Tragedi Malam Pertama

Tragedi Malam Pertama
bab 18


__ADS_3

Di rumah sakit.


Chintya sudah menjalani pemeriksaan intensif oleh Dokter terpercaya.


Kini mereka sudah duduk di kursi yang di depannya sudah ada Dokter yang akan memberitahu mereka hasil pemeriksaan terhadap Chintya.


"Kalian sudah menikah?" tanya Dokter itu pada Marcell dan Chintya.


"Ya, kami pasangan pengantin baru. Baru tiga bulan lalu menikah," sahut Marcell.


Dokter itu tersenyum lebar lalu menatap Chintya dan Marcell secara bergantian.


"Selamat ya, istri Anda sedang hamil dan usia kehamilannya sekarang menginjak tujuh minggu."


Chintya dan Marcell saling menatap dan tersenyum gembira.


"Hamil? Alhamdulillah akhirnya aku aku akan menjadi Ayah," ucap Marcell lalu memeluk Chintya.


"Jaga baik-baik kandungannya ya. Jangan stres, jangan banyak pikiran dan jangan bekerja terlalu berat. Makan teratur dan usahakan makan makanan yang bergizi agar pertumbuhan bayinya sehat."


"Baik Dok, terimakasih banyak Dok."


"Ini resep obatnya, jangan lupa diminum ya."


"Iya Dokter, pasti saya habiskan obatnya."


"Kalau gitu kami permisi."


"Iya silahkan."


Marcell terus merangkul Chintya karena takut istrinya itu terjatuh karena merasa pusing.


"Mas, aku gak nyangka, aku bisa hamil secepat ini."


"Alhamdulillah, ini rezeki terindah buat kita. Terimakasih ya sudah mau kutitipi benih."


Chintya tersenyum namun tak menyahut apapun.


Keduanya terlihat sangat bahagia dengan kehamilan ini.


**********


Di tempat lain.


"Heh *******! Kamu kan yang sudah berusaha menggoda Marcell," ucap Alice pada Soraya.


Entah dari mana Alice tahu kalau saat ini Soraya sedang gencar-gencarnya mendekati dan menggoda Marcell.


Atas permintaan Merlyne dan juga dirinya yang diam-diam suka pada Marcell, kini Aya mulai berani mendekati Marcell dan tak jarang melontarkan kata rayuan pada Marcell.


"Kamu jangan sembarangan ya kalau ngomong," ucap Aya.


"Emang kenyataannya kamu sengaja mendekati Marcell kan."


"Ya, aku mendekati Marcell karena aku cinta sama dia dan satu lagi, aku mendekati Marcell karena permintaan Tante Merlyne. Tante Merlyne gak setuju Marcell sama kamu dia setuju nya Marcell sama aku."


"Kamu gak akan pernah bisa mendapatkan Marcell karena Marcell cuma milik aku."


"Terserah. Mari kita buktikan, siapa yang akan dipilih oleh Marcell. Aku sudah mengantongi restu dari tante Merlyne pasti lebih mudah untuk keluar masuk rumahnya sedangkan kamu ... kamu cuma mantan Marcell yang sekarang sudah tidak diperdulikan lagi oleh Marcell ataupun Tante Merlyne."


Alice terdiam, dirinya merasa kalah saat berdebat dengan Aya. Yang Aya katakan memang benar, Marcell dan Mamanya memang sudah tak menyukainya dan tak pernah lagi menghiraukan keberadaannya.


Aya tersenyum sombong lalu pergi meninggalkan Alice di sana.


Alice masih berdiri di tempatnya sembari menatap Aya yang sudah pergi dengan menggunakan mobilnya.

__ADS_1


"Nyingkirin istrinya Marcell aja susah banget sekarang malah nambah satu lagi penghalang untuk aku mendapatkan Marcell. Ini gak bisa dibiarin, aku harus cepat-cepat mendapatkan Marcell," ucap Alice didalam hatinya.


**********


"Sudah pulang Cel?" tanya Merlyne saat melihat Marcell dan Chintya di rumahnya.


"Mama, tumben Mama masih di rumah."


"Mama mau pergi kok, sebentar lagi."


"Julius sama Papa udah pada ke kantor ya?"


"Udah. Udah jam berapa ini, mereka pasti sudah capek bekerja."


"Mam, ada kabar gembira."


"Apa?"


"Chintya hamil," ucap Marcell sembari tersenyum bahagia.


Merlyne membuka mulutnya lebar sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Hamil. Kamu hamil Chintya?" ucap Merlyne.


Chintya tersenyum lalu mengangguk.


"Aaaaa, akhirnya Mama mau punya cucu. Terimakasih ya Chintya."


Merlyne begitu gembira dengan berita yang dibawakan oleh Marcell sepulang dari rumah sakit.


Marcell dan Chintya tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang ditunjukkan oleh Merlyne.


"Semoga ini awal yang baik. Semoga Mama mau menerima aku," ucap Chintya didalam hatinya.


"Iya Ma, aku juga masih merasa sedikit pusing, aku ke kamar dulu ya."


"Iya sayang," ucap Merlyne pada Chintya.


"Cel, antar istrimu jaga dia baik-baik," sambung Merlyne pada Marcell.


Chintya semakin gembira karena mendapatkan perlakuan yang begitu baik dari Merlyne.


**********


Di sebuah kafe.


Kevin sedang mengobrol dengan temannya sambil menikmati kopi yang dipesan nya.


"Lu kenapa Vin kayak orang bersalah gitu?" tanya temannya Kevin.


"Gue lagi mikirin Chintya. Lo ingatkan sama Chintya mantan gue itu?" sahut Kevin.


"Ya, di cantik yang banyak disukai laki-laki terutama teman masa SMA nya."


"Gue masih cinta banget sama dia."


"Gampang, tinggal lu ajak dia balikan."


Di meja lain.


Alice mendengarkan pembicaraan mereka karena penasaran dengan nama wanita yang sedang mereka bicarakan.


"Chintya sudah menikah dan sekarang gue lebih sulit lagi menemui dia karena gue pernah ...." Kevin menggantung ucapannya.


"Pernah apa?" tanya temannya penasaran.

__ADS_1


"Gue pernah menculik Chintya di malam pertama dia menikah dengan suaminya dan gue juga udah menusuk suaminya Chintya sampai dia dirawat di rumah sakit."


"Gila lu. Segitu cintanya lu sama Chintya."


"Gue nyesel udah ngelakuin hal bodoh itu. Gue baru sadar kalau hal itu dapat membuat gue sulit bertemu dengan Chintya."


"Apa jangan-jangan Chintya yang mereka maksud adalah Chintya nya Marcell?" ucap Alice didalam hatinya.


"Kalau iya, ini bisa jadi kesempatan gue untuk mendapatkan Marcell lagi," sambung Alice masih didalam hatinya.


"Kalau udah gini gak ada jalan lain selain ikhlasin Chintya."


"Tapi semakin gue mengikhlaskan semakin gue rindu sama Chintya dan rindu ini semakin menyiksa dengan dibarengi dengan rasa bersalah."


"Wah gue gak bisa ikut campur urusan ini karena ini cuma bisa diselesaikan oleh lo sendiri."


"Sekarang gue serba bingung karena ruang gerak gue terbatasi."


"Kenapa?"


"Polisi sedang mencari gue. Chintya dan keluarganya melaporkan gue ke polisi."


Saat mereka mengobrol, tiba-tiba ponsel temannya Kevin berdering tanda adanya pesan masuk.


Dia pun langsung membuka pesan itu dan membacanya.


"Duh sorry ya Vin, gue harus cabut mendadak ada kerjaan di kantor."


"Oke silahkan. Kita bisa ketemu lagi lain kali."


Laki-laki itu pun langsung pergi meninggalkan Kevin!


Setelah temannya Kevin pergi, Alice menghampiri Kevin yang masih duduk di tempatnya!


Alice berjalan santai sembari membawa minuman miliknya yang belum sempat disentuh itu!


"Permisi, boleh aku duduk di sini?" ucap Alice.


"Masih banyak meja yang kosong kenapa harus di sini?" sahut Kevin.


"Karena aku mau di sini sama kamu."


"Oke, silahkan duduk."


Alice tersenyum lalu duduk di kursi bekas laki-laki temannya Kevin itu.


"Tadi gak sengaja aku mendengar pembicaraan kamu. Apa Chintya yang ini yang kamu maksud?" Alice memperlihatkan foto Chintya dalam ponselnya.


"Kamu kenal sama Chintya?"


"Suaminya adalah kekasih aku."


"Gak mungkin Chintya merebut milik orang lain."


"Kenyataannya memang Chintya menikah dengan pacar aku. Aku masih cinta sama Marcell dan kamu masih cinta sama Chintya. Gimana kalau kita bekerja sama untuk memisahkan mereka?"


"Caranya?"


"Jawab dulu tentang caranya bagaimana, kita bisa pikirkan nanti."


Kevin menatap Alice lalu menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Alice.


Alice dan Kevin berjabat tangan dan saling berkenalan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2