Tragedi Malam Pertama

Tragedi Malam Pertama
bab 9


__ADS_3

Di lorong rumah sakit, tanpa sengaja Chintya dan Alice bertabrakan hingga Alice hampir terjatuh, untungnya dengan sigap Chintya menarik tangan Alice hingga Alice tidak sampai terjatuh ke lantai.


Alice segera menarik tangannya yang masih dipegang oleh Chintya lalu menatap Chintya tajam.


"Kalau jalan pakai mata dong! Gak lihat apa orang lagi kesal!" ujar Alice.


"Maaf tapi tadi kan kamu yang nabrak aku," ucap Chintya.


Karena marah dan kecewa, Alice berjalan sembari menggerutu dan sesekali melontarkan kata umpatan sehingga dirinya tak memperhatikan jalan yang sedang dilewatinya sehingga dirinya tidak bisa melihat orang yang lewat di dekatnya dan akhirnya dirinya menabrak Chintya yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya.


"Udah tahu aku jalan gak fokus pada jalanan yang aku lewati, harusnya kamu ngerti minggir kek atau berhenti dulu saat aku sedang lewat."


Chintya tersenyum tipis, tak ada sedikitpun kemarahan yang terpancar dari wajahnya.


"Oke, aku yang salah. Maaf ya, aku sedang buru-buru. Permisi," ucap Chintya lalu pergi meninggalkan Alice!


"Dasar wanita kampung," gumam Alice lalu dia juga langsung pergi.


Belum tiba di pintu ruangan suaminya, Chintya bertemu dengan Julius.


"Julius, kamu mau kemana?" tanya Chintya.


"Gak. Tadi aku dengar ada keributan, aku takut terjadi apa-apa sama kak Chintya."


"Nggak ada apa-apa, tadi aku gak sengaja bertahtakan dengan seorang wanita terus dia marah-marah gak jelas padahal dia yang salah karena jalan sambil marah dan kurang fokus."


"Mungkin orang itu lagi punya masalah. Udah yuk kak, kak Marcell udah nungguin kakak tuh."


"Ya udah ayo."


Mereka berdua pun langsung berjalan beriringan menuju ruangan rawat Marcell!


********


Di rumah orang tua Marcell.


"Pa, kayaknya kita emang harus memisahkan Marcell dari Chintya. Kalau mereka terus berumah tangga nanti yang ada anak kita terus terancam nyawanya," ucap Merlyne.

__ADS_1


"Astaghfirullah, gak baik bicara seperti itu Ma. Papa gak setuju lagian Julius udah melaporkan masalah ini ke polisi. Pasti orang jahat itu dipenjara nanti."


"Ya kalau ketangkap, kalau nggak, anak kita yang jadi taruhannya Pa. Papa sadar gak sih menikah dengan Chintya hanya membuat anak kita sengsara dan terus terancam."


"Polisi tidak pernah gagal dalam menjalankan tugasnya dan lagi orang jahat itu gak akan berani lagi gangguin Marcell karena dia juga pasti takut masuk penjara."


"Pokoknya Mama mau mereka pisah."


"Mama jangan egois, yang menjalankan pernikahan itu Marcell dan Chintya jadi biarkan saja mau mereka seperti apa. Papa capek, Papa mau istirahat tolong jangan ganggu Papa." Daniel masuk ke dalam kamar tamu karena tak mau diganggu oleh Merlyne.


"Papa kok masuk kamar tamu?"


"Kalau tidur di kamar kita Papa pasti gak bisa istirahat karena terus diganggu Mama." Daniel menutup pintu kamar itu dan tak lupa mencucinya dari dalam.


"Pa! Papa! Iiih Papa, nyebelin banget jadi suami."


*******


Di depan rumah sakit tempat Marcell dirawat.


Kevin selalu datang untuk melihat Chintya yang pasti bolak balik ke rumah sakit itu meski dirinya ingin sekali memiliki Chintya tapi setelah dirinya melukai Marcell, dirinya belum memiliki keberanian lagi untuk menculik Chintya karena takut tertangkap polisi.


"Chintya sayang, kamu keluar dong aku ingin sekali memandang wajah kamu yang cantik yang membuat aku tergila-gila padamu," ucap Kevin didalam hatinya.


********


Di rumah orang tuanya Chintya.


"Yah, Ibu kok khawatir sama Chintya ya," ucap Arsintha pada Samuel.


"Khawatir gimana Bu?"


"Gimana kalau Kevin datang ke rumah sakit dan menculik Chintya lagi?"


"Ibu jangan berpikir jelek terus, Chintya pasti aman karena ada adiknya Marcell bersamanya."


"Tetap aja Ibu khawatir belum lagi sikap Ibu mertuanya yang seperti itu semakin membuat Ibu khawatir sama anak kita. Gimana kalau Ibu mertuanya tidak memperlakukan Chintya dengan baik?"

__ADS_1


"Ayah udah bilang, Ibu jangan berpikiran yang macam-macam, mungkin Bu Merlyne seperti itu hanya sesaat saja, hanya saat dirinya sedang panik aja. Kita do'akan saja semoga Bu Merlyne hanya sedang khilaf waktu itu."


"Semoga saja ya, Yah."


"Istirahat Bu, sudah malam."


Arsintha menutup matanya namun dirinya tidak tertidur, sebagai seorang ibu dirinya terus merasa khawatir terhadap putrinya dan lagi sikap besannya yang tidak menyenangkan pada Chintya membuat dirinya semakin gelisah dan tak bisa berhenti memikirkan Chintya.


*******


Di rumah sakit.


"Mas!" Chintya berlari menghampiri Marcell lalu langsung memeluknya.


Julius yang masih berdiri di ambang pintu, hanya bisa diam sambil menatap pasangan pengantin baru itu.


"Chintya, kamu gak apa-apa?" ucap Marcell sembari mengusap rambut panjang milik Chintya.


"Aku baik-baik saja. Mas, aku sangat khawatir sama kamu."


"Sekarang aku gak kenapa-kenapa, kamu jangan khawatir lagi." Marcell mencium kening Chintya dengan lembut lalu mengusap air mata Chintya yang menetes membasahi pipinya.


"Jangan nangis, air mata kamu jatuh dan membasahi wajah aku," ucap Marcell yang memang posisinya ada dibawah Chintya.


Chintya langsung bangkit dan menjauhkan wajahnya dari wajah Marcell! "Maaf," ucapnya lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit itu.


Marcell yang masih terbaring itu hanya tersenyum melihat ekspresi sang istri yang begitu menggemaskan. Seandainya dirinya sedang tidak sakit, ingin sekali dirinya mencubit pipi Chintya dan menggodanya lagi.


Julius berjalan menghampiri mereka berdua lalu duduk di sofa yang ada di sudut ruangan itu!


"Kayaknya gak enak ya kalau aku di sini, apa sebaiknya aku tunggu di luar aja," ucap Julius.


"Jangan dong, gak enak kenapa? Udah kamu di sini aja," ucap Chintya.


"Takutnya kalian mau apa gitu. Pengantin baru kan."


"Pengantin baru juga kalau sehat, sekarang kan aku lagi sakit. Kamu pikir kami mau ngapain?" tanya Marcell.

__ADS_1


Julius tersenyum sembari mengusap rambutnya.


Bersambung


__ADS_2