
Di dalam kamarnya, Chintya terus menangis sampai dirinya tertidur karena terlalu lama dan lelah menangis.
Di ruang keluarga.
"Tante, gimana kabar Marcell?"
"Dia baik. Sekarang dia di kantor."
"Aku kangen sama dia Tan, udah lama kami gak ketemu oh ya dia udah nikah belum?"
Merlyne tak langsung menjawab, dia terdiam sesaat lalu baru berucap.
"B_belum. Marcell belum menikah mungkin dia belum menemukan gadis yang cocok."
"Memangnya sama Alice gak lanjut?"
"Perempuan itu. Dia memilih tinggal di luar negeri dibandingkan nikah dengan Marcell padahal ya kamu tahu sendiri lah keadaan keluarga kami."
"Oh gitu padahal setahu aku, Marcell cinta banget sama Alice."
"Kamu dekati aja Marcell itu. Tante setuju banget kalau sama kamu."
"Ya Allah kenapa Ibu tidak mengakui Mbak Chintya sebagai menantunya? Malah dia menyuruh wanita lain mendekatinya," ucap Siti didalam hatinya.
Siti yang sedang mengelap meja beserta peralatan di atasnya tak sengaja mendengar pembicaraan antara Merlyne dan Aya.
Siti melanjutkan pekerjaan pekerjaannya dan berpura-pura tidak tahu dan tidak mendengar semua percakapan mereka.
**********
Di kantor Daniel.
Alice berjalan memasuki kantor itu dengan begitu percaya diri! Tak lupa makanan yang sudah dia siapkan untuk Marcell dibawanya masuk ke sana.
Beberapa pegawai di sana menatap Alice, apalagi karyawan laki-laki menatapnya dengan tatapan mata yang tak berkedip sekalipun.
Penampilan Alice yang mengenakan pakaian kurang bahan bahkan rok nya hanya menutupi pinggulnya saja membuat tatapan para laki-laki tak ingin lepas darinya.
"Siapa dia?"
"Gak tahu, mungkin istrinya Pak Marcell."
"Bukannya dia pacarnya Pak Marcell."
"Berarti istrinya dong."
"Bukan. Pak Marcell tidak sampai menikah dengan perempuan itu."
"Dia bukan istrinya Pak Marcell. Aku tahu istrinya bukan dia wajahnya beda jauh."
"Apa mungkin Pak Marcell mempunyai simpanan?"
Seperti itulah pembicaraan para karyawan di kantor itu saat Alice sudah melewati mereka.
__ADS_1
Di dalam ruangan pribadi Marcell.
"Sayang, apa kabar?" tanya Alice yang masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Alice, ngapain kamu ke sini?" tanya Marcell yang terkejut saat tahu Alice ada di ruangannya.
"Aku datang untuk menemui mu dan aku juga membawa makan siang untuk kamu."
"Gak usah. Lebih baik kamu pergi dari sini."
Alice tak menggubris Marcell yang menyuruhnya pergi, dirinya malah terus berjalan mendekati Marcell!
"Lihat, aku berdandan seperti ini khusus untuk kamu," ucap Alice sembari mendekatkan dadanya pada Marcell.
"Kamu gak waras Alice."
Alice tersenyum lalu melipir untuk sampai pada Marcell yang masih duduk di kursi kerjanya!
Tanpa basa-basi Alice duduk di pangkuan Marcell dan mengalungkan tangannya di leher Marcell!
"Aku gak apa kalau pun dijadikan yang kedua, asalkan kamu tetap menjadi milikku."
"Alice lepaskan tanganmu menyingkir lah dari pangkuanku."
Marcell berusaha melepaskan tangan Alice yang memaksa melingkar di lehernya itu.
"Astaghfirullah kakak!" ujar Julius yang melihat Marcell dan Alice seperti sedang bermesraan itu.
Marcell dan Alice menatap ke arah pintu dan terlihat dengan jelas Julius begitu marah padanya.
"Sayang kok kamu gitu, bukannya kamu sendiri yang mengajakku untuk ... ah sudahlah jangan dibahas."
"Keterlaluan kamu kak."
"Julius kamu itu mengganggu kegiatan kami saja."
Alice langsung keluar dari ruangan itu tak lupa sebelum keluar dia merapikan bajunya yang berantakan!
"Dasar perempuan gak waras," gumam Marcell.
"Alice yang gak waras atau kakak yang ingin menutupi kebusukan kakak?"
"Julius, kakak gak mungkin melakukan itu. Tadi Alice tiba-tiba datang dan duduk di pangkuan aku."
"Oh begitu. Bisa ya sembarangan orang masuk ke ruangan ini dan dengan seenaknya duduk dipangkuan seorang Marcell tanpa ada lampu hijau terlebih dahulu. Sadar gak sih kak aku udah bukan anak kecil lagi. Aku gak mau ya kakak berhubungan dengan Alice atau wanita mana pun selain kak Chintya, ingat kak, kakak udah punya istri."
"Julius, kakak harus bagaimana menjelaskannya padamu. Ini gak seperti yang kamu lihat."
"Aku gak perlu penjelasan. Jangan sampai kak Chintya tahu kalau sampai dia tahu kakak akan kehilangan Chintya untuk selamanya." Julius langsung pergi meninggalkan Marcell di ruangan itu.
**********
Di kediaman orang tua Chintya.
__ADS_1
"Ibu sedang apa?" tanya Samuel pada sang istri.
"Ibu mau bikin kue kesukaan Chintya, nanti sore Ibu mau ke rumah mertuanya Chintya untuk menemui Chintya. Ibu kangen sekali pada Chintya," sahut Arsintha.
"Ayah juga kangen sama Chintya Bu, kalau gitu kita ke sana sama-sama ya."
"Iya Yah, Ibu bikin kuenya dulu ya."
Semenjak menikah, Chintya memang belum pernah ke rumah orang tuanya untuk menemui Samuel dan Arsintha, wajar saja jika kedua orang tua Chintya itu merasa rindu pada anaknya.
Arsintha melanjutkan pekerjaannya sedangkan Samuel melanjutkan aktivitasnya dan membiarkan sang istri berkutat di dapur dengan semua peralatan masaknya.
**********
Setelah lama mengobrol, hari sudah mulai memasuki sore hari, Aya berpamitan pada Merlyne karena dirinya masih ada urusan lain selain membicarakan tentang Marcell bersama Merlyne.
"Lain kali main lagi ke sini ya. Anggap saja ini rumah kamu juga," ucap Merlyne pada Aya.
"Iya tante. Maaf lho ini aku jadi ngerepotin."
"Gakpapa sayang, sama sekali gak ngerepotin."
"Ya udah Tante aku permisi dulu." Soraya atau Aya pun langsung pergi meninggalkan rumah itu.
Setelah Aya sudah mengemudikan mobilnya, Merlyne berjalan ke arah kamar Chintya lalu menggedor pintu itituu dengan kasar!
"Chintya! Chintya!" teriak Merlyne.
Chintya yang sedang tertidur terkejut mendengar suara gebrakan yang keras dan suara teriakan Ibu mertuanya.
Chintya terbangun dan langsung membuka pintu kamarnya!
"Iya Ma ada apa? Kenapa Mama teriak-teriak?" ucap Chintya setelah membuka pintu kamarnya.
Merlyne menatap Chintya tajam lalu mencengkram lengannya!
"Kamu jangan berani ngadu sama Marcell tentang perlakuan saya ke kamu ya terutama saya yang menganggap kamu sebagai pembantu di rumah ini."
"Aw sakit Ma."
"Saya akan melakukan yang lebih dari ini kalau kamu berani mengadu pada Marcell atau siapa pun di rumah ini."
"Ma, aku janji aku tidak akan mengadu pada siapapun."
"Bagus." Merlyne melepaskan cengkraman nya dengan kasar.
"Awas kalau kamu berani macam-macam."
"Iya Ma, aku janji."
Chintya menundukkan kepalanya sambil memegangi lengannya yang terasa sakit. Air matanya luruh begitu saja dari pelupuk nya setelah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari Ibu mertuanya.
Sementara Merlyne menatap Chintya dengan tatapan tajam dengan raut wajah bengisnya.
__ADS_1
Rasanya Merlyne belum cukup puas menyiksa Chintya hari ini namun karena hari sudah semakin sore, mau tak mau dirinya harus menghentikan aksinya karena takut orang rumahnya keburu pulang.
Bersambung