
Di perjalanan menuju pulang.
Chintya diantarkan pulang oleh Julius, karena Chintya belum ada pakaian foto rumah Marcell, Chintya memilih pulang ke rumah orang tuanya dan akan beristirahat sebentar di sana.
"Kak, maafkan Mama ya, semua perkataan Mama yang mungkin membuat kakak sakit hati, sungguh selama ini Mama gak pernah bersikap begitu. Baru kali ini dia seperti itu terhadap orang lain," ucap Julius.
"Gak apa-apa, aku ngerti apa yang dirasakan oleh Mama karena aku juga merasakan hal yang sama. Orang yang aku sayangi dihadapan mataku mengalami kejadian yang mengerikan, sungguh tidak pernah aku bayangkan sebelumnya."
"Kak, mungkin untuk sementara kakak tinggal di rumah orang tua kakak dulu aja nanti kalau Kak Marcell sudah pulih, baru kakak tinggal di rumah kami."
"Kenapa?"
"Aku gak mau aja Mama terus-terusan nyalahin kakak."
"Itu sudah menjadi resiko aku kan."
"Tidak juga, semua itu i terjadi bukan karena kemauan kakak. Jadi dalam hal ini kakak tidak bersalah."
"Semua orang pasti tidak mau mengalami ini."
"Oh ya, siapa yang menculik kakak itu, apa kakak kenal?"
"Dia Kevin, mantan kekasih aku."
"Aku sudah melaporkannya ke polisi. Semoga secepatnya polisi bisa menangkap dia."
"Semoga saja."
"Sudah tiba. Kakak istirahat ya, jangan pikirkan kak Marcell sudah ada Mama dan Papa yang jagain dia di rumah sakit."
"Iya, aku pulang cuma sebentar kok cuma untuk mandi dan ganti pakaian setelah itu aku mau ke rumah sakit lagi."
"Jangan kak, kakak ke rumah sakit nanti aja bareng aku lagi."
"Kapan?"
"Setelah aku pulang kerja."
__ADS_1
"Ya udah, aku tunggu ya."
Julius tersenyum lalu segera melajukan mobilnya!
**********
"Aku gak bisa hanya diam begini, aku harus cari dimana Marcell berada, dia harus tahu kalau aku sudah kembali untuknya," gumam Alice.
Alice keluar dari rumahnya dan mulai pergi untuk mendatangi rumah sakit terdekat dari sekitar tempat tinggal Marcell.
Alice sudah beberapa kali menelpon Merlyne tapi mungkin Merlyne masih membencinya karena itulah Merlyne tak menerima telponnya.
Alice terus melaju untuk mendatangi beberapa rumah sakit yang terdapat di sekitar tempat tinggal Marcell!
**********
"Ternyata di sini Marcell dirawat, dia selamat gak ya? Semoga saja dia mati," ucap Kevin didalam hatinya.
Kevin memperhatikan rumah sakit itu dari sebrang jalan dengan wajahnya yang tertutup cindung jaketnya membuat dirinya sulit dikenali oleh orang disekitarnya.
"Aku harus bisa masuk ke rumah sakit ini walaupun aku tidak bisa menyingkirkan Marcell setidaknya aku bisa bertemu dengan Chintya. Chintya, aku sangat merindukan kamu, aku gak tahan ingin bertemu dengan kamu."
Setelah itu dirinya berjalan menyebrangi jalan untuk sampai di rumah sakit itu!
"Bagaimana caranya agar aku bisa tahu dimana ruangan Marcell dirawat, gak mungkin aku menanyakannya pada petugas yang ada nanti malah mereka bertanya-tanya dan akhirnya mereka mencurigai aku."
Kevin terus berjalan memasuki rumah sakit itu sembari memerhatikan apakah ada orang yang bisa dia mintai bantuan.
**********
"Chintya, kamu baik-baik saja Nak?" Arsintha saat melihatmu Chintya yang terus melamun.
"Aku kepikiran Marcell terus Bu," sahut Chintya jujur.
"Kamu yang sabar ya, ini ujian dari Allah yang harus kamu jalani."
"Bu, apa mungkin yang dikatakan Mama Merlyne itu benar ya kalau aku ini wanita pembawa sial."
__ADS_1
"Kamu jangan bicara seperti itu. Tidak ada manusia yang membawa sial, semua manusia diciptakan untuk membawa keberuntungan untuk sesamanya."
"Tapi sebelum kami menikah, Marcell baik-baik saja dan Kevin juga biasa saja meski dia tahu kalau aku akan menikah dengan Marcell."
"Kamu jangan berpikiran buruk tentang dirimu sendiri. Mamanya Marcell mengatakan hal itu mungkin karena khilaf, mungkin karena dia syok melihat Marcell seperti itu."
"Ibu benar, Ayah minta kamu tetap sabar dalam menghadapi semua perkataan Mamanya Marcell," sambung Samuel.
"Aku akan berusaha tapi bagaimana kalau aku tidak bisa bertahan?"
"Kamu pasti bisa, tugas seorang istri bukan hanya mengurus rumah dan suami tapi juga mempertahankan hubungan pernikahannya."
*******
"Chintya," gumam Marcell.
"Chintya gak ada, dia pulang ke rumah untuk mengganti pakaiannya," ucap Daniel.
"Pa, aku mau ketemu sama Chintya."
"Ngapain kamu masih mau ketemu sama wanita pembawa sial itu? Kamu gak kapok apa, gara-gara dia, kamu jadi seperti ini," ujar Merlyne.
"Chintya itu istri aku, wajar kalau aku mau ketemu sama dia Ma."
"Nanti sore dia akan ke sini lagi, kamu sabar ya," ucap Daniel.
"Ma, Papa minta, Mama jangan pernah berkata tidak baik lagi pada Chintya."
"Pa, kenyataannya emang Chintya itu pembawa sial kan."
"Stop Ma, kalau Mama terus seperti ini lebih baik Mama pulang biar Papa di sini sendiri saja."
"Papa kenapa sih, kok jadi ngebelain Chintya terus? Jangan-jangan Papa udah diguna-guna sama dia."
"Astaghfirullah Mama. Mama udah lebih baik Mama diam."
Merlyne mendengus kesal karena Daniel membentaknya.
__ADS_1
Merlyne langsung berjuang keluar dari ruangan itu untuk melepaskan rasa kesalnya pada sang suami!
Bersambung