
Tiga bulan kemudian.
"Uek! Uek!" Tiba-tiba Chintya merasa mual dan serasa ingin muntah.
Chintya pun berlari ke kamar mandi karena takut mengeluarkan isi perutnya di atas tempat tidurnya.
Marcell yang sedang tidur pun merasa terganggu karena Chintya terus mual-mual sehingga suaranya menggangu pendengarannya.
Marcell terbangun dari tidurnya dan duduk di sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Chintya kenapa?" gumam Marcell.
Tak lama, Chintya keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terlihat lemas dan wajahnya pun terlihat pucat.
Marcell langsung beranjak untuk menghampiri Chintya.
"Sayang, kamu kenapa kok wajah kamu pucat gini?" ucap Marcell sembari merangkul bahu Chintya dan membawanya ke tempat tidurnya lagi.
"Kayaknya aku masuk angin deh Mas, perutku mual sekali," sahut Chintya dengan nada lirih.
"Minum dulu." Marcell menyambar air minim yang ada di meja lalu menyodorkan nya ke mulut Chintya.
Chintya pun minum dengan gelas yang tetap dipegangi oleh Marcell sedangkan dirinya yang merasa lemas serasa tak berdaya lagi walaupun cuma mengangkat gelas minumnya.
Setelah minum, Chintya membaringkan tubuhnya di samping Marcell sedangkan Marcell masih duduk sembari mengelus pucuk kepala Chintya.
Dilihatnya jam menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh lima menit, sudah tengah malam dan akan memasuki dinihari.
"Kamu lemes banget ya Chin?"
"Iya Mas, kepalaku juga pusing."
"Apa kita harus ke rumah sakit?"
"Gak usah, besok aja."
"Kamu yakin?"
"Iya. Mas peluk aku dong, aku takut hati ini adalah hari terakhirku bersamamu."
"Jangan bicara seperti itu sayang. Kita sudah sama-sama berjanji untuk bersama sampai tua nanti."
Chintya tak berucap lagi, dia terdiam lalu memejamkan matanya.
Marcell langsung terbaring lalu memeluk Chintya.
__ADS_1
"Tidur lah, aku akan menjaga kamu."
Chintya tak menyahut, dia menggenggam tangan sang suami yang menindih perutnya itu.
Mereka berdua pun tertidur kembali.
––––– ––––––
Waktu berjalan begitu cepat, kini malam sudah berlalu. Mata hari mulai datang untuk menyinari dunia.
Pagi telah tiba, Marcell sudah terbangun lebih dahulu sedangkan Chintya karena semalam dirinya tidak bisa tidur karena mual-mual, pagi ini dia belum terbangun dari tidurnya.
Marcell yang tahu Chintya kurang tidur, membiarkan istrinya itu beristirahat lebih lama lagi di tempat tidurnya.
Tak lama saat Marcell sedang merapikan rambutnya. Chintya bangun dari tidurnya dan langsung duduk di atas tempat tidurnya itu.
"Mas, udah jam berapa ini, kok kamu gak bangunin aku?"
"Semalam kamu kurang tidur, istirahat saja dulu."
"Tapi aku jadi gak nyiapin makanan untuk kita sarapan."
"Biarkan saja, kan ada Mbak Siti. Kamu sudah baikan?"
"Kepalaku masih pusing dan masih sedikit mual."
"Emang kamu gak mau kerja?"
"Ya kerja lah tapi nanti setelah nganterin kamu periksa."
"Terimakasih ya Mas."
"Iya. Kamu mandi lah dulu biar aku tunggu di sini atau mau aku mandikan?"
Chintya tersenyum lalu memukul Marcell pelan. "Kamu mau cari kesempatan dalam kesempitan?"
"Iya. Eh nggak, aku hanya menawarkan diri takutnya kamu gak kuat mandi sendiri karena lemas."
"Aku bisa kok." Chintya beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi!
Setelah Chintya masuk ke dalam kamar mandi, Marcell keluar dari kamarnya untuk melihat menu sarapan hari ini!
Di ruang makan.
Merlyne dan Daniel sudah duduk di kursi makan. Mereka sedang menunggu anak-anaknya datang untuk makan bersama.
__ADS_1
"Udah nunggu ya Pa, Ma?" tanya Marcell.
"Iya nih. Mana istri kamu, tumben gak bantuin Mbak Siti?" tanya Daniel.
"Dia masih di kamar, dia sakit Pa. Hari ini aku masuk kantor siang ya karena mau ngantar Chintya ke Dokter dulu."
"Memangnya harus sama kamu? Kan di rumah ini banyak orang lain, ada Mama, ada Mbak Siti dan juga yang lain. Ke dokter aja orang yang gak harus kerja," ucap Merlyne.
"Ma, aku mau aku yang mengantar Chintya ke Dokter."
"Suami yang baik memang harus gitu Cel. Saat istri kamu sakit, harus kamu yang menjaganya dan merawatnya," ucap Daniel.
"Iya Pa. Sebenarnya Chintya gak tahu kalau mau aku ajak di ke Dokter, semoga aja dia gak nolak permintaan aku untuk periksa ke dokter."
"Emang Chintya sakit apa?"
"Katanya sih masuk angin karena perutnya terasa mual dan kepalanya juga sakit."
"Semoga Chintya cepat sembuh deh."
Saat Marcell dan Daniel sangat mengkhawatirkan Chintya Merlyne bersikap biasa saja dan terkesan cuek dengan kesehatan sang menantu.
Tak lama, Chintya datang ke sana dan dengan Julius yang berjalan di belakangnya!
Tiba-tiba langkah Chintya gontai dan terjatuh ke belakang!
Julius yang berjalan di belakangnya pun langsung menangkap tubuh Chintya dan akhirnya Chintya tidak jadi terjatuh ke lantai.
Semua org yang melihat kejadian itu pun terkejut bukan main, mereka pikir Chintya akan benar-benar terjatuh namun untungnya ada Julius yang berhasil menyelamatkan Chintya.
"Julius," gumam Chintya yang masih berada di pangkuan adik ipar nya itu.
"Kakak gak apa-apa?" tanya Julius sembari melepaskan tangannya dari tubuh Chintya.
"Sayang kamu gak papa?" tanya Marcell sembari berlari menghampiri Chintya!
Chintya menggeleng sambil memegangi kepalanya!
Marcell membawa Chintya ke kursi yang ada di ruang keluarga lalu mereka duduk di sana.
"Kalian makan duluan saja, aku dan Chintya nyusul. Terimakasih ya udah nyelamatin Chintya," ucap Marcell pada Julius.
Julius hanya mengangguk lalu berlalu dari hadapan Marcell.
"Mas rasanya aku gak bisa berdiri. Kepala aku pusing banget dan rasanya berat banget."
__ADS_1
"Kalau gitu kita ke Dokter sekarang aja, kita sarapan di luar saja."
Bersambung