TOBATNYA GADIS ANGKUH

TOBATNYA GADIS ANGKUH
42. PART 42


__ADS_3

Memasuki usia kandungan sembilan bulan, perut Giska yang sangat besar dan membuatnya sedikit sulit berjalan cepat. Bokongnya makin berisi dengan pa**dara yang makin besar dan montok.


Akhir-akhir ini Giska selalu mengeluh sulit tidur, sesak nafas dan mudah ngambek apa lagi ditambah kontraksi yang sering datang silih berganti. Daffin tidak akan tidur sampai istrinya terlelap. Lelaki tampan ini ingin menjadi seorang suami siaga menjelang persalinan istrinya, apa saja yang dibutuhkan istrinya selalu dipenuhinya termasuk urusan ranjang, Daffin dengan senang hati melakukannya.


Prediksi dokter Risna bahwa Giska akan melahirkan sekitar tiga hari lagi, seperti biasa Daffin yang ingin melancarkan persalinan istrinya selalu mengajak istrinya bercinta sebelum tidur dan kadang usai bercinta Daffin tetap melakukan senam lidahnya pada bagian sensitifnya istrinya sampai Giska tertidur karena kelelahan mendapatkan kenikmatan yang dilakukan oleh suaminya.


Hari yang telah dijanjikan sebagai tanda-tanda Giska akan melahirkan tiba. Kontraksi yang awalnya datang setiap satu jam sekali berubah setengah jam sekali. Giska selalu menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan-lahan ketika kontraksi sudah mulai sering terjadi pada rahimnya.


"Sayang, apa kita perlu ke rumah sakit sekarang?"


"Sebentar lagi mas Daffin, biarkan saja dulu, sampai durasi kontraksinya makin maju waktunya."


"Tapi aku sangat tidak tega melihatmu kesakitan sayang."


"Baiklah, ayo kita berangkat."


Mereka pun keluar dari kamar dengan menarik satu koper kecil perlengkapan bayi dan ibunya. Pelayan langsung mengambil koper itu dari tangan tuannya. Ummi Alya yang melihat menantunya yang kepayahan menawarkan diri untuk ikut mengantarkan ke rumah sakit.


"Giska Ummi ikut ya sayang!"


"Tidak usah Ummi, nanti Daffin kabarin kalau saya sudah melahirkan."


"Baiklah, semoga kelahiran babynya lancar, teruslah berdoa dan jauhi setress."


"Iya ummi, maafkan Giska kalau Giska sering nyakitin ummi."


"Tidak sayang, ummi tidak pernah merasa tersakiti olehmu."


"Giska berangkat ya ummii."


"Mamiiii!


Panggil baby Rangga ketika melihat maminya yang sudah ada dihadapannya.


Rangga mau ikut mami," ucap Rangga dengan wajah memelas berharap Giska mengajaknya serta.


"Muaacch, anak mami sudah besar, entar lagi mau jadi abang, nanti baby Rangga bisa nyusul mami sama papi kalau dede bayi sudah lahir sayang," ucap Giska menenangkan putranya.


"Bye mami!"


"Bye, my son!"


Giska berjalan menuju mobil yang sudah siap membawa mereka ke rumah sakit, Daffin tidak sanggup lagi mengikuti langkah istrinya yang terlalu pelan berjalan, ia menggendong istrinya bridal style membawanya ke mobil.


"Mas Daffin aku mau jalan sendiri supaya proses lahirnya lebih cepat sayang."


"Nanti aja di rumah sakit sayang!"


Kendaraan Daffin mulai bergerak meninggalkan mansion. Daffin yang menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Mobilnya sudah membaur dengan kendaraan lain ditengah jalanan ibukota. Di tengah perjalanan ketuban Giska tiba-tiba pecah. Giska yang merasa paha dan betisnya ada cairan bening mengalir, mencoba menyibak dress-nya, betapa terkejutnya ia melihat air ketuban sudah merembes mengalir pelan dari pangkal pahanya sampai betisnya yang putih mulus.


"Astaga mas Daffin, ketubanku sudah pecah sayang, tolong di percepat nyetirnya atau aku akan melahirkan di mobil ini," teriak Giska membuat suaminya sangat panik.


Daffin yang merasa berpengalaman berhadapan dengan perempuan yang melahirkan begitu gugup kali ini, karena baby Rangga lahir ditemani oleh dirinya. Ini adalah pengalaman keduanya membuatnya menggaruk tengkuknya sambil melirik wajah istrinya menahan kontraksi yang mendesaknya untuk mengejan. Daffin meraih jemari istrinya sambil mencium punggung tangan istrinya lembut untuk memberikan kekuatan pada Giska yang sedang meringis kesakitan.


"Sabar sayang sedikit lagi kita sampai rumah sakit, tolong ditahan baby, jangan sakiti mami sayang."


"Mas Daffin!"


Ini sangat sakit sayang," keluh Giska yang merasakan pinggang dan otot perutnya mengalami kontraksi hebat.


Daffin menyalakan lampu hazle untuk memberikan tanda pada pengendara lain bahwa dirinya sedang meminta diberi jalan untuk memudahkannya mencapai rumah sakit. Satu persatu kendaraan yang di depan Daffin memberikan jalan untuk Daffin mempercepat kendaraannya.


Dengan dibantu oleh dokter Risna Giska berusaha mengumpulkan tenaganya supaya bisa mengejan lebih cepat, Daffin yang mendampingi istrinya hanya menangis menatap wajah sakit Giska.


"Ya Allah, apakah begini seorang ibu melahirkan anaknya, mami maafkan Daffin ummi!! gumamnya dalam hati."


"Nyonya Giska! ikuti aba-aba dari saya, tarik nafas, tarik terus supaya baby cepat keluar," titah dokter Risna pada Giska


"Bismillahirrahmanirrahim"


"Mas Daffin.aaaa!!"


Teriakan itu kembali terjadi membuat Daffin merasakan sakit pada perutnya. Awalnya lelaki ini ingin menguatkan istrinya, malah dirinya sendiri merasakan sakit yang amat sangat seperti rasa sakit yang sama setahun yang lalu.


"Ya Tuhan, jangan-jangan inikah kontak batin yang pernah disampaikan oleh dokter Rizal yang menanganinya waktu itu.


"Oeee, oee!".. tangis bayi itu menggema dalam ruang bersalin itu." satu bayi diletakkan diatas dada Giska untuk memberikan bayi kecil itu mencari makanan pertamanya pada put*ng ibunya.


Bayi perempuan pertamanya sudah keluar dari rahim ibunya dengan selamat, sekarang tinggal bayi perempuan satu lagi. Dokter Risna meminta Giska mengambil napas lagi yang dalam, seperti yang telah dilakukan sebelumnya pada bayi kembar pertamanya.


"Kita mulai lagi nyonya untuk baby kembar yang satunya, lakukan yang seperti tadi, tarik nafas lalu dorong yang kencang!"

__ADS_1


dalam waktu lima menit bayi perempuan kedua lahir. Sakit yang sama kembali terjadi pada perut Daffin dan kali ini lelaki tampan itu sampai jatuh pingsan karena tidak kuat menahan sakit pada perutnya. Giska dan dokter tersentak melihat Daffin yang limbung seketika saat bayi ke dua mereka lahir.


"Astaga, suster cepat tolong Tuan Daffin teriak dokter Risna panik."


Tiga orang suster berusaha membantu Daffin yang sudah tergeletak dilantai ruang bersalin dengan wajah pucat. Dua orang perawat lelaki membantu suster saat tubuh tuan Daffin sudah di depan pintu ruang bersalin. Daffindi pindahkan ke ruang IGD untuk penanganan lebih lanjut. Malika yang masih ditangani oleh dokter Risna melakukan proses pasca melahirkan baby kembar. Giska merasa gelisah memikirkan suaminya tanpa ingat baby kembarnya.


"Dokter, apa yang terjadi dengan suami saya dokter?


Mengapa dia pingsan?


Padahal dia tidak melihat darah secara langsung karena terhalang tirai saat saya melahirkan tadi?"


"Entahlah nyonya, mungkin Tuan Daffindi sakit atau ada yang membuatnya tidak tahan dengan sesuatu hingga membuatnya pingsan, nanti biar rekan saya yang akan mengabarkan anda nyonya. Saya harus merapikan keadaan anda dulu supaya bisa dipindahkan ke kamar pribadi."


"Bagaimana dengan baby kembarnya dokter?"


"Alhamdulillah mereka sehat dan sangat cantik, suster sedang membersihkan tubuh mereka tapi mereka belum bisa di bawa ke ruangan anda kecuali ingin belajar menyusui.


Giska menunggu proses pasca dirinya yang baru saja melahirkan sambil menunggu suaminya segera sadar. Daffin yang sudah mulai siuman melihat dirinya sudah berada di ruang IGD, dia pun bangun dan melangkah keluar meninggalkan ruang IGD, ketika baru menggapai daun pintu, ia dikejutkan dengan dokter Endra


"Mau ke mana tuan Daffin?"


"Aku ingin menemui istri dan bayi kembarku."


"Apakah anda sudah merasa baikan, apa yang terjadi dengan anda sehingga anda pingsan?"


"Itu dia dokter, saat saya menemani isteri saya melahirkan saya merasakan perutku sangat sakit yang luar biasa seperti setahun yang lalu dan saat putri kedua saya lahir, sakit itu datang lagi dokter."


Dokter Endra mencerna semua penjelasan tuan Daffin tentang sakit pada perutnya


"Selamat tuan Daffin atas kelahiran baby kembarnya semoga menjadi putri yang sholehah dan selalu sehat."


"Aamiin, terimakasih untuk ucapan nya serta diagnosa anda yang sangat tepat yang telah terjadi pada perut saya hari ini."


"Sama-sama tuan Daffin."


Secepat kilat Daffin telah melesat ke ruang pribadi milik keluarganya yang ada di rumah sakit miliknya, ia ingin sekali bertemu dengan istri dan baby kembarnya yang belum sempat ia kumandangkan azan pada baby kembarnya. Pintu dibuka dan terlihatlah senyum istrinya menyambutnya.


"Honey, maafkan aku, tadi aku sempat pingsan karena perutku mendadak sakit saat kamu mengejan baby kembar kita."


"Ya Allah mas Daffin, kamu membuatku sangat kuatir, emangnya kamu makan apa sayang sampai perutmu sesakit itu?"


"Ya Allah mas Daffin setahu saya, yang ada juga kekasih atau suami yang mengalami kehamilan simpatik, tapi beda dengan kasusmu malah mengalami kelahiran simpatik.


"Apakah kamu sangat mencintaiku sayang? tanya Giska menatap manik suaminya mencari kejujuran dari balik jendela hati itu."


"Lebih dari kata sangat sayang, kau lebih dari apapun di dunia ini yang pernah kumiliki, dan kehadiran tiga buah hati kita sebagai kesempurnaanmu untuk membuatku makin membuat ku mencintaimu seumur hidupku sayang.


Terimakasih telah melahirkan putra putriku Giska. Sayangku, cintaku, istriku bidadariku, kaulah duniaku saat ini, jangan pernah pergi dari hidupku tanpa izinku walaupun itu adalah kematian. Jika ingin pulang dari dunia ini ajaklah bersamaku, itu pintaku padamu sayangku," ucap Daffin sambil menatap manik mata istrinya lalu dikecup bibir istrinya dan dipeluk tubuh yang telah melahirkan penerus tahta kerajaan bisnisnya ini.


"Terimakasih mas Daffin, aku makin mencintaimu sayang, tetaplah seperti ini, jangan pernah berubah jika suatu saat ada yang kurang dari tubuhku ataupun perlakuanku yang membuatmu kecewa, tolong jangan pernah kamu pindah ke lain hati!"


Keduanya kembali berpelukan mesra. Pintu kamar itu dibuka oleh suster yang sedang membawa kereta bayi kembar Giska.


"Maaf tuan!, mohon maafkan saya!, saya tidak tahu tuan sudah bersama nyonya."


"Tidak apa suster, mungkin anda butuh tontonan gratis dari kami berdua," ucap Daffin datar menyindir suster yang kurang adab itu.


Giska yang tidak enak hati melihat ketakutan suster itu, sengaja mengalihkan perhatian suster yang sedang membawa bayi kembarnya.


"Sini, suster bawakan bayi saya, saya ingin menyusuinya."


"Sayang, aku belum sempat azan di telinga putri kembar kita."


Tidak lama dokter Risna masuk ke ruangan itu ketika melihat suster yang masih berdiri mematung, dokter itu mengangkat satu bayi di berikan kepada Daffin untuk di adzanin oleh papinya dan satu lagi diberikan kepada Giska untuk disusui.


Suster itu pamit pada dokter untuk meninggalkan kamar pribadi milik bosnya itu. Dokter juga ikut keluar karena tidak ingin menganggu keluarga kecil itu yang sedang menikmati kebersamaan keluarga kecil itu bersama baby kembar mereka.


Daffin mengumandangkan adzan pada satu putrinya dan bergantian dengan putri yang lainnya.


"Subhanallah sayang mereka cantik sekali persis sepertimu Giska."


"Terimakasih papi untuk pujiannya," ucap Giska meniru suara anak kecil mewakili putrinya.


"Sayang, berarti nanti aku puasa lagi dong?," tanya Daffin di sela-sela Giska sedang menyusui bayinya.


Daffin yang gemas melihat pa****ra istrinya yang sedang di isap oleh putrinya.


"Baby, kali ini papi kontrakin milik dady ini pada kalian berdua ya, tiba saatnya nanti kembalikan pada dady," ucap Daffin pada baby kembarnya.


Giska terkekeh mendengar kicauan Daffin yang asal bicara pada bayi kembar mereka. Daffin melihat babynya yang asyik menyusui di belahan dada istrinya yang sekarang sudah mengalir ASI.

__ADS_1


Nyonya Nunung dan nyonya Alya bersama suami mereka datang dengan baby Rangga yang ikut membesuk maminya yang baru melahirkan adik kembarnya.


"Mami ini dedenya Rangga" ucap Rangga yang sedang berjingkrak senang melihat adik kembarnya yang tertidur di kotak tempat tidur bayi


"Selamat ya putriku, terimakasih sudah melahirkan dengan selamat," ucap nyonya Nunung pada putrinya.


Giska memeluk bundanya dengan sangat kuat, ia menangis sesenggukan dalam pelukan mamanya. Nyonya Nunung sedikit bingung mengapa putrinya menangis.


"Sayang, kenapa kamu menangis sayang?"


"Maafkan Giska bunda, Giska sudah merasakan menjadi seorang ibu setelah melahirkan anak-anak Giska, terimakasih bunda sudah bersusah payah melahirkan dan membesarkan Giska."


"Begitulah sayang, seorang wanita akan lebih menghargai ibunya ketika dia sudah sempurna menjadi seorang ibu, melahirkan, menyusui dan membesarkan anak-anaknya sampai mereka dewasa, itulah pengorbanan seorang ibu."


"Giska sayang bunda..hiks..hiks!"


Setelah reda tangisnya, kini gantian nyonya Alya mengucapkan selamat pada Giska, lagi-lagi Giska memeluk ibu dari suaminya seperti ia memeluk bundanya tadi.


"Terimakasih ummi, sudah melahirkan dan memberikan putra ummi untuk menemani Giska seumur hidup Giska, terimakasih sudah membesarkan putra hebat untuk menjadi suamiku sekarang."


Nyonya Alya yang tidak kuat menahan harunya, memeluk menantunya itu dengan penuh kasih sayang,


"Ummi sangat bersyukur karena Allah mengirimkan dewi fortuna sepertimu dalam keluarga mami sayang, ditambah lagi mami mendapatkan bonus cucu kembar yang sangat cantik dan putramu yang sudah mewarnai hari-hari mami yang sepi. Entah apa yang terjadi pada kami jika Daffin tidak bisa bertemu dengan belahan jiwanya dalam dirimu," tutur nyonya Ambar tulus pada menantunya, yang membuat Giska makin berderai air matanya.


Daffin menghampiri dua wanitanya yang melahirkannya dan melahirkan putra-putrinya. Ketiganya menangis haru pada momen bahagia hari ini. Tuan Ruslin dan Kyai Azzam yang juga menyaksikan adegan drama keluarga ini juga menangis. Nyonya Nunung hanya mengusap wajahnya dari cucuran air matanya, betapa bahagianya nyonya Nunung karena putrinya berada ditengah keluarga yang tepat yang menyayangi putrinya dan keluarganya.


"Ya ampun sampai lupa sama si kembar," ucap nyonya Nunung menghampiri si kembar yang sedang membuka mata mereka menatap keluarga yang saat ini sedang mengelilingi mereka.


"Ya Allah cantiknya cucu opa, opa gendong ya."


"Oh iya, apakah kalian sudah menyiapkan nama untuk putri kembar kami?," tanya Daffin yang sudah mengakhiri harunya.


"Sudah!"


Jawab kedua ibu mereka bersamaan.


"Sekarang dari bunda dulu, bunda mau pilih yang mana cucu bunda yang ingin mami berikan nama."


"Ini yang sedang digendong Abahmu Daffin"


"Berarti putri yang ummi gendong sekarang, ummi yang akan kasih nama.


Daffin dan Giska saling menatap, sedangkan Kyai Azzam sedang menemani baby Rangga yang tidak bisa diam dalam satu tempat. Bayi montok itu sepertinya ngerjain eyang kakungnya, ia berlari ke sana kemari dengan terus terkekeh, sampai akhirnya tubuhnya jatuh membentur lantai.


"Tuh, kan jatuh."


Kyai Azzam menggendong Rangga dan kembali masuk ke dalam kamar inap milik putrinya. Di dalam sana sedang terjadi diskusi hangat mengenai nama si kembar. Nyonya Nunung menyemaikan nama indah untuk cucunya yang sangat cantik.


"Ummi ingin memberikan nama cucu ummi yang ini bernama


"Kanaya"


"Kalau bunda mau beri nama cucu bunda yang ini bernama


"Kayla"


Kayla dan Kanaya memiliki arti yang sama yaitu "Ratu"


Kedua besan itu sangat senang saat memberikan nama itu yang sudah dicatat oleh suster untuk mendapatkan akte kelahiran keduanya yang dikeluarkan langsung oleh rumah sakit milik mereka. Daffin dan Giska melihat kekompakan ibu mereka, membuat pasangan ini sangat senang sudah melibatkan ibu mereka dalam pemilihan nama untuk bayi kembar mereka. Keluarga itu kembali ke kediaman mereka masing-masing sambil membawa cucu lelaki mereka. Giska memeluk putranya dan mencium pipi putranya itu. Baby Rangga harus berbagi cinta dan kasih sayang kepada adik kembarnya.


"Giska kami pulang dulu ya nak, ummi akan menunggu kedatanganmu dengan si kembar di mansion."


"Ummi juga sayang, mau sekalian pamit pulang.


"Mami kapan pulang bawa dede kembar," tanya Rangga pada ibunya.


"Lusa mami sudah pulang sayang, abang Rangga tunggu dede kembar di rumah sama oma dan opa ya."


"Mami, muuacch," cium Rangga tepat di bibir Giska membuat Daffin terpana putranya mengecup bibir istrinya. Giska hanya tertawa senang mendapatkan kecupan dari bibir lembut putranya dengan sedikit percikan liur putranya pada bibirnya.


Daffin menggendong putranya, mengantar orang tua dan mertuanya sampai pintu lift di lantai kamar pribadi dekat dengan kamar inap Giska. Sepulangnya dari mengantar keluarganya Giska kembali ke kamar Giska.


"Sayang apa yang kamu rasakan saat putra kita mengecup bibirmu?"


"Pastinya bahagia sayang."


"Putraku sudah hebat sekarang, pintar mengecup bibir."


"Itu karena dia selalu melihatmu, makanya sekarang jaga sikap kamu jangan asal, supaya baby tidak melakukan hal yang aneh-aneh seperti papinya"


Daffin hanya tersenyum melihat istrinya yang sedikit protes dengan ulahnya yang nakal, kemudian ia memagut bibir istrinya dan ciuman itu makin panas, Giska yang takut suaminya terpancing berusaha menghentikan ciumannya.

__ADS_1


__ADS_2