
"Sayang, akhirnya kamu pulang juga. Mama kangen banget sama kamu," ucap Merlyne saat anak dan menantunya tiba di rumahnya.
"Nama, aku kangen sama Mama dan suasana rumah." Marcell mencium punggung tangan Ibunya lalu setelah itu giliran Chintya yang mencium punggung tangan mertuanya.
Merlyne membuang muka saat Chintya mencium tangannya, senyumnya pun hilang seketika itu.
Belum sempat Chintya mencium punggung tangan Ibu mertuanya, Ibu mertuanya itu sudah menarik tangannya lalu segera mengajak Marcell masuk ke dalam rumahnya.
"Marcell, ayo masuk sayang. Mama, udah siapin makanan kesukaan kamu." Merlyne merangkul punggung Marcell lalu membawanya berjalan masuk ke dalam rumahnya!
Chintya hanya diam dan masih berdiri di depan pintu saat Marcell sudah mulai masuk ke dalam bersama ibu mertuanya.
"Sabar ya kak. Ayo masuk," ucap Julius yang tahu dengan sikap Mamanya pada Chintya.
Chintya tersenyum lebar lalu mengangguk pelan.
"Gapapa kok. Ya udah kamu duluan," ucap Chintya.
"Nggak mau, aku maunya kakak yang jalan duluan."
Chintya tertawa kecil lalu mulai berjalan memasuki rumah sang mertua.
"Mah, Mas Marcell mana?" tanya Chintya karena tidak melihat Marcell bersama Merlyne.
"Dia sedang istirahat di kamarnya, kamu jangan ganggu dia lebih baik kamu kerjain pekerjaan di dapur. Tuh Mbak Siti lagi sibuk nyuci piring," ketus Merlyne sembari menunjuk ke arah dapur rumahnya.
"Ya Allah, sebenarnya aku capek tapi apa boleh buat aku gak bisa seenaknya di rumah mertuaku," ucap Chintya didalam hatinya.
"Kenapa malah bengong, kamu gak mau bantuin Mbak Siti? Ingat ya kamu itu menantu di rumah ini jadi jangan berharap jadi Ratu dasar wanita pembawa sial seharusnya kamu tahu diri kalau kamu cinta sama Marcell seharusnya kamu langsung pergi sebelum kejadian yang sama terulang lagi."
"Astaghfirullah Ma, aku cinta sama Mas Marcell. Gak mungkin aku pergi ninggalin dia."
"Egois kamu tuh ya, gara-gara nikah sama kamu, Marcell jadi harus masuk rumah sakit dan selama dia masih berumahtangga dengan kamu, nyawanya selalu terancam karena orang jahat itu terus mengejar kamu."
"Ada apa sih ini Ma?" Julius berjalan menghampiri Merlyne dan Chintya yang sedang berdiri di dekat kursi ruang keluarga.
"Ma udahlah, Kak Chintya baru aja tiba dari rumah sakit dia pasti capek, biarkan Kak Chintya istirahat dulu," ucap Marcell.
__ADS_1
"Ngakak apa-apa, aku gak capek kok. Aku ke dapur dulu ya."
"Kak Chintya pasti capek, ayo istirahat dulu sama kak Marcell. Kakak pasti gak tahu kamarnya di mana ayo aku antar."
"Tapi–"
"Udah ayo kak."
Julius memaksa Chintya untuk ikut dengannya. Entah kenapa dirinya selalu ingin membela Chintya padahal dirinya sendiri belum kenal lama dengan Chintya.
Baginya, asalkan kakaknya bahagia dirinya pun ikut bahagia. Julius begitu menyayangi Marcell karena hanya Marcell lah yang dirinya miliki.
"Kenapa sih Julius begitu perduli sama wanita itu padahal jelas-jelas dia itu perempuan yang menyebabkan Marcell sakit dan hampir kehilangan nyawanya," ucap Merlyne didalam hatinya.
Merlyne berjalan menghampiri asisten rumah tangganya yang sedang beberes di dapur!
"Mbak, mulai besok pekerjaan Mbak dibantu oleh Chintya ya jadi waktu untuk Mbak istirahat lebih banyak," ucap Merlyne pada asisten rumah tangganya.
"Baik Bu," sahut Siti singkat lalu meneruskan pekerjaannya.
Di kamar Marcell.
"Iya tadi aku nyari-nyari kamar kamu dulu untung ada Julius yang ngasih tahu."
"Kenapa gak tanya sama Mama atau Mbak Siti."
"Aku gak ngeliat Mama dan aku juga gak tahu sama Mbak Siti yang mana."
"Duh kasian istri aku, nanti sore aku kenalin kamu ke semua orang penghuni rumah ini ya."
Chintya tersenyum lebar lalu mengelus tangan Marcell.
"Aku beruntung punya kamu karena kamu wanita yang baik yang selalu sayang sama aku."
Aku yang beruntung karena memiliki kamu. Kamu baik dan bertanggungjawab, terimakasih karena menyelamatkan aku dari Kevin."
"Sayang, Kevin itu siapa sih, kok dia menculik kamu?"
__ADS_1
"Dia mantan pacar aku. Dulu kami putus karena dia selingkuh dengan teman aku."
"Lalu kenapa dia menculik kamu?"
"Dia masih cinta sama aku dan dia gak rela aku nikah sama kamu."
"Berarti kamu harus extra hati-hati takutnya Kevin datang lagi dan melakukan hal yang sama. Aku gak mau kamu hilang karena aku pasti gila kalau gak ada kamu."
"Udah ah, jangan ngomongin itu terus. Kamu istirahat ya, kamu pasti capek."
"Aku mau istirahat kalau istri tercinta aku berbaring di sampingku."
"Mas, aku harus ke dapur untuk menyiapkan makanan."
"Kalau gitu aku juga mau ke dapur."
"Jangan dong, kamu kan masih sakit."
"Ya udah kamu urusin aja aku di sini. Temani aku, aku mohon." Marcell berucap dengan gaya manja sembari menatap Chintya dengan senyuman manis di bibirnya.
Chintya tidak bisa melawan suaminya akhirnya dirinya ikut berbaring di atas tempat tidur itu dengan posisi miring menghadapi Marcell.
"Nah kalau gini kan aku jadi tenang dan damai karena aku bisa melihat wajah istriku yang manis."
Chintya tersenyum lalu menutup wajahnya dengan telapak tangannya!
"Kamu apaan sih, aku jadi malu."
Marcell meraih tangan Chintya dan menyingkirkannya dari wajah cantik istrinya. "Jangan malu, sekarang aku sudah jadi suamimu. I love you Chintya."
"Mas, kamu kayak anak ABG aja."
"Gakpapa, emang mereka aja yang bisa kayak gini, kita juga bisa."
"Mas, kalau seandainya ada badai besar dalam rumah tangga kita. Kamu akan bertahan dalam badai itu atau melepaskan aku agar bisa lepas dari badai itu?"
"Kamu bicara apa? Aku pasti mempertahankan kamu meski apa pun yang terjadi."
__ADS_1
Bersambung