
Hari ini kepulangan Giska kembali ke mansion, Daffin yang sempat mampir ke toko bunga untuk membeli bunga kesukaan istrinya, bunga mawar putih adalah pilihan Daffin. Tidak lupa Daffin juga mencari perhiasan yang sekarang lagi sedang mengeluarkan koleksi perhiasan baru di konter perhiasan mewah itu.
Daffin melihat-lihat seperangkat perhiasan di salah satu konter perhiasan yang ada di Mall tersebut. Ia meminta salah satu pelayan toko itu untuk merekomendasikan perhiasan mewah yang ada di toko itu.
Pelayan itu mengeluarkan lima model perhiasan mewah dari koleksi yang mereka punya. Daffin membeli salah satu perhiasan dengan model yang sangat antik untuk istrinya yang baru saja melahirkan putri kembarnya.
Di rumah sakit, tepatnya di kamar inap, Giska sedang bersiap-siap untuk pulang membawa bayi kembarnya yang sudah di tunggu keluarga besarnya di mansion suaminya. Wanita cantik ini meninggalkan baby kembarnya yang sedang tidur pulas di dalam kotak kaca bening dekat dengan tempat tidurnya.
Ia sedang membersihkan dirinya dalam kamar mandi di dalam ruang inap pribadinya itu. Usai mandi dan berpakaian yang rapi, Giska menghampiri babynya yang ingin disusuinya, saat mendekati boks bayinya itu, Giska mendapati baby Kayla mengisap ibu jarinya sendiri.
"Anak mama sudah lapar ya?" Giska mengajak putrinya untuk ngobrol.
Saat Giska sedang asyik menyusui bayinya, Daffin datang dengan membawa satu buket bunga mawar putih dan satu perangkat perhiasan untuk istri tercinta.
"Assalamualaikum bidadariku." Ucap Daffin dengan memberikan hadiahnya pada sang istri.
"Waalaikumuslam papa Daffin!" Terimakasih untuk hadiahnya." Ucap Giska seraya menyerahkan kalung berlian itu kepada suaminya agar Daffin menolong memakaikan pada lehernya.
Giska memperhatikan penampilannya yang sudah rapi itu dengan kalung berlian yang dikenakannya saat ini.
"Subhanallah, kamu cantik sekali sayang." Daffin memuji istrinya.
Giska mengenakan hijabnya untuk bersiap meninggalkan rumah sakit dengan membawa si kembar.
Daffin meminta sopir pribadinya membawanya ke mobil. Kedua adik perempuan Daffin yang menggendong baby Kayla dan Kanaya.
"Mariam kamu mau gendong siapa?" Tanya Asia.
"Siapa sajalah, babynya kembar ini." Ujar Mariam.
"Aku mau gendong baby Kayla saja." Ucap Asia seraya mengangkat tubuh ponakannya itu dari boks bayi yang ada di kamar inap VVIP itu.
Keduanya mengikuti kursi roda milik Giska yang sedang di dorong oleh Daffin menuju lobby rumah sakit.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Di mansion milik Daffin, keluarga besar itu sudah berkumpul menyambut kedatangan anggota baru mereka berupa dua bidadari cantik, baby Kayla dan baby Tania.
Abang Rangga sedikit cembu melihat kedua nenek dan kakeknya lebih sibuk memperhatikan adik kembarnya dari pada dirinya.
Insting Giska yang begitu kuat merasakan kegundahan hati putra sulungnya. Ia pun menghampiri putranya dan meminta suaminya menggendong mas Rangga.
__ADS_1
"Sayang, kamu lihat wajah mas Rangga, sepertinya dia merasa tersisihkan karena semua orang lebih memperhatikan adik kembarnya." Ucap Giska.
"Astaga!" Jangan biarkan hatinya dikuasai rasa cemburunya pada adik kembarnya."Ujar Daffin.
"Tolong gendong dia sayang!" Giska ingin menghibur putranya yang masih menatap Oma Nunung sedang menggendong baby Kayla.
"Mas Rangga mau main sama papa?" Tanya Daffin seraya menggendong putranya.
"Papa, apakah Rangga tidak disayang lagi sama Oma, opa dan eyang?" Tante Mariam dan Tante Asia juga tidak mau bermain dengan Rangga lagi." Ucap Rangga sedih.
"Sayang, mana mungkin semuanya begitu pada Rangga, lagian Rangga itu kan cucu pertama untuk mereka. Mungkin saat ini adik kembar baru datang ke rumah kita, jadi lagi disambut kedatangannya, nanti setelah ini, mereka akan kembali memperhatikan Rangga.
Sekarang, mas Rangga mainnya sama papi dan mami saja ya!" Pinta Rangga pada putranya.
Rangga mengajak papinya bermain bola. Untuk menghibur putranya Daffin mengajak asistennya Faiz dan ayah mertuanya bermain bola bersama Rangga.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ketika usia baby kembar dua tahun. Keluarga ini memutuskan berangkat umroh bersama dengan keluarga besar mereka.
Di tengah perjalanan umroh, Faiz selalu memperhatikan wajah cantik Asia. Ia ingin sekali melamar Asia namun hatinya takut keluarga Daffin tidak menerimanya karena Faiz tidak memiliki keluarga utuh.
Setibanya hotel zam-zam tower, keluarga besar ini menginap dan akan melanjutkan ritual pertama ibadah umroh mereka dengan melakukan tawaf dan di lanjutkan dengan sa'i.
Daffin dan Giska nampak khusu berdoa si depan Ka'bah usai melaksanakan ritual ibadah umroh. Keduanya menangis dengan bayak meminta ampun kepada Allah atas kesalahan dan dosa mereka di masa lampau.
"Ya Allah!" Kami telah melewati banyak ujian dalam rumah tangga kami dengan penuh perjuangan untuk kembali bersama lagi. Berilah kami kesempatan untuk memperbaiki semua atas kesalahan-kesalahan kami yang pernah kami perbuat.
Lindungi keluargaku dari adzab api neraka-Mu ya Robby. Jauhkan kami dari hal-hal yang membuat Engkau murka pada keluarga kami.
Bimbinglah kami ke jalan yang lurus untuk membesarkan anak-anak kami kelak menjadi penerus dakwah agamamu.
Ridhoi langkah kami untuk selalu beribadah dan bersyukur kepadaMu. Semoga kami menjadi hambaMu yang sholih yang akan menempati surga Firdaus yang Engkau janjikan untuk hamba-hambaMu yang bertakwa." Aaaamiin." Daffin dan Giska mengakhiri doa mereka dengan saling meminta maaf satu sama lain.
"Mas Daffin, Giska minta maaf karena sudah banyak kesalahan Giska pada mas Daffin." Ucap Giska seraya mencium tangan suaminya dengan penuh takzim.
"Mas yang banyak melakukan kesalahan padamu sayang, mas mohon maaf telah melukai hatimu berkali-kali dan menghabiskan air matamu setiap saat." Ucap Daffin dengan tangis tak tertahankan.
"Di depan Baitullah ini, mas Daffin berjanji akan membuat hidupmu selalu bahagia dalam membesarkan putra-putri kita." Ucap Daffin.
Setelah berdoa di depan Baitullah. Keduanya kembali bergabung dengan keluarga mereka yang juga melakukan ibadah terakhir mereka untuk kembali ke Indonesia.
__ADS_1
Daffin yang mengetahui jika Faiz ingin melamar Asia, langsung menghadap ke Abahnya sambil mengajak Faiz.
"Sekarang kita katakan Faiz!" Apa yang ada di dalam hatimu pada Abah dan ummi aku!" Titah Daffin.
"Tapi Tuan Daffin saya...?"
"Cinta tidak memandang status, kalau hati sudah mantap dalam memilih, sampaikan saja pada Abah. Kalau terlalu lama, maka diembat sama laki-laki lain. Bukankah nantinya kamu juga akan menyesal." Ujar Daffin.
Kata-katanya terhenti karena Daffin langsung menyerobot ucapannya.
"Ada apa nak Faiz?" Tanya Kyai Azzam kepada asisten putranya ini.
"Maaf kyai!" Sa-saya mau melamar salah satu putri kyai yang bernama Asia." Ucap Faiz ragu-ragu.
"Apakah kamu siap membimbing putriku seperti aku mengajarkan dirinya untuk tetap istiqamah di jalan Allah." Ucap kyai Azzam pada Faiz.
"Insya Allah Kyai!"
"Kalau begitu, niat baikmu harus di laksanakan malam ini juga! mumpung masih berada di rumah Allah, di tanah suci Mekkah."
"Apa???" Tanya Faiz dan Daffin yang tidak percaya pernikahan dilakukan secepatnya hari itu juga.
"Persiapkan dirimu Faiz, malam ini juga kalian menikah di Masjidil Haram." Ujar Kyai Azzam.
Daffin menganggukkan kepalanya kepada asistennya Faiz untuk mempercepat proses pernikahan mereka.
Pernikahan yang digelar malam itu juga membuat Asia yang paling kelimpungan karena hatinya yang masih takjub dengan lamaran Faiz kepadanya. Ia pribadi sangat menyukai Faiz hanya saja takut menyatakannya.
Rupanya cinta dalam diam itu lebih didengarkan oleh Allah dan mewujudkan impian kedua insan itu.
Dengan didampingi kedua orangtuanya, Asia siap dinikahkan oleh ayahnya sendiri yang menjadi walinya nikahnya di depan saksi yaitu Tuan Ruslin dan Tuan Daffin serta Ustadz Sholeh yang menjadi pembimbing rombongan ibadah umroh.
Di hadiri juga keluarga dan jamaah umroh lainnya, pernikahan itu berlangsung dengan sangat khidmat.
Akhirnya semua keluarga bahagia dan cerita pun selesai.
"**Tamat"
🔥🔥 "Menjelang ibadah ramadhan yang sesaat lagi akan dilaksanakan, saya Author Sindya mengucapkan selamat menjalani ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin, Semoga ibadah kita di terima oleh Allah SWT."🔥🔥🙏
Aaamiin**.
__ADS_1