
"Aku gak nyangka Mama seperti ini pada Chintya," ucap Marcell.
"Mama begini karena Mama sayang sama kamu Cel, kamu sadar gak sih Chintya itu hanya membuat kamu berada dalam bahaya. Kehadiran Chintya disisi kamu membuat kamu selalu berada dalam bahaya. Mantan pacar Chintya pasti terus mengejar Chintya dan akan selalu berusaha menyingkirkan kamu," ucap Merlyne.
"Semua ini bukan salah Chintya Ma, jika Kevin masih mencintai Chintya, bukan berarti Chintya yang salah."
"Pokoknya Mama gak suka sama Chintya, Mama mau kamu pisah dari Chintya."
"Mama!" bentak Daniel.
"Apa yang sudah membuat Mama seperti ini. Sejak kapan Mama punya sifat kayak gini," sambung Daniel.
"Mama hanya ingin anak Mama selamat dan hidup tenang tanpa adanya bayang-bayang kejahatan orang dari masa lalu mereka. Mama gak mau anak Mama tersiksa."
"Tapi tidak seperti ini caranya Ma. Dengan seenaknya Mama menganggap Chintya sebagai pembantu di rumah ini dan dengan gampangnya Mama menyuruh orang untuk mendekati aku," ucap Marcell.
Chintya menangis dalam mulut yang tertutup rapat, dirinya tak dapat berkata-kata saat menyaksikan keluarganya bertengkar beradu argumen.
"Maaf semuanya, sepertinya kedatangan aku membuat kalian ribut seperti ini. Aku permisi ya Om, Tante," ucap Aya.
"Chintya maaf ya, aku benar-benar gak tahu kalau kamu istrinya Marcell. Kalau aku tahu ini dari awal, aku gak akan mendekati Marcell seperti yang diminta oleh Tante Merlyne," sambung Aya pada Chintya.
Aya pun langsung pergi meninggalkan ruang makan tersebut.
__ADS_1
"Jangan-jangan selama ini Chintya diperlakukan seperti pembantu di rumah ini. Jangan-jangan Mama sengaja menjadikan Chintya sebagai pembantu di rumah ini?" ucap Daniel.
"Setiap malam Chintya selalu mengeluh sakit pinggang, ini pasti karena saat aku gak ada, Mama menyuruh dia mengerjakan pekerjaan rumah. Iya Ma?"
Marcell berucap dengan nada keras pada Merlyne. Dirinya begitu marah saat tahu kebenaran bahwa ternyata Mamanya tidak pernah menerima Chintya dengan baik.
Chintya bangkit dari duduknya lalu mengeluh lengan atas sang suami!
"Mas udah ya, gak baik bicara dengan nada tinggi pada Mama mending kita pergi dari sini. Ayo Mas, tenangkan dulu pikiranmu," ucap Chintya dengan suara terbata-bata khas orang yang sedang menangis.
"Chintya katakan padaku dengan jujur, apa selama ini kamu selalu mengerjakan pekerjaan rumah karena dipaksa oleh Mama?"
"Mas, aku memang suka mengerjakan pekerjaan rumah seperti nyapu, mengepel lantai, nyuci dan yang lainnya tapi aku mengerjakan semua itu karena aku suka melakukannya, bukan karena disuruh oleh Mama. Udah ya kamu jangan marah lagi, aku sedih kalau keluarga ini berantem cuma gara-gara hal sepele."
"Ini bukan hal sepele Chintya, Mama kamu salah jadi dia harus minta maaf sama kamu dan berjanji akan menerima kamu dengan baik di rumah ini."
Merlyne beranjak dari duduknya dan pergi! "Jadi gak selera makan kalau gini, pokoknya Mama tetap gak setuju Chintya sama Marcell. Sampai kapan pun Mama tidak akan menganggap Chintya sebagai menantu di rumah ini," ucap Merlyne sebelum akhirnya dia pergi.
Air mata Chintya kembali mengalir membasahi pipinya.
"Sudah Nak, kamu sedang hamil jangan pikirkan tentang Mama ya. Besok Papa akan carikan rumah untuk kalian tinggal berdua, sepertinya rumah ini tidak cocok untuk kamu," ucap Daniel lalu pergi.
Julius pun sepertinya sudah kehilangan nafsu makan nya, dia beranjak dari duduknya lalu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Kak Chintya sabar ya, aku yakin suatu saat Mama pasti berubah karena gak seperti biasanya Mama seperti ini," ucap Julius lalu pergi.
"Sudahlah, jangan pikirin yang nggak-nggak, kamu makan ya," ucap Marcell sembari mengusap air mata Chintya.
"Aku udah gak mau makan, Mas."
"Tapi kami harus makan nanti bayi kita kelaparan."
"Boleh aku makan nya nanti aja, aku ingin istirahat dulu sebentar. Kepala aku pusing."
"Pusing?" Marcell mulai khawatir terhadap Chintya.
"Ya, aku mau istirahat sebentar saja."
"Ya udah, ayo aku bantu." Marcell memangku Chintya ala bridal stile lalu berjalan menuju kamarnya!
Akhirnya malam ini tidak ada yang menyentuh makan di atas meja, keributan besar membuat semua orang kehilangan nafsu makan nya.
"Kenapa sekarang di rumah ini hanya ada pertengkaran dan keributan saja padahal dulu rumah ini terasa damai dan selalu baik-baik saja," gumam Siti sembari menatap makanan di atas meja yang masih utuh.
Di kamar Julius.
"Mama keterlaluan banget, bisa-bisanya Mama menyuruh orang lain mendekati kak Marcell. Kak Chintya pasti tersinggung dan sakit hati sama Mama," gumam Julius.
__ADS_1
Julius merasa tidak enak hati pada Chintya dan Marcell atas apa yang terjadi malam ini, perkataan Mamanya sungguh tidak terbayangkan sebelumnya.
Bersambung