Tragedi Malam Pertama

Tragedi Malam Pertama
bab 26


__ADS_3

Di sebuah rumah yang tak besar namun terlihat megah, Daniel dan Marcell berjalan memasuki setiap ruangan yang ada didalamnya!


"Pa kayaknya rumah ini nyaman ditempati deh. Ruangannya gak terlalu besar tapi cukup lah untuk ditempati dua orang selain itu juga dapurnya udah modern, Chintya yang suka masak pasti senang dan betah kalau dapurnya seperti ini," ucap Marcell.


"Kamu cocok dengan rumah ini?" tanya Daniel.


"Iya Pa tapi aku harus tanya sama Chintya dulu, dia mau tak, dia cocok gak sama rumah ini."


"Kalau gitu besok kamu ajak Chintya ke sini, semoga aja dia cocok dan kalian bisa langsung pindah ke sini."


"Iya Pa. Aku rasa Chintya pasti suka sih."


"Ya udah kita langsung pulang aja. Besok kamu lihat rumah ini sama Chintya dan kalau cocok, Papa yang akan membayarnya."


"Gak usah Pa, uang tabungan aku juga cukup buat bayar rumah ini."


"Gak apa-apa, anggap aja ini sebagai kado pernikahan kalian."


"Terus kado buat cucu Papa mana?"


"Yeeh tadi aja bilang gak usah, sekarang malah minta kado buat cucu Papa."


"Kan beda Pa."


Mereka pun melanjutkan berjalan ke luar rumah itu, di halaman rumah ada seorang laki-laki pemilik rumah itu yang menunggu mereka sedang melihat-lihat isi rumahnya.


"Bagaimana Pak, Anda cocok dengan rumah saya?" tanya Bapak itu.


"Saya cocok Pak tapi saya belum bisa memutuskan apakah saya jadi beli rumah itu i atau tidak karena anak saya yang akan menempati rumah ini jadi besok anak saya akan bawa istrinya untuk melihat rumah ini."

__ADS_1


"Oh begitu, baiklah Pak, saya tunggu kabar dari Anda, semoga cocok ya Pak."


"Ya mudah-mudahan saja cocok Pak karena saya pribadi suka dengan rumah ini."


"Kalau gitu kita langsung pulang aja kali ya Pak," ucap Marcell.


"Kalau gitu kami permisi dulu ya Pak, maaf mengganggu waktu Anda."


"Tidak apa-apa Pak, saya tidak kerepotan kok."


**********


Di tempat lain.


"Aku dapat info tentang Chintya." ucap Alice pada Kevin.


"Info apa?"


"Hamil? Bagus dong." Kevin tersenyum sumringah saat tahu Chintya tengah hamil.


"Bagus! Bagus apanya? Kalau kayak gini Marcell akan sangat sayang pada Chintya dan mereka akan susah dipisahkan."


"Aku bisa mengakui anak yang dalam kandungan Chintya itu sebagai anakku."


"Apa! Gila kamu ya. Kamu pikir mereka itu anak kecil apa yang bisa percaya gitu aja."


"Aku pernah menculik Chintya dan menyekapnya selama satu malam. Aku bisa mengarang cerita kalau malam itu aku dan Chintya ....."


"Tunggu-tunggu. Maksud kamu, kamu pernah menculik Chintya? Kapan?"

__ADS_1


"Saat malam pertama pernikahan mereka. Aku bisa aja mengakui anak itu dan mereka ... mereka pasti percaya karena waktu itu Chintya semalaman penuh bersamaku."


Alice tersenyum lebar sembari menatap Kevin.


"Bagus. Sekarang kita tinggal mencari bukti agar mereka lebih percaya sama kamu."


"Tenang aja, aku masih menyimpan beberapa foto Chintya di ponselku tinggal kita edit sesuai yang kita inginkan."


"Oke, sekarang kerjakan tugas kamu sementara aku akan mengerjakan tugasku."


"Apa lagi yang akan kamu lakukan?"


"Marcell akan membawa Chintya pindah dan aku belum tahu mereka akan pindah kemana. Aku harus mencari tahunya."


"Oke, satu minggu. Dalam satu minggu ini aku akan menyelesaikan tugasku dan kamu harus menyelesaikan tugasmu."


"Oke. Tapi ingat kamu jangan sampai menyakiti atau melukai Marcell."


"Itu beres."


*********


"Marcell dan Chintya belum pulang Mbak?" tanya Merlyne pada asisten rumah tangganya.


"Belum Bu, belum ada yang pulang."


"Tumben udah lewat maghrib belum pada pulang?" gumam Merlyne sembari berjalan menuju kanan!


Siti hanya terdiam sambil menatap kepergian Merlyne.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2