Tragedi Malam Pertama

Tragedi Malam Pertama
bab 19


__ADS_3

"Deal ya kita kerja sama," ucap Alice.


"Asal kamu jangan pernah menyakiti Chintya."


"Oke tapi kamu juga tidak akan menyakiti Marcell."


'Kita kerjasama untuk mendapatkan orang yang kita cintai jadi kita bekerja dengan cara halus."


"Oke, sekarang aku akan cari tahu dulu apa saja kegiatan mereka dan kemana aja mereka akan pergi, biar kita bisa melancarkan rencana kita."


"Bagaimana kamu bisa tahu semua tentang mereka?"


"Aku ada kenalan di kantornya Marcell dan aku juga bisa bertanya pada asisten rumah tangga mereka."


"Kamu kenal sama asisten rumah tangga mereka?"


"Aku adalah pacarnya Marcell jadi aku sering ke rumahnya dan sedikit banyak aku tahu pada orang-orang terdekat mereka."


"Bagus. Lakukan tugasmu dulu dan nanti giliran aku."


"Kalau gitu aku pergi. Aku akan menelpon kamu setelah ada informasi tentang mereka."


"Oke, aku tunggu ya."


Alice tersenyum lalu meninggalkan kafe itu!


Kevin juga meninggalkan kafe itu karena harus lanjut bekerja.


*********


Di kediaman Daniel dan keluarga.


"Chintya!" teriak Merlyne dari ruang keluarga.


Chintya yang asyik berbaring di tempat tidurnya pun langsung beranjak dan berjalan dan menghampiri ibu mertuanya!


"Iya Ma ada apa?" tanya Chintya.


"Enak kamu ya kerjaannya tiduran terus di kamar! Lihat nih baju saya lecek gini, cepat setrikain. Bajunya mau saya pakai."

__ADS_1


"Tapi Ma, aku masih pusing."


"Halah, jangan alasan kamu ya. Bisa aja kamu pura-pura hamil karena ingin dimanja sama Marcell."


"Astaghfirullah. Aku beneran hamil Ma."


"Udah-udah jangan bicara lagi. Nih setrikain baku saya!" Merlyne melemparkan bajunya ke wajah Chintya lalu pergi meninggalkan Chintya tanpa menunggu menantunya itu berucap lagi.


Bulir berwarna bening pun mulai berjatuhan dari pelupuk nya. Betapa sedihnya dirinya mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang mertua.


Dalam keadaan hamil muda seperti ini, Chintya harus mengalami penekanan dari ibu mertuanya padahal Dokter menyarankan dirinya untuk banyak istirahat, jangan stres dan jangan banyak pikiran tapi gimana dirinya bisa tenang kalau sikap sang mertua seperti itu padanya.


Tadi saat ada Marcell, ibu mertuanya itu begitu lembut padanya dan begitu perhatian. Dirinya berpikir ibu mertuanya itu akan merubah sikapnya padanya setelah tahu bahwa dirinya tengah hamil anaknya Marcell tapi perkiraannya itu ternyata salah. Merlyne tetap memperlakukannya seperti pembantu di rumah itu.


"Mbak, sabar ya. Sini biar saya aja yang nyetrika bajunya," ucap Siti.


Chintya menarik nafasnya lalu membuangnya kasar, diusap nya air matanya lalu tersenyum tipis ke arah Siti.


"Nggak usah Mbak, nanti kalau Mama tahu, Mbak Siti yang kena marah."


"Gak mungkin ketahuan Mbak. Ibu kan sedang di kamarnya."


"Mbak Siti kerjain pekerjaan yang lain aja ya, biar aku yang setrika baju Mama lagian cuma satu kok, gak bikin aku pegal."


"Iya beneran." Chintya tersenyum lalu melangkah ke ruang setrika yang berada di belakang kamar Siti!


"Ya Allah, kuatkanlah Mbak Chintya. Kasian Mbak Chintya, lagi hamil tapi terus disiksa seperti ini oleh ibu mertuanya. Semoga Mas Marcell tahu kelakuan ibunya yang seperti ini pada istrinya agar Mas Marcell bisa membawa Mbak Chintya pergi dari rumah yang berubah menjadi neraka bagi Mbak Chintya," ucap Siti didalam hatinya.


Siti merasa tak tega pada Chintya tapi dirinya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya di rumah itu hanyalah sebagai pembantu.


**********


Di kantor.


Marcell bekerja dengan semangat dan wajahnya terus menampakkan wajah bahagia.


"Bahagia banget, ada apa?" tanya Julius.


"Iya, dari tadi Papa perhatikan juga, kamu terlihat bahagia banget," sambung Daniel.

__ADS_1


"Ya bahagia lah. Chintya hamil dan sebentar lagi aku jadi Ayah," sahut Marcell.


"Apa, hamil? Berarti sebentar lagi aku punya keponakan dan Papa ... Papa akan jadi kakek," ucap Julius.


Julius begitu bahagia mendengar Chintya yang tengah hamil, Daniel pun tak kalah bahagianya dari Julius. Wajahnya yang sudah mulai berkerut itu menampakkan kebahagiaan yang sangat besar.


"Alhamdulillah. Kamu memang hebat Cel, udah hamil aja istri kamu," ucap Daniel.


"Keponakan aku cewek ya kak, aku mau keponakan cewek," ucap Julius.


"Punya cucu, punya cucu yeay sebentar lagi punya cucu." Daniel berucap sembari menari-nari kecil dan perkataan dijadikan nyanyian.


Marcell dan Julius tertawa melihat tingkah sang Ayah yang lucu.


Saking bahagianya, Daniel menari-nari sambil terus bernyanyi tanpa menghiraukan kedua anaknya yang menertawakannya.


**********


"Chintya! Cepat dong nyetrika nya, saya udah telat nih!" teriak Merlyne.


"Udah kok Ma, tadi aku udah ketuk-ketuk pintu kamar Mama tapi Mama gak menyahut."


"Jadi kamu nyalahin saya!"


"Nggak Ma, maaf. Aku yang salah."


"Ya udah sekarang mana bajunya?"


"Masih di ruangan setrika."


"Ambilin dong! Jangan diam saja."


Chintya mulai berjalan ke ruang setrika untuk mengambil baju milik ibu mertuanya itu.


Semakin lama semakin terasa bahwa kebencian Merlyne padanya bukan hanya benci biasa namun sudah mulai menjadi kejahatan.


Bagaimana tidak, tidak ada sedetikpun yang ia lewatkan tanpa diteriaki dan disuruh-suruh oleh Merlyne.


Seharian penuh setelah semua orang rumahnya pergi, dirinya mulai merasakan neraka di rumah itu, dirinya baru bisa beristirahat setelah Marcell dan yang lainnya pulang dari kantor.

__ADS_1


Saat ada anggota rumahnya yang lain, Merlyne memang tak pernah memperlihatkan sifat aslinya terhadap Chintya karena itulah Chintya bisa istirahat saat malam hari dan saat hari libur kantor saja selebihnya dia rasakan rumah itu bak neraka dunia.


Bersambung


__ADS_2