TOBATNYA GADIS ANGKUH

TOBATNYA GADIS ANGKUH
28. PART 28


__ADS_3

Operasi siap dijalani oleh baby Rangga dan ayahnya Daffin. Keluarga Giska menunggu dengan sangat gelisah karena dua orang yang ada di dalam sana sama-sama sedang menghadapi ajal.


Jika keduanya gagal dalam menjalani operasi ini, maka Giska akan kehilangan keduanya dan dia tidak bisa lagi mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki dirinya.


Degup jantung Giska terus saja berderit. Tangis dan air matanya tak terelakkan. Ketakutan kehilangan atas keduanya sekelebat menggoda hatinya yang saat ini makin rapuh.


Giska bermonolog, entah apa yang saat ini sedang ia ucapkan, karena kedua orangtuanya tidak lagi memperhatikan gadis ini yang sedang tenggelam dalam dunia kesedihannya.


Cek..lek!


Pintu kamar itu dibuka, setelah tertutup selama lima jam, tim dokter berkutat di dalam sana. Dokter keluar menemui keluarga pasien. Kedua orangtuanya Giska dan Giska menghampiri dokter dengan degup jantung yang tidak menentu.


"Bagaimana keadaan mereka, dokter?" Tanya tuan Ruslin.


"Alhamdulillah, operasinya berhasil dan keduanya selamat dari maut namun tidak dengan Tuan Daffin..?" Kata-kata dokter terhenti dan Giska mundur ketakutan untuk mendengar berita yang membuat seluruh tubuhnya hampir limbung.


"Tolong beritahu kami ada apa dengan menantu kami Tuan Daffin?" Tanya Nyonya Nunung cemas.


"Tuan Daffin dalam keadaan koma." Dokter menyampaikan rasa prihatin mereka atas pasien Tuan Daffin.


"Apakah tidak ada upaya lain untuk menyelamatkan Tuan Daffin dokter?" Tanya Nyonya Nunung.


"Kita hanya menunggu keajaiban dari Allah, mohon doanya Tuan Ruslin." Ujar dokter Bily.


"Apakah dia bisa sembuh dokter?"


Tanya Giska dengan bibirnya gemetar.


"Saya tidak bisa memastikannya nona Giska. Maafkan kami." Ucap dokter Bily.


Tidak lama kemudian, baby Rangga dan ayahnya di pindahkan di ruang ICU sesuai dengan usia mereka.


Giska mendekati putranya yang sudah selamat dari maut. Nyonya Nunung begitu senang melihat cucunya sudah terbebas dari ruang kaca yang mengurung tubuhnya hampir setahun lamanya.


"Bunda, kita sudah bisa memeluk dan menciumnya. Aku sangat bahagia bunda walaupun menyimpan kesedihan untuk mas Daffin." Ujar Giska.


"Mungkin semuanya pasti ada hikmahnya sayang. Bunda mohon tolong jangan piara egomu lagi jika kamu ingin putramu cepat sembuh." Ucap Nyonya Nunung menasehati putrinya.


"Insya Allah bunda, aku tidak mau melawan bunda lagi, nggak mau so tahu lagi. Aku ingin mas Daffin cepat sadar dan sembuh. Aku takut dia bisa meninggal bunda....hiks... hiks." Giska terus meratapi kebodohannya yang tidak sengaja sudah mendorong suaminya hingga jatuh.

__ADS_1


"Sekarang bunda mohon kamu istirahat saja dulu sayang. Tidurlah sebentar. Ini sudah jam tujuh pagi. Tapi sebelumnya kamu harus makan terlebih dahulu." Ucap Nyonya Nunung.


"Baik bunda!"


Giska mengambil nasi kuning yang sudah di bawa pelayan mansionnya untuk mereka. Bundanya memberikannya obat agar Giska bisa istirahat karena masih merasa syok atas kejadian semalam. Gadis itu pun tidur dengan tenang di sisi bundanya yang sedang menunggu putranya Giska yaitu baby Rangga.


🌷🌷🌷🌷🌷


Setibanya keluarga besar dari Daffin, nyonya Alya menangisi putranya yang terbaring koma. Ia sangat menyayangkan sikap Giska yang terlalu berlebihan mengekspose amarahnya hingga membuat putranya terjatuh.


Kyai Azzam yang saat ini sedang menemui keluarga besannya ingin mengetahui sendiri kronologi kejadian sebenarnya langsung dari mulut Giska.


Gadis ini menjelaskan kembali apa yang dialaminya ketika bersama Daffin kemarin malam tanpa memberi tahukan alasan yang sebenarnya, mengapa ia dengan tega mendorong ayah dari bayinya tersebut.


"Jika kamu tidak ingin rujuk dengan putraku, mengapa kamu harus mendorongnya, nak Giska? bukankah dengan melalui perkataanmu saja itu lebih dari cukup memperingatkan dirinya dengan keras.


Tidak perlu memperlakukan putraku seperti dia ingin berbuat jahat padamu." Ucap kyai Azzam pada menantunya Giska yang sedang tertunduk dengan menerima semua tuduhan dari ayah mertuanya kepada dirinya.


"Jika saja kamu tahu apa yang dilakukan putramu, mungkin Abah juga tidak akan menyalahkan aku sepenuhnya untuk kasus ini." Gumamnya membatin.


Giska tidak mau membantah sedikitpun atas tuduhan Kyai Azzam pada dirinya. Ia pasrah menerima cacian dan makian dari keluarga mantan suaminya Daffin.


Tuan Ruslin membuka pintu kamar inap dan melihat petugas pengayom masyarakat itu sudah berada di depan pintu.


"Selamat malam Tuan!"


"Selamat malam!" Ucap Tuan Ruslin dengan tenang.


"Mohon maaf menganggu kenyamanannya Tuan, kami dari kepolisian ingin menangkap tersangka utama percobaan pembunuhan terhadap Tuan Daffin dan ini surat penangkapan untuk nona Giska." Ucap pihak berwajib itu.


Tuan Ruslin memegang dadanya menahan rasa sakit pada jantungnya.


"Ayah!"


"Ada apa ya pak?" Tanya Nyonya Nunung.


Polisi itu mengulangi perkataannya kepada nyonya Nunung.


"Tidak pak!" Ini semua terjadi bukan di sengaja." Nyonya Nunung membela putrinya.

__ADS_1


" Maaf Nyonya, putri anda yang akan menjelaskan semuanya di kantor polisi. Dia berhak didampingi oleh pengacara dalam menangani kasus anda nona Giska." Ucap polisi Adnan kepada Nyonya Nunung.


Polisi langsung masuk ke dalam kamar inap tersebut dan meminta Giska bersedia untuk dimintai keterangannya terkait masalah Daffin.


"Ayah lakukan sesuatu ayah! aku tidak ingin putri kita dibawa oleh mereka di tahanan polisi." Nyonya Nunung memohon kepada suaminya yang masih syok melihat polwan memborgol Giska.


"Tidak apa bunda, lagi pula aku memang bersalah dalam hal ini." Ucap Giska yang sudah diborgol oleh polwan.


"Bunda tolong jaga putraku bunda dan tolong meminta pelayan untuk mengambil ASI milikku selama aku diperiksa di kantor polisi." Ucap Giska sambil menangis pilu.


"Sayang aku mohon katakan terus terang bahwa kamu melakukannya pasti ada alasan lain yang membuatmu sangat marah pada Daffin." Ucap Nyonya Nunung.


Giska tidak mau lagi berdebat dengan ibunya karena dua polwan menggiring dirinya keluar dari kamar inap VVIP milik putranya.


Sementara Kyai Azzam yang melihat Giska dibawa ke kantor polisi hanya diam membisu ketika anak menantunya itu digiring ke kantor polisi setempat.


"Kyai Azzam, aku mohon tolong lakukan sesuatu untuk putriku!" Giska tidak bersalah, putriku tidak bersalah, kasihanilah putriku karena dia harus menyusui putranya yang baru saja selamat dari maut." Pinta Nyonya Nunung dengan terus menghiba pada Kyai Azzam yang tidak bergeming sedikitpun.


Tuan Ruslin hanya bisa pasrah dan menerima semua kejadian ini sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Yang tajam kebawah dan tumpul ke atas.


Giska mengikuti langkah polisi dengan wajah tertunduk. Ia tidak mempermasalahkan dirinya jika ditangkap oleh polisi.


Di kantor polisi, dua orang polwan memeriksa kasusnya Giska sambil mengintrogasi Giska yang masih terus menangis karena tidak bisa merawat putranya pasca menjalani operasi.


"Apakah anda sengaja ingin membunuh mantan suami anda karena memiliki dendam tertentu?" Tanya polisi Adnan.


"Iya pak!" Itu benar.


Aku merasa sangat sakit hati padanya karena ia telah mengabaikan aku selama aku hamil sampai aku melahirkan." Ujar Giska.


"Apa motif dari penolakan itu terkait tuduhan Tuan Daffin atas perselingkuhan anda?"


"Maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda yang terlalu obyektif pak polisi."


"Hanya karena dimintai rujuk anda langsung mengamuk dan mendorong tubuhnya dengan kencang sehingga ia jatuh karena kehilangan keseimbangan tubuhnya saat itu, bukankah begitu nona Giska?" Tanya polisi Adnan lebih tegas.


"Iya, saya memang bersalah, jadi tolong lakukan proses hukum sesuai dengan hukum yang berlaku dengan kesalahan saya." Ucap Giska.


"Baiklah kalau begitu kasus Anda akan kami timpakan ke pengadilan negeri Jakarta Selatan untuk ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia." Ucap polisi Adnan lalu meminta polwan untuk membawa Giska ke sel tahanan polres Jakarta Selatan.

__ADS_1


__ADS_2