TOBATNYA GADIS ANGKUH

TOBATNYA GADIS ANGKUH
26. PART 26


__ADS_3

Setiap hari Giska mengantarkan ASI-nya untuk putranya agar kondisi putranya cepat pulih dan bayinya bisa menjalani operasi pencangkokan sumsum tulang belakang dari mantan suaminya Daffin.


Giska memberikan nama putranya dengan nama Rangga. Wajah baby Rangga lebih cenderung mirip dengan ayahnya Daffin. Hal ini seakan membuktikan bahwa keraguan Daffin pada anak yang dikandung Giska terjawab sudah pada wajah putra mereka Rangga.


Walaupun Daffin sendiri terlambat menyadarinya kesalahannya, namun terlepas dari itu semua,


dia sangat mencintai putranya dan tidak sabar untuk cepat melakukan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang untuk putranya.


Daffin menemui dokter yang bertanggungjawab atas kasus penyakit pada putranya. Ia yang tidak tega melihat putranya masih berada di ruang NIKU, walaupun sudah hampir satu tahun lamanya berada di rumah sakit tersebut.


"Dokter!" Apakah kita tidak bisa mempercepat operasi itu dokter?" Tanya Daffin kepada dokter Bili.


"Kami akan mempelajari dulu kasusnya, serta memantau terus perkembangan tubuhnya, apakah bayinya sudah cukup kuat untuk menjalani operasi pencangkokan sumsum tulang belakang anda.


"Sekarang apa yang mesti saya lakukan untuk memudahkan jalannya operasi nanti?" Tanya Daffin.


"Cukup menjaga kebugaran tubuh anda dan banyaklah berdoa karena pasien saya ini masih bayi." Ujar dokter Bili memberikan saran.


"Baiklah dokter! kalau begitu saya permisi." Ucap Daffin.


"Tuan Daffin, sebaiknya anda dan nona Giska segera rujuk, ini demi kebaikan baby anda. Kalian harus lebih banyak berdiskusi karena itu lebih banyak membantu pemulihan bayi anda." Ujar dokter Bili ketika Daffin hendak membuka pintu ruang prakteknya.


Daffin hanya mengangguk hormat lalu meneruskan langkahnya.


"Apa yang harus ku ucapkan kepada gadis keras kepala itu, berulangkali aku sudah memohon maaf padanya, tapi sedikitpun gadis itu tidak bergeming." Daffin bermonolog.


Awalnya ia ingin langsung pulang ke mansionnya, namun ia malah mendatangi mansion mertuanya.


"Terserah, apa yang akan dia lakukan kepadaku, tapi aku tetap ingin berjuang untuk mendapatkan kembali cintanya. Giska... tahukah kamu, bahwa saat ini aku sangat merindukanmu lebih dari yang kau tahu." Mobil Daffin berhenti di depan rumah mertuanya.


Daffin turun dari mobilnya untuk menemui mantan istrinya itu.


"Assalamualaikum bibi Ani!" Sapa Daffin ketika pelayannya Giska yang membuka pintu untuknya.


"Waalaikumuslam Tuan Daffin. Silahkan masuk!" Bibi Ani mempersilahkan tamu majikannya itu duduk di ruang tamu.


"Maaf Tuan Daffin kebetulan Tuan dan Nyonya tidak ada di rumah karena ada urusan, yang ada hanya nona Giska" Ucap bibi Ani.


"Apakah Giska ada di kamarnya bibi Ani?" Tanya Daffin.


"Iya Tuan!"


"Boleh aku bertemu dengannya di kamar?"


Bibi Ani merasa ragu, tapi ia juga kasihan pada Tuan Daffin yang hampir saban hari mendatangi nona Giska tapi gadis itu menolak untuk bertemu, apa lagi untuk bisa rujuk.


"Silahkan Tuan Daffin!" Bibi Ani akhirnya mengalah dan membiarkan Daffin menemui Giska di kamarnya.


"Tolong jangan memberi tahukan dia bibi Ani! karena aku ingin langsung menemui Giska untuk membahas perkembangan kesehatan putra kami." Daffin melewati beberapa anak tangga menuju kamar tidur Giska.


Di kamar, Giska sedang duduk di balkon kamarnya, jadi ia tidak mendengar kedatangan Daffin karena memakai handsetnya.


Daffin berjalan dengan sangat perlahan karena ingin tahu apa yang sedang dilakukan Giska saat ini.


Giska sedang mendengarkan lagu dari ponselnya sambil memejamkan matanya. Rupanya gadis itu mendengarkan lagu itu sambil menangis.


Lagu yang di dengar Giska sangat menyayat hati, hingga membuatnya menangis tersedu.

__ADS_1


Lirik lagu yang di dengarnya berjudul "Simfoni Hitam"


Malam sunyi ku impikanmu


Ku lukiskan kita bersama


Namun selalu aku bertanya


Adakah aku di mimpimu


Di hatiku terukir namamu


Cinta rindu beradu satu


Namun selalu aku bertanya


Adakah aku di hatimu


Telah ku nyanyikan alunan-alunan senduku


Telah ku bisikkan cerita-cerita gelapku


T'lah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku


Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu


Bila saja kau di sisiku


Kan ku beri kau segalanya


Namun tak henti aku bertanya


Telah ku nyanyikan alunan-alunan senduku


Telah ku bisikkan cerita-cerita gelapku


Telah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku


Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu


Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku


Dengar simfoniku


Simfoni hanya untukmu...


Telah ku nyanyikan alunan-alunan senduku


Telah ku bisikkan cerita-cerita gelapku


Telah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku


Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu


Telah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku


Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu.

__ADS_1


Lagu itu menggambarkan perasaannya saat ini, perasaan yang telah terkoyak oleh penolakan Daffin atas dirinya, yang dulu selalu memohon agar suaminya itu percaya akan kesucian cintanya yang tidak pernah terjamah oleh siapapun.


Seketika Daffin memeluk tubuh Giska, meluapkan rasa penyesalannya.


"Giska aku mohon maafkan aku sayang!" Tolong jangan menolakku lagi, aku tidak sanggup hidup terpisah denganmu, jika kamu masih menolakku setidaknya lakukan demi bayi kita yang saat ini sedang berjuang untuk bertahan hidup." Ucap Daffin yang masih memeluk Giska dengan sangat erat sambil menangis.


Mendapatkan serangan tiba-tiba dari Daffin, ketika dalam keadaan santai, membuat Giska tidak bisa berkutik apa lagi untuk berontak melepaskan diri dari pelukan Daffin hingga membuat ponselnya terputus dari handsetnya.


Lagu itu akhirnya di dengar juga oleh Daffin. Lagu milik Sherina Munaf ini, yang membuat mantan istrinya ini sangat meresapi setiap bait dari lagu itu.


"Lepaskan aku Daffin! aku tidak bisa bernafas!" Pinta Giska.


Daffin akhirnya melepaskan pelukannya pada Giska. Ia lalu berdiri dan membiarkan Giska membenahi ponselnya yang jatuh di lantai.


"Giska, aku mohon sayang!" Pertimbangkan kembali permintaanku tadi lakukan demi putra kita Rangga." Ucap Daffin setengah memaksa Giska.


"Tanpamu bayiku juga masih bisa hidup karena setelah kamu melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang itu pada bayiku, aku bisa merawatnya dengan baik, kami tidak membutuhkanmu, jika kamu ingin memberikan dia kasih sayang, lakukan saja tugasmu sebagai ayahnya! tanpa aku harus rujuk lagi denganmu." Ucap Giska sinis.


"Giska dengan cara apa lagi, aku harus memohon kepadamu dan membuatmu percaya bahwa kesalahan itu sepenuhnya bukan padaku tapi pada perawat Dita yang ingin memisahkan kita, wajar kalau saat itu aku sangat marah padamu dan curiga padamu sayang." Daffin berkata-kata dengan ekspresi wajah sendu.


"Sekarang kamu baru tahu rasanya bukan?" Sakitnya di tolak itu gimana. Sekarang kamu merasa lelah bukan? saat segala macam usahaku untuk membuatmu percaya dan yakin akan cintaku yang ku punya padamu saat itu sangat besar.


Aku rela mempermalukan diriku sendiri, memohon di depan pak hakim saat ia ingin mengetuk palu sebagai tanda untuk mengakhiri pernikahan kita, demi untuk mempertahankan kembali cinta yang masih ada di hatimu walaupun hanya sedikit saja yang tersisa untukku, dengan memberikan aku kesempatan untuk bisa membuktikan bayi yang ku kandung saat itu adalah putramu." Ucap Giska tanpa jeda.


"Sampai aku lelah berjuang untuk mendapatkanmu kembali, hingga akhirnya aku merasa hidupku telah berakhir dan membiarkan bayiku kelaparan di dalam rahimku.


Aku benar-benar depresi saat itu Daffin, hingga membuat hati ini sudah mati untuk menerima kembali tawaranmu untuk kita bisa rujuk. Sekarang hidupku hanya ada untuk putraku, bukan untuk mimpi hidup bersamamu lagi." Lanjut Giska dengan ucapan yang sangat tenang.


"Giska, Allah saja maha pengampun, masa kamu tidak bisa memberi aku kesempatan sekali saja agar aku memperbaiki kesalahanku kepadamu dan juga putra kita Rangga, sayang." Ucap Daffin.


"Aku tidak bisa mas Daffin, tidak ada lagi tempatmu dihatiku."


"Ada Giska, aku yakin kamu sangat mencintaiku sayang, aku tahu itu."


"Jangan terlalu percaya diri mas Daffin karena kesalahpahaman itu yang tidak bisa ditebus dengan kata maaf atau apapun itu."


"Terus aku harus bagaimana sayang untuk bisa mendapatkan dirimu lagi, membina rumah tangga lagi denganmu?" Tanya Daffin yang sudah mulai putus asa.


"Urusan hatimu adalah dirimu sendiri bukan aku. Yang harus kamu lakukan adalah menjauhi hidup kami berdua, pergilah kamu sejauh-jauhnya, dengan begitu sakit dihatiku lambat laun akan mengering dan aku akan melupakan dirimu." Ucap Giska.


Giska masuk ke kamarnya karena ingin mencas ponselnya yang sudah low batt. Daffin mengikuti langkah Giska. Entah setan apa yang merasuki Daffin, ia meraih tubuh Giska dan memeluk mantan istrinya itu.


Giska menatap wajah Daffin yang saat ini sedang menatap maniknya.


Dengan perlahan Daffin memagut bibir sensual milik Giska, sesaat Giska merasakan sentuhan itu karena ia juga merindukan mantan suaminya.


Tapi, logikanya berkata lain, bahwa mereka bukan lagi muhrim. Giska mendorong tubuh Daffin kemudian keluar lagi menuju balkon.


Tubuh Giska ditarik lagi oleh Daffin, dengan cepat Daffin mengulum bibir Giska sangat kencang dan tangannya ingin meraih bagian bawah tubuh Giska. Mendapatkan perlakuan Daffin yang tidak pantas pada dirinya, Giska berusaha mendorong tubuh Daffin karena ia tidak rela disentuh lagi oleh ayah dari putranya. Karena dorongan Giska begitu kencang hingga akhirnya Daffin jatuh dari balkon kamarnya.


"Akhhhh aaaaak!!!" Teriak Daffin ketika tubuhnya terjun bebas dari atas balkon dan jatuh ke bawah.


Seketika Giska termangu menatap tubuh Daffin yang sudah jatuh mencium aspal dibawah sana.


Tubuh Giska gemetar sedemikan rupa saat melihat Daffin sudah terkapar dan tak bergerak sama sekali.


Jantung Giska seakan berhenti melihat pemandangan yang mengerihkan di bawah sana.

__ADS_1


Sesaat kemudian, dia baru menyadari kesalahannya dan mulai memanggil nama mantan suaminya itu.


"Mas Daffinnnnnnn!" Teriak Giska histeris dan berlari keluar untuk menemui mantan suaminya itu.


__ADS_2