
Setelah merasa cukup pulih, Daffin meminta kedua adiknya untuk mengunjungi Giska di penjara wanita. Keduanya bersedia menemani Daffin karena mereka juga sangat merindukan mantan istri dari Abang mereka itu.
"Mas Daffin biasanya kami selalu mengunjungi mbak Giska sebelum ummi dan Abah pulang ke Solo. Tapi kami selalu gantian mengunjungi mbak Giska walaupun kadang mbak Giska menolak kunjungan kami karena dia tidak ingin melihat kami sedih dengan keadaannya.
"Apakah dia menanyakan keadaanku?" Tanya Daffin.
"Selalu mas, itulah hal pertama yang ia tanyakan apa bila sudah bertemu dengan kami." Ucap Mariam.
"Alhamdulillah ya Allah, ternyata dia masih mencintaiku." Gumam Daffin dalam diamnya.
"Tapi, kalau mendengar keadaan mas Daffin yang belum sadar dari koma, ia selalu saja menangis bahkan tidak ingin makan dan menghukum dirinya sendiri, hingga badannya sangat kurus bahkan sekarang dia seperti mayat hidup mas." Timpal Asia.
Hati Daffin menjerit mendengar penuturan kedua adiknya saat membicarakan kondisi fisik Giska.
"Ya Allah separah itukah jiwanya karena terlalu memikirkan aku?" Gerutu Daffin yang sangat menyesali perbuatannya terhadap mantan istrinya itu.
Ketiganya kembali diam dan tidak ada lagi yang mau berbicara apapun karena yang dibahas mereka hanyalah kesedihan yang harus menguras emosi mereka.
Sopir pribadi Daffin yang sangat senang mendengar radio, tiba-tiba memutar lagu lawas yang pernah booming di masanya.
Lagu yang dinyanyikan oleh group Tangga yang berjudul kesempatan kedua.
Lantunan lagu itu terdengar menyentuh hati dan sangat sesuai dengan yang dialami Daffin saat ini.
Daffin menyimaknya dengan penuh penghayatan dan juga kedua adiknya yang merasakan hal yang sama seperti Daffin. Bahwa lagu itu sangat tepat ditujukan kepada Abang mereka yang lagi di uji oleh Allah saat ini.
Kesempatan Kedua
"Sungguh kusesali
Nyata cintamu kasih
Tak sempat terbaca hatiku
Malah terabai olehku
Lelah kusembunyi
Tutupi maksud hati
Yang justru hidup karenamu
Dan bisa mati tanpamu
Andai saja aku masih punya
Kesempatan kedua
Pasti akan kuhapuskan lukamu
Menjagamu memberimu
Segenap cinta
Kusadari tak selayaknya
Selalu penuh kecewa
__ADS_1
Kau lebih pantas bahagia
Bahagia karena cintaku
Andai saja aku masih punya
Kesempatan kedua
Pasti akan kuhapuskan lukamu
Menjagamu memberimu
Segenap cinta
Kau bawa bersamamu
Sebelah hatiku separuh jiwaku
Yang mampu sempurnakan aku
Andai saja aku masih punya
Kesempatan kedua
Pasti akan kuhapuskan lukamu
Memberimu segenap cinta
Andai saja aku masih punya
Kesempatan yang kedua
Pasti akan kuhapuskan lukamu
Menjagamu memberimu
Lagu itu berakhir, tangisan Daffin tak mampu terbendung. Sekarang dia baru merasakan cinta yang sesungguhnya untuk Giska.
Asia mencoba menenangkan abangnya dengan mengusap punggung abangnya.
Hati mereka sama kacaunya usai mendengarkan lagu yang barusan diputar oleh sopir pribadi Daffin.
Tidak terasa mereka sudah sampai di Rutan wanita. Daffin bergegas turun karena sudah sangat rindu kepada kekasih hatinya itu. Satu tahun dalam keadaan koma tidak bisa menyelamatkan Giska dari jeruji besi yang telah mendekam tubuh gadis itu dalam kamar sempit dengan para napi lain yang memiliki tingkat kriminal yang lebih tinggi.
Nafas berat Daffin seakan ingin berhenti kala Giska di minta untuk bertemu dengannya oleh petugas sipir lapas.
Giska melangkah dengan sangat gontai. Jilbab panjang yang menutupi tubuhnya yang kurus menuju tempat pertemuan ia dan orang yang ingin menemuinya yang ia tidak tahu siapa tamunya kini selain keluarganya dan dua adik iparnya.
Wajah cantik yang kini sudah lebih kusam dan tirus dengan kulit pucat yang lebih mendominasi pemandangan yang tidak lagi terlihat manis untuk orang yang memandangnya.
"Mas Daffin!" Teriak Giska seakan tak percaya melihat tamu yang datang saat ini mengunjunginya. Tamu yang selalu ia doakan untuk bisa bertemu dengannya saat ini.
"Giska!" Sapa Daffin tercekat karena air matanya sudah memenuhi rongga mulutnya dan kini mengembang di dua kelopak matanya.
Sesaat keduanya hanya menangis karena pertemuan haru yang tak terbayangkan oleh keduanya.
Daffin tidak perlu bertanya tentang kabar mantan istrinya tersebut, karena ia sudah menyaksikannya sendiri dengan mata kepalanya, melihat kondisi istrinya yang lebih pantas di katakan seperti tengkorak hidup.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa kamu jadi seperti ini Giska?" Aku belum mati tapi jiwa kamu yang sudah mati duluan sayang. Aku minta maaf karena terlalu memaksamu malam itu, hingga membuatmu marah.
Mengapa kamu tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya bahwa akulah yang telah melecehkanmu. Kenapa kamu malah melindungi lelaki bodoh seperti diriku? ...hiks..hiks." Ucap Daffin sambil terisak.
"Alhamdulillah mas Daffin sudah sembuh." Ucap Giska kemudian.
Gadis ini tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya. Melihat mantan suaminya ini sudah sadar dari komanya, itu sudah lebih dari cukup untuknya.
"Giska aku akan mengeluarkan kamu dari sini sayang, aku akan menikahimu lagi. Kita akan memulai lagi dari awal untuk membina rumah tangga kita. Marilah kita akhiri ujian yang Allah berikan kepada kita demi buah hati kita sayang. Lakukan demi dia demi kita....hiks...hiks!" Daffin tidak bisa menghentikan tangisannya.
"Apakah kamu sedang melamarku lagi mas Daffin?" Tanya Giska dengan pandangan matanya begitu sendu.
Daffin mengangguk sambil sesenggukan menyesali perbuatannya.
"Terimakasih mas Daffin, aku menantikan hari bahagia itu sayang." Ucap Giska yang tidak lagi kelihatan angkuh dan egois di hadapan lelaki yang sangat ia cintai ini.
"Aku merindukanmu Giska sayang, apakah kamu masih mencintaiku? apakah kamu juga merindukan aku?" Tanya Daffin.
"Sesungguhnya cintaku kepadamu melebihi semua ucapan. Maka aku putuskan untuk diam dari berbicara.
Rinduku kepadamu lebih dari perasaanku. Bahkan lebih kuat dari rasa sakitnya
Hanya diam saat tak ada ungkapan yang mampu gambarkan deritaku.
Merindukanmu sendiri karena Kamu dekat denganku
Cinta ku tak butuh kenapa dan mengapa, tak butuh alasan untuk merindukanmu
Tak kutemukan alasan bahagiaku kecuali hanya denganmu.
Tak kutemukan adanya aku kecuali hanya untukmu. Cintaku telah matikan semua alasan itu." Ujar Giska dengan bibir bergetar menahan tangisnya agar tidak terlihat rapuh di depan pangeran hatinya.
Mendengar ucapan cinta yang besar untuk dirinya dari wanitanya, Daffin makin merasa bersalah dan terus menyesali perbuatannya.
Mariam dan Asia ikut terharu menyaksikan adegan melo drama pagi hari itu.
"Waktunya sudah hampir habis nona Giska." Ucap sipir lapas.
"Mas, aku masuk dulu karena ini bukan waktunya berkunjung." Ucap Giska.
Giska bangun dari duduknya lalu membalikkan badannya menuju lapasnya.
"Giska! aku mencintaimu...aku sangat mencintaimu." Hanya itu yang bisa Daffin ucapkan untuk sang mantan tercintanya, yang pernah mewarnai hidupnya selama tiga tahun setengah perjalanan cinta mereka yang kembali dihadang karang kehidupan yang tajam menusuk setiap sanubari saat ujian yang datang bertubi-tubi karena mengutamakan keegoisan demi sebuah harga diri. Sulitnya memaafkan pasangan yang menjadi hambatan dalam sebuah mahligai pernikahan.
Giska tidak menengok lagi ke wajah lelaki yang sudah menghiasi setiap doanya. Ia terus berjalan kembali ke dalam hotel perdeonya.
Mariam meraih jemari abangnya lalu menggenggam jemari itu sangat kuat.
"Belajarlah dari sebuah kebodohan yang telah mas buat, agar ke depannya tidak akan mengalaminya lagi sesakit ini." Mariam mengajak Daffin pulang langsung ke mansion abangnya.
"Aku akan mengurus pembebasan Giska secepatnya dengan pengacaraku. Aku tidak tega melihatnya seperti ini." Ucap Daffin kepada kedua adiknya.
"Iya mas, dengan begitu kita bisa memulihkan kejiwaan mbak Giska selain mengembalikan tubuhnya seperti sedia kala." Timpal Asia.
"Kasihan baby Rangga harus tumbuh tanpa kedua orangtuanya."Imbuh Mariam.
Daffin sudah berada di mansionnya. Ia memanggil pengacaranya untuk membahas kasus yang menimpa Giska yang berkaitan dengan dirinya.
__ADS_1
Pengacaranya yang pernah mendampingi Giska sangat paham dengan kegelisahan Daffin saat ini.
Lelaki itu tidak akan mengijinkan mantan istrinya itu, menghabiskan sisa hidupnya dipenjara karena Giska kelihatan sudah tidak mampu lagi bertahan di dalam sana karena kerasnya lingkungan di dalam penjara dengan berbagai napi dengan kasus kejahatan yang berbeda-beda.