
Daffin pulang dengan membawa segala penyesalannya. Ia tidak berani mencoba untuk meyakinkan Giska agar mau memaafkan dirinya.
Di mansion miliknya, bibi Ima menanyakan kejelasan kasus majikannya yang datang dengan wajah tertekuk seperti dompet tanggung bulan. Melihat itu bibi Ima menghentikan langkah Daffin yang hendak naik ke anak tangga menuju kamarnya.
"Sebentar Tuan Daffin, apakah anda sudah bertemu dengan nona Giska? apakah nona Giska sudah mengetahui semua cerita anda?" Tanya bibi Ima.
"Saya sudah bertemu dengannya bibi, saya sudah menceritakan permasalahannya dari awal sampai mendatangkan pelaku utamanya dan juga saksi, tapi sepertinya ia tidak ingin memaafkanku dan malah mengusir diriku dari sana.
Sekarang apa yang harus aku lakukan bibi? melihat keadaan Giska yang tidak peduli dengan calon bayi kami dalam perutnya.
Dia tidak ingin makan dan ngobrol dengan orang lain. Dia asyik dengan dunianya sendiri. Bagaimana kondisi putraku jika dia saja tidak memperhatikan dirinya sendiri." Ucap Daffin seraya duduk di antara anak tangga.
"Jangan menyalahkan dirinya Tuan, ia begitu karena anda terlalu keras kepadanya. Bahkan anda tidak mau mendengarkan permohonannya walaupun, ia sudah menangis dengan mengatupkan kedua tangannya dengan segala sumpah yang ia ucapkan kepada anda.
Dan terus meyakinkan diri anda bahwa anak yang dikandungnya adalah anak anda Tuan.
Tapi apa yang anda perbuat padanya, anda dengan tega mengusirnya dari mansion dengan cara memulangkan lagi dirinya kepada kedua orangtuanya.
Membuka aibnya dihadapan orang tuanya bahkan menuduh hal yang keji itu di hadapan kedua orangtuanya. Setelah itu anda dengan tega menjatuhkan talak padanya walaupun ia terus memohon padamu.
Namun hatimu seakan mati beku mengabaikan permohonannya juga perasaannya.
Wanita normal saja bisa gila mendapatkan serangan seperti itu, apa lagi nona Giska yang sedang hamil tua anda mendepaknya seakan dia wanita murahan.
Sekarang anda rasakan sendiri akibat dari penolakan anda Tuan Daffin. Bibi sudah memperingatkan anda berkali-kali namun anda sedikitpun tidak menggubrisnya, bahkan terkesan aku ini juga seorang pembohong." Ucap bibi Ima lalu meninggalkan Daffin yang duduk menangis seorang diri.
Setelah mencurahkan perasaannya pada bibi Ima, Daffin kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
Di kamarnya yang sepi, ia membayangi lagi saat pertama kali membawa istrinya ke kamarnya. Saat melihat Giska tidur sendiri tanpa ia sentuh dan membiarkan Giska makan dengan hasil masakannya. Gadis itu sedikit pun tidak mengeluh padanya. Apa lagi protes pada dirinya, ia menerima semuanya dengan ikhlas.
Daffin ingat pertama kalinya ia menyentuh tubuh istrinya, melakukan hubungan intim dengan istrinya untuk pertama kali setelah tiga bulan pernikahan mereka berjalan, itupun karena keadaan Giska sedang di bawah pengaruh obat perangsang. Di saat itu pula terkuak rahasia Giska yang tersimpan rapi, gadis itu masih dalam keadaan suci.
"Giska sayang, maafkan suamimu yang bodoh ini sayang, walaupun aku sudah tahu bahwa kamu tidak akan mengkhianati diriku tapi melihat laporan medis sialan itu, hatiku langsung terbakar api cemburu dan sangat sakit hati karena tidak mempercayaimu sedikitpun, walaupun kamu sudah berusaha meyakinkan diriku bahwa kamu bukan pezinah.
Giskaaaaaa!" Teriak Daffin di tengah malam dalam kamarnya yang sepi.
Di bawah sana bibi Ima hanya tersenyum sinis mendengar teriakan majikannya yang tidak tahu malu itu.
"Sekarang, emang enak di tolak?" Rasain loe!" Bego di piara, hmm!" Bibi Ima mendenguskan nafasnya dengan sinis kepada Daffin.
🌷🌷🌷🌷🌷
Keesokan paginya, Daffin bersiap-siap untuk menjenguk Giska di rumah sakit. Ia malas bekerja hari itu. Ia lebih mementingkan perasaannya saat ini dari pada perusahaanya.
"Bunda, aku tidak mau memakannya, aku ingin anak ini mati, aku tidak mau melahirkan anak Daffin. Tidakkkk!" Teriak Giska menolak semua yang ditawarkan ibunya padanya.
"Giska, apa yang harus bunda lakukan untukmu nak, apa???" Nyonya Nunung sudah putus asa meghadapi sikap keras kepala Giska saat ini.
"Aku hanya ingin mati bunda, hanya ingin mati bersama anak ini!" Ucap Giska dengan tangisan meluapkan kekesalannya.
Daffin yang sejak tadi berada di balik pintu kamar inap VVIP milik Giska hanya bisa menangis sedih.
Ia juga bingung harus melakukan apa karena melihat Giska yang tidak mempan di rayu ibunya apa lagi dirinya, pelaku sebenarnya yang sangat ia benci saat ini.
Tapi kalau tidak nekat, bagaimana bisa membuat gadis itu berubah pikiran untuk menerimanya kembali dan menyelamatkan bayi mereka yang ada dikandungan Giska saat ini.
__ADS_1
"Ya Allah berikanlah kemudahan bagi hamba untuk mengakhiri konflik ini ya Allah, hamba tahu hamba bersalah, tapi hamba harus bagaimana menghadapi istri hamba saat ini, ya Allah." Lagi-lagi Daffin hanya mengeluh sedih. Hatinya sekarang ikut terpukul. Merasakan bagaimana sakitnya mendapatkan penolakan dari Giska semalam.
Karena terlalu lama berpikir keras akhirnya Daffin nekat masuk menemui mantan istrinya.
"Kapan lagi? kalau tidak hari ini untuk menghadapi Giska. Seberapa kerasnya dia menolakku, aku harus tetap berusaha mendapatkan lagi hatinya." Ucapnya membatin, lalu membuka pintu kamar Giska.
"Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah bantu hambaMu yang bodoh ini."
"Assalamualaikum bunda, Giska sayang!" Sapa Daffin lirih.
"Waalaikumuslam Daffin!" Balas Nyonya Nunung kepada menantunya ini.
"Maaf bunda boleh tinggalkan saya dan Giska berdua?" Tanya Daffin hati-hati.
"Baiklah Daffin, bunda tinggal dulu ya, bunda mau sholat duha di mesjid rumah sakit ini." Ucap Nyonya Nunung lalu meraih tas mukenanya dan meninggalkan Daffin dan putrinya di kamar inap VVIP tersebut.
Daffin mendekati brangkar Giska, sementara Giska tidur memunggungi Daffin. Ia sama sekali tidak ingin melihat mantan suaminya ini.
Daffin mengepalkan kedua tangannya, menahan rasa gugupnya di depan Giska. Walaupun gadis itu tidak melihatnya namun, hatinya tetap saja berdebar kencang seperti para santri yang sedang memukul rebana dengan suara dentuman yang bertalu-talu.
"Giska sayang! aku tahu mungkin kesempatanku untuk meminta maaf padamu saat ini sudah tidak ada lagi.
Aku tidak punya hak untuk dimaafkan olehmu, tapi sebagai manusia biasa, aku mohon maafkan diriku yang telah menghancurkan hati dan jiwamu, hingga kamu sulit untuk memalingkan wajahmu lagi kepadaku apa lagi hatimu." Ucap Daffin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Giska yang mendengar perkataan Daffin hanya melelehkan air matanya dan menahan tangisnya agar Daffin tidak melihatnya saat ini.
"Giska, aku tidak apa jika kamu tidak ingin memaafkanku, tapi aku mohon jangan menyiksa bayi kita yang membutuhkan asupan makanan dari dirimu, jika terjadi sesuatu pada dirinya, apakah kamu bisa memaafkan dirimu?" Pikirkan kembali secara akal sehat Giska, jika orang satu kampung di desaku saja dan juga para santri yang setiap hari kamu beri mereka makanan, mengapa bayimu sendiri kamu tega menyiksanya karena sakit hatimu padaku?" Ucap Daffin sambil terisak.
__ADS_1