Tragedi Malam Pertama

Tragedi Malam Pertama
bab 20


__ADS_3

Di kamar Chintya.


"Ya Allah, apa, aku sanggup menanggung jalani hari-hariku yang seperti ini. Ibu mertuaku baik padaku hanya saat ada suamiku dan juga orang rumah lainnya. Aku lelah ya Allah. Baru berapa bulan aku hidup sebagai menantu di rumah ini tapi aku sudah mengeluh, maafkan aku Ya Allah karena aku terlalu banyak meminta dan mengeluh padamu," ucap Chintya setelah selesai sholat ashar.


Setelah shalat biasanya Chintya lanjut berdoa dan setelah itu dia mencurahkan semua isi hatinya pada Tuhannya. Dirinya tidak mungkin cerita pada kedua orang tuanya karena takut mereka akan bersedih di sisi lain, Chintya juga tidak bisa cerita pada suaminya karena takut terhadap ancaman sang ibu mertua.


Setelah selesai Sholat dan semua curahan hatinya, Chintya segera merapikan alat shalatnya lalu segera keluar dari kamarnya untuk membantu Siti memasak.


Setiap hari tanpa diminta, Chintya memang selalu membantu Siti memasak. Dirinya ingin menjadi istri yang berguna untuk suaminya dan ingin melayani suaminya dengan sebaik-baiknya.


"Sore sayang, selamat sore my baby," ucap Marcell yang baru tiba di rumahnya.


"Mas, kamu kok udah pulang? Tumben jam segini udah tiba di rumah?" tanya Chintya.


Biasanya Marcell tiba di rumah sekitar pukul tujuh belas bahkan sampai lewat maghrib, namun tidak dengan hari ini. Jam baru menunjukkan pukul enam belas tapi Marcell sudah tiba di rumah.


"Aku kangen sama kamu dan juga anak kita."


Chintya tersenyum lalu mencium punggung tangan sang suami.


"Tiap hari ketemu ternyata bisa kangen juga."


"Iya dong, kamu kan istri aku satu-satunya dan sebentar lagi kita akan punya anak."


"Ya udah, kamu istirahat aja di kamar, aku mau masak buat makan malam."


"Masak? Kamu gak bisa apa temani aku aja di kamar?"


"Mas, aku harus masak kalau gak masak nanti kita mau makan apa?"


"Kan ada Mbak Siti."


"Chintya, ikuti aja permintaan suami kamu. Kamu temani Marcell di kamar ya biar yang masak Mbak Siti aja," ucap Merlyne.


"Mama benar."


"Tapi aku."


"Chintya, kamu lagi hamil muda, gak baik kebanyakan bekerja lagian tadi kamu udah bantuin Mbak Siti nyapu kan."


Marcell menatap Chintya dengan tatapan aneh. "Sayang, kamu tuh kalau dibilangin nurut ya, aku sudah bilang jangan pegang pekerjaan rumah karena aku gak mau anak kita kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Iya Mas, maaf. Tadi aku bosan di kamar jadi aku menyapu halaman untuk menghilangkan bosan."


"Pintar sekali kamu cari alasan Chintya. Hari ini kamu bisa lolos dari kemarahan Marcell tapi besok, aku tidak akan membiarkan kamu lolos," ucap Merlyne didalam hatinya.


Merlyne yang tetap menginginkan mereka berpisah pun mulai melakukan segala cara agar Marcell membenci Chintya dan akhirnya menceraikan Chintya.


"Ya udah, sekarang kita masuk kamar ya," ucap Marcell.


Chintya tersenyum tipis lalu segera melangkah menuju kamarnya.


"Aku gak masalah kamu membantu Mbak Siti tapi kamu harus hati-hati, jangan sampai bayi kita kenapa-kenapa," ucap Marcell sembari terus berjalan.


"Iya Mas, aku tahu kok."


Tak lama, setelah Marcell dan Chintya masuk ke dalam kamarnya. Julius dan Daniel tiba di rumahnya!


"Chintya mana ya, Papa pengen ketemu sama cucu Papa," ucap Daniel pada Merlyne.


"Baru pulang bukannya cium Mama malah nanyain Chintya," ketus Merlyne.


"Maaf Ma bukannya Papa udah bosan sama Mama tapi Papa pengen ketemu sama cucu kita."


"Hamil nya baru berapa minggu Pa, bayinya belum kelihatan," ucap Julius.


"Papa tahu, gak apa-apa lihat Chintya nya aja. Sama aja, kan bayinya ada didalam perut Chintya."


"Chintya dan Marcell baru aja masuk kamarnya Pa, Marcell lagi mau manja-manjaan sama istrinya. Papa jangan ganggu mereka," jelas Merlyne.


"Hah ya udah deh lebih baik Papa mandi dulu." Daniel pun langsung berjalan menuju kamarnya.


"Aku juga mau mandi, gerah," ucap Julius lalu meninggalkan Merlyne juga di sana.


"Semua orang pasti semakin sayang sama Chintya, aku pasti jadi lebih sulit untuk membuat dia gak betah di rumah ini," gumam Merlyne.


*******


Di rumah Aya.


"Marcell udah pulang kerja belum ya? Aku mau ngajak dia ketemuan," ucap Soraya yang sedang duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya.


Aya yang memang sudah suka pada Marcell sejak dari dulu merasa bersemangat untuk mengejar Marcell karena sudah mendapatkan restu dari Merlyne.

__ADS_1


Aya menelpon Marcell dengan rasa percaya diri yang tinggi. Marcell yang selama ini baik padanya, membuatnya memiliki harapan lebih pada laki-laki tampan itu.


Beberapa kali menelpon Marcell namun tak kunjung terhubung, Marcell tak juga menerima telpon darinya.


"Kenapa gak diangkat? Padahal jam segini harusnya Marcell udah pulang dari kantornya," gumam Aya.


Aya terus mencoba menelpon Marcell sampai berkali-kali hingga sampai dirinya bosan menunggu, dirinya baru menghentikan usahanya untuk menelpon Marcell.


Diletakan nya ponsel miliknya di atas meja lalu dia beranjak dari duduknya!


"Kenapa gak diangkat ya, apa Marcell belum pulang dari kantornya? Seharusnya untuk seorang lajang, Marcell memiliki banyak waktu sendiri," gumam Aya.


Aya berdiri di samping pagar balkon kamarnya itu sembari memegangi besi pelindung pagar itu. Matanya menatap ke udara dan pikirannya pun mulai melayang.


**********


"Mas, dari tadi kamu mau gini terus?" ucap Chintya.


Chintya yang mulai merasa bosan karena dari tadi Marcell terus memeluknya memberanikan diri untuk bertanya pada sang suami.


"Aku masih betah begini. Emang gak boleh?"


"Boleh sih tapi aku pegal Mas."


"Kalau pegal ganti posisi dong sayang. Cari posisi yang nyaman buat kamu dan bayi kita."


"Gimana mau gerak coba? Orang kamu nempel terus kayak magnet."


Marcell tertawa kecil lalu melepas pelukannya.


"Iya-iya aku lepasin nih sekarang kamu cari posisi nyaman dulu."


"Aku nyamannya kamu mandi dulu biar wangi."


"Oke, kalau gitu aku mandi. Kamu jangan kabur ya."


Chintya tertawa renyah. "Kabur kemana? Aku takut kalau jauh dari kamu jadi aku gak akan pernah kabur."


Marcell tersenyum lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2