Tragedi Malam Pertama

Tragedi Malam Pertama
TMP bab 6


__ADS_3

Setelah beristirahat selama satu malam, pagi itu sekitar pukul tujuh lewat tiga puluh menit, Alice sudah berada di depan pintu rumah Marcel.


Alice yang baru datang dari luar negeri itu sudah tak sabar ingin menemui Marcell, akhirnya dirinya memutuskan untuk menemuinya di rumahnya.


Sengaja dirinya datang lebih pagi karena takut Marcell keburu pergi bekerja.


"Assalamu'alaikum. Mbak, Marcell nya ada?" tanya Alice pada Mbak Siti ~ asisten rumah tangga di rumah orang tuanya Marcell.


"Waalaikumsalam, eh Mbak Alice. Mas Marcell nya gak ada Mbak," sahut Siti.


"Oh gitu, kalau Tante Merlyne atau Om Daniel?"


Alice memang sudah mengenal keluarga Marcell dengan baik karena dirinya menang sudah berpacaran lama dengan Marcell dan hubungan mereka cukup serius sehingga Marcell pun sudah mengenalkan Alice pada keluarganya.


"Mereka semua gak ada di rumah Mbak, Mereka sedang di rumah sakit karena kemarin Mas Marcell baru mengalami kecelakaan."


"Apa! Kecelakaan? Terus sekarang gimana keadaan Marcell?"


"Belum tahu Mbak, Ibu dan Bapak belum ada yang pulang jadi saya tidak tahu keadaannya seperti apa."


"Ya ampun, di rumah sakit mana Mbak? Biar saya ke rumah sakit aja kalau gitu."


"Kurang tahu juga Mbak, kemarin Bapak dan Ibu pergi dengan tergesa-gesa jadi mereka cuma pamit mau ke rumah sakit dan gak bilang mau ke rumah sakit mana."


"Astaga, ya udah kalau gitu saya permisi ya Mbak."


"Iya, silahkan."


Alice langsung pergi meninggalkan rumah itu dengan berjalan dengan langkah panjangnya!


"Semoga Marcell gak kenapa-kenapa," gumam Alice.


**********


Di rumah sakit.


"Chintya, Chintya," gumam Marcell yang baru tersadar setelah kritis selama satu hari satu malam.


Chintya berjalan cepat ke arah Marcell lalu segera menggenggamnya tangan sang suami!


"Mas, aku di sini, di sampingmu," ucap Chintya dengan suara lembut.


"Marcell, kamu udah sadar Nak." Merlyne yang sedang duduk di kursi yang berada di samping Marcell pun langsung menatap Marcell dan mengelus kepalanya dengan lembut.


"Dokter! Dokter!" teriak Julius pada Dokter.

__ADS_1


Julius langsung memanggil Dokter saat tahu kakaknya sudah sadar dan mungkin sudah melewati masa kritisnya.


Tak lama seorang Dokter dan satu orang suster masuk ke dalam ruangan itu lalu langsung memeriksa keadaan Marcell.


Semua orang yang berada di dalam ruangan itu berdiri di sudut ruangan dan membiarkan Dokter itu melakukan tugasnya.


"Syukurlah, kondisi pasien sudah membaik dan sudah melewati masa kritisnya dengan begitu cepat. Ini sebuah kerajaan dari Tuhan, kemarin saya merasa tidak ada harapan lagi karena luka yang begitu dalam dan banyaknya darah yang keluar tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, pasien dinyatakan sudah pulih dan tidak lama lagi bisa pulang," jelas Dokter itu.


"Alhamdulillah," semua orang yang ada di sana bernafas lega setelah mendengar penuturan sang Dokter.


"Kalau gitu saya permisi dulu."


"Ya, silahkan Dok, terimakasih." Julius mengantar Dokter itu sampai ke pintu ruangan itu lalu kembali menghampiri Marcell yang masih terbaring!


"Chintya," gumam Marcell lagi.


"Ya Mas, aku di sini," sahut Chintya.


"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku."


"Aku gak akan pergi, aku sayang sama kamu."


Melihat itu, Merlyne begitu benci dan tak suka pada Chintya.


Awalnya memang dirinya menyetujui pernikahan Marcell dan Chintya tapi setelah kejadian yang mengancam keselamatan Marcell itu, Merlyne menjadi benci dan muak terhadap Chintya. Dirinya berpikir kalau Chintya adalah wanita pembawa sial dalam hidup anaknya.


Kamu jangan berpikir terlalu berat begitu lagipula Chintya gak akan kemana-mana," ucap Merlyne.


"Kak, kakak jangan pikirin kak Chintya, selama kakak belum pulih, aku yang akan menjaga kak Chintya untuk kakak," ucap Julius.


"Terimakasih ya, kamu memang adik aku yang terbaik."


Julius tersenyum tipis lalu mengusap lengan Marcell.


*********


"Ke rumah sakit mana mereka membawa Marcell? Chintya, aku rindu sekali sama kamu. Apa kamu tidak merasakan kalau aku rindu sama kamu," ucap Kevin didalam hatinya.


"Mas Kevin kenapa? Perasaan dari kemarin murung terus," ucap Ashila ~ teman kerja Kevin.


"Nggak apa-apa, aku cuma lagi pusing aja," sahut Kevin.


"Kalau gitu harusnya Mas istirahat aja, jangan masuk kerja dulu."


"Iya, cuma pusing sedikit kok. Aku masih bisa kerja."

__ADS_1


"Ini kebetulan aku selalu bawa obat pusing dan sakit kepala. Mas minum obat ini aja dulu." Ashila memberikan obat yang selalu dia bawa itu kepada Kevin.


"Oh ya terimakasih ya Shil." Kevin tersenyum lalu menerima obat dari Ashila.


*********


"Marcell dirawat di rumah sakit mana ya? Aku khawatir banget sama dia," ucap Alice sembari terus mengemudikan mobilnya.


Alice yang masih mengharapkan Marcell dan masih mencintai Marcell itu tak hentinya mengkhawatirkan Marcell saat tahu orang yang dicintainya mengalami kecelakaan.


"Apa aku telpon Tante Merlyne ya tapi apa Tante Merlyne mau menerima telpon dari aku, seingatku terakhir aku ketemu Tante Merlyne, dia begitu benci sama aku karena aku meninggalkan Marcell waktu itu," gumam Alice.


Ya, Merlyne memang sempat membenci Alice karena tiba-tiba Alice memutuskannya hubungan percintaannya dengan Marcell padahal waktu itu Merlyne begitu menyayangi dan sangat menyetujui hubungannya dengan Marcell.


Karena saat itu keadaan tidak memungkinkan untuk melanjutkan hubungan percintaan itu, akhirnya Alice memaksa pergi dan mengakhiri hubungan mereka.


**********


"Chintya, lebih baik kamu pulang dulu. Istirahat di rumah saja hari ini," ucap Daniel yang tak tega melihat Chintya yang sudah kusut dan kumel karena tak merawat diri selama di rumah sakit.


"Tapi Pa, aku mau di sini saja."


"Chintya, kamu sudah kelelahan kalau kamu ikutan sakit gimana. Papa gak mau kamu sakit."


"Lagian, setelah Marcell sembuh Marcell akan menceraikan kamu jadi mulai sekarang kamu harus belajar menjauh dari Marcell," ujar Merlyne.


Chintya tertunduk, perkataan Ibu mertuanya sungguh menusuk hatinya. Ingin sekali dirinya menangis tapi dirinya harus bisa menyembunyikan kesedihannya itu, dirinya tidak boleh terlihat lemah dimata keluarga suaminya itu.


"Ma, jangan bicara seperti itu. Aku gak suka ya Mama selalu berkata kasar seperti itu pada Kak Chintya."


"Jadi sekarang kamu lebih memihak pada wanita pembawa sial itu."


"Ma tolong jaga ucapan Mama, Chintya ini istrinya Marcell itu berarti dia adalah menantu kita."


"Pa, Ma, kalau gitu aku pulang dulu tapi aku pulang cuma sebentar, cuma untuk mandi dan ganti baju saja."


"Gak usah ke sini lagi juga gak apa-apa justru lebih bagus kalau kamu tetap diam dan tinggal di rumah orang tua kamu."


"Kak Chintya, mari aku antar pulang."


"Gak usah, aku naik angkot aja."


"Chintya, pulang sama Julius aja lagian Julius juga mau pulang karena dia harus ke kantor," ucap Daniel.


Chintya mengangguk lalu segera berjalan keluar dari ruangan itu dengan diikuti oleh Julius di belakangnya!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2