwa penculikan dirimu yang dilakukan oleh Reza.


Saat itu aku sedang kecewa dengan hasil laporan medis tentang kesuburanku dan terbakar amarah karena kecemburuanku pada Reza yang mungkin sudah menidurimu." Ucap Daffin secara gamblang membuat Giska makin murka atas pengakuan mantan suaminya ini.


"Keluar!... keluarrrr!" Teriak Giska histeris sambil menunjukkan jarinya ke arah pintu agar mantan suaminya ini, pergi dari kamar inapnya.


"Giska, maafkan atas ucapanku! aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi aku hanya ingin memberikan penjelasan tentang perasaanku saat itu." Daffin ingin meralat perkataannya yang membuat Giska makin sakit hati.


"Tidak!!!"


"Aku minta kamu keluar dari kamarku atau aku akan mencabut jarum infus ini dari tanganku!" Giska mengancam dengan mata menyalang.


Daffin kelabakan, ia bingung harus pergi atau bertahan. Giska sudah siap-siap dengan ancamannya. Daffin begitu ngeri melihatnya, ia pun akhirnya meninggalkan kamar Giska dengan wajah panik.


"I-iya sayang, aku akan pergi!" Ucap Daffin langsung berlari keluar seperti maling.


"Dasar pecundang!" Umpat Giska.


"Ada apa sayang?" Tanya Nyonya Nunung yang baru balik dari mesjid usai sholat Dhuha.


"Daffin bren**sek bunda! Dia mengungkit kembali hal yang ingin Giska lupakan." Ucap Giska kembali menangis.


"Sekarang Daffinnya ke mana?" Tanya Nyonya Nunung sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Giska sudah mengusirnya bunda. Makin dia banyak ngomong makin membuat Giska kesal." Ungkap Giska lalu memeluk bundanya.

__ADS_1


"Sayang, kadang laki-laki memiliki perasaan tegas saat ia ingin menyampaikan sesuatu apa yang ia rasakan. Ia tidak menggunakan intuisinya saat bicara karena lebih mengandalkan logikanya walaupun di pendengaran kita sangat tidak sopan karena perbedaan otak laki-laki dan perempuan itu tidak sama." Ucap Nyonya Nunung dalam memberikan pendapatnya sesuai dengan ilmu yang dimilikinya.


"Maksud bunda apa?"


"Otak pria lebih besar daripada otak perempuan. Tapi itu tidak berarti, bahwa otak pria berfungsi lebih baik, lebih cepat atau bisa melakukan sesuatu dengan lebih baik.


Tapi sebuah studi dari tahun 2013 menunjukkan penyimpangan lain lagi. Menurut studi itu, pertukaran informasi antara kedua belahan otak lebih banyak pada perempuan dibanding pada pria. Tapi pada pria, hubungan di dalam satu belahan lebih baik dibanding pada perempuan." Nyonya Nunung menjelaskan berdasarkan penelitian since yang pernah ia pelajari saat masih duduk di bangku kuliah.


"Ko bunda belain dia sih, bukan putri sendiri." Giska mulai ngambek lagi.


"Sayang bunda tidak membelanya, bunda hanya ingin kamu mengerti cara pandang kita sebagai wanita yang lebih mengandalkan verbal daripada logika." Ujar Nyonya Nunung.


"Tapi saat ini, Giska butuh dukungan bunda, bukan penjelasan." Giska mulai merajuk lagi membuat nyonya Nunung bingung dalam memberikan pendapatnya sebagai seorang ibu.


"Aku mau makan bunda, Giska lapar," ucap Giska membuat nyonya Nunung tersentak.


"Kamu mau makan sayang? mau makan apa sayang? biar bunda pesan." Ucap Nyonya Nunung sangat bahagia, putrinya yang baru habis berantem dengan mantan suaminya malah mau makan.


"Giska mau makan nasi Padang."


"Ok, sayang tunggu ya! Bunda pesan lewat go food dulu." Nyonya Nunung langsung memesan menu makanan nasi Padang melalui go food, biar lebih cepat diantar ke kamar inap rumah sakitnya.


Hanya butuh sepuluh menit menunggu, pesanan nyonya Nunung sudah datang dan menunggu di depan pintu kamar inap putrinya.


Nyonya Nunung langsung menghampiri Abang go food lalu mengambil pesanannya dan tidak lupa memberikan tips untuk Abang go food tersebut.


Giska bangun dan duduk untuk menerima suapan dari bundanya. Kekesalannya pada Daffin membuatnya lebih terasa lapar saat ini.


Nyonya Nunung sangat bahagia melihat Giska makan dengan lahap.


"Pintar anak bunda." Puji bunda Nunung.


Rupanya Daffin belum benar-benar pergi dari rumah sakit. Ia berjalan mengendap dan mengintip lewat kaca pintu kamar inap VVIP milik Giska.


Daffin tersenyum senang melihat Giska sudah mulai makan.


"Makan yang banyak sayang!" Supaya kamu punya kekuatan untuk memarahiku." Ucap Daffin lalu meninggalkan kamar inap Giska untuk kembali lagi ke mansionnya.


Giska benar-benar menghabiskan makanannya. Nyonya Nunung menarik nafas lega dan mengucapkan banyak syukur dalam hatinya karena putrinya telah menemukan jalan pulang kembali ke dunia nyata.


Satu jam berlalu, tubuh Giska kembali kuat setelah makan nasi Padang kesukaannya.


Iapun mulai memegang lagi ponselnya dan membaca beberapa macam artikel yang menyangkut ibu hamil dan menyusui.


Dari hari ke hari Giska sedang memperbaiki nilai gizinya agar anaknya terlihat sehat jika sudah lahir nanti.


Giska memakan cemilan sambil fokus membaca buku-buku mengenai ibu hamil dan terkadang membaca Alquran kalau kesedihannya mulai kembali menyapa dirinya ketika mengenang hal buruk yang terjadi dalam pernikahannya yang tragis.


Nyonya Nunung yang melihat semangat putrinya tetap memberikan motivasi kepada Giska agar tidak mudah menyerah dalam hidup.

__ADS_1


"Sayang, boleh bunda bicara denganmu tentang kehidupan?" Nyonya Nunung berkata dengan lembut dan juga sangat hati-hati karena kondisi Giska yang sangat riskan dengan ucapan.


"Silahkan bunda!" Ucap Giska lalu menutup buku yang dibacanya.


Nyonya Nunung duduk di samping putrinya lalu bercerita tentang kerasnya kehidupan yang harus dijalani manusia.


"Sayang, Allah telah menciptakan manusia dan jin untuk beribadah kepadaNya. Mengapa Allah meminta kita beribadah kepadaNya, karena Allah selalu memberikan ujian pada hambaNya dengan berbagai macam cara yang akan dilalui oleh manusia itu sendiri.


Ada yang melalui sakit berkepanjangan, meninggalnya semua anaknya bahkan kemiskinan yang menghimpit hidupnya dan di tambah lagi dijauhkan semua orang darinya entah sahabat, teman maupun kerabat dekat.


Tapi walaupun ujian yang datang padanya bertubi-tubi, namun ia pasrah dengan tetap melakukan ibadah kepada Allah, hingga ia tidak menginginkan lagi dunia kecuali lezatnya bermunajat kepada kekasihnya Allah SWT.


Ia yakin jika yang ia jalani saat ini pasti Allah sedang menguji imannya apakah hambaNya ini pantas mendapatkan hadiah dariNya atau tidak.


Ketika kepasrahannya mulai mencapai puncak keterbatasan pada imannya sebagai hamba yang lemah, di saat itulah peran Allah datang menolongnya karena ujian untuk hambaNya itu sudah berakhir.


Allah angkat derajatnya dengan memberikannya kesembuhan penyakitnya bahkan ia dia buat muda lagi usianya juga istrinya dengan air yang keluar dari bawah kakinya.


Setiap orang datang mengunjunginya ketika mendengar dirinya sembuh dengan membawa banyak harta mereka untuk dihadiahkan kepadanya.


Dalam sekejap ia kembali kaya raya.


Setiap tahun istrinya melahirkan anaknya melahirkan anak kembar. Yang tadinya 12 anaknya meninggal semua dalam satu waktu tiba-tiba menjadi 24 orang anak dalam waktu 12 tahun.


Dia itu adalah nabi Ayub. Nabi yang sangat terkenal dengan kesabarannya dalam menghadapi segala ujian yang Allah timpakan kepadanya tanpa membuat dirinya terhina karena keimanannya.


Di sini bunda hanya ingin Giska memikirkan bagaimana Allah menjadikan seorang figur nabi Ayub yang patut kita contoh dalam menerima ujian Allah yang awalnya sangat menyakitkan baginya.


Jika nabi Ayub bisa menerima setiap ujian yang diberikan Allah kepadanya dengan imannya.


Mengapa kita sebagai umat Rosulullah yang sudah Rosulullah ajarkan dalam menyelesaikan semua konflik yang terjadi dalam hidup kita tidak kita ikuti?" Ucap Nyonya Nunung mengakhiri ceritanya pada putrinya mengenai nabi Ayub.


"Maksudnya ummi solusi yang diajarkan oleh Rasulullah itu adalah sabar dan sholat?" Giska menegaskan nasehat bundanya pada dirinya.


"Iya sayang."


"Bukankah Allah itu maha adil? menempatkan semuanya sesuai porsi keimanan seseorang. Jika ingin hidup, kamu harus siap diuji karena tidak ada satu manusia pun yang akan luput dari kata ujian, tidak dilihat dari mana dan bagaimana dia dilahirkan di bumi ini, entah dia kaya, miskin, rupawan atau buruk rupa, semua akan menjalani ujian itu, kalau tidak mau diuji, pilihannya hanya satu yaitu kematian.


Tapi ujian itu bukan suatu bentuk hukuman untukmu, tapi lebih tepatnya, Allah ingin menempa dirimu apakah engkau layak menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Di bab ini, tidak semua manusia lulus untuk mencapai tingkat keberhasilan, kadang manusia cenderung melarikan diri mereka pada hal-hal yang tidak dapat termaafkan, bunuh diri adalah contoh kongkritnya.


Dosa yang paling besar yang di alami oleh manusia adalah putus asa atas rahmat Allah. Dosa yang tidak bisa diampuni oleh Allah." Lanjut Nyonya Nunung memberikan siraman rohani untuk mengokohkan iman Giska yang sempat turun karena terlalu fokus pada masalah yang dihadapinya saat ini.


"Terimakasih bunda atas nasehatnya, insya Allah, Giska akan lebih sabar menyikapi setiap ujian yang datang kepada Giska. Maafkan Giska ummi." Ujar Giska seraya menyenderkan kepalanya ke dada ibunya.


"Kamu tidak salah sayang, hanya saja kamu sedang diuji dengan demikian dashyatnya." Ucap Nyonya Nunung.


"Kamu mau makan lagi?" Tanya bunda Nunung.


Giska mengangguk dan Nyonya Nunung memberikan roti yang dibelinya tadi di kantin untuk putrinya.

__ADS_1


__ADS_2