Tragedi Malam Pertama

Tragedi Malam Pertama
bab 14


__ADS_3

Satu minggu sudah setelah pulangnya Marcell dari rumah sakit. Hari ini Marcell mulai melakukan aktivitasnya seperti biasa.


Lagi butuh Marcell hendak pergi ke kantor untuk bekerja sedangkan Chintya, karena dia tidak bekerja dirinya tetap tinggal di rumah untuk menunggu suaminya pulang.


"Sayang, aku kerja dulu ya. Kamu baik-baik di rumah ya," ucap Marcell pada Chintya.


"Iya Mas, kamu hati-hati di jalan ya."


Chintya dan Marcell berjalan berdampingan sampai depan rumahnya hingga saat Marcell sudah masuk ke dalam mobilnya, Chintya masih berdiri di tempatnya semula untuk menunggu sampai suaminya benar-benar pergi dari rumah itu.


"Aku pergi ya," ucap Marcell yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Iya Mas, dari tadi kamu bilang mau pergi tapi gak pergi-pergi."


"Kamu mau aku pergi secepatnya?"


"Ya nggak gitu juga Mas, kalau kamu gak berangkat-berangkat yang ada nanti kamu telat ke kantor."


"Gak apa-apa telat juga kan bosnya Papa aku jadi aku gak akan kena skors."


"Hmm, jangan mentang-mentang anak Bos, masuk kerja semaunya."


"Iya-iya. Ya udah aku pergi. Assalamualaikum." Marcell langsung mengemudikan mobilnya dan perlahan mulai pergi dari rumahnya untuk menyusul Julius dan Daniel ke kantornya.


"Waalaikumsalam." Chintya masih berdiri di tempat semula sambil menatap mobil yang dikemudikan oleh Marcell hingga sampai mobil itu tak terlihat lagi, Chintya baru masuk ke dalam rumahnya lagi.


"Chintya! Kamu mau kemana?" tanya Merlyne yang melihat Chintya berjalan mengarah ke kamarnya.


"Aku mau ke kamar Ma," ucap Chintya.


"Ke kamar lagi. Sini kamu! Pijit kaki saya," ketus Merlyne.


Chintya tersenyum tipis lalu mengangguk. Dia pun langsung berjalan menghampiri Merlyne yang sedang rebahan di atas sofa yang ada di ruang keluarga rumahnya.


"E_e_eh ngapain duduk di atas hah? Duduk di bawah!" Dengan suara keras, Merlyne menyuruh Chintya duduk di lantai dan melarangnya duduk di atas sofanya.


Baru Chintya hendak duduk di atas sofa empuk itu, Merlyne sudah melarangnya dan menyuruhnya duduk di lantai yang tidak beralaskan apa pun.


Tak bisa menolak, Chintya mengikuti saja kemauan Merlyne. Dia duduk di lantai lalu mulai memijat kaki sang Ibu mertua!


"Yang benar mijitnya, jangan terlalu kencang."


"Iya Ma," ucap Chintya dengan suara pelan.


Dari dapur. Siti yang melihat kejadian itu pun hanya merasa kasihan pada Chintya tanpa bisa melakukan apa pun untuk membebaskan Chintya dari kekejaman Merlyne.


Siti hanyalah asisten rumah tangga di rumah itu, karena itulah kalau pun dirinya tak tega dengan Chintya, dirinya tidak bisa membantunya karena takut dirinya dipecat oleh Merlyne.

__ADS_1


"Kasian banget Mbak Chintya, semoga Mbak Chintya kuat dalam menghadapi Ibu yang bersikap tidak baik padanya," ucap Siti didalam hatinya.


Siti hanya bisa melihat mereka dari dapur karena mau menghampiri dan menawarkan diri untuk menggantikan Chintya, majikannya itu tidak akan pernah mau karena bukan kenyamanan yang dia cari melainkan hanya ingin membuat Chintya tidak betah di rumahnya dan akhirnya pergi dari rumahnya itu.


**********


Alice sudah berdandan rapi. Dirinya akan menemui Marcell di kantornya karena tahu hari ini adalah hari pertamanya Marcell masuk kantornya untuk bekerja.


"Marcell pasti suka ngelihat aku pakai baju seksi gini dan dengan makanan yang aku bawa ini, semoga Marcell suka dengan masakanku ini," ucap Alice.


Setelah selesai dengan semua urusannya, Alice langsung pergi dari rumahnya dengan membawa rantang berisi makanan untuk Marcell.


Alice yang masih mencintai Marcell mulai berusaha lagi untuk mendapatkan Marcell kembali ke pelukannya.


**********


Di tempat kerjanya Kevin.


Kevin yang biasanya ramah dan suka menyapa sesamanya di kantor, kini berubah. Dia menjadi pendiam dan sering menyendiri.


Setelah melakukan penculikan terhadap Chintya dan melukai Marcell, dirinya terus dibayangi rasa takut. Takut pada polisi yang sewaktu-waktu akan menangkapnya kapan pun dan di manapun.


Kejahatannya pada Chintya dan suaminya pasti dilaporkan ke pihak berwajib, dirinya menjadi tidak tenang dan terus merasa ketakutan.


"Mas Kevin," ucap Ashila.


"Mas dipanggil Bos tuh. Mas kenapa sih akhir-akhir ini sering melamun?"


"Ngakak apa-apa, cuma lagi ada sedikit masalah. Aku ke ruangan Bos dulu ya."


Ashila mengangguk pelan dan membiarkan Kevin pergi.


**********


Tok!


Tok!


Tok!


Seseorang mengetuk pintu rumah Merlyne dari luar.


Karena pintunya tidak dikunci, tamu itu pun langsung nyelonong masuk ke dalam rumah mewah itu!


"Tante Merlyne. Selamat siang Tante," ucap Aya yang baru tiba di rumah itu.


"Soraya ... sini-sini masuk sayang," ucap Merlyne.

__ADS_1


Chintya hanya diam sembari menatap Merlyne yang begitu ramah pada wanita yang bernama Soraya itu.


"Tante, maaf ya aku datang gak bilang-bilang. Tadi kebetulan aku lewat sini dan aku mampir deh ke sini," ucap Soraya.


"Gakpapa sayang. Ayo duduk." Merlyne mengajak Aya duduk bersamanya.


"Chintya, buatkan minum untuk tamu saya dong," ucap Merlyne pada Chintya.


Chintya tak berucap, dia langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minum seperti yang diminta oleh Merlyne.


Padahal di rumah itu ada asisten rumah tangga tapi entah kenapa Merlyne lebih suka memerintah Chintya.


Di dapur.


Chintya sibuk mencari cangkir dan sirup karena dirinya akan membuatkan minuman untuk tamu Ibu mertuanya.


"Mbak, sini biar Siti aja yang buatkan minum," ucap Siti.


"Gak usah, aku aja Mbak," sahut Chintya dengan tangan yang terus sibuk menuang sirup ke dalam cangkir itu.


"Mbak yang sabar ya, semoga saja sikap Ibu seperti ini sama Mbak, hanya bersifat sementara saja."


"Amin, semoga aja Mbak. Mbak, aku tinggal dulu ya mau nganterin minuman ini."


Chintya pun langsung pergi meninggalkan Siti di dapurnya.


Setelah tiba di ruang keluarga, Chintya langsung menata minuman yang ia buat di atas meja lalu mempersilahkan tamunya untuk minum.


"Siapa dia Tan?" tanya Aya pada Merlyne.


"Pembantu baru," ucap Merlyne dengan entengnya.


Deg!


Chintya merasa tersinggung dengan perkataan Ibu mertuanya tentang dirinya.


Dirinya tak menyangka bahwa Ibu mertuanya itu mengakuinya hanya sebagai pembantu di rumahnya dan bukan menantunya.


Chintya yang tak kuat menahan air matanya langsung pergi ke kamarnya karena takut menangis dihadapan mereka!


Di dalam kamarnya. Chintya duduk di tepi ranjang sambil menangis, hatinya terasa sesak sesaat setelah mendengar pernyataan Merlyne tentang dirinya.


"Ya Allah, kuatkan lah aku dalam menghadapi cobaan ini. Bukakan lah pintu hati Mama agar dia bisa menerima aku sebagai menantunya," ucap Chintya didalam hatinya sembari terus menangis.


Dirinya tak menyangka, Merlyne yang awalnya sangat baik padanya kini berubah menjadi benci bahkan sangat membencinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2