
Di hotel mewah yang terletak di tengah kota Paris Perancis, kini pasangan pengantin baru yaitu Giska dan Daffin kini berada.
Daffin memperbaiki kesalahannya yang pertama di awal pernikahan pertama mereka dulu yaitu memberikan tempat bulan madu terbaik untuk istrinya seperti idaman Giska saat gagal melakukan malam pengantin mereka karena kamar hotel yang murah yang disewa Daffin untuk bulan madu.
"Apakah kamu senang sayang dengan kamar hotelnya?" Tanya Daffin saat keduanya sudah berada di suite room hotel berbintang lima itu.
"Ini lebih dari indah mas Daffin, aku sangat menyukainya." Giska memeriksa setiap ruang yang ada di kamar itu.
Kamar mandi dan ruang ganti yang dilihatnya pertama kali.
Hotel Paris Bastille yang dipilih Daffin untuk istri tercinta.
Terletak di jantung kota Paris, hanya 1 km dari Opèra Bastille, Hotel Paris Bastille Boutet MGallery by Sofitel menawarkan akomodasi dengan pusat spa dan kolam renang indoor berpemanas.
Setiap kamar dilengkapi dengan TV layar datar, i-Home dock, mesin Nespresso, ketel, dan brankas. Beberapa kamar memiliki teras pribadi yang menghadap ke atap-atap gedung Paris.
Sarapan disajikan dalam gaya prasmanan atau di kamar. Restoran dan bar dapat ditemukan dalam jarak berjalan kaki dari hotel di distrik 10 dan 11 yang populer di Paris. Mereka dapat mengakses pusat spa gratis yang memiliki pemandian Turki dan sauna. Fasilitas tambahannya meliputi bar dengan menu makanan ringan dan meja depan 24 jam.
"Mas Daffin, aku mau mandi dulu." Ucap Giska yang merasa badannya sangat lengket saat ini.
"Silahkan sayang!"
Daffin keluar keluar menuju teras kamar pribadi untuk bersantai sejenak. Sejujurnya ia ingin sekali mandi bareng dengan Giska, namun rasa canggungnya setelah lama berpisah dengan istrinya itu membuatnya tidak ingin mendatangi Giska terlebih dahulu.
"Mengapa aku merasa sangat gugup menghadapi istriku sendiri?" Bukankah dulu kami pernah hidup berdua dan selalu mandi bersama. Tapi sekarang aku malah merasa sangat grogi saat ini." Daffin bermonolog.
Sambil menunggu istrinya kelar mandi, Daffin memesan makanan untuk mereka karena ia masih lelah untuk keluar lagi mencari restoran.
Ia pun memesan makanan halal yang ada di restoran tersebut.
__ADS_1
Giska yang malam itu kelihatan sangat segar dan tampil cantik dengan menggunakan gaun indah berwarna merah marun.
Giska terlihat anggun tampil tanpa bra dengan gaun merah dari perancang ternama di tanah air. Gaun merah marun ini sangat anggun dipakai Giska dan tidak terkesan seronok. Tatanan rambut kepang gelung memperlihatkan lehernya yang jenjang. Pilihan aksesoris kalung berlian mewah dari Lorraine Schwarts semakin mempercantik penampilan Giska malam itu.
Daffin tertegun melihat penampilan Giska yang lebih kelihatan dewasa ini. Wajah cantik yang dipoles makeup lembut menambah keanggunan dan elegan malam ini hanya untuk suaminya.
Giska hanya bisa mengenakan gaun cantik itu hanya untuk di dalam kamar hotel untuk tampil di depan suaminya seorang.
Giska yang sudah berhijab sempurna ini, tidak lagi memperlihatkan lekuk tubuh indahnya dengan berhijab modern atau disebut hijab gaul bagi sebagian kalangan.
"Sayang!" Daffin mendekati istrinya dan mengajak Giska untuk ngobrol sebentar sebelum mereka makan malam di kamar itu.
"Apakah kamu menyukainya?" Giska menatap wajah tampan suaminya yang tidak berkedip sedikitpun menatap dirinya.
"Lebih dari kata suka, sayang." Ujar Daffin yang makin merapatkan tubuhnya pada sang pujaan hati yang sangat ia rindukan selama dua tahun ini.
"Apakah kita makan dulu atau bercinta?" Giska menawarkan dirinya pada suami karena saat ini makan malam mereka sudah tersedia di atas meja di dalam kamar hotel itu.
Keduanya sepakat untuk mengisi energi tubuh mereka dengan makanan khas Paris Perancis yang diolah secara halal sesuai pesanan Daffin pada restoran tersebut.
"Apakah kamu memesan semua ini sayang?" Tanya Giska sambil menikmati makanannya.
Makanan khas Perancis yang dipesan oleh Daffin salah satunya adalah beef burguignon yang sekilas akan terlihat seperti rendang khas Padang. Kuliner ini berbahan dasar daging sapi yang telah dibumbui bersama dengan beragam bumbu-bumbu yang lainnya.
Yang membedakannya yaitu kuliner ini menggunakan anggur merah atau wine di dalam campuran bumbunya. Kemudian dimasak hingga meresap serta miliki tekstur yang lembut.
Tapi Daffin memesannya tanpa campuran anggur atau wine karena menjaga kehalalannya yang sesuai dengan tuntutan syariat Islam yang mereka peluk.
Puas menikmati makan malam, keduanya menuju ke tempat tidur mereka yang diatasnya ditaburi kelopak bunga mawar merah.
__ADS_1
Sesi bulan madu siap digelar terbuka oleh keduanya. Daffin melucuti lagi gaun indah yang menawarkan pesona Giska dihadapannya malam ini.
Daffin memastikan pintu kamarnya sudah tertutup rapat, lalu ia membawa tubuh istrinya ke atas kasur. Setelah itu Daffin mengangkat dagu lancip istrinya, menikmati bibir bagian bawah Giska dengan lum*t*n yang dalam dan mulai terasa hangat seakan bibir sensual itu menyimpan banyak madu untuk dihisapnya.
Daffin tak kuasa menghentikan laju permainan bibirnya hingga terdengar suara kecapan berkali-kali diiringi suara nafas yang tersengal.
Daffin memeluk pinggang istrinya dengan lembut agar Giska lebih nyaman.
"Siap untuk bercinta sayang?" Tanya Daffin lembut tepat ditelinga kanan Giska dan itu berhasil membuat Giska bergetar.
Giska hanya mengangguk malu.
Daffin menatap wajah istrinya dan tersenyum simpul.
"Benarkah? tanya Daffin lagi membutuhkan kepastian dari sang pemilik tubuh.
"Apakah kamu tidak ingin mencoba nya sayang?" Goda Giska manja dengan gestur tubuh yang memancing hasrat suaminya.
"Baiklah!"
Kemudian Giska membantu menanggalkan pakaian suaminya.
"Saat ini Daffin sangat bahagia dengan kejutan dari istrinya.
Daffin beralih ke bagian dada Giska yang nampak kencang, menggelantung indah yang menjadi kesukaannya yang sudah terbebas dari br*.
Tanpa terasa waktu berganti dengan teratur, percintaan panas itu yang membawa mereka berdua sudah mengangkasa menembus awan dan berada di bawah langit biru yang makin kelam karena gelapnya malam yang sudah dihiasi bintang yang menjadi saksi bisu kedua insan ini menjalankan ritual ibadah suami istri ini.
Daffin merasa sangat luar biasa seperti berada di atas permadani indah di kelilingi taman bunga beraneka warna dan dipinggir pembaringannya tersedia cawan-cawan memabukkan yang akan dituang istrinya untuk diteguk dari bibir istrinya yang makin membuatnya bergetar.
__ADS_1
Daffin menegakkan tubuhnya, ia ingin menambah kecupannya seraya mendekap istrinya, pada saat bersamaan Giska juga menegakkan tubuhnya dan mengejar bibir se*si suaminya hingga tiba lebih dulu. Giska melepaskan kecupannya.
Ia lalu beralih pada benda pusaka milik suaminya dan menyentuh benda pusaka itu dengan bibir lembutnya hingga Daffin mengerang nikmat.