Tragedi Malam Pertama

Tragedi Malam Pertama
bab 16


__ADS_3

Semua orang sudah tiba di rumah.


Di kamar Marcell dan Chintya.


"Sayang, kamu kenapa kok mata kamu merah dan sembab, kamu habis nangis?" tanya Marcell pada Chintya.


"Nggak, siapa yang nangis?"


"Itu mata kamu kenapa?"


"Tadi aku abis bantuin Mbak Siti ngurusin bawang jadi mataku perih dan kemerahan."


"Kamu ngapain sih ngerjain yang gituan? Kamu jadi gak cantik kan."


"Mas, aku gak bisa diam aja di rumah, aku bosan dian di kamar terus."


"Kamu boleh ngerjain apa pun yang kamu mau tapi jangan sampai gini juga dong nanti dikiranya aku tidak bisa jadi suami yang baik karena kamu kebanyakan nangis."


"Iya-iya lain kali nggak deh, cuma hari ini aja janji deh."


"Peluk dong, aku kangen."


Chintya tersenyum lalu memeluk Marcell!


Saat Chintya berada dipelukan Marcell, dia mencium aroma parfum perempuan yang melekat di kemeja sang suami.


Chintya segera melerai pelukannya! "Mas kamu abis ganti parfum ya kok bau parfum perempuan?" tanya Chintya tanpa basa-basi.


Seketika wajah Marcell menegang dan terlihat pucat.


"Ng_nggak kok sayang, mungkin ini wangi parfum orang lain yang nempel di baju aku tadi gak sengaja ada seorang ibu yang menabrak aku."


"Seorang ibu, menabrak kamu?"


"Iya tadi tas ibu itu dijambret di jalanan pas dia lari eh nabrak aku."


Terpaksa Marcell berbohong karena tak ingin membuat Chintya cemburu dan berpikir yang tidak-tidak terhadapnya.


"Ya ampun terus gimana nasibnya ibu itu?"


"Untunglah ada orang yang perduli dan beramai-ramai mengejar jambret itu hingga akhirnya tasnya bisa kembali ke ibu itu."


"Syukurlah. Maaf ya Mas, tadi aku sempat berpikir kalau kamu ada wanita lain."


"Iya sayang gakpapa, wajar kok kalau kamu curiga tapi kamu harus tahu satu hal. Aku gak akan pernah menduakan kamu dengan yang lain dengan siapa pun itu yang mencoba mendekati aku."


Chintya tersenyum lalu memeluk suaminya lagi.

__ADS_1


"Mas, aku beruntung sekali menikah sama kamu."


Di ruangan lain di rumah mewah milik keluarga Daniel.


Di balkon lantai dua rumah itu. Julius duduk di kursi sambil memikirkan yang terjadi tadi siang di ruangan kakaknya.


"Apa mungkin yang dikatakan kak Marcell itu benar? Tapi kenapa tadi aku lihat mereka seperti sedang bercumbu."


Julius terus bertanya-tanya didalam hatinya. Dirinya tak rela melihat Chintya harus kecewa karena perbuatan suaminya.


Entah kenapa dirinya sangat perduli pada Chintya, atau mungkin karena Chintya adalah istri dari kakaknya atau mungkin ada hal lain yang belum dirinya ketahui.


"Kalau benar Kak Marcell masih cinta sama Alice lalu kenapa dia mau berkorban demi kak Chintya dan mempertaruhkan keselamatan jiwanya demi merebutnya dari mantan kekasihnya kak Chintya?"


Ada banyak pertanyaan dalam hatinya namun tak mungkin dirinya bertanya langsung kepada sang kakak karena kalau bertanya sekali pun, tidak bisa menjamin kalau kakaknya akan menjawab dengan jujur atas semua pertanyaannya.


Di lantai utama rumah mewah itu.


Kedua orang tua Chintya baru tiba di rumah itu dan baru dibukakan pintu oleh Siti.


"Mbak, kami orang tuanya Chintya. Chintya nya ada?" ucap Arsintha pada Siti.


"Oh ada Pak, Bu, silahkan masuk."


Kedua orang tua Chintya pun masuk ke dalam rumah itu dengan berbagai Beriringan! Mereka pun duduk di sebuah kursi yang ada di ruang tamu rumah itu.


"Siapa Mbak?" tanya Daniel.


"Itu Pak, ada orang tuanya Mbak Chintya."


"Oh."


Setelah tahu dengan adanya orang tua Chintya, Daniel langsung berjalan ke ruang tamu untuk menemui mereka!


"Selamat sore Pak Samuel dan Ibu," ucap Daniel sembari menyalami mereka.


"Selamat sore Pak. Maaf Pak kami mengganggu waktu Anda. Kami datang untuk bertemu dengan Chintya kami sangat rindu padanya," sahut Samuel.


"Pak, apa kami boleh menemui anak kami."


"Tentu saja boleh, tunggu sebentar ya mungkin Mbak Siti sedang memanggilnya."


Tak lama, Merlyne datang dan bergabung bersama mereka.


"Ada besan ternyata, kok belum ada minum? Mbak Siti kemana Pa?" tanya Merlyne sembari menghempaskan bokongnya ke atas kursi yang ada di samping Daniel.


"Iya Bu, kami ingin bertemu dengan Chintya," ucap Arsintha.

__ADS_1


"Terus Chintya nya udah tahu belum ada Ibu dan Bapak datang ke sini?" sambung Merlyne.


"Mbak Siti lagi manggil Chintya makanya dia belum buatkan minum untuk besan kita."


"Oh udah dipanggil."


"Maaf ya Pak, Bu kalau kedatangan kami mengganggu waktu istirahat Ibu dan Bapak."


"Tidak apa-apa Bu, Pak justru kami senang kita bisa terus menjalin silaturahmi. Anak kita sudah menikah jadi tidak ada salahnya kita juga menjalin hubungan baik," ucap Merlyne.


Merlyne yang sebenarnya benci pada Chintya, sebisa mungkin bersikap ramah pada kedua orang tua Chintya untuk menutupi keburukannya.


"Ibu, Ayah," ucap Chintya yang baru tiba di ruang tamu.


Chintya dan Marcell menghampiri Samuel dan Arsintha lalu mencium punggung tangan mereka secara bergantian.


Tak lama, Mbak Siti datang dengan membawa minuman untuk mereka semua.


Setelah menata makanan dan minuman yang ia bawa, Siti langsung pergi dan membiarkan majikannya mengobrol di sana.


"Chintya, kamu sih gak pernah pulang jadinya orang tua kamu harus repot-repot datang ke sini untuk menemui kamu," ucap Merlyne dengan ramah.


"Maaf ya Yah, Bu, Chintya belum bisa menemui kalian."


"Tidak apa-apa Nak, gimana kabar kamu?"


"Aku baik-baik saja Bu, bagaimana dengan Ayah dan Ibu?"


"Kami baik-baik saja Nak."


"Chintya, kamu kan anak satu-satunya, lain kali kamu temui orang tua kamu ya. Mereka pasti merindukan kamu."


"Iya Ma, nanti aku pergi tapi atas izin Mas Marcell."


"Sayang, aku pasti selalu izinin kamu pergi ke rumah Ibu dan Ayah asalkan aku yang mengantarkan kamu."


"Chintya ini anak yang baik ya Bu, dia rajin dan berbakti pada suaminya," ucap Merlyne.


"Mama begitu ramah dihadapan orang tuaku, semoga setelah ini Mama terus bersikap lembut seperti ini padaku," ucap Chintya didalam hatinya.


Keluarga itu pun berbincang ria bersama tanpa orang lain ketahui, sebenarnya ada kebencian yang teramat besar dihati Merlyne terhadap Chintya.


Kejadian yang mengharuskan Marcell masuk rumah sakit akibat terkena tusukan senjata tajam oleh mantan kekasihnya Chintya membuat Merlyne tak bisa memaafkan Chintya.


Merlyne yang sudah diliputi kebencian, menganggap Chintya lah yang bersalah sehingga dirinya terus membenci Chintya meski Julius sudah berkali-kali mengatakan bahwa bukan Chintya yang berasal dalam kejadian waktu itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2