
Giska turun dari tangga sambil berteriak memanggil nama Daffin. Semua pelayan mansion yang mendengar ada orang yang jatuh sudah berada di sekitar tubuh Daffin tapi mereka takut menyentuh mantan suami Giska itu.
"Panggil ambulans!" Teriak Giska sambil menangis melihat kepala belakang Daffin sudah berlumuran darah segar yang mengalir dari kepala bagian belakangnya. Di taman bawah itu darah Daffin sudah tergenang di sekitar kepalanya.
Giska mendekatkan telinganya di dada Daffin yang ternyata masih berdetak. Ia juga merasakan denyut nadi di pergelangan tangan dan leher Daffin juga masih berdenyut.
"Mas Daffin bangun sayang, maafkan aku, aku tidak sengaja mencelakaimu.. hiks..hiks..!" Giska memegang tangan Daffin sambil mencium telapak tangan mantan suaminya itu.
Tidak lama kemudian mobil ambulans datang membawa tubuh Daffin dengan memasang alat penyangga leher Daffin sebelum di angkut ke mobil ambulans.
Giska ikut naik ke mobil ambulans itu, menemani Daffin. Petugas ambulans sudah memasang berbagai alat bantu medis di tubuh Daffin.
Giska masih saja menangis. Ketika mobil Ambulans keluar dari gerbang mansion milik Tuan Ruslin ini, mobil Ayah Giska memasuki gerbang utama mansionnya.
"Lho ko ada mobil ambulans ayah, di rumah kita, apakah terjadi sesuatu pada Giska?" Wajah nyonya Nunung langsung pucat, begitu pula dengan Tuan Ruslin yang langsung panik.
"Apa yang terjadi dengan Giska?" Tanya Nyonya Nunung saat turun dari kendaraannya.
"Itu bukan non Giska nyonya, itu tuan Daffin. Ia jatuh dari balkon kamarnya nona Giska. Bibi juga nggak tahu bagaimana ceritanya, tahu-tahu dengar ada yang jatuh dan semua kami pada lari ke sini dan melihat Tuan Daffin sudah berdarah dan tak sadarkan diri." Bibi Ani menceritakan tentang kejadian jatuhnya Daffin dari balkon kamar Giska.
"Apakah mereka bertengkar lagi?" Tanya Tuan Ruslin.
"Kedengaran sih nggak bertengkar Tuan, tapi bibi tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka." Ujar bibi Ani.
"Mengapa bibi Ani membiarkan mereka bicara di kamar berdua saja?" Mereka itukan sudah bercerai dan masa Iddah Giska sudah lewat, berarti mereka bukan muhrim lagi, bibi." Nyonya Nunung makin kesal dengan bibi Ani yang membiarkan Daffin ke kamar Giska.
"Sudah tahu kalau ada dua orang lawan jenis berdua di tempat sepi, setan yang ketiganya yang menghasut keduanya berbuat zina. Harusnya bibi mencegah Daffin bertemu dengan Giska saat kami tidak ada di rumah, kalau sudah seperti ini, kita bingung menyalahkan siapa. Apalagi kejadiannya hanya mereka berdua yang tahu." Ucap Nyonya Nunung.
Bibi Ani merasa ketakutan karena tidak amanah dalam menjaga Giska ketika Tuan Ruslin dan Nyonya Nunung pergi keluar rumah.
"Maaf Nyonya, Tadi Tuan Daffin bilang mau bahas urusan bayi mereka, makanya saya mengijinkan Tuan Daffin menemui non Giska di kamarnya." Ujar bibi Ani yang mengakui kesalahannya.
"Sekarang Daffin di bawah ke rumah sakit mana dan di mana Giska?" Tanya Tuan Ruslin.
"Rumah sakit Mitra Tuan, dan nona Giska juga ikut ke dalam mobil ambulans menemani Tuan Daffin menuju rumah sakit Mitra." Ujar bibi Ani.
"Sebaiknya kita nyusul putri kita sayang!" Pinta Nyonya Nunung pada suaminya.
Mereka kembali lagi masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit. Tuan Ruslin segera menghubungi besannya Kyai Azzam yang berada di Solo. Dia menceritakan kronologinya sesuai yang di katakan oleh bibi Ani, karena cerita sebenarnya belum ia ketahui.
Di rumah sakit Daffin sempat sadar setelah ditangani oleh dokter. Ia hanya membuka matanya dan memberikan suatu pesan yang harus di jalani oleh dokter.
"Dokter!" Segera lakukan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang pada bayiku, karena waktuku sudah tidak banyak." Pintanya kepada dokter Bily.
"Anda tidak bisa menjalani operasi kalau dalam keadaan seperti ini, anda pasti tidak bisa bertahan." Ucap dokter Bily kepada Daffin.
"Justru saya sudah tidak bisa bertahan hidup dokter, saya mohon lakukan segera mungkin." Daffin masih merengek agar dokter menyelamatkan putranya sebelum ia meninggal dunia.
Dokter Billy merasa serba salah berada di posisi yang membuatnya bingung untuk memilih. Permintaan Daffin memang harus ia pertimbangkan, jika Daffin meninggal otomatis, Daffin tidak bisa menolong putranya.
"Sebentar Tuan Daffin, kami harus bicara dengan keluarga anda sebelum melakukan tindakan yang sangat berbahaya ini." Ucap dokter Bily lalu keluar dari ruang operasi.
__ADS_1
"Bagaimana dokter apakah mas Daffin sudah sadar." Tanya Giska dengan wajah sembab.
"Maaf nona Giska...?"
"Giska!" Nyonya Nunung memanggil putrinya yang sedang bicara dengan dokter Bily.
"Bunda...ayah...mas Daffin jatuh..hiks.. hiks!" Giska memeluk ibunya.
Tuan Ruslin yang akhirnya bicara dengan dokter Bily.
"Bagaimana keadaan Daffin, dokter?" Tanya Tuan Ruslin.
"Tuan Daffin saat ini sudah sadar, hanya saja keadaannya tidak baik, ia tidak mungkin bisa bertahan, tapi ia meminta kami untuk segera melakukan operasi sum-sum tulang belakang untuk putranya." Ucap dokter Bily terus terang pada keluarga ini.
Giska merasa syok, tubuhnya hampir limbung karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Dokter, boleh aku menemui mas Daffin, sebentar saja!" Pinta Giska sambil mengatupkan kedua tangannya ke dadanya.
"Silahkan nona Giska! tapi hanya anda sendiri saja yang boleh masuk karena kamar operasi harus dalam keadaan steril." Ujar dokter Bily.
Giska mengangguk dan meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk menemui Daffin.
Giska melihat tubuh Daffin tergeletak lemah di meja operasi.
"Mas Daffin!" Ucap Giska dengan air mata tertahan.
"Giska!" Aku akan menyelamatkan putra kita, aku sudah bersalah karena menolak keberadaannya saat pertama kali dia hadir di dalam rahimmu, hanya dengan cara ini, aku bisa menebus kesalahanku." Ucap Daffin dengan terbata-bata.
"Tapi Giska, aku sudah tidak kuat untuk bertahan menemaninya hingga dewasa." Ucap Daffin.
"Apakah kamu tidak ingin rujuk denganku mas Daffin?" Bukankah itu yang kamu pinta?" Tanya Giska.
Daffin tersenyum menatap Giska.
"Aku senang mendengarnya sayang.. tapi semuanya sudah terlambat bagi kita, aku tidak bisa lagi mengabulkan permohonanmu ini. Tolong panggilkan dokter dan segera lakukan operasi kepadaku dan putraku, agar kematianku tidak sia-sia Giska." Ucap Daffin dengan suara yang makin melemah.
"Maaf nona, sebaiknya anda keluar karena kondisi pasien makin kritis." Pinta dokter Intan.
"Tidak mas Daffin, jangan tinggalkan aku mas Daffin, mas Daffin, tidakkkk.. akkkhhh!" Teriak Giska histeris ketika tubuhnya di seret keluar oleh dua orang suster.
"Giska, kenapa sayang?" Nyonya Nunung makin gugup mendengar suara Giska yang meraung-raung setelah keluar dari kamar operasi Daffin.
"Giska tidak rela kehilangan mas Daffin bunda, Giska sudah bersalah menolak permintaannya untuk rujuk dan mendorongnya dengan kasar hingga ia jatuh dari balkon." Ucap Giska membuat nyonya Nunung dan Tuan Ruslin terperanjat.
"Apakah yang kamu katakan itu benar sayang? kamu tidak sengaja kan mendorong Daffin karena menolak untuk rujuk dengannya?" Tanya Nyonya Nunung dengan tubuh gemetar.
"Giska kamu bisa di penjara nak, karena dengan sengaja mendorong Daffin hingga jatuh dari balkon." Ucap Tuan Ruslin.
"Giska nggak bermaksud membuat mas Daffin terjatuh bunda. Giska...hiks...hiks!" Giska sangat malu untuk mengakuinya bahwa Daffin yang sudah berani mencium dan melecehkannya dengan cara memaksakan dirinya, hingga membuat ia spontan mendorong tubuh pria malang itu.
Nyonya Nunung memeluk tubuh putrinya dan membiarkan Giska menangis dalam pelukannya.
__ADS_1
"Apa yang harus aku katakan kepada Kyai Azzam, jika dia menanyakan kejadian yang menimpa putranya gara-gara putriku yang sangat arogan ini." Gumam Tuan Ruslin membatin.
Tidak lama kemudian, bayi Rangga di bawah masuk ke kamar operasi bersama ayahnya untuk melakukan operasi.
"Tunggu suster!" Aku ingin mencium putraku sebelum dia melakukan operasi." Pinta Giska.
"Bayi anda tidak bisa di keluarkan dari inkubator nona." Ucap suster Yuni.
" Silahkan bawa cucuku suster, pinta Nyonya Nunung pada suster Yuni.
"Mohon doanya ya, nyonya agar keduanya bisa selamat saat menjalankan operasi." Ucap suster Yuni setelah menutup lagi pintu kamar operasi.
Keluarga itu hanya mengangguk pasrah.
Malam sudah makin larut, tapi mata mereka seakan tidak dihinggapi rasa lelah. Semuanya menanti operasi itu yang sudah lebih dari tiga jam mereka menunggu.
Giska terus berdzikir dengan tetap berurai air mata. Sementara Tuan Ruslin dan Nyonya Nunung hanya bertafakur di kursi mereka masing-masing. Mereka sangat takut, jika polisi akan datang menangkap Giska karena kesalahannya. Putri mereka yang malang akan segera mendekam di penjara.
"Apakah ayah ingin makan sesuatu?" Biar bunda belikan atau suruh pelayan yang bawakan makanan untuk kita karena ini sudah hampir jam empat pagi" Ucap Nyonya Nunung.
"Aku tidak lapar bunda, kalau bunda dan Giska mau makan silahkan saja sayang!" Ucap Tuan Ruslin.
"Sayang, kamu makan ya! karena kamu harus memerah ASI untuk putramu." Nyonya Nunung menawarkan makanan untuk putrinya.
"Giska malas makan bunda." Ujar Giska sambil menyeka air matanya.
"Bayimu sedang melakukan operasi, nanti setelah dua sadar dia akan butuh ASI darimu sayang." Ujar Nyonya Nunung menyadarkan putrinya yang masih larut dalam kesedihannya.
Giska lalu mengangguk setuju atas permintaan bundanya demi kesehatan putranya Rangga.
Tidak lama makanan yang dibawakan oleh bundanya di makan oleh Giska.
Karena terburu-buru menelan makanannya, Giska akhirnya tersedak. Giska memukul-mukul dadanya agar makanannya cepat turun ke dalam lambungnya. Setelah itu ia baru meneguk minumannya yang berupa teh manis hangat.
Usai makan Giska bertanya lagi kepada bundanya perihal Daffin dan putranya.
"Bunda, apakah mereka akan selamat dalam operasi ini?" Tanya Giska.
"Hanya Allah yang tahu sayang, tugas kita hanya berdoa dan yakin atas ketentuan Allah bahwa keduanya bisa melewati operasi ini." Ujar Nyonya Nunung.
"Bagaimana kalau mas Daffin meninggal dunia bunda... hiks...hiks... Giska takut bunda. Giska sangat mencintai mas Daffin, Giska menolak permintaannya rujuk hanya untuk menghukumnya saja.
Giska ingin melihat apakah dia benar-benar mencintai Giska atau tidak, hanya itu yang Giska ingin membuatnya jera atas apa yang pernah ia lakukan pada Giska.
Giska ingin dia mengetahui bagaimana rasanya sakit di tolak. Setelah dia mengemis pada Giska, mungkin Giska akan memikirkan kembali permintaannya untuk rujuk dengan Giska bunda... hiks... hiks." Giska mencurahkan segala isi hatinya kepada bundanya.
"Ya Allah, Giska mengapa kamu menjadi pribadi yang dendam akan perbuatan seseorang padamu?" Tanya Nyonya Nunung.
"Karena Daffin pantas mendapatkannya Bunda." Ujar Tuan Ruslin.
"Astaga!" Kenapa suami dan putriku jadi kompak begini." Ujar Nyonya Nunung sambil memegang kepalanya yang makin pusing.
__ADS_1