
Mendengar kabar kalau keadaan Giska sudah semakin membaik, kedua adik Daffin meminta ijin ke orangtuanya untuk mengunjungi Giska di rumah sakit Jakarta.
"Ummi, boleh nggak besok kami ke Jakarta. Kami ingin sekali bertemu dengan mbak Giska." Pinta Mariam kepada ummi Alya saat sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Silahkan sayang, tapi hati-hati, jaga mulut kalian saat sedang bicara dengan Giska. Keadaan fisiknya yang sudah membaik tapi bukan mentalnya karena gadisku lebih cepat drop jika menyangkut hal mengenai peristiwa yang menyakitkan hatinya yang dilakukan oleh Daffin padanya." Ucap ummi Aliya menasehati kedua putrinya.
"Insya Allah ummi, kami tidak akan menyinggung hal itu, yang menyakitkan hatinya mbak Giska." Ujar Asia.
"Alhamdulillah, baiklah kalau begitu besok kalian naik kereta eksekutif saja supaya cepat sampai di Jakarta." Ujar ummi Alya.
Keduanya sangat senang lalu berkemas dan membeli beberapa oleh-oleh kesukaan kakak ipar mereka, Giska.
Setibanya di Jakarta keduanya langsung ke rumah sakit menggunakan taksi tanpa mampir dulu ke rumah masnya Daffin.
"Kira-kira, mbak Giska terima kita nggak ya?" Tanya Mariam yang mulai ragu pada kunjungan mereka ke rumah sakit hari ini.
"Jangan berprasangka buruk dulu, sebelum bertemu dengan orangnya. Lagian kita nggak ada sangkut pautnya dengan masalah yang dibuat oleh mas Daffin pada mbak Giska. Jadi dia tidak punya alasan untuk membenci kita apa lagi menolak kita membesuknya di rumah sakit." Timpal Asia.
Setibanya di rumah sakit, mereka mencari kamar inap VVIP milik Giska.
"Benarkah ini kamarnya?" Tanya Mariam yang menyesuaikan nomor kamar yang diberikan Umminya pada mereka.
"Benar Mariam, ayo masuk!" Titah Asia yang sudah siap-siap membuka pintu kamar inap Giska.
"Assalamualaikum!" Sapa keduanya bersamaan.
Giska menengok ke arah pintu, wajahnya langsung sumringah namun sedetik kemudian mulai mewek.
"Waalaikumuslam!" Ucap Nyonya Nunung menyambut tamunya pagi itu.
Keduanya menyalami Nyonya Nunung lalu menghampiri Giska dan memeluk tubuh gadis itu dan ikut menangis di sana.
"Mbak Giska, kami sangat kangen sama mbak Giska." Ujar Mariam sambil terisak.
"Aku juga kangen sama kalian." Ujar Giska.
"Kami senang melihat mbak Giska sudah sehat." Ucap Asia lalu mengusap perut Giska.
Dari dalam rahim Giska ada respon berupa tendangan untuk menyambut kedua tantenya yang datang membesuk ibunya.
"Ya Allah, Mariam babynya menendang tanganku." Ucap Asia yang sangat terkesiap mendapatkan respon dari calon ponakan mereka.
"Benarkah?" Mariam ikut mengusap perut Giska dan mendapatkan respon yang sama yang dirasakan oleh Asia.
"Babynya sangat aktif ya mbak Giska?" Tanya Mariam.
"Iya, mungkin dia juga kangen dengan dua tantenya yang sangat cantik ini," ujar Giska lalu mereka terkekeh.
Kedatangan kedua adik iparnya Giska, menambah keceriaan Giska pagi itu.
Asia mengeluarkan nasi kuning yang dibawanya dari solo yang biasa dimakan oleh Giska ketika berada di Solo.
Ketiganya makan bersama kecuali nyonya Nunung yang saat ini sedang melakukan puasa Daud.
"Bagaimana keadaan para santri dan santriwati?" Tanya Giska.
"Tiap saat, hanya namamu yang ada di kepala mereka. Mereka menanyakan banyak hal tentangmu sampai capek jawabnya" Ucap Asia.
"Aku juga kangen sama mereka. Aku ingin bertemu lagi sama mereka." Ujar Giska.
"Tapi, tiga angkatan saat kamu datang sudah lulus SMA. Sekarang yang ada hanya tingkat SMP yang melanjutkan lagi di pesantren kita." Ujar Mariam.
"Tapi, kalian masih melakukan apa yang aku pintakan?" Tanya Giska.
__ADS_1
"Tidak usah kuatir, amanah darimu tetap kami jalani mbak Giska." Ucap Asia.
Setelah mengobrol panjang lebar, keduanya pamit pulang ke mansion Daffin untuk melepaskan lelah dan berjanji akan datang lagi mengunjungi Giska.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Kesehatan Giska sudah makin hari makin meningkat, sejak ia mulai rajin mengkonsumsi makanan bergizi. Karena kandungannya saat ini hanya menunggu hitungan hari saja, dokter meminta Giska untuk tetap bertahan di rumah sakit agar gadis ini tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit.
Keluarganya pun setuju agar ibu hamil ini mau menerima sarannya dokter. Walaupun Giska berada di rumah sakit, ia di perbolehkan untuk jalan-jalan disekitar taman rumah sakit.
Dokter juga menyarankan Giska agar setiap pagi berolahraga dengan banyak berjalan kaki. Pagi itu selepas sholat subuh, Giska sedang berjalan-jalan di temani ibunya. Ia menikmati udara segar yang selama ini jarang ia hirup karena hanya selang oksigen yang menjadi penyalur udara dalam paru-parunya.
"Apakah dulu bunda melakukan seperti ini juga ketika sedang hamil Giska?" Tanya Giska sambil menggandeng tangan ibunya.
"Tentu Giska, bedanya dulu ayahmu yang rajin menemani bunda jalan pagi, tapi sekarang bunda yang menemani kamu jalan pagi." Ujar Nyonya Nunung.
"Jadi bunda keberatan nih, temanin Giska jalan pagi?" Giska mencebikkan pipinya.
"Nggak mungkin lah, bunda merasa keberatan temanin putri cantik bunda ini yang ingin jalan pagi." Ucap Nyonya Nunung lalu mengecup pipi putrinya.
Kebetulan hari itu hari libur, Daffin yang ingin membesuk Giska dengan membawa makanan kesukaan Giska. Ia melihat wanitanya sedang berjalan di bawah rimbunan pohon Cemara yang berada di sepanjang jalan masuk ke rumah sakit.
Pagi itu, Giska terlihat sangat cantik, gadis ini menggunakan hijab biru dengan dress lebar khusus untuk ibu hamil. Giska tertawa lepas ketika mendengar hal lucu yang diceritakan oleh ibunya.
Melihat adegan ibu dan anak itu, Daffin mengambil ponselnya dan merekam momen bahagia itu pada ibu mertuanya dan mantan istrinya Giska.
"Giska sayang, aku sangat merindukan tawa renyah yang biasanya kamu perdengarkan tiap kali bicara lucu denganku. Tapi semua itu menjadi hal terlarang bagiku karena kebodohan yang aku ciptakan sendiri." Gumam Daffin sambil terus merekam Giska dan ibunya yang sedang berjalan-jalan pagi itu.
"Aduh..aduh bunda, perut Giska sakit!" Giska merintih sambil memegang perutnya.
"Ya Allah sayang, apakah kamu tidak bisa berjalan lagi?" Tanya Nyonya Nunung panik karena mereka sangat jauh dengan gedung rumah sakit.
Daffin yang melihat istrinya tertunduk dengan dengan memegang tangan nyonya Nunung, membuat ia spontan berlari menghampiri istrinya.
"Giska!" Daffin langsung menggendong tubuh istrinya membawanya ke gedung rumah sakit yang lumayan jauh.
Nyonya Nunung hanya diam saja, sambil berlari kecil mengikuti langkah kaki Daffin yang membawa putrinya ke kamar bersalin.
Dua suster yang melihat Daffin sedang membopong tubuh istrinya langsung mendorong brangkar agar tubuh Giska segera dibaringkan.
Dengan langkah cepat, brangkar itu didorong oleh keempat orang ini, menuju ruang bersalin.
"Di mohon untuk tunggu di luar Tuan, nyonya!" Pinta dua suster itu lalu menutup pintu kamar bersalinnya.
Didalam sana, Giska berjuang sendiri untuk melahirkan bayinya sendiri.
Nyonya Nunung menghubungi suaminya untuk segera datang karena putri mereka akan melahirkan. Begitu pula yang dilakukan oleh Daffin yang juga menghubungi keluarganya.
"Apakah dari tadi kamu sudah di sini Daffin?" Tanya Nyonya Nunung yang kaget melihat Daffin sudah bersama mereka.
"Iya bunda, aku tadi sengaja datang pagi ke rumah sakit untuk mengantarkan sarapan buat Giska dan juga makanan yang lainnya yang merupakan kesukaan Giska.
"Oh iya?" Jadi kamu sempat lihat kami jalan pagi?" Tanya Nyonya Nunung lagi.
"Begitulah Bunda, aku tadi sedang merekam kalian berdua, tapi tiba-tiba melihat Giska perutnya kontraksi, Daffin spontan berlari menghampiri Giska, walaupun Daffin tahu Giska akan mengamuk melihat Daffin." Ujar Daffin.
"Apakah kamu berencana rujuk dengan Giska Daffin?" Tanya Nyonya Nunung.
"Iya bunda, jika Giska memberikan kesempatan kedua untuk Daffin, sayangnya Giska tidak mau lagi rujuk dengan Daffin, apa lagi untuk memaafkan kesalahan Daffin yang sudah membuatnya sangat terluka," ucap Daffin dengan ekspresi wajah sedih.
"Tidak semudah itu Daffin, Giska bisa memaafkanmu, apalagi berpikir untuk rujuk kembali denganmu. Kamu tidak tahu, kalau Giska hampir mengakhiri hidupnya karena terlalu tertekan saat itu, saat kamu tidak mempercayainya sama sekali, ditambah lagi kamu langsung menceraikannya, walau dia sudah memohon padamu hingga mengemis dengan bersimbah air mata.
Sedikitpun hatimu tidak tersentuh, hingga ia lelah dan menyerah." Nyonya Nunung menuturkan apa yang dialami oleh putrinya pada menantu kurang ajar yang ada dihadapannya saat ini.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, tangis bayi terdengar sayup-sayup dari luar kamar bersalin. Nyonya Nunung dan Daffin tersenyum lega karena datangnya anggota keluarga baru dalam keluarga mereka.
"Alhamdulillah sayang, akhirnya kamu melahirkan juga." Ucapan syukur dari nyonya Nunung untuk putri tercinta.
Cek lek..
Dokter keluar untuk menemui keluarga pasien. Wajah dokter kelihatan sedih. Hal ini memicu pertanyaan Daffin dan nyonya Nunung yang heran melihat wajah dokter.
"Apakah ada masalah dengan proses kelahiran istri saya?" Tanya Daffin yang tidak sabaran menunggu dokter itu berbicara.
"Alhamdulillah, nona Giska melahirkan dengan selamat dan bayinya berjenis kelamin laki-laki. Tapi....?" Dokter Risna ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Tapi apa dokter, tolong katakan saja! walaupun itu adalah hal terburuk yang kami akan dengar dari anda." Ucap Daffin yang sudah pasrah.
"Maaf Tuan, Nyonya, bayi nona Giska harus berada di inkubator dan sekarang akan dibawa ke ruang NIKU karena bobot bayi dibawah dua kilogram dan juga mengalami kebiruan pada tubuhnya. Hal ini diakibatkan asupan makanan yang tidak didapatkan dari si ibu." Ucap dokter Risna.
"Apakah masih bisa diatasi dokter?" Tanya Daffin yang tidak ingin putranya mengalami masalah.
"Bisa Tuan, hanya saja kami butuh sum-sum tulang belakang anda untuk melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang anda pada bayi nona Giska." Ucap Dokter Risna.
"Ya Allah, apakah bayi sekecil itu harus melakukan hal yang sangat menyakitkan bagi tubuhnya?" Gumam Daffin dengan tubuhnya terhuyung ke belakang mendengar penuturan dokter tentang putranya.
Ia tidak menyangka, akibat dari perbuatannya, kini berimbas kepada putranya yang baru saja datang ke bumi ini dengan keadaan yang sengsara.
"Dokter, apakah tidak ada jalan lain, selain melakukan operasi itu?" Daffin bahkan takut menyebutkan namanya karena ini sangat kejam untuk bayinya.
"Tidak ada Tuan! hanya itu saja tindakan yang bisa menyelamatkan bayi anda." Ucap dokter Risna meyakinkan suami dari pasiennya.
"Kapan itu dilakukan dokter?" Tanya Nyonya Nunung sambil menangisi nasib cucunya.
"Kita tunggu kondisinya membaik dan berat tubuhnya normal." ujar dokter Risna.
"Kalau begitu, apakah boleh saya mengumandangkan adzan pada putra saya dokter?" Tanya Daffin yang ingin sekali melihat putranya.
"Bayinya ada di ruang NIKU, silahkan anda ke sana dan mengazankan putra anda! "Ucap dokter Risna yang memberi tahu Daffin di mana bayi dari pasien Giska saat ini berada.
Dengan langkah kaki gemetar, Daffin dan Nyonya Nunung menemui bayi malang itu sebelum menemui Giska yang masih dibersihkan oleh dua perawat yang membantunya pasca melahirkan.
Giska yang nampak heran ketika tidak melihat bayinya menanyakan keberadaan bayinya.
"Suster, saya belum melihat bayi saya. Apakah saya tidak boleh menemuinya?" tanya Giska yang ingin sekali melihat wajah bayinya.
"Maaf nona Giska, nanti saja bertemu dengan bayi anda karena bayi anda sedang berada di kamar khusus untuk para bayi." Ucap suster Ambar tanpa memberi keadaan sebenarnya kepada Giska.
"Sebaiknya anda makan yang banyak supaya bisa menyusui bayi anda nona Giska." Titah suster Andien yang sudah menyiapkan makanan lezat untuk Giska karena gadis ini baru mengeluarkan tenaganya pasca melahirkan bayinya.
Giska yang tidak tahu keadaan bayinya, hanya mengikuti saran para suster untuk dirinya. Ia lalu melahap makanannya.
Sementara di kamar bayi khususnya ruang NiKU, Bayi Giska sedang berada dalam kondisi kritis.
Daffin yang sudah mengumandangkan adzan pada bayinya terlihat sangat terpukul melihat tubuh mungil bayinya.
Apa lagi, wajah bayi itu sangat mirip dengan Daffin. Rasa bersalah pada putranya makin menyusup ke dalam jiwanya.
"Ya Allah!" Sembuhkan putra hamba ya Robb, jangan Engkau pisahkan kami. Aku ingin memperbaiki diriku untuk bisa memberikan bayiku banyak cinta dan kasih sayang." Doa tulus Daffin untuk putranya.
Nyonya Nunung mengusap pundak Daffin untuk memberikan kekuatan pada mantan suami putrinya itu.
"Sabar Daffin, insya Allah, kita akan berjuang sama-sama untuk mengobati putramu dengan kemampuan kita.
Kamu yang menjadi tumpuan hidupnya saat ini. Karena sumsum tulang belakangmu bisa menyelamatkan hidup putramu." Ucap Nyonya Nunung.
"Maafkan Daffin bunda, andai saja Daffin melalui semua proses kehamilan Giska dengan banyak bersabar dan sambil menyelidiki kebenaran laporan medis itu, mungkin Daffin tidak akan merasakan penyesalan seperti ini bunda." Ucap Daffin pada ibu mertuanya.
__ADS_1
"Sekuat apapun kamu menyesali perbuatanmu, semuanya tidak akan kembali sempurna Daffin.
Tugasmu adalah memperbaiki diri sendiri dan berdoa kepada Allah agar mendapatkan petunjuk dan kebahagiaan yang bisa kamu dan Giska meraih kembali apa yang pernah hilang selama kehamilan Giska yang kamu berikan dirinya hanya air mata dan sakit hati." Ucap Nyonya Nunung.