Tragedi Malam Pertama

Tragedi Malam Pertama
bab 23


__ADS_3

Di kamarnya, Chintya menangis deras sampai bahunya terguncang-guncang, dirinya tak bisa lagi menahan kesedihannya meski saat itu ada Marcell di hadapannya.


Marcell berjalan menghampiri Chintya lalu duduk di sampingnya!


"Katakan dengan jujur, apa selama ini Mama selalu bersikap seperti tadi padamu?" tanya Marcell dengan suara lembut.


Chintya tak menjawab, dia terus menangis dan menangis saja.


"Kenapa kamu gak pernah bilang kalau Mamaku seperti ini padamu? Kenapa kamu membiarkan ini terbongkar dengan tidak sengaja? Untung saja Aya datang ke sini kalau tidak, sampai kapanpun aku tidak akan tahu sifat asli Mamaku sama kamu."


"Mas, aku tidak mau kamu ribut sama Mama kamu dan lagi tugas seorang istri memang melayani suami dan mengurus seisi rumah. Memastikan rumah bersih dan makanan sudah tersedia saat waktunya makan memang tugas seorang istri," ucap Chintya yang tak mau Marcell semakin marah pada Merlyne.


"Tapi tidak seharusnya Mamaku menjadikan kamu sebagai pembantu di rumah ini. Kamu itu istri aku bukan pembantu."


"Sudahlah Mas, aku ikhlas menjalani semua ini. Jangan terlalu dilebih-lebihkan."


Chintya mengusap air matanya lalu tersenyum tipis pada sang suami.


"Kalau memang seperti itu pendapat kamu lalu kenapa kamu menangis hmm?"


"Aku menangis karena aku tidak ikhlas Mamamu menyuruh wanita lain untuk mendekati kamu sedangkan Mama sudah tahu kalau kamu sudah menjadi milikku."

__ADS_1


"Chintya, walaupun ada seribu gadis dan beribu-ribu janda yang mendekati aku. Aku tidak akan pernah berpaling darimu karena dimataku, kamu adalah wanita spesial yang tidak akan pernah ada yang menyamai dirimu."


"Terimakasih untuk cintamu padaku."


"Aku beruntung mendapatkan istri seperti kamu. Setelah kejadian ini aku menjadi sangat-sangat mencintai kamu dan yakin kalau kamu adalah bidadari dalam hidupku."


Chintya menatap sang suami dengan air matanya yang masih membekas di pipinya.


"Gombalnya mulai keluar," ucap Chintya.


"Aku gak gombal sayang. Kamu jangan sedih lagi ya, tadi kamu dengar kan apa kata Papa?"


Chintya mengangguk pelan.


"Mas, udahlah. Lupakan semua yang sudah terjadi."


Marcell tersenyum lalu membelai rambut sampai pipi Chintya dengan lembut.


"Aku gak tahu hati kamu terbuat dari apa, setelah semua yaang Mamaku lakukan padamu dengan gampangnya kamu bisa mengatakan itu padaku."


"Mas, Allah aja selalu memaafkan hambanya. Aku sebagai mahluk ciptaannya, masa aku gak bisa memaafkan sesamanya. Aku dan Mama sama-sama makhluk ciptaan Tuhan kan."

__ADS_1


"Oke-oke bidadariku. Sekarang kita tidur yuk, aku udah ngantuk."


"Tidur aja duluan."


"Tapi aku mau tidur sambil meluk anak dan istri aku."


Chintya tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Ih malah ketawa, emang ada yang lucu?" Marcell ikut tertawa sambil menatap Chintya.


"Meluk anak yang mana? Anaknya juga belum lahir dan perut aku nya juga belum buncit. Belum kelihatan atau terasa kalau pun dipeluk juga."


"Ya tapi aku tahu tapi yang penting anak kita ada kan dalam perut kamu meski perutnya masih kempes."


Chintya tersenyum lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya!


"Ya udah ayo kita tidur."


Tanpa berlama-lama, Marcell pun langsung membaringkan tubuhnya dan langsung memeluk Chintya!


Mereka pun mulai tertidur dan mulai mengarungi alam mimpi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2